
STALINGRAD, SURESNES.
Max pulang ke apartemennya dengan hati berbunga-bunga. Tak henti-hentinya bibirnya menyunggingkan senyum. Sepertinya hati Wulan sedikit demi sedikit sudah bisa diraihnya. Walaupun ia masih mendapati begitu banyak keraguan dari sikap Ibu Gurunya itu terhadapnya. Tetapi paling tidak, ia punya clue Wulan memiliki perasaan yang sama padanya.
Begitu membuka pintu apartemennya, ia mendapati Ludovic tengah terbaring di atas sofa. Memeluk botol minuman beralkohol dan matanya pun terpejam.
Max berjalan mandekatinya dan duduk di dekat kaki sang Ayah.
"Papa ...."
"Hmmmm ...."
"Je veux parler avec toi (aku ingin bicara denganmu) ...."
Ludovic hanya menggumam dan merubah posisi tidurnya menghadap sandaran sofa.
"Jangan ganggu aku!" ujar Ludovic dengan suara paraunya.
Max mencondongkan badan ke depan, menumpu kedua sikunya di atas paha. Matanya lurus menatap ke depan.
"Pourquoi tu me détestes (kenapa kau membenciku)?"
Tak ada jawaban apa-apa dari pria paruh baya itu. Hanya terdengar deru napasnya yang naik turun tak beraturan.
"Kau tahu, Ludovic? Kau sangat menyedihkan!"
"Lihat dirimu. Larut dalam rasa kehilangan seperti seorang pecundang."
"Sudah tujuh belas tahun berlalu dan kau masih menyalahkanku atas kematian isterimu?"
"Ayolah ... bersikaplah dewasa sedikit saja."
Perlahan Ludovic bangkit dari posisi berbaringnya dan duduk termenung. Pandangan matanya kosong.
"Kita bicara dari hati ke hati, layaknya dua orang pria dewasa. Buang dulu kebencianmu padaku sebentar saja," ucap Max. "Aku yakin kau masih punya sisi kemanusiaan walaupun sedikit. Atau kau sepenuhnya telah menjual jiwamu pada Iblis?" tanyanya sembari menyunggingkan senyum miringnya.
Ludovic meremas kepalanya dengan keras. Lalu mengacak rambutnya kasar.
"Aku sangat mencintai Clara ... aku tidak pernah bisa menerima kepergiannya," isaknya tertahan.
"Mais, je suis ton fils, putain (tapi, aku anakmu, sialan)!" seru Max geram. "Anak yang lahir dari rahim isterimu. Darah dagingmu. Bagaimana bisa kau menyalahkanku atas semuanya. Tidak masuk akal. Kau ... sungguh tidak masuk akal, Ludovic." Max menghela napas berat. "Hanya orang gila yang bisa melakukan itu," lanjutnya.
__ADS_1
Ludovic menangkup wajah dengan kedua telapak tangannya. Lalu menggosoknya kasar.
"Papa, lihat aku!" titah Max sembari menghadap ke arah sang Ayah.
Ludovic menoleh perlahan pada anak lelaki semata wayangnya itu.
"Kau tidak sadar, ya, kau punya anak lelaki sudah sebesar ini? Anak lelaki yang kau pukul dan kau maki-maki hampir setiap hari, tapi masih rela memenuhi semua kebutuhan hidupmu?"
Dada Ludovic berdebar dengan keras. Kata-kata Max seakan-akan mampu menghujam jantungnya. Ia melempar pandang ke arah lain. Entah kenapa ia tak sanggup menatap sepasang mata tajam itu.
"Kau bahkan tidak tahu apa warna mataku, bukan?" tanya Max. "Lihat kemari, Papa!" hardiknya. Meminta sang Ayah untuk memandangnya. "Wanita bernama Clara yang menurunkan sepasang mata ini padaku."
Ludovic tak bisa membendung tangisnya. Punggungnya terguncang oleh isaknya. Ia kembali menutup wajah dengan kedua telapak tangan. Ucapan-ucapan Max bagaikan petir yang memekakan telinganya. Dan belati yang menusuk dadanya.
"Aku tidak memintamu untuk merawat atau menjagaku. Karena aku bisa melakukannya sendiri. Aku hanya minta kau jangan membenciku. Atau paling tidak, kau berikan kasih sayangmu sedikit saja." Bibir Max mencebik. "Pelukan kecil atau ucapan selamat pagi, mungkin. Itu sudah cukup."
Max terdiam sejenak. Mendengarkan isak tangis sang Ayah dan membiarkan pria itu mencerna kata-katanya.
"Aku tidak pernah merasakan kasih sayang Ibu kandungku, sedang Ayah kandungku membenciku," kekehnya. "Sungguh drama picisan!" desisnya.
Max beranjak dari duduknya dan melangkah menuju kamarnya. Meninggalkan sang Ayah yang masih tenggelam dalam isakan tangisnya. Ia merasa telah menyampaikan semua yang selama ini ingin ia sampaikan pada sang Ayah.
***
LYCÉE JEAN-BAPTISTE SAY, SURESNES.
Wulan melangkahkan kakinya melintasi pelataran sekolah yang ramai oleh para siswa yang berdiri saling bergerombol dengan kelompok masing-masing. Sesekali ia melempar senyum pada beberapa siswa yang mengenalnya.
Ia berjalan menuju perpustakaan yang terletak tak jauh dari cafetaria. Jam istirahatnya ini akan dihabiskannya membaca buku di sana.
Bibliothèque de Lycée JB Say (perpustakaan SMA JB Say)
Begitu tulisan yang terukir dalam papan nama di atas pintu kayu berwarna biru. Ia membuka pintu pelan dan melangkah memasuki ruang perpustakaan yang tampak sepi. Kursi-kursi kayu yang disediakan di sana pun banyak yang kosong. Hanya ada beberapa siswa saja yang tampak khusuk dengan buku masing-masing.
Wulan berjalan diantara dua rak panjang yang terisi penuh oleh buku-buku tebal. Aroma manis bunga mawar dan cokelat khas buku-buku tua menyeruak masuk ke dalam rongga hidungnya. Senyawa organik volatil yang terlepas ke udara membuatnya merasa tenang.
Mata Wulan tertumpu pada bagian Livres de philosophie (buku-buku filosofi). Ia pun mulai membaca satu persatu judul buku yang berderet panjang itu. Pilihannya jatuh pada buku berjudul Le Deuxième Sexe (the second sex) karya Simone De Beauvoir. Buku tentang feminisme, itu adalah tema favoritku (eh, maksudnya favoritnya Wulan-red).
Ia mengambil ikat rambut dari dalam kantong mantelnya dan mengikat rambutnya sembarang, hingga memperlihatkan leher jenjangnya yang indah. Lalu mengambil buku bersampul foto klasik seorang wanita khas tahun 40an itu. Pertama yang dilakukannya adalah membuka-buka lembar demi lembar usang sembari menghirup aromanya.
__ADS_1
Cukup lama ia berdiri mematung di depan rak kayu memanjang itu dan menunduk memfokuskan diri pada buku di tangannya. Hingga ia merasakan ada sebuah kecupan halus nan singkat mendarat di lehernya yang tak tertutup syal.
Ia pun terperanjat dan segera membalikkan badannya.
"Max!" pekiknya tertahan begitu melihat sosok bermuka tengil di hadapannya. Ia menoleh ke kanan dan kirinya dengan cemas. Kalau sampai ada yang melihat perbuatan anak itu barusan, maka tamatlah ia. Wulan pun harus memastikan tidak ada cctv di sekitar tempat mereka berdiri. Ia menarik napas lega. Tidak ada seorang pun di dekat mereka dan cctv pun sepertinya tidak menjangkau sampai ke sana karena terhalang rak yang tinggi.
Sementara Max hanya meringis memperlihatkan gigi-giginya yang rapi dan dengan wajah tak berdosanya ia merebut buku dari tangan Wulan lalu menyembunyikannya di balik punggungnya. Membuat Ibu Gurunya itu mendecak sebal.
"Qu'est-ce tu fais là (sedang apa di sini)?" hardik Wulan setengah berbisik.
"Tu me manque (aku rindu padamu)," ucapnya sembari memasukkan buku yang dipegangnya ke dalam rak.
Max meraih tubuh Wulan dan mendekapnya erat. Namun Wulan berusaha melepaskan diri dan mendorong dada Max pelan.
"Pas ici, Max. T'es fou toi (jangan di sini, Max, kau gila)!"
"Satu ciuman saja, Miss. Untuk menguji adrenalin," kekeh Max sembari menyentuh bibir tipisnya.
"Non!" sentak Wulan sembari mendelikkan matanya. Meskipun ia akui bibir tipis merah jambu di depannya itu begitu menggoda.
"Tidak ada yang melihat," ujarnya sembari meraih pinggang Wulan dan menariknya mendekat. "A la francais," ucapnya sembari melu mat bibir Wulan tanpa jeda, halus dan bergairah.
Wulan memaki dirinya sendiri. Ini adalah hal yang sungguh gila. Namun bibirnya seakan mempunyai otaknya sendiri dan mulai mengikuti permainan bibir Max yang kini mulai berani meminta bantuan pada lidahnya untuk menyapu bibir bagian dalam Wulan.
Tangannya bahkan tanpa sadar mencengkeram halus punggung kokoh Max ketika tangan pemuda itu mulai berani mengelus pan tat bulatnya dan sedikit meremasnya.
Keduanya baru menghentikan ciuman mereka ketika mendengar suara pintu dibuka dan terdengar kekehan beberapa siswa yang sepertinya baru saja memasuki ruang perpustakaan.
Wulan berdehem sekali sembari merapikan pakaiannya. "Casse toi (pergi)!" serunya tanpa suara.
Max menarik sudut bibirnya dan menatapnya jahil. "Merci, Mon Amour (terimakasih, cintaku)," ucapnya sembari melangkah mundur dan menghadiahinya ciuman jarak jauh.
Wulan segera berbalik dan menjatuhkan keningnya di antara buku-buku sembari mengatur perasaannya yang tak menentu.
Anak itu benar-benar membuatku gila!
***
***
***
__ADS_1