High School Bad Boy

High School Bad Boy
Bab 67. Winter Holiday Planning.


__ADS_3


"Kau tidak mau menelpon Miss Dupont?" tanya Max sembari terkekeh. Membuat Wulan mengerucutkan bibirnya sebal.


"Aku sudah mengirim pesan padanya."


"Mau pergi minum dengannya?"


Wulan menggeleng. Ia menyandarkan kepalanya pada bahu Max yang duduk di sampingnya sembari menghisap rokoknya.


"Kau menginap atau tidak, Max?" tanya Wulan. Tangannya sibuk memainkan ujung rambut pemuda itu.


"Maumu?"


"Terserah kau saja."


"Ya sudah."


"Hmmm?"


"Iya aku menginap."


Wulan mendongak dan memandang wajah Max dengan jarak yang begitu dekat. "Ayahmu tidak akan mencarimu?"


"Persetan dengannya."


Wulan menepuk pipi Max gemas. "Jangan bicara seperti itu, Max."


"Dia terlalu ikut campur urusanku."


Wulan mengelus lengan Max dengan lembut. "Semua orang tua ingin yang terbaik untuk anaknya."


"Orang tua macam Ludovic?" Max mendecih. "Kemana saja dia selama ini," ujarnya kemudian.


Wulan menempelkan jari telunjuknya di bibir Max. "Jangan bicara seperti itu tentang Ayahmu. Dia punya beban hidup yang berat dan juga penyesalan yang besar telah menelantarkanmu selama ini."


Max mengedikkan bahunya. "Baiklah kalau kau bilang begitu."


"Max ...." Wulan menarik kepalanya dari bahu Max. Lalu mengelus pipi pemuda itu. "Tetap hormati Ayahmu, ya. Walaupun kau tidak sejalan dengannya."


"Okay, Miss," ucap Max asal sembari membungkuk membuat gerakan seperti seorang Ksatria yang bersiap melaksanakan tugas dari Sang Ratu.


Wulan terkekeh dan mengacak rambut Max pelan.


"Ohya, Wulan ...."


"Ya?"


"Kau bilang liburan musim dingin bulan februari kau akan pulang ke Indonesia, bukan?"


Wulan mengerenyitkan dahinya. "Oui, pourquoi (ya, kenapa)?"


Max tersenyum lebar. "Je peux venir avec toi (aku bisa ikut denganmu)."


Wulan membulatkan matanya. "Kau serius?"


"Pourquoi pas (kenapa tidak)?" ujar Max sembari menghisap rokoknya. "Lagi pula apa enaknya menghabiskan liburan musim dingin di sini. Lebih baik mencari sinar matahari di negara tropis," kekehnya.


Wulan terbahak. "Terserah kau saja, yang penting kau bisa tahan panasnya."


Max tersenyum gembira. Ia mencecak rokoknya ke dalam asbak, lalu menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa, dan meminta Wulan merebahkan kepala ke dadanya yang terbalut kaos putih lengan pendek.


"Max ...."


"Oui (ya)."

__ADS_1


"Apa rencanamu setelah lulus?"


Max tersenyum simpul. "Sungguh aneh, Miss."


"Apa?"


"Sebelum bertemu denganmu, aku tidak terlalu memikirkan masa depan. Apa pun yang kulakukan hanya untuk bertahan hidup setiap harinya. Tidak lebih dari itu." Max menghela napasnya. "Tapi sekarang kurasa aku harus mulai menatanya. Aku harus menjadi layak untukmu, Miss. Aku tidak mau hanya bermodalkan cinta saja untuk hidup bersamamu." Max membelai rambut panjang Wulan lembut. "Cinta juga harus memakai logika. Logikanya, ini jaman kapitalis. Makan cinta saja tidak cukup," kekehnya.


Wulan terbahak mendengar gurauan Max. Gurauan yang masuk akal dan benar adanya.


"Aku akan masuk ke Sorbonne, menjadi pelukis profesional, membeli rumah kecil di Bretagne, dan menikah denganmu."


"Bretagne ...." Wulan menggumam. Daerah barat laut Perancis dengan pantai-pantainya yang indah. Tentu saja ia tak akan keberatan jika harus tinggal di sana.


"Apa aku cukup meyakinkan buatmu, Wulan? Kau percaya kalau hidupmu di sini akan baik-baik saja denganku?" tanya Max.


Wulan mengangkat kepalanya. Mendekatkan wajahnya pada wajah Max. Lalu menempelkan dahinya pada dahi pemuda itu.


"Dari apa yang kulihat selama ini, bagaimana kau menjalani hidupmu, Max, aku percaya padamu."


"Merci, Bébé ...." Max mengecup bibir Wulan lembut. Lalu memeluk wanita kesayangannya itu dengan erat.


***


LYCÉE JEAN-BAPTISTE SAY, SURESNES.


"Wulan!"


Adrienne mengetuk-ngetuk meja Wulan, meminta perhatian rekannya yang tengah fokus dengan buku di tangannya itu.


"Hmmm?" Wulan menoleh sekilas pada Adrienne sebelum akhirnya kembali tenggelam dalam bukunya.


"Aneh sekali. Tadi Jolene menanyakan sesuatu tentang kau padaku."


"Apa?"


"Dia bertanya siapa pria yang sekarang menjadi pacarmu."


Wulan tersentak. Ia meletakkan bukunya di atas meja. "Kau jawab apa?"


"Christophe ... kau sedang dekat dengan pria bernama Christophe."


Wulan menghela napas lega. Namun pikirannya mulai menduga-duga apa maksud dari Jolene sebenarnya. Apa memang wanita itu telah mencium hubungannya dengan Max dan kini tengah menyelidikinya.


"Kenapa dia bertanya seperti itu?" gumam Wulan. Adrienne mengedikkan bahunya.


"Wulan, kau tidak ada hubungan apa-apa dengan Maximilian, bukan?" tanya Adrienne. Membuat Wulan hampir saja tersedak salivanya sendiri.


"Tidak. Memangnya kenapa?" tanyanya dengan hati berdebar.


"Syukurlah, berarti dugaanku salah."


"Maksudmu?"


"Iya bisa saja, seandainya kau ada affair dengan Max, Jolene sedang mencurigaimu."


Tepat sekali. Begitu juga yang Wulan pikirkan.


"Berhati-hatilah, Wulan."


Wulan mengangguk. "Merci, Adrienne," ucapnya. Ia merapikan beberapa buku di atas meja dan beranjak dari duduknya. "Sampai nanti," ujarnya seraya melangkah keluar dari ruang Guru.


Ia melangkah menelusuri koridor yang lengang. Pikirannya kini tak bisa lepas dari Jolene dan maksud Guru Pembimbing itu sebenarnya.


Langkahnya terhenti ketika melihat Max baru saja keluar dari toilet, dengan rambut basah yang tersisir rapi.

__ADS_1


"Salut, Miss Wulan," sapanya sembari mengangguk kecil. Namun senyum nakalnya tersungging dari bibirnya. "Cantik," pujinya sembari terkekeh. Wulan memutar bola matanya jengah.


"Aku lupa punya hutang denganmu," ujar Max sembari melangkah di samping Wulan. Memberi jarak sekitar setengah meter dari Ibu Gurunya itu.


"Hutang?"


"Lukisan," ujar Max. "Tanpa pakaian," bisiknya.


Wulan hampir saja tak bisa menahan tawanya. Ia buru-buru menutup mulutnya dan berusaha bersikap seanggun mungkin.


"Akhir pekan ini, ya ...."


"Berapa aku harus membayarmu?" goda Wulan.


"Bayar saja dengan ...." Max memajukan dagunya mengarah pada tubuh ramping Wulan.


Gerakan tangan Wulan spontan menarik rambut basah Max hingga pemuda itu hampir saja tak bisa menjaga keseimbangan tubuhnya.


Keduanya terkesiap ketika mendapati Jolene Dupont telah berdiri di hadapan mereka, memandang keduanya dengan mata ia sipitkan.


"Hi, Miss Jolene," sapa Wulan dengan suara tercekat. Sementara Max sibuk merapikan rambutnya kembali. Ia hanya memandang sekilas pada Jolene tanpa mengatakan sepatah kata pun.


"Miss Wulan ... aku ambil bukunya nanti waktu jam istirahat siang, ya, merci," kata Max sekenanya. Disambut dengan anggukan kepala Wulan. Ia pun segera berlalu.


Jolene memandang kepergian Max hingga pemuda itu menghilang di balik pintu kelasnya.


"Ternyata kau akrab dengan Guillaume, Wulan," kata Jolene yang kini telah mengalihkan pandangannya pada Wulan.


"Ah, ya, aku pernah mengajar di kelasnya. Aku cukup akrab dengan beberapa murid kelas Literature," jawabnya berbohong.


"Hmmm ... anak yang tampan, ya," ucap Jolene tiba-tiba.


"Siapa? Max? Emm ... Guillaume?"


"Yeah."


"Owh, Oais, peut etre (ya, sepertinya)," ucap Wulan gugup.


Jolene tersenyum tipis. Membuat dada Wulan berdebar. Mengira-ngira apa yang dipikirkan oleh wanita berambut pirang itu.


"Ada acara akhir pekan ini?" tanya Jolene membuat Wulan terkesiap.


"Emm ... ya, sepertinya iya."


"Hmmm ... dengan pacarmu?"


"Miss Adrienne ... aku ada janji dengan Miss Adrienne."


"Ah, d'accord? C'est dommage (begitu? sayang sekali)," ujar Jolene kecewa.


Wulan tersenyum kecut. "Maaf, Jolene ... aku harus masuk ke kelas."


"Silahkan," sahut Jolene sembari mengangguk.


Wulan melangkah meninggalkan Jolene dengan perasaan tak menentu. Ia menghela napas dalam-dalam. Berusaha menenangkan dirinya dan membuang pikiran-pikiran buruk serta aneh yang memenuhi kepalanya.


***


***


***


Merci yang sudah like, comment, dan vote ya ....


Love y'all 🤗🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2