High School Bad Boy

High School Bad Boy
Bab 28. T'es Ou (Kau Di mana)?


__ADS_3

Max menghisap rokoknya dalam - dalam. Lalu menghembuskan asapnya ke udara. Ia duduk sendirian di tepian gedung memandang kosong ke depan. Di rooftop tempat favoritnya jika ingin menyendiri.


Ruang memorinya penuh dengan bayang - bayang tangisan Nadia, kemarahan Nyonya Dasia, perdebatan Ibu dan Anak itu, lalu merembet menjadi wajah pucat Ibu angkatnya yang terkulai lemas di sofa, terdiam tak menyahut ketika ditanyai oleh polisi tentang kematian puterinya. Lalu kantung jenazah berisi jasad Nadia yang melintas di hadapannya.


Dadanya terasa sesak. Penuh penyesalan, penuh rasa bersalah, penuh kesedihan yang ingin segera ia luapkan melalui tangisan dan teriakan. Bisa saja ia melakukan hal yang sama dengan Nadia, mengambil nyawanya sendiri. Ia tinggal menjatuhkan diri ke bawah sana. Selesai. Penderitaannya akan berakhir, mungkin.


Ia merasa seperti Titan Atlas dalam mitologi Yunani, yang harus bertanggung jawab menanggung beban langit di pundaknya, beban yang diberikan padanya sebagai hukuman oleh Zeus.


Tapi ia bukan Dewa. Ia hanya seorang remaja enam belas tahun yang dengan sangat terpaksa harus menjadi dewasa sebelum waktunya.


***


LYCÉE JEAN - BAPTISTE SAY, SURESNES.


Sudah satu minggu lamanya setelah berita kematian Nadia yang tragis karena bunuh diri menjadi pembicaraan di SMA Jean - Baptiste Say, Wulan tak melihat kehadiran Max di kelas. Ia tak mendapati pemuda itu di mana - mana. Max seperti hilang ditelan bumi. Ia bahkan telah menanyai Etienne, namun nihil. Pemuda itu juga tak melihat Max di Stalingrad.


Kemana dia? Kenapa ia menghilang setelah berita kematian Nadia?


Benak Wulan penuh dengan berbagai pertanyaan yang membutuhkan jawaban segera. Ia kembali menemui Etienne dan membawa pemuda itu ke cafetaria untuk diinterogasi.


"Aku benar - benar tidak tahu Max di mana, Miss," jawab Etienne ketika Wulan menanyakan kembali tentang keberadaan Max.


"Kau tidak berbohong, Etienne?" cecar Wulan.


"Tidak, Miss."


"Okay." Wulan menghela napasnya. "Tapi aku ingin bertanya sesuatu padamu." Ia memandang pemuda berkulit hitam itu lekat. "Ada hubungan apa Max dengan Nadia?"


"Mereka saudara angkat, Miss. Ibu Nadia merawat Max dari bayi."


Bibir Wulan membentuk huruf O lalu mengangguk - angguk. Kini hatinya tergelitik ingin mengorek keterangan lebih jauh tentang Max pada Etienne.


"Etienne ... apa hubungan Max dengan Ayahnya memang buruk?"


Etienne menggaruk rambut keritingnya. "Iya, Miss. Ayahnya sering memukuli Max dan meminta uang padanya untuk minum dan main perempuan. Max juga yang menanggung semua kebutuhan sehari - hari."


"Ayahnya tidak bekerja?"


Etienne menggeleng. "Sudah lama dia kehilangan pekerjaannya."


"Kenapa Max tidak pergi saja dan hidup sendiri. Bukankah dia bisa mencukupi dirinya sendiri?"

__ADS_1


"Entahlah, Miss. Sepertinya Max tidak tega meninggalkan Ayahnya sendirian. Walaupun Ayahnya membencinya," tutur Etienne yang seketika membuat dada Wulan terasa sesak.


Max yang masih begitu muda itu sudah mengerti betul apa arti tanggung jawab. Wulan merasa kagum dan iba dalam waktu yang bersamaan.


Kenapa tiba - tiba ia ingin sekali menemui pemuda itu?


"Kau punya nomer telponnya, Etienne?"


Etienne meringis. "Aku tidak punya ponsel, Miss," jawabnya malu - malu.


Wulan menghela napasnya. "Kira - kira di mana dia sekarang?" gumam Wulan.


Etienne mengedikkan bahunya. Ia menatap Ibu Gurunya itu penuh selidik. Teringat kata - kata Max tentang perasaan sukanya pada wanita cantik di hadapannya ini.


***


LES MARAIS, SURESNES.


"Pat, kau tidak keberatan, bukan, kalau aku menginap di sini beberapa hari lagi?" tanya Max pada Patrick, sembari fokus pada coretannya di atas kanvas.


Pria tua itu terkekeh. "Tinggal saja di sini selama yang kau mau, Max."


"Oowhh, c'est si bien (bagus sekali), Max."


Max mengangguk. Lalu kembali berkutat dengan cat dan kuasnya.


Ponsel di kantong celananya bergetar. Ia segera mengambil benda itu dan memeriksa layarnya.


Max, kau masih di Les Marais? Bisa bertemu? Aku ada di Boot Café. Eloise.


Max menyimpan kembali ponsel di kantung celananya. Lalu menyambar jaket dan mengenakannya.


"Pat, aku akan ke Boot Café menemui seorang teman," ujarnya pada Patrick yang juga tengah berkutat dengan kuas dan catnya.


Ia melangkah keluar dari galeri dan berjalan beberapa meter menuju sebuah kedai kecil bercat biru yang diapit oleh bangunan klasik di sisi kanan dan kirinya.


Masuk ke dalam kedai sempit itu, ia melambai pada Eloise yang tengah duduk menikmati kopinya. Gadis manis berambut cokelat itu tersenyum ke arahnya sembari melambaikan tangan.


"Bonsoir (selamat sore)," sapa Max sembari menarik kursi dari bawah meja dan mendudukinya.


"Hi, Max, mau pesan sesuatu?"

__ADS_1


"Aku pesan yang sama dengan apa pun yang sedang kau minum itu," kekehnya sembari melongok ke gelas kopi milik Eloise.


"D'accord (oke)," sahut Eloise. "Classic espresso, s'il vous plait!" serunya pada seorang pelayan yang langsung disambut dengan anggukan kepala.


"Alors (jadi), mau melanjutkan pembicaraan kita kemarin?" tanya Max.


Eloise terbahak. "Tidak. Kurasa semua sudah beres. Kau tinggal datang membawa lukisan - lukisanmu, et voila (ya sudah begitu). Aku sedang berjalan - jalan di sekitar sini dan ingin mengajakmu minum kopi."


"Ah, bon(ohya)?" Max menggaruk rambut hitam panjangnya yang diikat sembarang. "Sebenarnya aku sedang menyelesaikan satu lukisan. Aku kira kau akan membicarakan sesuatu yang penting tentang pamerannya."


"Owh, maaf aku mengganggumu," ucap Eloise.


"C'est pas grave (tidak apa - apa)," sahut Max. "Merci," ucapnya pada pelayan yang baru saja menyajikan kopi untuknya.


"Kau tahu, Max ... aku masih tidak percaya kalau kau masih SMA."


Bibir Max mencebik. "Pourquoi (kenapa)?" tanyanya seraya mencecap kopinya. "Sial! Pahit sekali!" makinya membuat Eloise terbahak. "Aku tidak terlalu suka kopi, aku lebih suka bir."


Kembali Eloise terbahak. "Ah ya, aku akan menjawab pertanyaanmu. Pertama, karena lukisanmu sungguh sempurna. Kedua, kau tidak seperti anak - anak seusiamu. Pemikiranmu sudah seperti orang dewasa."


Max mengedikkan bahunya. Ia hanya tersenyum tipis tanpa berniat untuk menanggapi kata - kata Eloise. Ia memilih melempar pandangan keluar jendela.


Eloise masih berceloteh dengan antusias. Sementara Max hanya menanggapi seadanya. Terkadang ia mengangguk, lalu menyahut dengan tawa kecil, sejurus kemudian mencecap kopi pahitnya dengan penuh perjuangan. Namun sejujurnya, pikirannya entah sedang berada di mana.


"Max!" panggil Eloise. "Bukankah itu Gurumu?" tanya Eloise sembari memandang ke arah pintu masuk kedai.


Max mengerenyitkan dahinya. Ia segera menoleh ke belakang dan sekelebat melihat sosok wanita bersweater abu - abu menghilang di samping pintu.


Wulan?


Max beranjak dari duduknya dan melangkah keluar kedai. Ia menoleh ke sana kemari mencari sosok Wulan, kalau memang ia tidak salah lihat, di antara orang - orang yang lalu lalang di sepanjang trotoar.


Namun ia tak menemukan Wulan di mana - mana.


Max menghela napas kecewa. Lalu melangkah gontai masuk kembali ke dalam kedai.


***


***


***

__ADS_1


__ADS_2