High School Bad Boy

High School Bad Boy
Bab 43. I Miss You Like Hell.


__ADS_3


Sudah dua hari ini Max tidak melihat Wulan sama sekali di sekolah. Ia mencoba menahan diri untuk mengacuhkannya. Namun rasanya sangat sulit baginya untuk tidak mencari tahu tentang Ibu Gurunya itu. Hingga akhirnya ia memberanikan diri bertanya pada Miss Adrienne. Walaupun sebenarnya bisa saja ia mendatangi Wulan di apartemennya. Namun ia tidak ingin membuat Wulan kesal lagi jika ia tiba-tiba muncul.


Wulan sakit. Begitu informasi yang ia dapat dari Miss Adrienne. Dan ia harus menghadapi tatapan penuh selidik wanita itu.


Dan di sinilah ia pagi ini. Di depan pintu apartemen Wulan dengan membawa satu kotak beef bourguinon yang dibelinya dari sebuah restauran kecil di daerah Stalingrad.


Setelah menunggu beberapa menit dari ketukan pertamannya di pintu bercat abu-abu itu, akhirnya perlahan pintu dibuka dari dalam. Menghadirkan sosok Wulan dengan wajah kusut dan rambut yang diikat sembarang. Terlihat berantakan. Tubuh rampingnya terbalut sweater panjang warna krem, legging hitam dan sepatu boot hangat dari bahan wol.


Ia tampak terkejut melihat kehadiran Max. Terlebih penampilannya yang sedang sangat buruk itu membuatnya gugup.


"Miss ... kudengar kau sedang sakit." Wajah Max mengisyaratkan kekhawatiran. "Aku bawakan sarapan."


Wulan terbatuk. Entah untuk menyembunyikan kegugupannya atau tenggorokannya memang gatal. Ia membuka pintu lebar-lebar dan mempersilahkan Max masuk.


Max bergegas menuju ke arah dapur dan mengambil piring lalu memindahkan beef bourguinon dari kotak ke atasnya. Kemudian diraihnya satu gelas tebal dan diisinya dengan air kran. Ia memasukkan gelas air ke dalam microwave dan menghangatkannya selama satu setengah menit. Ia pun meletakkan semua yang telah disiapkannya ke atas meja.


Wulan hanya berdiri mematung sembari melipat lengannya di depan dada.


"Kau belum sarapan, kan, Miss?" tanya Max sembari memberi isyarat Wulan untuk duduk di hadapannya.


"Merci," ucap Wulan lirih. Ia memandang potongan-potongan daging sapi dan wortel dengan saos warna cokelat tua yang menutup kentang tumbuk di bawahnya.


Ia merasa matanya mulai memanas. Sudutnya pun telah mengembun. Ia sedih, terharu, rindu, dan merasa bersalah pada pemuda di hadapannya itu.


"Max ...." Wulan bangkit dari duduknya. Memutari meja dan berdiri di hadapan Max yang langsung mengikutinya berdiri.


Tiada angin tiada hujan, Wulan menubruk dada Max dan mendusalkan kepalanya di sana. Ia terisak pelan. Max yang terkejut sempat mengangkat kedua tangannya sebelum akhirnya ragu-ragu ia mengaitkan kedua tangannya di punggung Wulan dan memeluk Ibu Gurunya itu erat.


"Je suis désolé pour la dernière fois (aku minta maaf untuk waktu itu)," ucap Wulan lirih di sela-sela isakannya.


"Hei, c'est pas grave (tidak apa-apa) ...." Max mengeratkan pelukannya pada Wulan. Hingga ia bisa merasakan suhu badan Wulan yang panas tinggi. "Miss ... habiskan dulu sarapanmu, ya?" Ia perlahan melepaskan pelukannya dan melihat wajah Wulan yang sembab. "Jangan menangis," ucapnya sembari mengusap pipi Wulan. "Wajahmu jelek sekali," kekehnya kemudian.

__ADS_1


Bibir Wulan mencebik. Lalu memukul bahu Max pelan. Ia menghapus sisa air matanya dengan punggung tangannya yang terbalut sweater. Oh, ia bahagia sekali bisa mendengar lagi celotehan jahil anak itu.


"Kau tidak masuk sekolah?" tanya Wulan sembari melahap sarapannya.


"Tidak. Aku penasaran kemana perginya Wulandari Laksana."


Wulan terkekeh mendengar nama lengkapnya disebut oleh Max dengan pelafalan yang terdengar lucu.


"Ternyata dia sedang sakit. Kasihan sekali," gumamnya.


"Bantu aku, Max," kata Wulan sembari memenuhi sendoknya dengan potongan daging. Membuat Max mengerenyitkan dahinya. "Bantu aku menghabiskan sarapannya," lanjutnya sembari menyodorkan sendok ke mulut Max. Membuat pemuda itu tersenyum dan menerima suapan Wulan. Satu suap dua suap, saling bergantian, hingga piring pun kosong.


"Biar aku saja." Max mencegah Wulan yang hendak membereskan piring dan gelas.


Wulan memandangi punggung Max yang berdiri menghadap wastafel dan sibuk mencuci beberapa piring tambahan sisa dipakainya kemaren dan semalam yang belum sempat disentuhnya. Kemeja lengan panjang yang digulung sebatas siku membuat anak itu tampak ... sexy?


Ia menahan senyumnya. Lalu menepis pikiran-pikiran aneh yang mulai menghinggapi kepalanya.


Ketika dirasa badannya kembali menggigil kedinginan, ia beranjak dari kursi dan melangkah menuju kamarnya. Meninggalkan Max menyelesaikan aktifitasnya.


Terserang demam di musim dingin itu sungguh luar biasa nikmatnya.


Max muncul dari balik pintu sembari membawa satu cangkir teh hangat. Ia meletakkannya di atas nakas kemudian duduk di tepian ranjang.


"Ça va (kau baik-baik saja)?" tanya Max sembari mengelus kaki Wulan yang ada di balik selimut.


"Oui, oui, ça va (ya, ya, aku baik-baik saja)."


Max menggeser duduknya mendekat ke kepala Wulan, lalu mengelus wajah Ibu Gurunya itu dengan lembut.


"Kau jangan macam-macam, Max," ujar Wulan tanpa menolak sentuhan tangan pemuda itu.


Max terbahak. "Memangnya aku mau apa?"

__ADS_1


"Tidak tahu."


"Ya, kalau kau ijinkan aku untuk ... emmm ...." Max menurunkan jemarinya mengelus leher Wulan.


"Kemari kau!" seru Wulan dengan suara parau.


Max terlihat senang dan lebih mendekatkan dirinya pada Wulan.


"Auuchh!" pekiknya ketika Wulan menarik rambutnya dengan keras.


"Anak nakal!" Mulut Wulan memaki, namun hatinya terasa hangat. Senyumnya pun tak henti-hentinya tersungging dari bibirnya.


Max meringis sembari mengelus kepalanya. "Miss ... mau aku peluk tidak?"


Wulan mendecak. "Tidak usah. Aku tahu yang kau pikirkan."


"Ya Tuhan, Miss ... aku tidak bermaksud apa-apa. Hanya menawarkan pelukan. Kau terlihat kedinginan. Penghangat ruangannya tidak berfungsi dengan baik," ujarnya sembari menunjuk benda berukuran sedang berbentuk kotak menyerupai sound system yang ada di sudut ruangan.


Wulan memutar kedua bola matanya. Ia tahu betul tidak ada yang salah dengan penghangat ruangannya.


"Aku janji tidak akan macam-macam," ujar Max sembari mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya dan memasang wajah polosnya.


Lalu tanpa menunggu persetujuan Wulan, Max naik ke atas ranjang dan menelusup masuk ke dalam selimut, memosisikan dirinya di belakang Wulan.


"Permisi, Miss," ujarnya sembari merapatkan dadanya pada punggung Wulan dan membawa tubuh mungil itu ke pelukannya. "Jangan menolak, Miss. Ini hanya sebuah kebaikan yang kutawarkan padamu," kekehnya.


Wulan hanya mampu memejamkan matanya. Ia bahkan larut dengan perlakuan Max yang sungguh tak bisa ditolaknya. Hembusan napas lembut yang menerpa tengkuknya bahkan membuat tubuhnya menghangat.


Bagai obat penawar, bersentuhan dengan Max membuat demamnya berangsur-angsur mereda.


"I miss you like hell," bisik Max membuatnya tak bisa menahan senyumnya.


***

__ADS_1


***


***


__ADS_2