
Wulan memandangi beberapa tangkai bunga yang telah mengering di dalam vas dengan mata berkaca-kaca. Tak terasa air matanya meleleh membasahi pipinya.
Bunga cantik untuk wanita yang paling cantik di Paris.
Ucapan Max malam itu terngiang-ngiang dalam benaknya. Wajah tengilnya ketika sedang menggodanya menari-nari dalam benaknya.
Segala ingatan bersama anak itu yang terekam dalam kepalanya kini satu persatu muncul dengan sangat jelas. Lalu siang tadi, ketika Max mencium Belle Fortin di depan matanya. Wulan yakin anak itu hanya ingin membuatnya cemburu. Max tidak mungkin berpindah ke lain hati secepat itu.
Ah, Wulan sangat membenci ini. Kesepian, kehampaan. Kenapa ia harus merasakan semua itu kembali. Seperti dahulu ketika ia berpisah dari Pierre. Tidak. Ternyata berpisah dari Max lebih sakit lagi. Padahal kebersamaannya dengan anak itu hanya sesaat saja.
Wulan duduk termenung di atas sofanya.
Sendiri lagi. Terluka lagi.
Apa yang dikatakan Max memang benar adanya. Ia tak sekuat yang terlihat. Ia tidak punya keberanian untuk memperjuangkan cinta mereka. Ia seorang pengecut.
Wulan beranjak dari duduknya. Berjalan mondar-mandir ke sana kemari dengan gelisah.
Ia tidak kuat dengan rasa sakit ini. Seberapa banyak buku filosofi yang ia baca tak mampu meredakan sakitnya. Seberapa sering ia mengalihkan pikirannya dari semua ini, tetap saja tak sanggup memberi ketenangan dalam hatinya.
Lalu ia harus bagaimana? Persetankah dengan moral? Persetankah dengan pekerjaannya?
Persetankah dengan semuanya?
Ia jatuh cinta dengan Maximilian. Sekuat apa pun ia berusaha menyangkal perasaan itu, ia hanya membohongi diri sendiri. Menyakiti diri sendiri.
Ia menyambar ponselnya yang tergeletak di atas meja. Lalu menggulir layar mencari nomer Max di daftar kontaknya.
Nomer Max tidak aktif.
Wulan menghela napasnya dalam-dalam. Menata hatinya sejenak, lalu meraih tas selempangnya, memakai coatnya dan membuka pintu apartemennya lalu melangkah keluar dengan tergesa-gesa.
.
.
Wulan berdiri di depan pintu sebuah apartemen bertuliskan nomor 202 itu. Apartemen Max. Beberapa saat yang lalu ia sempat bertanya pada seseorang ketika memasuki area Stalingrad, di gedung mana anak itu tinggal.
Ragu-ragu ia mengetuk pintu berwarna abu-abu itu dengan harapan yang besar si pemilik mata biru itu yang membukanya.
Setelah ketukan yang ke tiga kalinya, pintu pun dibuka dari dalam.
Dada Wulan berdegup kencang ketika sosok Ludovic berdiri di hadapannya, menatapnya dengan penuh selidik.
__ADS_1
"Miss Laksana, ada yang bisa aku bantu?" tanya Ludovic. Wajahnya jelas memperlihatkan ketidaksukaaannya pada Wulan.
"Aku ... mencari Maximilian, apa dia ada?" tanya Wulan hati-hati.
"Ada perlu apa?"
"Ada sesuatu yang harus aku bicarakan."
Ludovic mengerenyitkan dahinya. "Kau ingin membicarakan apa? Bukankah semua sudah jelas?"
"Maaf, Monsieur Guillaume ... aku harus menemui Maximilian."
"Dia belum pulang." Ludovic melipat kedua lengannya di depan dada. Memandang Wulan dengan tatapan sengit. "Miss Laksana, aku rasa yang kita bicarakan beberapa waktu lalu sudah jelas. Kuharap kau tidak mengganggu Max lagi."
Wulan tersenyum tipis. "Merci, bonsoir (terimakasih, selamat sore), Monsieur Guillaume," ucapnya sembari berlalu dari hadapan Ludovic.
Ia menuruni tangga apartemen dengan buru-buru. Lalu keluar dari gedung menuju stasiun bawah tanah terdekat.
Les Marais. Max pasti ada di sana.
.
.
Ia menghembuskan napasnya kasar. Mendongak memandang langit sore itu yang mulai menggelap. Ia berdiri di trotoar di antara orang-orang yang lalu lalang melewatinya. Tak dipedulikannya pandangan aneh mereka terhadapnya.
Beberapa saat kemudian ia memutuskan untuk melangkahkan kakinya menuju jembatan Pont Marie yang hanya berjarak dua kilo meter saja dari area pertokoan di Les Marais tempatnya saat ini berdiri.
Sampai di sana, ia menyapu pandangan ke segala arah, mencari-cari sosok jangkung berambut gondrong di antara orang-orang yang tengah menikmati suasana sore di tepian sungai Seine.
Namun nihil. Ia tak melihat tanda-tanda keberadaan Max di sana. Wulan menghela napas kecewa. Sudut matanya mengembun. Lalu buliran bening mulai turun membasahi pipinya. Ia terisak. Entah kenapa ia tak bisa menahan tanngisnya.
Ia begitu ingin memeluk Max sekarang juga. Ia begitu rindu.
"Miss ...."
Wulan terkesiap mendengar suara panggilan pelan dari balik punggungnya. Ia segera menyusut air mata dan membalikkan badannya.
"Finally (akhirnya)," bisiknya ketika melihat sosok yang dicari-carinya itu berdiri tak jauh dari hadapannya.
Ia menghambur ke pelukan Max tanpa berpikir panjang lagi. Membuat pemuda itu kaget dan hampir saja tak bisa menjaga keseimbangan badannya.
"Wow ... pelan-pelan, Wulan," kekeh Max sembari merengkuh punggung Wulan dengan erat.
__ADS_1
"Max ... this pain is just so real. I can't take it (rasa sakit ini sungguh nyata. Aku tidak sanggup)," ucapnya di sela-sela tangisnya. Ia tak peduli dengan pandangan orang-orang yang lalu lalang di sekitar.
"Call me crazy, but I don't wanna lose you (sebut saja aku gila, tapi aku tidak mau kehilanganmu)."
Max tersenyum lebar. Diciuminya ujung kepala Wulan sembari mengeratkan pelukannya.
Beberapa turis yang melihat kemesraan dua sejoli itu tersenyum simpul. Bahkan ada salah seorang di antara mereka yang mengacungkan dua jempolnya
"Make love, not war," goda salah seorang turis itu. Membuat Wulan dan Max tersipu lalu melepaskan pelukan mereka.
.
.
Max menyusut air mata Wulan dengan telapak tangannya. Lalu merapikan rambut hitam panjangnya yang berantakan. Keduanya duduk di tepian sungai Seine yang lengang.
"Kita hadapi bersama, ya," ucap Max sembari menggenggam tangan Wulan dengan erat. "Aku berjanji tidak akan membahayakan posisimu di sekolah," lanjutnya. "Aku juga akan bicara dengan Ayahku. Dia akan mengerti."
"Maafkan aku, Max," ucap Wulan seraya mengelus pipi Max dengan lembut. "Aku menyerah, aku tidak bisa membohongi lagi diriku sendiri."
"Aku ingin kau jujur padaku tentang semuanya, Wulan." Max menangkap tangan Wulan dan mencium punggung tangannya penuh kasih.
"Tu me manque (aku rindu padamu)," ucap Wulan.
"Aku lebih merindukanmu," sahut Max cepat. "Aku rindu ini ...." Max mendekatkan wajahnya pada wajah Wulan. Kedua tangannya menangkup kepala Ibu Gurunya itu lalu dengan gerakan lembut ia memagut bibirnya.
Wulan menurunkan tangan Max ke pinggangnya. Lalu ia melingkarkan lengannya di leher pemuda itu.
Put your head on my shoulder
Hold me in your arms, baby
Squeeze me oh-so-tight
Show me that you love me too
Put your lips next to mine, dear
Won't you kiss me once, baby?
Just a kiss goodnight, maybe
You and I will fall in love
__ADS_1
~Paul Anka~