High School Bad Boy

High School Bad Boy
Bab 60. A Doubtful Heart (Hati Yang Penuh Keraguan).


__ADS_3

Wulan membuka selimutnya dan duduk di tepian ranjang. Ia menyeka keringat dingin di dahi dengan punggung tangannya.


Ia melirik jam di dinding kamarnya. Pukul dua dini hari. Mimpi buruk membuatnya terbangun dari tidurnya.


Ia meraih ponsel dan memeriksa layar. Berharap ada pesan dari Max. Namun nihil. Lalu dengan gontai ia melangkah keluar dari kamarnya menuju dapur untuk mengambil segelas air putih.


Ia meneguk gelas airnya. Membasahi tenggorokannya yang terasa kering. Dadanya masih berdegup kencang, memikirkan mimpinya beberapa saat lalu yang terasa begitu nyata.


Sebegitu takutkah ia kehilangan anak bengal itu? Lalu apa yang harus dilakukannya sekarang?


Wulan duduk di atas sofa dengan gelas yang masih dipegangnya erat-erat. Pandangan matanya menatap kosong ke depan. Pikirannya benar-benar kalut. Satu sisi ia ingin terus bersama Max, namun di sisi lain ia belum siap dengan beban mental dan segala kerumitan yang akan dihadapinya jika ia memaksakan diri terus bersama dengan anak itu. Hidupnya sudah mulai tertata di negeri asing ini. Punya pekerjaan yang cukup bagus dan bisa menghidupi dirinya serta keluarganya di Indonesia. Mencari pekerjaan di Perancis untuk imigran sepertinya bukanlah hal mudah. Wulan beruntung Jean Baptiste Say menerima lamaran pekerjaannya. Setelah beberapa kali sebelumnya ia mencoba melamar pekerjaan di berbagai tempat dan hasilnya nihil.


Ia kembali meneguk gelas airnya. Menghela napas dalam-dalam dan menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa.


Malam yang hening, seperti hatinya yang dilanda kesepian luar biasa.


***


LYCÉE JEAN-BAPTISTE SAY, SURESNES.


"Kau tidak makan siang?" tanya Adrienne sembari menarik kursi di hadapan Wulan dan meletakkan ke atas meja satu piring cassoulet, soup kacang lembut yang dicampur dengan daging bebek dan sosis. Keduanya berada di cafetaria yang cukup ramai.


Wulan menyesap cokelat panasnya, lalu menggeleng pelan. Ia memutar pandangan ke seluruh ruang cafe. Jantungnya berdegup kencang ketika matanya menangkap sosok Max muncul dari balik pintu, bersama Etienne, Frederick, Chen, dan satu murid wanita dari kelas 12 economy, yang ia ketahui bernama Belle Fortin.


Pertama kalinya dalam seminggu ini, Wulan melihat anak itu di sekolah. Bahkan semenjak pertengkarannya dengan Max malam itu di apartemennya, tak ada komunikasi apa pun yang terjalin di antara mereka. Senyap.


Bahkan saat ini Max tak sekali pun menoleh padanya. Ia sibuk mengobrol dengan teman-temannya.


"Aku benar-benar stres, Wulan."


Wulan terkesiap mendengar perkataan Adrienne. Ia buru-buru mengalihkan pandangannya dari Max pada rekan Gurunya itu.


"Pourquoi (kenapa)?" tanya Wulan.


"Kau ingat aku pernah bercerita tentang suamiku yang jarang pulang ke rumah?"


Wulan mengangguk. Sementara Adrienne menghela napasnya berat.


"Kau ingat Marie-Ange, nama kontak wanita yang ada di ponsel suamiku, yang pernah aku ceritakan padamu? Aku beberapa kali memeriksanya. Dia sering sekali menelponnya. Waktu aku tanya siapa dia, suamiku menjawab dia hanya rekan kerja biasa. Tapi firasatku mengatakan wanita itu bukan hanya sekedar rekan kerja biasa."


"Kau tidak bisa menyimpulkannya seperti itu kalau belum cukup bukti, Adrienne."


"Iya, aku tahu. Hanya saja perasaanku tidak tenang setiap kali mengingatnya."


Wulan menepuk-nepuk punggung tangan Adrienne lembut. "Semoga saja firasatmu salah," hiburnya.

__ADS_1


Menghibur orang lain? Sementara hatinya sendiri sedang kacau balau.


Wulan mencuri pandang pada Max yang kini duduk di sudut ruangan bersama dengan teman-temannya menikmati makan siang. Ia memperhatikan senyum manis anak itu yang terus saja tersungging, sembari sesekali saling memukul bahu pelan dengan Etienne.


Betapa ia merindukan senyuman itu, merindukan kejahilannya, merindukan wajah tengilnya, merindukan sentuhannya.


Dadanya berdebar ketika dilihatnya Max dan Belle Fortin terlihat akrab. Sekilas ia melihat tangan gadis berambut cokelat itu menyentuh lengan Max lembut.


"... ya seperti itu, aku harus bagaimana, Wulan?" tanya Adrienne. "Wulan?" Adrienne menggoyang-goyangkan telapak tangannya di depan wajah Wulan. "Kau mendengarkanku atau tidak?"


"Ah, maaf, Adrienne, kau bilang apa tadi?"


"Kau sedang melihat apa?" tanya Adrienne seraya menoleh ke sana kemari. Mencari sesuatu yang membuat Wulan tak berkonsentrasi mendengarkan perkataannya.


"Bukan apa-apa, Adrienne." Wulan memijit tengkuknya. "Aku hanya sedang tidak enak badan."


Adrienne manggut-manggut. Lalu menyelesaikan beberapa suapan terakhir cassouletnya. Sementara Wulan menghabiskan cokelat panasnya dan mengajak rekannya itu meninggalkan cafe.


Ia berjalan melewati Max dan teman-temannya tanpa berani menoleh sedikit pun.


Di sudut ruangan, sepasang mata biru itu memandangi punggung mungil Wulan yang mulai menjauh dan hilang di balik pintu cafe.


.


.


Buggh.


Ia menabrak seseorang yang hendak keluar dari pintu. Buku-buku yang diapitnya berhamburan ke lantai.


"Désolé (maaf)," ucapnya tanpa melihat siapa orang yang di tabraknya, dan segera memunguti buku-bukunya.


Satu tangan lentik bergerak membantu Wulan mengambil salah satu buku miliknya dari lantai.


"Miss Wulan?"


Wulan mendongak dan mendapati seraut wajah cantik berambut pirang tengah tersenyum padanya.


"Owh, Miss Jolene ... merci," ujar Wulan seraya mengambil satu buah bukunya dari tangan Jolene Dupont.


"Buru-buru?" tanya Jolene.


"Yeah," jawab Wulan sembari melirik pada jam di pergelangan tangannya. Baru kali ini ia berinteraksi dengan Guru Pembimbing baru yang cantik itu.


Jolene memandangi Wulan lekat. Lalu kembali menyunggingkan senyumannya.

__ADS_1


"Silahkan ...." Jolene mempersilahkan Wulan untuk melanjutkan langkahnya.


Wulan mengangguk. Ia segera melangkah menuju ke kelasnya. Ia menoleh sekilas ke belakang dan mendapati Jolene masih berdiri di depan pintu dan memandangnya. Wanita itu melambai kecil pada Wulan dan ia balas dengan anggukan dan senyuman.


Wulan mengerenyitkan dahinya. Tatapan mata wanita itu tampak aneh. Memandangnya tajam seakan ingin menelanjanginya.


Mungkinkah Jolene Dupont telah mengendus hubungannya dengan Max?


***


STALINGRAD, SURESNES.


"Max, attende (tunggu)!" seru Belle sembari berlarian mengejar Max yang berjalan cepat menuju gedung apartemennya.


Gadis manis berwajah mungil itu meraih lengan Max dan menggandengnya mesra. "Mau ke apartemenku? Kebetulan orang tuaku sedang pergi. Aku sendirian."


Max mendecak. "Mau apa ke apartemenmu?" tanyanya pada gadis yang tinggal beberapa blok dari apartemennya itu.


"Minum, merokok, menonton film," jawab Belle dengan mata berbinar.


"Aku tidak bisa," jawab Max sembari melepaskan gandengan tangan Belle.


"Ayolah, Max," bujuk Belle dengan manjanya.


"Aku bilang aku tidak bisa!" seru Max kesal. "Kau ajak Etienne, Chen atau Fred saja."


Belle mencebikkan bibirnya. Tampak kekecewaan tersirat jelas di wajahnya. Namun ia tak mau menyerah. Diikutinya Max hingga masuk ke dalam gedung.


"Kalau begitu aku saja yang ke apartemenmu," ujarnya.


Max menghentikan langkahnya. Lalu menatap sebal pada gadis itu. "Aku sedang tidak ingin bersama siapa pun," tegasnya.


"Memangnya kenapa?"


"Moodku sedang tidak bagus."


"Hanya itu?" Belle mendesis. "Ayolah, Max ...."


"Hei!" Max menunjuk tepat di depan wajah Belle. "Aku bilang tidak, ya tidak!"


Belle mengangkat tangannya tanda menyerah. Lalu membiarkan saja Max berlalu meninggalkannya. Ia bersungut-sungut keluar dari gedung dengan wajah muram.


***


***

__ADS_1


***


__ADS_2