
LYCÉE JEAN-BAPTISTE SAY, SURESNES.
Wulan merasa banyak siswa yang memperhatikannya sejak ia keluar dari ruang Guru hingga masuk ke gedung kelas 11. Ia juga sempat berpapasan dengan Belle Fortin di koridor yang memandangnya dengan tatapan sinis.
Entah apa yang salah pada dirinya hingga para siswa itu bersikap aneh padanya.
Ia masuk ke dalam kelas dengan perasaan gundah. Ditambah lagi seisi kelas kini memandangnya dengan tatapan aneh. Di antara mereka bahkan ada yang saling berbisik dan tersenyum mengejek.
"Good morning," sapa Wulan sembari menyapu pandangannya ke seluruh kelas.
"Good morning, Miss ...." Para siswa menjawab bersamaan dengan sopan. Namun mata Wulan menangkap ekspresi-ekspresi aneh dari wajah meraka.
"Kalian sudah mengerjakan PR?" tanya Wulan.
Suara bisik-bisik dan cekikikan mulai terdengar. Wulan mengernyitkan dahinya. Tidak biasanya murid-murid di kelas ini bersikap seperti itu.
"Tolong kumpulkan PR kalian," ujarnya kemudian. Ia mencoba mengabaikan perasaannya yang mulai tidak enak.
Wulan duduk di kursinya dan menunggu para siswa itu mengumpulkan PR seperti yang ia perintahkan.
"Miss!" panggil seseorang dari deretan kursi paling belakang.
"Yes," jawab Wulan sembari melayangkan pandangannya pada seorang anak lelaki berambut merah yang tengah tersenyum-senyum ke arahnya.
"Mau kencan denganku tidak?" seloroh anak lelaki itu diikuti dengan sorakan seisi kelas.
Wulan terperanjat. Ia sampai beranjak dari duduknya dan berjalan mendekat ke arah anak lelaki itu.
"Kau bilang apa, Janvier?" tanya Wulan menyebut nama anak lelaki itu.
Janvier melempar senyum absurd pada teman-temannya. Lalu memandang Wulan dengan tatapan menggoda. "Ya, kau mau berkencan denganku tidak?"
"Kau sungguh tidak sopan, Janvier!" hardik Wulan. Ia begitu heran, anak ini tidak biasanya bersikap kurang ajar seperti ini.
"Kalau Maximilian bisa berkencan denganmu, artinya aku juga punya kesempatan, kan, Miss? Aku bahkan lebih muda darinya ... dan lebih tampan," kekeh Janvier.
Suara gelak tawa dari seluruh penghuni kelas begitu memekakan telinga Wulan. Dadanya berdegup kencang. Mungkin wajahnya kini telah memerah.
Brakkk.
Wulan menggebrak meja Janvier dengan keras. Hingga semua siswa pun terdiam. Namun masih terdengar bisik-bisik di antara mereka.
"Jangan bicara sembarangan!" serunya geram dengan napas yang memburu.
Ia membalikkan badannya dan berjalan ke arah mejanya.
"Buka buku halaman empat puluh enam, baca baik-baik, dan jawab pertanyaan di bawahnya!" serunya lantang. "Aku permisi sebentar," ujarnya sembari melangkahkan kaki keluar dari ruangan kelas.
Ia berjalan menelusuri koridor dengan perut yang terasa mulas. Badannya pun terasa panas dingin. Sepertinya kini Wulan mengerti kenapa penghuni sekolah ini memandangnya dengan ekpresi aneh.
Apakah ini saatnya? Semua telah terbongkar?
Wulan terperanjat ketika memasuki pelataran di antara gedung kelas 11 dan 12, beberapa siswa lelaki yang di antaranya adalah André, menghalangi jalannya. Salah seorang di antara mereka bersiul sembari memandangi dada Wulan.
"Tu va ou (kau mau kemana), Miss?" goda André seraya mendekati Wulan.
Pemuda berbadan besar itu hendak meraih dagu Wulan, namun dengan cepat ia menepisnya.
"Jaga sikapmu, André!" seru Wulan sembari menunjuk tepat di depan wajah pemuda itu.
__ADS_1
André tertawa terbahak-bahak. "Jangan terlalu jual mahal, Miss. Guillaume saja bisa menidurimu, kenapa aku tidak?"
Plakkk.
Satu tamparan Wulan mendarat di pipi André dengan keras. Membuat pemuda itu meringis kesakitan. Ia hendak meraih lengan Wulan, namun seseorang tiba-tiba datang dan menahannya.
"Pergi kalian!" Jolene, berdiri di antara André dan Wulan. Melotot ke arah pemuda itu dan teman-temannya. "Allez dégage (ayo pergi)!" serunya kembali ketika dilihatnya pemuda itu dan teman-temannya masih saja ingin menggoda Wulan.
"Wulan, Ibu Kepala Sekolah mencarimu," kata Jolene pada Wulan. Ia mendorong dada André untuk memberi jalan pada Wulan.
Sementara Wulan berjalan menunduk mengikuti langkah Jolene masuk ke gedung kelas 12.
.
.
Wanita berbadan tambun dan berambut pirang itu, La Principale, Madame Thiébaud, menatap tajam ke arah Wulan yang duduk di seberang meja dan tak berani mengangkat kepalanya. Raut wajahnya terlihat tegang, dan marah.
Sementara Jolene berdiri tak jauh di belakang Wulan dengan senyum miring tersungging di bibirnya.
"Aku tidak percaya skandal seperti ini bisa terjadi lagi di sekolah ini," ujar Madame Thiébaud dengan suaranya yang berat.
"Kau bisa jelaskan, Miss Laksana?" lanjutnya.
Wulan mengangkat wajahnya pelan. "Madame La Principale, je suis désolé, je (Ibu kepala sekolah, aku minta maaf, aku) ...."
Brakkk.
Pintu ruangan tiba-tiba dibuka dengan paksa. Membuat Wulan, Jolene dan Madame Thiébaud tersentak kaget.
"Ini bukan salah Miss Laksana!"
"Kau tidak punya sopan santun, ya, Anak Muda!" hardik Madame Thiébaud pada Max dengan wajah kesalnya.
"Désole, Madame (maaf, Bu) ... aku yang bersalah. Aku yang menggoda Miss Laksana. Dia sama sekali tidak menanggapi. Ini hanya fitnah dari orang yang ...." Max menoleh ke arah Jolene dan menatapnya sinis. "Orang yang ingin menghancurkan reputasi Miss Laksana," lanjutnya.
"Hmmm?" Madame Thiébaud mengerenyitkan dahinya menatap Max.
"Aku yang bersalah." Max menepuk dadanya beberapa kali. "Kalau ada yang harus dihukum. Akulah orangnya. Aku yang selalu mengganggu Miss Laksana." Max menantang tatapan Ibu Kepala Sekolah itu dengan berani.
"Benarkah begitu? Tapi kabar yang tersebar kau dan Miss Laksana terlibat hubungan asmara."
Max menggeleng. "Tidak benar!" tegas Max. "Aku memang menyukai Miss Laksana, tapi dia tidak membalasku. Aku bersumpah, Madame ... kau boleh meminta Sorbonne mencabut beasiswaku kalau aku berbohong."
Wulan terkejut mendengar perkataan Max. Namun ia hanya bisa terdiam.
"Bagaimana ini, Miss Dupont, kenapa bisa ada berita yang tidak benar seperti ini?" Madame Thiébaud kini mengalihkan perhatiannya pada Jolene.
"Emm ... aku ... juga tidak tahu, Madame. Ada beberapa siswa yang menyampaikannya padaku," jawab Jolene terbata.
Madame Thiébaud menghela napas dalam-dalam.
"Buang-buang waktuku saja," gerutunya. "Kalian semua pergilah!" titahnya seraya mengibas-ngibaskan tangannya memberi isyarat pada Wulan, Max dan Jolene untuk keluar dari ruangannya.
.
.
Wulan berjalan menelusuri koridor yang ramai menuju ruangannya. Semua mata menatapnya dengan berbagai macam ekspresi. Ada yang sinis, ada yang mengejek, bahkan ada beberapa yang menghadiahinya siulan nakal.
__ADS_1
"Ecoutez-moi, tout les monde (dengarkan aku semuanya)!" teriak seseorang dari balik punggungnya. Membuat langkah Wulan terhenti dan menoleh ke arah belakangnya.
Max!
"Yang kalian dengar adalah gosip murahan!" Max berseru sembari menunjuk pada semua siswa yang berkerumun di koridor.
"Aku yang bertanggung jawab di sini. Aku yang mengganggu Miss Wulan. Aku yang mengejar-ngejar dia. Kalau kalian ingin mengatakan sesuatu. Katakan di sini, di depanku!"
Suasana koridor menjadi hening. Tak seorang pun yang berani menyahut perkataan Max.
"Kalau aku tahu ada yang mengganggu Miss Wulan lagi ... habis kalian!" ancam Max.
Max menyapu pandangan ke seluruh koridor. Dilihatnya Belle di antara kerumunan para siswa. Gadis itu tertunduk. Namun ia bisa melihat wajahnya yang terlihat pucat.
"Silahkan masuk ke ruanganmu, Miss." Max mempersilahkan Wulan untuk pergi terlebih dahulu.
Wulan mengangguk. Lalu pelan ia pun melangkah menuju ke ruang Guru.
***
STALINGRAD, SURESNES.
Max berdiri menyandarkan punggungnya di samping pintu utama apartemen sembari menghisap rokoknya. Begitu melihat kedatangan Belle, ia membanting rokoknya dan menginjaknya dengan kasar.
"Hei, je veux parler (aku mau bicara)!" serunya pada gadis itu.
Belle yang terlihat panik hendak berlari menghindari Max, namun dengan cepat pemuda itu menangkapnya.
"Aku tidak tahu apa-apa, Max, sungguh," cicit Belle ketakutan.
Max mendorong tubuh Belle hingga menabrak tembok. Lalu menahan gadis itu di sana tanpa bisa melawan.
"Kau yang menyebarkan gosip murahan itu, kan?"
"Bukan, Max, aku ... aku ...."
"Siapa yang menyuruhmu, hah?" tanya Max. Walaupun senenarnya ia sudah tahu siapa dalang di balik semua ini. Ia hanya ingin memberi sedikit pelajaran pada Belle.
Belle menelan ludahnya dengan susah payah. Gadis itu tahu ia tak bisa membohongi Max.
"Dis moi (katakan)!" sentak Max membuat Belle menggigil ketakutan. "Belle!" teriak Max.
"Miss Jolene, Max ... Miss Jolene yang menyuruhku."
Max melepaskan cengkeramannya pada kerah baju Belle. "Kalau saja kau bukan wanita, sudah kuhajar kau!"
"Maafkan aku, Max, maafkan aku."
"Pergi sana!" serunya pada Belle yang segera berlari masuk ke dalam gedung.
Max menghembuskan napasnya kasar. Ia benar-benar ingin memberi pelajaran pada Jolene Dupont si wanita gila itu.
"Aaarghh!" teriaknya sembari menendang satu buah kaleng bekas yang tergeletak tak jauh darinya, hingga membentur dinding.
***
***
***
__ADS_1