High School Bad Boy

High School Bad Boy
Bab 68. Elle Est Indonesienne, Ta Copine?


__ADS_3

LES MARAIS, PARIS.


"Attendez une minute, s'il vous plait (tunggu sebentar), Madame," ujar Max pada seorang wanita paruh baya berkulit hitam dan anak lelakinya yang sedang ia lukis. Wanita yang beberapa saat lalu mengaku sebagai turis asal Martinique Island itu tersenyum dan mengangguk.


Ia merogoh ponsel yang berdering sejak tadi di saku bajunya. Memeriksa layar dan membaca nama Eloise yang tertera di sana.


"Oui, Eloise?"


"Max, t'es ou (kau dimana)?"


"Pont Marie ...."


"Aku ke sana sekarang, ada yang ingin kubicarakan."


"Emmm ... d'accord (oke)."


Max menutup telponnya dan memasukkannya kembali ke dalam sakunya.


"Désolé (maaf)," ucap Max pada kedua pelanggannya itu sembari mengambil kuas dan palet yang tadi ia letakkan di atas meja lipat kecil di sampingnya. Ia melanjutkan goresan cat akriliknya ke atas kanvas yang hanya tinggal sentuhan terakhir saja.


Lima belas menit kemudian Max telah menyelesaikan lukisannya dan meminta Ibu dan anak itu untuk memeriksanya.


"C'est magnifique (ini bagus sekali)," puji si wanita dengan wajah gembira. Ia terlihat puas dengan hasil lukisan realis Max yang mendekati sempurna. "Combien (berapa)?" tanyanya.


"200 euro," jawab Max.


Wanita itu mengambil dua lembar seratus euro dari dalam dompetnya dan mengulurkannya pada Max.


"Merci, Madame," ucap Max sembari menerima lembaran-lembaran berwarna hijau itu. "Lukisannya akan kering kurang lebih tiga puluh menit, Nyonya. Kau mau menunggu di sini?" tawarnya.


"Kami akan berkeliling terlebih dahulu."


Max mengangguk. Ia lalu mulai membenahi peralatan lukisnya. Si wanita dan anak lelakinya itu ia putuskan menjadi pelanggan terakhirnya hari ini. Direnggangkannya otot-otot jemarinya yang terasa kaku seraya menyandarkan punggung pada pagar jembatan Pont Marie.


Sepasang matanya menangkap sosok Eloise di antara orang-orang yang lalu lalang di depannya. Ia membalas senyuman gadis itu yang tersungging untuknya.


"Hi, Max," sapa Eloise dengan mata berbinar. Ia berjalan mendekat pada Max dan berdiri di samping pemuda itu. "Wah, kau sudah selesai?" tanyanya sembari memandang tas besar milik Max yang sepertinya telah terisi penuh dengan peralatannya. Gadis itu juga terkagum-kagum melihat lukisan Max yang masih menempel di easel.


"Yeah," sahut Max pendek.


"Berapa orang yang kau lukis hari ini?"


"Emmm ... enam orang."

__ADS_1


"Wow ... banyak sekali. Biasanya kau hanya menerima dua atau tiga pelanggan saja dalam satu hari."


Max terkekeh. "Aku sedang memperbanyak tabungan untuk liburan musim dingin."


"Memangnya kau mau liburan kemana?"


"L'indonesie (indonesia)," jawab Max dengan senyum lebarnya.


"Jauh sekali. Kau tidak mau ke Spanyol saja?"


Max menggeleng. "Aku ingin menemani pacarku pulang ke sana."


Senyum Eloise pun pudar mendengar ucapan Max. Namun ia berusaha menyembunyikan rasa perih yang tiba-tiba menghujam dadanya.


"Elle est Indonésienne, ta copine (pacarmu orang Indonesia)?" tanya Eloise dengan dada bergemuruh.


"Oui ...." Max menyahut dengan mantap. "Kau bilang ingin membicarakan sesuatu, Eloise?"


"Ah, ya ...." Eloise membenarkan letak syal di lehernya. "Sorbonne mengadakan program beasiswa tahun ini. Untuk Fakultas Seni Rupa ada sepuluh slot yang tersedia. Kalau kau berminat, aku bisa mendapatkan formulirnya untukmu." Ia bisa saja menyampaikannya lewat telepon. Namun ia berpikir, ini bisa menjadi alasannya untuk bertemu dengan Max.


"Ah, bon ... c'est genial (ohya, bagus sekali)," sahut Max gembira. "Merci, Eloise."


Gadis berambut cokelat itu tersenyum. "Aku yakin kau pasti akan diterima. Mereka sudah tahu Monsieur Bruno Le Maire membeli lukisanmu. Itu bisa menjadi nilai tambah untukmu, Max."


"Mau minum bir?" tawar Eloise.


"Emm ... maaf, Eloise, aku ada janji dengan pacarku malam ini."


Eloise menghela napas kecewa. Ia datang dengan niat ingin sedikit menghabiskan waktu bersama Max malam ini, namun kenyataan berkata lain. "Mungkin lain kali," ujarnya seraya memaksakan senyumnya.


"Désolé (maaf)," ucap Max. Ia bisa menangkap kekecewaan di wajah Eloise. Walaupun sepertinya gadis itu berusaha menyembunyikannya.


"C'est pas grave (tidak apa-apa)," sahut Eloise dengan senyum getirnya.


***


Tepat ketika Wulan selesai merapikan tempat tidurnya, pintu apartemennya diketuk oleh seseorang. Ia pun melangkah keluar dari kamarnya dan segera membuka pintu.


Senyumnya tersungging begitu melihat Max berdiri di sana, dengan tas besar di punggungya dan satu easel kayu di tangan kanannya.


"Hello, Pelukis handal, silahkan masuk," godanya sembari membuka lebar pintu apartemennya.


Max terbahak mendengar gurauan Wulan. Lalu melangkah masuk dan langsung menuju kamar Ibu Gurunya itu.

__ADS_1


Wulan segera menutup pintu dan menyusul Max masuk ke dalam kamarnya. Dilihatnya pemuda itu tengah menyiapkan peralatannya.


Beberapa saat setelah ia selesai, ia menatap Wulan yang tengah berdiri di dekat pintu seraya menyandarkan punggungnya ke dinding kamar.


"Beri aku pelukan," pinta Max seraya membuka lebar kedua tangannya. Memberi isyarat pada Wulan untuk datang ke pelukannya.


Tubuh mungil Wulan kini telah direngkuhnya dan ia dekap erat dengan penuh kasih sayang. Merasakan hangatnya wanita yang yang begitu dicintainya itu. Meluapkan rasa rindu yang tak pernah mereda, sesering apa pun ia bertemu dengannya.


"Je t'aime (aku mencintaimu), Wulan," bisiknya lembut.


"Kau sudah sering mengucapkannya, Max."


"Biar saja. Aku ingin mengucapkannya setiap hari."


Keduanya saling mendekap cukup lama. Saling menyesap wangi tubuh mereka. Saling mengelus punggung dengan lembut. Rasanya cinta mereka bertambah kuat setiap harinya.


"Réponds-moi (jawab aku)," bisik Max kembali.


"Je t'aime aussi (aku juga mencintaimu)"


Max tersenyum sembari melepaskan pelukannya. Ia meggandeng Wulan menuju ranjang. Lalu mendudukkannya di tepian.


Ia pun berlutut di depan Wulan. Mengelus lengan Ibu Gurunya itu lembut sembari pandangannya tak lepas dari wajah wanita pujaan hatinya itu. Tangannya bergerak perlahan meloloskan kancing baju Wulan satu persatu.


Telapak tangannya mulai merayap menyingkirkan pakaian Wulan mulai dari pundak, lalu menurunkannya perlahan hingga turun ke pinggang. Ia melanjutkan gerakannya meloloskan pakaian Wulan hingga tak sehelai benang pun tertempel di sana.


"Berbaring, Miss," bisiknya.


Wulan menuruti permintaan Max dengan pasrah. Ia menaikkan kakinya ke atas ranjang dan berbaring dengan posisi miring. Satu lengannya ia tumpu pada sisi kepalanya.


Max memandangi tubuh indah itu dengan penuh damba.


"Ijinkan aku untuk menuangkan setiap jengkal tubuh indahmu ke dalam kanvas ...."


***


***


***


Martinique Island ada di kepulauan karibia dan merupakan pulau di bawah pemerintahan Republik Perancis. Jadi penduduk di sana berbahasa Perancis. (Untuk yang ingin tahu kenapa Max berbicara bahasa Perancis dengan Ibu dan anak yang ia lukis).


Bersambung yak?

__ADS_1


Aku ngantuk banget😁😁😁


__ADS_2