
LYCÉE JEAN-BAPTISTE SAY, SURESNES.
Wulan yang baru saja keluar dari gedung kelas 11 terkejut melihat keributan di sudut pelataran sekolah. Banyak siswa berkumpul di sana dan berteriak-teriak riuh.
"Hei, ada keributan apa?" Wulan menarik lengan seorang siswa lelaki yang berjalan cepat melewatinya.
"Perkelahian anak-anak Stalingrad, Miss," jawab siswa berkulit hitam itu sembari buru-buru melanjutkan langkahnya.
Dada Wulan berdebar kencang. Stalingrad. Ia berharap tidak ada hubungannya dengan Max.
Ia melihat dari jauh Damien dan beberapa Guru berlarian ke sudut pelataran. Wulan tak bisa menahan langkahnya menuju ke sana untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi. Ia mendorong beberapa siswa yang berkerumun dan mendesak masuk di antara mereka.
Wulan terperanjat ketika melihat Damien tengah menarik kerah baju Max dan menjauhkannya dari seorang siswa berkulit putih yang mempunyai postur tubuh cukup besar. Ia juga melihat Etienne, Frederick dan Chen yang tengah saling dorong dengan beberapa siswa yang sepertinya adalah teman-teman dari siswa bertubuh besar itu, sedang dilerai oleh para Guru yang lain.
"Kalian semua ikut ke ruanganku!" seru Damien menunjuk ke arah Max, Etienne, Frederick, Chen , siswa bertubuh besar dan teman-tenannya.
Max merapikan kerah bajunya dan melangkah sembari mendorong keras beberapa siswa yang menghalangi jalannya.
Tatapan matanya bertemu dengan Wulan yang tengah berdiri mematung di antara para siswa yang berkerumun. Ia menyunggingkan senyum tipisnya sembari menyibakkan rambut gondrongnya ke belakang.
"Je t'aime (aku mencintaimu)." Bibir Max bergerak tanpa suara. Mata birunya menatap Wulan dengan ekspresi bambi eyesnya yang menggemaskan. Seakan-akan mata itu berucap padanya, tatapan mataku ini hanya untukmu. Kemudian ia mengepalkan telapak tangannya dan memukulkannya ke dada pelan. Memberi tanda bahwa apa yang ia ucapkan barusan adalah sebuah kesungguhan.
Wulan hanya terpaku di tempatnya berdiri. Memandangi punggung Max yang mulai menjauh, menghilang di balik gedung kelas 12.
.
.
"Kalian mau jadi jagoan di sekolah ini, hah?" Damien menggebrak mejanya. Menatap nanar pada delapan orang siswa yang berdiri berjejer di hadapannya. Semuanya tertunduk, kecuali Max. Ekspresi wajahnya datar. Namun tatapan menantangnya pada Damien menunjukkan kebencian yang teramat sangat.
"Kau!" Damien mendorong bahu Max kasar. "Sekali lagi berani membuat keributan di sini, kuseret kau ke kantor polisi."
Max tersenyum miring. Ia sama sekali tak gentar dengan ancaman Damien.
"Aku juga bisa menyeretmu ke kantor polisi. Yang kau lakukan jauh lebih busuk," timpal Max dengan santainya.
Damien yang terpancing dengan ucapan Max segera menarik kerah baju pemuda itu dan mendesaknya ke dinding. "Kau tidak punya bukti apa-apa, Breng sek!" Damien memekik namun suaranya terdengar setengah berbisik.
__ADS_1
Ia melepaskan cekalan tangannya dan mendorong Max hingga punggungnya menabrak dinding.
"Dengar kalian semua!" serunya sembari berjalan mengelilingi anak-anak yang masih berdiri berjejer sembari menunduk. "Aku tidak peduli masalah kalian di Stalingrad. Kalian mau saling bunuh atau mati sekalian aku tidak peduli. Tapi jangan lakukan di sini. Atau kalian akan kuserahkan pada Dinas Sosial untuk diberi hukuman." Damien kemudian menatap ke arah Max tajam. "Dan kau, khusus untukmu, kalau kau berbuat onar lagi, seperti yang kukatakan tadi, akan kuseret kau ke kantor polisi."
"Kalian mengerti atau tidak?" seru Damien kemudian. "Mengerti atau tidak?" ulangnya ketika merasa tak mendapat respon dari anak-anak itu.
Etienne dan yang lain mengangguk malas. Dan Max hanya melipat kedua lengannya di depan dada.
"Keluar kalian! Aku muak sekali melihat wajah kalian!" teriak Damien sembari menunjuk ke arah pintu. Satu persatu anak-anak itu pun melangkah keluar tanpa mengatakan sepatah kata pun.
"Cihhh!" Max meludah di hadapan Damien seraya menatap sinis pria itu. "Tunggu saja karma burukmu akan datang!" ujarnya dengan senyum miringnya. Lalu melangkah keluar dari ruangan itu dan membanting pintunya dengan keras.
Di luar, Etienne, Frederick dan Chen menunggunya. Sementara empat siswa termasuk siswa bertubuh besar itu berdiri tak jauh dari mereka.
"Urusan kita belum selesai, Guillaume!" Ia menunjuk wajah Max dengan sikap mengintimidasi. Kemudian berlalu seraya memberi isyarat pada tiga orang temannya untuk mengikutinya.
Etienne menghembuskan napas kasar sembari mengelus rambut keritingnya. "Bagaimana ini?" ujarnya dengan wajah kebingungan.
"Max, sebaiknya kita hentikan saja penjualannya di luar wilayah Stalingrad." Frederick menyeletuk. Disambut dengan anggukan kepala Chen. "Mereka bekerja untuk Ahmed Zaneli di Seine-Saint-Dennis." Frederick menyebutkan sebuah daerah di dekat Stalingrad yang tidak kalah rawannya.
Max mendecak. "Kalau kalian takut, kalian tidak perlu ikut."
"Aku butuh banyak uang," jawab Max seraya menggesek ujung jari telunjuknya dengan ujung ibu jarinya.
Etienne membulatkan mata belonya. "Apa Ayahmu meminta uang lebih dari biasanya?"
Max menggeleng. Bibirnya meyunggingkan senyum. Sejurus kemudian ia menggaruk-garuk rambutnya.
"Jangan bilang karena wanita," ujar Etienne.
Max terbahak. "C'est un secret (rahasia)," ujarnya sembari melangkah meninggalkan ketiga temannya itu.
***
Langkah Max keluar dari pintu gerbang sekolah terhenti ketika melihat Wulan yang tengah berdiri di pinggir jalan, mengobrol dengan pria yang beberapa hari lalu mengajaknya berkenalan. Christophe.
"Putain, c'est pas possible ça (sial, aku tidak percaya ini)," gumamnya kesal. Ia berjalan cepat mendekati keduanya. Dan menarik lengan Wulan yang hendak masuk ke dalam mobil Christophe.
__ADS_1
"Max, tu fais quoi (apa yang kau lakukan)?" Wulan yang terkejut segera menarik lengannya.
"Kau pulang bersamaku." Max hendak kembali menarik lengan Wulan namun segera ditepis oleh Ibu Gurunya itu.
"C'est qui (siapa ini)?" tanya Christophe heran. Ia menatap ke arah Max dengan tatapan menginterogasi.
"Dia muridku. Désolé (maaf)." Wulan menyentuh lengan pria itu memintanya untuk menunggu sebentar. Kemudian ia menarik lengan jaket Max dan membawanya sedikit menjauh dari Christophe.
"Jangan membuat masalah, Max."
"Kau yang membuat masalah, Miss. Kau tidak boleh pulang dengan pria jelek itu."
Wulan menghentakkan satu kakinya dengan kesal. "Apa hakmu melarangku?" hardiknya.
"Karena kau milikku."
Wulan mendecak. Namun ada perasaan hangat yang tiba-tiba menjalar di lubuk hatinya ketika Max mengucapkan kata-kata itu.
"Isshhh!" desisnya sembari menjambak rambut gondrong Max. "Jangan mengada-ada. Pulang sana, Max."
"Kau tidak berniat untuk bercinta dengannya kan, Miss?"
Wulan membulatkan kedua matanya mendengar pertanyaan tanpa filter dari mulut anak bengal itu. Namun ia hanya bisa menggeleng pelan. Kemudian pergi dari hadapan Max dan masuk ke dalam mobil Christophe.
"Hei, jauhkan tanganmu darinya, okay?" seru Max pada Christophe yang hendak membuka pintu mobilnya. Pria itu mengerenyitkan dahinya.
"C'est quoi ton probleme (apa masalahmu)?" tanya Christophe keheranan.
"C'est toi mon probleme (masalahku adalah kau)!" ujar Max sembari menunjuk pria itu.
Christophe hanya mengedikkan bahunya. Lalu tanpa berlarut-larut, ia segera masuk ke dalam mobilnya dan melaju meninggalkan Max yang berdiri mematung dengan wajah suramnya.
***
***
***
__ADS_1
Hei kalian yang udah like, comment dan vote. Makasih banyak yaaa ....