High School Bad Boy

High School Bad Boy
Bab 48. Elle S'appelle Jolene Dupont (Namanya Jolene Dupont).


__ADS_3

LYCÉE JEAN-BAPTISTE SAY, SURESNES.


Wanita cantik berambut pirang dengan dandanan elegan nan sexy itu melangkah dengan percaya diri menuju ke ruangan yang dulunya adalah milik Damien. Tatapan-tatapan penasaran dari para siswa yang tengah berada di sepanjang koridor mengikuti langkahnya. Bahkan ada beberapa yang nekad mengumandangkan siulan.


"T'as un cul sexy (kau punya bokong yang bagus)!" teriak salah seorang siswa diikuti dengan sorakan dari para siswa yang lain.


Wanita itu hanya tersenyum miring tanpa berniat meladeni. Ia menghilang di balik pintu ruang Guru Pembimbing.


"C'est qui ça (siapa dia)?" tanya Wulan yang sempat melihat wanita berambut pirang itu masuk ke ruang Guru Pembimbing, pada Adrienne yang berjalan di sampingnya melintasi koridor.


"Guru Pembimbing baru. Jolene Dupont. Cantik sekali, ya. Aku rasa anak-anak di sini akan bertambah nakal, agar bisa sering-sering berhadapan dengannya," kekeh Adrienne.


Wulan terbahak mendengar penuturan rekan Gurunya itu. Lalu pandangannya bertemu dengan Max yang seperti biasa, tengah bersama teman-temannya di sekitar lokernya.


Keduanya saling melempar senyum tipis, namun sebisa mungkin tidak ada orang lain yang melihatnya. Kecuali Etienne yang memasang wajah cemberut di samping Max.


"Wulan, wajahmu terlihat berseri-seri," goda Adrienne. Wulan terkesiap dan segera mengalihkan pandangannya dari Max pada Adrienne. "Kau dan Christophe ... apa kalian sudah ... emmm ..."


Wulan terkekeh. Ia tak menyahut perkataan Adrienne.


Tentu saja wajahnya berseri-seri. Semalam adalah moment terindah dalam beberapa tahun belakangan ini. Bersama dengan anak bengal yang membuatnya seperti berada di syurga.


"Mungkin ...." Satu kata itu pun lolos dari bibir Wulan.


"Wah, Wulan ... I hope Christophe is the one (aku harap Christophe adalah pria yang tepat untukmu)," ujar Adrienne sembari membuka pintu ruangan mereka. Dan melangkah masuk.


Sementara Wulan menyempatkan diri untuk menoleh ke arah Max di kejauhan sana, dan kembali melempar senyum. Ketika dilihatnya bibir Max bergerak mengucapkan sesuatu yang sepertinya adalah kalimat je t'aime, Mon Amour (I love you, My Love) tanpa suara, ia menunduk dan tersipu, lalu buru-buru masuk ke dalam.


Etienne, yang sedari tadi memasang wajah masamnya, memukul pelan puncak kepala Max. Membuat pemuda itu mendecak sebal.


"Gila!" maki Etienne.


"Kau tidak senang melihatku bahagia?" tanya Max sebal.


"Mais c'est dangereux (tapi itu berbahaya)," protes Etienne.


"Oui, je sais (ya, aku tahu) ...."


"Et alors (terus)?"


"Di situlah tantangannya," kekeh Max sembari berlalu dari hadapan Etienne yang menggeleng tak percaya.

__ADS_1


.


.


Max tidak tahu kenapa ia dan beberapa siswa yang lain, termasuk siswa yang beberapa waktu lalu berkelahi dengannya, dipanggil menghadap Guru Pembimbing baru. Seorang wanita cantik berambut pirang yang sepertinya seumuran dengan Wulan.


Ada lima siswa yang dipanggil ke ruangannya. Termasuk dirinya.


"Je m'appelle (namaku) Jolene Dupont. Aku Guru Pembimbing baru, menggantikan ... emm ... siapa namanya?" Ia menjentik-jentikkan jarinya sembari mengingat-ingat. "Monsieur Damien Arsenault," lanjutnya.


Jolene memandangi satu persatu wajah-wajah bengal yang berbaris di hadapannya itu. Termasuk Max yang menatapnya dengan datar sembari menyilangkan lengan di depan dada.


"Aku hanya ingin mengingat wajah kalian. Karena aku punya daftar nama para siswa yang sering membuat onar di sekolah ini. Ya, kalian!"


Jolene mengambil buku catatannya dan membukanya. "François Arnaud?" panggilnya.


Siswa berkulit hitam dengan kepala plontos mengangkat tangannya.


"André Aubert?" Mata Jolene tertumpu pada seorang siswa bertubuh besar di samping siswa yang dipanggil dengan nama François Arnaud. Ia melihat, pemuda itu tengah memandangi belahan dadanya yang sedikit menyembul. Namun ia hanya tersenyum miring.


"Charles Babin?" lanjutnya. Pandangannya mengarah pada siswa bertubuh kurus dengan dandanan selengean yang tengah mengangkat tangannya.


"Claude Augustin?" panggilnya. Lalu memandang seorang siswa bertubuh gempal dengan potongan rambut cepak berwarna kemerahan.


Max hanya mengedikkan bahunya. Wajahnya yang dingin dan bengal membuat Jolene merasa tertantang untuk mengenalnya lebih jauh.


"Aku dengar di antara kalian, kau yang paling sering membuat masalah. Bahkan dengan Guru," ujarnya sembari berjalan memutari Max.


"Yeah, kalau mereka memang bilang begitu," sahut Max asal sembari mencebikkan bibirnya.


Jolene tersenyum miring. "Aku orang yang cukup serius ketika menghadapi anak sepertimu," ujarnya tepat di samping telinga Max. "Aku tidak suka mengancam, aku tipe orang yang langsung bertindak tanpa basa-basi," ucapnya pelan, namun lugas. "Bon alors (ya sudah), kalian boleh pergi."


Ia mengibaskan tangannya memberi isyarat pada anak-anak itu untuk meninggalkan ruangannya.


***


"Hello, Bébé (sayang)!"


Wulan membelalakkan matanya ketika mendapati Max telah berdiri di sampingnya sembari mencondongkan badan ke arahnya dan membisikkan kata-kata mutiara itu.


Ia menoleh ke sekelilingnya dengan wajah cemas. Khawatir ada Guru atau siswa yang melihatnya. Beruntunglah suasana di luar gerbang sekolah telah lengang.

__ADS_1


"Jangan begitu, Max. Kalau ada yang melihat bagaimana?" gerutu Wulan.


Max hanya meringis. Lalu menjaga jaraknya dengan Wulan beberapa langkah.


"Kau sedang menunggu siapa? Si jelek Christophe?"


Wulan mendecak. "Miss Adrienne, aku mau minum kopi dengannya."


"Membosankan," sahut Max. "Kenapa tidak minum anggur saja denganku, Miss?" Max menaik-naikkan alisnya menggoda Wulan.


"Kau ini?" Wulan memutar bola matanya sebal.


"Aku masih ingin bersamamu, Miss. Aku menginap di apartemenmu lagi, ya, nanti malam," rengeknya. Ia memasang wajah memelasnya.


Wulan menghembuskan napasnya kasar.


"Allez, s'il te plait, Bébe (ayolah, kumohon, sayang)." Max merengek layaknya anak kecil yang sedang meminta dibelikan mainan oleh Ibunya.


"Pas ce soir, Max ... je suis fatigue (jangan malam ini, Max ... aku capek)."


Max terkekeh. "Apa semalam aku terlalu berlebihan?"


Wulan hampir saja menimpuk Max dengan tas selempangnya. Wajahnya kini bersemu merah menahan malu.


"Ya sudahlah, Miss. Bagaimana kalau akhir pekan saja?"


"Terserah," ujar Wulan bersungut-sungut.


"Aku ingin melukismu lagi ...." Max menghentikan kata-katanya ketika dilihatnya Adrienne muncul dari arah pintu gerbang.


"Tanpa pakaian," lanjut Max sembari terbahak, kemudian dengan wajah tak berdosanya ia meninggalkan Wulan yang sekuat tenaga menahan senyumnya.


"Anak itu masih mengganggumu?" tanya Adrienne sembari memandangi punggung Max yang mulai menjauh.


"Tidak. Lupakan saja," sahutnya sembari menggandeng lengan Adrienne menuju mobil rekan Gurunya itu yang terparkir di pinggir jalan.


***


***


***

__ADS_1


Kalian gemes gak sih sama Max? 😁😁😁


__ADS_2