
LES MARAIS, SURESNES.
"Voila!" ucap Max sembari memberi sentuhan terakhir di atas kanvas. Sebuah lukisan wanita paruh baya yang sedang duduk di hadapannya saat ini.
"Can I see it now (boleh kulihat sekarang)?" tanya wanita dengan aksen American Englishnya antusias.
"Yes, Madame." Max menggeser tempat duduknya demi memberi ruang pada wanita itu untuk memeriksa lukisannya.
"Wow ... very nice." puji wanita itu dengan wajah senang.
"Lukisannya akan kering dalam dua puluh menit, Madame. Kau ingin menunggu di sini atau ingin berjalan-jalan terlebih dahulu?" tanya Max sembari merapikan tube cat akriliknya.
"Okay, I'l be back in twenty minutes (ya aku akan kembali dalam dua puluh menit)." Wanita itu pun tersenyum dan berlalu.
Max melanjutkan merapikan peralatannya. Memasukkannya ke dalam tasnya, lalu melipat dua kursi lipat dan menyandarkannya di dinding jembatan. Hari sudah mulai sore dan ia memutuskan kalau wanita tadi adalah pelanggan terakhirnya untuk hari ini.
Ia merenggangkan otot-otot tangannya yang kaku. Lalu menyandarkan punggungnya ke badan jempatan Pont Marie yang kokoh sembari menghirup udara dingin yang menusuk.
Ada sekitar lima belas menit ia berdiam diri di sana memperhatikan sekelilingnya. Tempat ini selalu ramai oleh para turis yang ingin menikmati suasana dan pemandangan di tepian sungai Seine yang indah.
"Hei, jangan melamun!"
Seruan seseorang yang dibarengi tepukan di pundak membuatnya terperanjat. Ia menoleh ke samping dan mendapati seraut wajah manis tengah menyunggingkan senyum lebarnya.
"Salut (hallo) ... Eloise," sapanya dengan wajah yang masih terlihat kaget.
"Sudah selesai melukis untuk hari ini?" tanya Eloise sembari memandang tas besar milik Max.
"Yeah," jawab Max singkat. "Kau sengaja datang ke sini atau ...."
"Aku memang sengaja ke sini. Aku biasa menghabiskan akhir pekan di sekitar Les Marais. Bertemu banyak artis-artis seni rupa jalanan yang berbakat. Dan aku ingat kau punya stand di sekitar sini, jadi ya ...." Eloise mencebik sembari mengangkat bahunya.
"D'accord (oke)."
"Bagaimana kalau kita minum kopi?" tawar Eloise sembari menyandarkan punggungnya di samping Max.
"Aku sudah bilang aku tidak suka minum kopi," ujar Max. "Aku lebih suka minum bir," lanjutnya.
"Ya sudah, kalau begitu kita minum bir saja."
"Tapi aku belum bisa masuk bar. Di Stalingrad aku selalu menyuruh orang yang lebih tua untuk membelikan bir," kekehnya.
__ADS_1
Eloise terbahak. "Serahkan padaku. Umurku sembilan belas. Aku sudah legal," gelaknya.
Max mengambil satu lembar seratus euro dari dompetnya dan menyerahkannya pada Eloise.
"Aku sedang menunggu pelanggan mengambil lukisannya," ujar Max sembari memeriksa kanvas yang masih menyandar di easel mininya. Sebentar lagi akan kering sempurna.
"Okay, aku pergi dulu. Cinq minutes, d'accord (lima menit, ya)," ujar Eloise dengan wajah berbinar. Lalu ia melangkah riang mencari mini market terdekat.
Max memandang punggung Eloise sekilas. Lalu mengalihkan perhatiannya pada wanita yang tadi ia lukis, yang kini telah berada di depannya.
"How much (berapa)?" tanya wanita itu.
"150 euro." Setiap kali memberitahukan harga lukisannya, ia selalu teringat kata-kata Wulan ketika Sang Ibu Guru tahu harga yang biasa ia patok hanya 50 euro.
Terlalu murah untuk lukisan sebagus ini.
Suara Wulan yang terngiang-ngiang di benaknya membuat senyum tipisnya tersungging. Lalu wajahnya yang selalu tegang setiap kali berhadapan dengannya. Tangannya yang selalu lihai menjambak rambut gondrongnya ketika ada ucapannya yang membuat Wulan kesal. Semua tentang Wulan memang memporak-porandakan hatinya.
Pertama kalinya jatuh cinta, kenapa harus sedalam dan serumit ini?
Sikap Wulan kemarin malam membuat rasa lelahnya mengejar Sang Ibu Guru, ditambah beban hidupnya selama ini, memuncak. Ia tak menyalahkan Wulan. Mungkin memang sikapnya selama ini terlalu agresif. Ia egois jika menyeret Wulan dalam kerumitan ini.
Everybody needs some time on their own (semua orang butuh waktu sendiri).
"Max!" Panggilan Eloise membuatnya terkesiap.
Ia tersadar dan melihat Eloise telah berdiri di samping wanita pelanggannya yang tengah mengulurkan satu lembar seratus euro dan lima puluh euro sembari menggoyang-goyangkan satu tangannya yang lain di depan wajahnya.
"Kau melamun, Nak?" tanyanya sambil terkekeh.
"Pardon (maaf)," ucapnya malu-malu sembari mengambil lembaran euro dari tangan wanita itu. "Merci," ucapnya seraya memberikan kanvas yang telah ia gulung padanya.
Eloise mengangkat satu kantong plastik berisi beberapa kaleng bir untuk ditunjukkannya pada Max dengan senyum lebarnya.
"Mau minum di mana?" tanya Eloise.
"Di galerinya Patrick," ujar Max sembari menaruh tas besar ke punggungnya dan menyambar dua kursi lipat serta easel mininya. "Dia kenalanku," katanya kemudian begitu melihat Eloise mengerenyitkan dahinya.
"Ah, d'accord (oke). Aku bantu membawa easelnya," ucap Eloise sembari meraih stand lukis dari tangan Max.
.
__ADS_1
.
Max menyapa sekilas Patrick yang tengah sibuk melayani pembeli dan mengajak Eloise naik ke lantai atas. Di sana, penuh dengan lukisan Max yang beberapa telah selesai dan ada juga yang masih berupa sketsa.
Eloise melihat tiga lukisan yang dilihatnya beberapa hari lalu di pameran Sorbonne. Salah satunya adalah lukisan wanita bergaun hitam yang sedang menutup wajahnya dengan telapak tangan. Ia tertarik untuk menanyakan lebih jauh tentang lukisan itu pada Max, yang tak sempat dilakukannya waktu ada di pameran.
"Elle est qui cette femme (siapa wanita ini)?" tanya Eloise.
Max yang tengah meletakkan tas dan barang-barang lain yang di bawanya ke sudut ruangan menoleh pada Eloise. Ia melangkah mendekati gadis itu dan menarik kursi untuknya dan mempersilahkannya duduk. Kemudian ia mengambil satu kursi untuk dirinya sendiri. Ia mengambil kantong plastik berisi kaleng bir dari tangan Eloise, lalu mengambil dua buah dan membukanya.
"Seorang wanita," jawab Max sembari menyodorkan satu kaleng bir pada Eloise.
Eloise terbahak. "Iya aku tahu dia seorang wanita. Tapi siapa dia?"
"Mon premier amour (cinta pertamaku)," jawabnya sembari menatap sayu pada lukisan hitam putih di depannya itu.
"Ah, d'accord (oke)." Eloise menyunggingkan senyum kecutnya. Ia memperhatikan wajah Max dengan seksama. Tampan sekali.
"Di mana dia sekarang?" tanya Eloise sembari meneguk kaleng birnya.
Max menyibakkan anak rambut yang menggantung di dahinya ke belakang kepala. "Aku tidak ingin membahasnya."
"Baiklah," kekeh Eloise. Gadis itu kembali menelusurkan pandangnya ke wajah tampan Max dengan penuh damba. "Max ...." Ia memanggil pemuda itu lirih.
"Oui (ya)?"
Eloise mencondongkan badannya ke arah Max dan pelan mendekatkan wajahnya untuk menyentuhkan bibirnya pada bibir tipis merah jambu itu.
Max yang terkejut mendapati wajah Eloise begitu dekat dengan wajahnya, buru-buru menarik kepalanya ke belakang sembari menahan bahu Eloise.
"Emm ... désolé (maaf), Eloise ...."
Eloise yang mengerti atas penolakan halus dari Max, mengelus tengkuknya dengan canggung. Wajahnya memerah menahan malu. Ia segera menggeser duduknya dan menghadap ke depan.
"Aku ... yang minta maaf," ucapnya lirih dengan perasaan campur aduk.
***
***
***
__ADS_1