
Wulan terbaring lesu di atas ranjangnya. Matanya kosong menatap ke depan. Sisa-sisa buliran bening di sudut matanya sesekali masih menetes membasahi pipinya. Jam dinding menunjukkan pukul dua dini hari, namun Wulan masih belum bisa memejamkan mata. Dadanya masih terasa sesak. Hatinya nyeri. Ia menyusut tetesan bening di pipinya.
Ia bahkan membiarkan saja lengan Max menelusup ke pinggangnya dan memeluk punggungnya. Sesekali pemuda itu menghujani tengkuknya dengan ciuman. Membisikkan kata-kata permintaan ampunan, namun Wulan tak bergeming.
"Dis-moi ce que je dois faire (katakan apa yang harus kulakukan)," ucap Max lirih dari balik lehernya.
Wulan menggeleng. "J'ai besoin de temps (aku butuh waktu)."
"Tolong jangan tinggalkan aku, Wulan," pinta Max. "Aku bisa gila."
"Aku butuh waktu untuk melupakan bayanganmu bercinta dengan Jolene ...."
Max mengeratkan pelukannya pada Wulan. "Waktu itu yang kulihat di mataku hanya wajahmu, Wulan ... aku benar-benar berpikir kaulah yang kusentuh."
Wulan membalikkan badannya perlahan. Kini ia berhadapan dengan si mata biru yang terlihat kacau itu. "Bantu aku melupakannya," bisiknya seraya mengelus bibir merah Max.
Max mendekatkan wajahnya pada Wulan. Memagut bibirnya pelan, dan terus memagutnya hingga semakin lama semakin panas.
Wulan meraih telapak tangan Max kemudian menyentuhkannya pada dadanya. Ia membimbing pemuda itu meremas gundukan lemak indah miliknya. "Begini caramu menyentuh Jolene?"
"Wulan ...."
"Apa dia membuka kedua kakinya seperti ini?" tanya Wulan seraya merenggangkan kakinya dan menarik tubuh Max ke atasnya. Dengan kasar ia melucuti pakaiannya dan juga pakaian pemuda itu. "Do it (lakukanlah)!" hardiknya.
"Don't be like this, please (jangan begini, tolonglah)." Max mencoba untuk menolak permintaan Wulan, namun Wulan tak memberi kesempatan padanya untuk menghindar.
"Bagaimana caramu memasuki wanita itu? Begini?" Wulan meraih milik Max yang paling berharga di bawah sana dan dengan kasar mempertemukannya dengan bunganya yang telah mekar.
"Please, Wulan ...."
"Apakah dia seliar ini?" ujar Wulan seraya merubah posisinya ke atas Max. "Riding you like this (menaikimu seperti ini)?" Wulan mempercepat gerakan rodeonya. Antara amarah dan gairah bercampur menjadi satu. Entah ia sudah gila atau apa.
"Emm ... Wulan," desah Max. Benteng pria mana yang tidak jebol jika dibombardir sedahsyat ini. Ia meraih pinggang Wulan dan menariknya mendekat untuk mencecapi puncak dada Wulan dengan rakusnya.
Plakkk.
Satu tamparan mendarat di pipi kanan Max. Lalu ....
Plakkk.
Pipi kirinya kini yang menjadi sasaran Wulan.
Max meringis kesakitan, namun tak sebanding dengan rasa nikmat yang juga ia rasa secara bersamaan.
"Kau anak nakal, ya, Max!" hardik Wulan seraya meraih segenggam rambut gondrong Max dan menjambaknya dengan keras. Tubuhnya sedikit terangkat namun Wulan segera membantingnya lagi ke atas kasur.
Wulan melu mat bibir Max dengan rakusnya. Menggigitnya, menghisapnya dengan semena-mena.
__ADS_1
"Aku marah sekali padamu!" desis Wulan sembari melancarkan serangan bibirnya ke leher Max lalu menggigitnya dengan keras.
"Auchh ...." Max mengaduh, namun lebih terdengar seperti rintihan.
"Anak nakal, anak nakal!" seru Wulan. Ia kembali menjambak rambut Max, lalu menyesap bibirnya, menggigit pipinya, lalu turun ke pundak kokohnya, dan menggigitnya lagi.
"Hukum aku, Miss ... hukum aku!" engah Max antara sengsara dan nikmat.
Sengsara membawa nikmat.
Tubuh Wulan bergetar hebat ketika syurga runtuh menimpanya. Ia memeluk tubuh polos yang penuh dengan bekas kemerahan itu dengan erat. Hingga beberapa saat lamanya ia terkulai lemas di atasnya.
"Apa kau sudah selesai menghukumku?" bisik Max.
Wulan membuka matanya. Menatap wajah si tampan yang begitu dekat dengan wajahnya.
"Tidak tahu," gumamnya.
Max mengelus punggung Wulan dengan lembut. "Please forgive me (tolong maafkan aku)," ucapnya.
"Entahlah ...."
"Kau boleh menghukumku terus," kekeh Max.
Wulan mendecak. Lalu menarik rambut Max tanpa tenaga.
"Kuberikan seluruh tubuhku untuk kau siksa."
"Wulan ...."
"Hmmm ...."
"Aku sesak napas," ujar Max sembari menarik napasnya dengan berat. Dadanya masih tertindih oleh tubuh Wulan.
"Biar saja," sahut Wulan.
"Ya sudah, tidak apa-apa ... sepertinya kau masih ingin menempel padaku."
Wulan mendesis. Ia segera mengangkat tubuhnya dan berbaring memunggungi Max. Lalu menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang tanpa busana.
"Sial, kau memang benar-benar menghukumku ya," umpat Max sembari meraba sesuatu yang masih tegak di bawah sana. Ia belum sempat menuntaskannya karena Wulan sudah selesai terlebih dahulu.
"Aku mau tidur," gerutu Wulan.
"Oui, oui, Bébé (iya, iya, sayang)," sahut Max getir. "Tapi, aku boleh memelukmu tidak?" tanyanya kemudian.
"Tidak!"
__ADS_1
Max meraup wajahnya dengan kasar. Sudah bisa dipastikan ia akan melewati malam ini dengan penuh kesengsaraan.
***
LYCÉE JEAN-BAPTISTE SAY, SURESNES.
"See you tomorrow, and don't forget to do your homework."
Wulan memandangi satu persatu siswa yang mengantri keluar dari kelas sembari merapikan buku-bukunya. Begitu kelas kosong, ia pun segera beranjak dari duduknya dan melangkah keluar kelas. Menelusuri koridor yang ramai dan keluar dari gedung kelas 11.
Dalam perjalanannya menuju ruang Guru yang menyatu dengan gedung kelas 12, ia berpapasan dengan Max dan ketiga sahabatnya, Etienne, Frederick dan Chen yang sepertinya hendak menuju ke cafetaria.
Wulan yang masih merasa kesal segera membuang muka dan mempercepat langkahnya masuk ke dalam gedung. Ia masih bisa mendengar gelak tawa Etienne, Frederick dan Chen yang sepertinya tengah menggoda Max. Penasaran, Wulan menengok ke belakang dan mendapati Etienne tengah memiting kepala Max dan mengacak rambut pemuda itu.
Pemandangan itu membuat Wulan mau tidak mau tersenyum. Wajah kesal Max terlihat menggemaskan.
"Wulan ...."
Panggilan itu membuatnya terkejut. Ia buru-buru menatap ke arah asal suara.
Jolene.
Dada Wulan bergemuruh. Amarahnya kembali timbul. Bayangan wajah Max yang tengah mencumbui wanita di hadapannya itu terlintas begitu saja. Tiba-tiba perutnya terasa mual.
Sekuat tenaga Wulan berusaha mengendalikan dirinya. Namun sayang, tubuhnya terasa limbung.
"Ca va toi (kau baik-baik saja)?" Jolene segera meraih bahu Wulan dan membantunya berdiri.
"Jangan sentuh aku! Maksudku ... aku baik-baik saja." Wulan meralat kata-katanya. Hampir saja ia tidak bisa mengendalikan dirinya untuk menghardik Jolene. Ia segera melepaskan pegangan tangan wanita itu dari bahunya.
"Kau yakin kau tidak apa-apa?" Jolene masih berusaha untuk menawarkan bantuan. Wanita itu meraih pinggangnya dan berniat untuk memapahnya.
Wulan beringsut menjauh dan mengangkat tangannya. Memberi peringatan pada Jolene untuk tidak mendekat. Sepertinya apa yang dikatakan Max benar adanya. Jolene mengincarnya, romantically. Ia bisa merasakan sentuhan tangannya yang berbeda dari sentuhan pada sesama wanita normal.
"Aku hanya ingin membantu," ujar Jolene dengan wajah prihatinnya.
"Merci!!" ucap Wulan dingin. Ia segera berlalu dari hadapan Jolene dan melangkah cepat menuju toilet Guru.
Begitu sampai di dalam toilet, Wulan segera memuntahkan isi perutnya hingga tak tersisa.
"F uck!" makinya. Kepalanya berdenyut memikirkan semua yang telah terjadi.
Ia diincar wanita penyuka sesama jenis yang telah bercinta dengan kekasihnya.
Wulan kembali memuntahkan isi perutnya yang hanya tinggal cairan berwarna kuning dan terasa begitu pahit.
***
__ADS_1
***
***