High School Bad Boy

High School Bad Boy
Bab 40. Karma Has No Menu, You Got Served What You Deserve (2).


__ADS_3

"Gelisah sekali, Max?"


Eloise memperhatikan Max yang berjalan mondar-mandir dan sesekali melongok ke arah pintu masuk galeri.


"Menunggu seseorang?" tanya Eloise yang terheran-heran dengan sikap Max.


"Yeah," jawabnya lirih. "Mungkin dia tidak datang," gumamnya penuh kekecewaan.


Eloise mengelus lengan Max penuh perhatian. "Lihat lukisanmu yang ini, Max." Gadis itu menunjuk lukisan seorang wanita bergaun hitam yang tengah menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. "Mentah dan apa adanya. J'adore (aku suka)."


Max hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan Eloise. Pikirannya penuh dengan Wulan yang tidak juga menampakkan batang hidungnya.


"Kau memang sangat berbakat, Max. Aku yakin Sorbonne akan dengan senang hati menerimamu menjadi mahasiswa kalau kau lulus nanti. Bisa saja kau malah akan mendapatkan beasiswa. Ada beberapa temanku yang masuk ke sini dengan beasiswa. Mereka sama berbakatnya denganmu," celoteh Eloise penuh semangat. Max hanya mengangguk-angguk. Lalu mengalihkan pandangannya ke arah pintu masuk. Masih saja tak ada tanda-tanda Wulan muncul.


"Oh, regarde, il est ici Monsieur Le Maire (lihat, Mr. La Maire ada di sini)." Eloise menunjuk seorang pria paruh baya berambut putih yang baru saja muncul dari pintu galeri didampingi oleh dua orang ajudannya. Bruno Le Maire, Gubernur Paris.


Max melayangkan pandangannya ke arah pria itu. Baru kali ini ia melihat sosok Gubernur Paris secara langsung.


"Lihat bagaimana reaksinya nanti kalau dia melihat lukisan-lukisanmu, Max," ujar Eloise dengan mata berbinar.


"Yeah," kekeh Max sembari mengelus tengkuknya.


Tampak Monsieur La Maire didampingi oleh beberapa orang panitia berjalan berkeliling melihat-lihat satu persatu lukisan yang dipamerkan sembari sesekali berbicara dengan pemiliknya. Pria itu tampak antusias menyelami coretan-coretan di atas kanvas.


Dada Max bersegup kencang ketika dilihatnya rombongan Gubernur itu mendekat ke arahnya dan Eloise.


"Oh, lukisan yang sangat menarik." Monsieur Le Maire menunjuk pada lukisan bertema psikedelik milik Max. "Siapa pelukisnya?" tanyanya kemudian.


"Maximilian Guillaume, Monsieur." Eloise segera menyahut sembari menepuk-nepuk pundak max dengan bangga.


"Owh, kau mahasiswa Sorbonne?"


"Bukan, Monsieur. Saya murid Lycée Jean-Baptise Say. Kelas akhir," jawab Max sembari tersenyum.


Mata pria itu membulat. "Kau masih SMA?"


Max mengangguk pelan. "Oui, Monsieur."


"C'est genial, trés trés genial (keren, sungguh sungguh keren)," ucapnya sembari meneliti kembali lukisan setengah abstrak dengan polesan warna-warna berani itu. "Kau dapat inspirasi dari mana, Nak?"


"Emmm ...." Max memandang Eloise dengan wajah kebingungan. Namun gadis itu hanya mengedikkan bahunya. Tidak mungkin ia mengatakan pada seorang Gubernur kalau ia mendapat inspirasi ketika ia mengonsumsi cannabis. "Kompleksitas alam semesta, Sir. Energi alam yang digambarkan dalam pola-pola tak berujung, yang satu sama lainnya saling bersinggungan." jawab Max dengan lancar. "Saya menamai lukisannya, We are the universe (semesta adalah kita)."


Monsieur Le Maire memandang kedua ajudannya dan beberapa panitia dengan pandangan tak percaya. "Cerdas sekali anak ini," gumamnya. "Akan kubeli lukisannya."

__ADS_1


Max terperangah. Begitu pun Eloise. Keduanya saling pandang sembari menahan senyum bahagia.


"Sebut saja berapa harga yang kau mau, Maximilian. Claude akan mengurusnya," ujar Monsieur La Maire sembari menunjuk salah satu ajudannya.


"Kau punya masa depan yang cerah," ujarnya kemudian sembari menepuk-nepuk pundak Max.


"Merci beaucoup, Monsieur (terimakasih banyak, pak)," ucap Max dengan ekspresi wajah tak percayanya.


Pria itu mengangguk-angguk. Ia melambai pada Max dan Eloise sebelum akhirnya melanjutkan berkeliling galeri.


"Jadi, berapa harga lukisannya?" tanya ajudan Gubernur yang dipanggil dengan nama Claude.


***


Max berjalan riang sembari menenteng dua kotak Salmon en papillote, yang dibelinya dari sebuah restauran mahal di pusat kota Suresnes. Satu tangannya menggenggam setangkai mawar merah.


Ia mendorong pintu kayu bercat hijau yang tak terkunci dan melangkah masuk lalu menaiki tangga menuju apartemen Wulan.


Dengan mantap ia mengetuk pintu berwarna abu-abu itu dan berharap wanita pujaannya itu ada di dalam.


Matanya berbinar ketika perlahan pintu mulai terbuka, dan seraut wajah ayu yang selalu ia rindukan menyembul dari baliknya.


"Max?" Wajah Wulan terlihat tegang.


Wulan terdiam sejenak. "Aku datang."


Max mengerenyitkan dahinya. "Benarkah? Kenapa kau tidak menemuiku?"


"Aku tidak harus menemuimu, bukan? Aku datang untuk melihat lukisan." Nada bicara Wulan terdengar ketus. Wajahnya pun terlihat masam.


"Tidak bisa begitu, Miss. Aku sangat mengharapkan kau datang."


Wulan mendecak. "Kau tidak membutuhkanku, Max."


"Aku membutuhkanmu, Miss. Aku menunggumu sepanjang pameran berlangsung."


"Tidak usah berlebihan," sahut Wulan dingin.


"Kau ini kenapa, Miss? Apa aku melakukan kesalahan?"


"Tidak sama sekali."


Max menggaruk rambutnya yang kini tampak berantakan. "Boleh aku masuk?"

__ADS_1


"Tidak boleh. Kenapa kau tidak pergi saja ke tempat lain?"


"Tempat lain?" Max semakin keheranan dengan sikap Wulan yang terlihat aneh. Biasanya Wulan hanya bersikap galak padanya, namun tidak sedingin ini. Ibu Gurunya itu juga terlihat kesal.


"Iya, kau bisa pergi ke tempat Eloise, mungkin," ujar Wulan sembari memicingkan matanya.


"Kenapa memangnya dengan Eloise?" tanya Max. Dia semakin keheranan.


"Kulihat kalian sudah semakin akrab. Tepat seperti yang aku katakan padamu. Kalian cocok."


Max terdiam sejenak. Ia memiringkan kepalanya sembari mencebik. Dan sejurus kemudian tawanya meledak.


"Jadi kau tidak menemuiku karena kau melihat aku bersama Eloise?"


Wulan memutar kedua bola matanya sebal. "Tidak seperti yang kau pikirkan. Aku hanya tidak ingin mengganggu."


"Aku tidak akan merasa terganggu. Aku dan Eloise hanya ...."


"Dia menyukaimu, Max." Wulan memotong cepat ucapan pemuda itu.


"Kenapa kau menyimpulkan seperti itu, Miss?"


Wulan menghela napas pelan. Ia terdiam sejenak. "Dia merapikan rambutmu, dengan sangat lembut." Wulan memaki dirinya sendiri dalam hati. Ia tidak bisa mengerem mulutnya. "Anyway ... kau pulang saja. Aku merasa lelah," ujarnya sembari bersiap menutup pintu.


"Tunggu, Miss. Aku bawakan makan malam dan juga bunga untukmu."


"Merci, Max. Tapi aku sudah makan. Bonne nuit (selamat malam)."


"Tapi, Miss ... aku ingin merayakan ...." Kata-kata Max menguap begitu saja ketika Wulan telah menutup pintunya rapat-rapat.


"Hari ulang tahunku," lanjutnya. Ia baru saja ingat kalau hari ini adalah hari ulang tahunnya.


"Yang ke tujuh belas," ucapnya pada angin lalu.


Ia menghembuskan napasnya dengan kasar. Diangkatnya bungkus makanan yang dibawanya dengan perasaan kecewa.


Lalu meremas bunga mawar dan menghamburkannya ke udara.


***


***


***

__ADS_1


__ADS_2