
Dekat denganmu saja sudah cukup. Tapi aku tidak mau ada seorang pun yang memilikimu.
Dari dalam mobilnya, Jolene menatap tajam pada dua sosok pria dan wanita yang tengah memasuki pintu utama sebuah gedung apartemen di seberang sana. Tangannya mengepal. Lalu memukulkannya ke atas roda kemudi.
Ia menghela napas pelan. Mencoba meredam gemuruh di dalam dadanya. Ia merasakan cemburu yang teramat sangat melihat Wulan bersama dengan anak bengal itu. Ia juga geram kenapa Max tidak mengindahkan peringatannya.
"Kau mau melawanku rupanya, Max," desisnya.
"D'accord (baiklah) ...."
Begitu sosok Wulan dan Max menghilang di balik pintu, Jolene mengemudikan mobilnya meninggalkan tempat itu.
.
.
"Aku tidak enak badan," ujar Wulan sembari menepis tangan Max yang hendak meraih pundaknya.
"Kau sakit?" tanya Max cemas.
Wulan menggeleng. Ia melempar tas selempangnya ke atas sofa. Kemudian berjalan menuju kamarnya.
Di dalam kamarnya Wulan langsung naik ke atas ranjangnya dan menutupi badannya dengan selimut. Sementara Max yang mengikutinya masuk kini duduk di tepian ranjang.
"Kau masih marah, ya?" tanya Max.
"Menurutmu?"
"Sampai kapan?"
"Tidak tahu."
Max menghela napasnya.
"Setiap kali melihat Jolene perutku mual," ujar Wulan.
Max menaikkan alisnya. "Jangan-jangan kau hamil?"
Wulan mendecak. "Dasar bodoh!"
Max terkekeh. "Tidak apa-apa kalau hamil, aku senang."
"Aku tidak hamil," sergah Wulan kesal. "Jolene membuatku mual, atau lebih tepatnya membayangkan kau dan Jolene membuatku mual."
"Jadi aku harus bagaimana?" tanya Max pasrah.
Kini giliran Wulan yang menghela napasnya dalam-dalam. "Aku sudah memaafkanmu, Max ... hanya saja ... aku belum bisa melupakan ...."
"Jolene itu Sapphic, Wulan ... aku yakin dia sama sekali tidak menikmatinya."
"Kau sendiri?"
"Aku sudah bilang aku hanya melihatmu."
"Hmmm ...."
Max melompat naik ke atas ranjang dan memeluk Wulan dari belakangnya.
"Apa kita bisa melewati semua ini, Max?" tanya Wulan, lebih seperti gumaman.
"Pasti bisa. Ini hanya sebuah proses, fokus saja dengan hasil akhirnya."
__ADS_1
Wulan meraih tangan Max dan memeluk lengan pemuda itu di dadanya.
"Max ...."
"Oui?"
"Kehadiran Jolene sangat menggangguku. Aku merasa risih. Dan ... aku khawatir dia akan melakukan hal-hal yang bisa membuat hidup kita kacau."
Max mencium tengkuk Wulan lembut. "Jangan khawatir, aku tidak akan pernah membiarkan wanita itu mengacau hidup kita."
"Apa yang akan kau lakukan?"
Sekali lagi Max mengecup tengkuk wanita kesayangannya itu. "Kau tenang saja, Wulan. Akan kubawa kepala Jolene padamu."
"Apa?" tanya Wulan terkejut. Ia bahkan sampai membalikkan badan dan menatap Max lekat-lekat.
Max terbahak melihat ekspresi Wulan. "Maksudku aku akan membereskan semuanya. Kau tinggal menunggu hasilnya saja."
"Kau ini!" hardik Wulan sembari menarik rambut gondrong Max. Pemuda itu terkekeh.
"Aku adalah Ksatriamu, Ratuku ...."
Wulan tersenyum. "Aku percaya ...."
"Harus percaya. Karena aku adalah pria yang bisa dipercaya. Dalam kekuranganku, aku selalu berusaha menjadi pria yang bisa diandalkan," sahut Max dengan tegas. "Aku adalah pria yang paling jujur di seluruh Perancis."
Tawa Wulan meledak mendengar gurauan Max. Meskipun pemuda itu mengucapkannya dengan nada serius.
"Jadi, sudah tidak marah?" tanya Max dengan senyum menggodanya.
"Entahlah ...."
"Kau mau apa?" tanya Wulan curiga.
"Kau menyiksaku kemarin malam. Aku harus menuntaskan apa yang belum tuntas dan kau harus membantuku!"
Wulan membulatkan kedua matanya. Ia segera menutup wajahnya dengan selimut.
"Dalam mimpimu!" seru Wulan.
***
LYCÈE JEAN-BAPTISTE SAY, SURESNES.
Wulan melangkah keluar dari ruang guru dan terkejut melihat kehadiran Jolene secara tiba-tiba. Wanita itu sudah seperti siluman saja.
"Wulan ... bisa bicara sebentar?" tanya Jolene sembari melangkah mendekati Wulan.
"Aku harus masuk ke kelas."
Jolene melirik jam di pergelangan tangannya. "Masih ada waktu."
Wulan menghela napasnya pelan. "Ada apa, Jolene?"
"Aku merasa kalau kau menghindariku."
Wulan menggeleng. "Kenapa aku harus menghindarimu?"
"Karena kau takut aku membongkar hubunganmu dengan Max," ujar Jolene membuat Wulan terperanjat.
"Aku tidak mengerti apa yang kau katakan."
__ADS_1
"Kau sangat mengerti apa yang aku katakan, Wulan."
Wulan mendengus kesal. Rasa-rasanya ia tidak sanggup untuk menahan rasa geramnya pada wanita cantik di hadapannya itu.
"Sebenarnya apa maumu, Jolene?" tanya Wulan dengan suara meninggi.
Jolene menarik sudut bibirnya dan tersenyum miring. "Aku tidak akan membongkar hubunganmu dengan Max ... asalkan kau ijinkan aku untuk dekat denganmu."
Perut Wulan mendadak mual mendengar perkataan Jolene. Sebagai wanita normal, mendapat tawaran aneh seperti itu dari sesama wanita, membuat jiwanya bergolak. Ia merasa jijik.
"Jolene ... aku bukan wanita sepertimu. Aku lurus. Maafkan aku," ucap Wulan dengan hati-hati.
"Jangan berkata seperti itu sebelum kau mengenalku lebih dalam, Wulan ...."
"Maaf," ucap Wulan sembari melangkah meninggalkan wanita itu.
"Kau pikir Max setia padamu?" seru Jolene membuat langkah Wulan terhenti.
Ia melangkah mendekat pada Wulan dan berdiri di sampingnya.
"Malam itu aku mengundang Max datang ke apartemenku. Aku memintanya untuk melukisku. Kami minum-minum. Max mulai menggodaku. Aku terlalu mabuk untuk melawannya. Dia meniduriku."
Dada Wulan bergemuruh mendengar perkataan Jolene yang terasa begitu memekakan telinga. Ia mengepalkan kedua telapak tangannya.
"Je te crois pas (aku tidak percaya padamu)!"
"Aku tidak bergairah dengan seorang pria, Wulan. Kau masih tidak percaya padaku?"
Wulan terdiam. Ia menghela napas berkali-kali. Menghalau rasa gundah yang tiba-tiba menyerangnya.
"Semua pria tidak bisa dipercaya, Wulan. Bukankah kau punya pengalaman sebelumnya?" tanya Jolene membuat hati Wulan tertohok. "Apalagi Max ... dia hanya seorang remaja umur 17 tahun yang masih ingin bersenang-senang."
Wulan menelan ludahnya. Ia berusaha keras memfokuskan dirinya pada semua janji-janji yang pernah diucapkan Max padanya. Dan membuang jauh-jauh semua omong kosong yang diucapkan oleh Jolene.
"Kau kenal Eloise, bukan?" tanya Jolene.
Wulan terperanjat. Dari mana Jolene tahu gadis bernama Eloise. Ia menatap wanita berambut pirang itu lekat-lekat.
"Kau pikir Max dan Eloise hanya sekedar teman?" Jolene menantang tatapan Wulan. "Jangan bodoh, Wulan."
Jolene meraih tangan Wulan dan menggenggamnya. "Pikirkan baik-baik, Wulan."
Wulan segera menarik tangannya dari genggaman Jolene. "Permisi," ucapnya.
Ia tak tahan lagi mendengar semua perkataan Jolene. Langkahnya cepat meninggalkan wanita itu yang berdiri memandangi punggungnya yang menghilang di ujung koridor.
***
***
***
Halloo, semua.
Aku ada novel baru nih.
Sudah terbit di lapak ya, tapi bisa difavoritkan dulu kalau berminat, soalnya babnya masih sedikit. Titip absen dulu bolehlah di sana.
Buat bacaan nanti sesudah Wulan dan Max pamit. 😁😁😁
__ADS_1