High School Bad Boy

High School Bad Boy
Bab 41. Bittersweet Seventeen.


__ADS_3

STALINGRAD, SURESNES.


Pertunjukan lampu di puncak menara Eiffel yang terlihat jelas dari rooftop gedung tempat Max duduk tak mampu mengalihkan perhatiannya dari sebatang rokok yang tengah dihisapnya dengan seksama. Serta pada sekaleng bir yang menemani setiap hembusan asapnya.


Sementara Etienne yang duduk di sebelahnya, tampak tenang menikmati dua kotak salmon en papillote, daging ikan salmon panggang bertabur potongan-potongan zucchini, fennel bulb (adas), dill, lemon, dan sedikit guyuran olive oil, yang dibawa Max sesaat lalu sebelum mengajaknya ke tempat persembunyian sahabatnya itu.


"Mmmm ... trés trés bon (enak sekali)." Etienne berucap dengan mulut penuh. "Kau membeli makanan semahal ini? Atau ada seseorang yang memberikannya padamu?"


"Aku membelinya. Kau tahu, Gubernur Paris membeli lukisanku seharga lima ribu euro," sahut Max sembari menghisap rokoknya.


"Lukisan?" tanya Etienne sembari mengerenyitkan keningnya.


Max terkekeh. "Maaf selama ini aku tidak pernah cerita padamu kalau aku seorang pelukis."


"Putain (sialan), aku tahu kau suka menggambar tapi aku tidak pernah menyangka kalau kau seorang pelukis." Etienne terbahak dengan keras. "Maximilian Guillaume si bengal dari Jean-Bapstiste Say tenyata seorang pelukis." Tawanya membahana. "Tapi, apa kau bilang tadi? Gubernur Paris membeli lukisanmu seharga lima ribu euro? Putain ta mére (motherf ucker)!" makinya tak percaya.


Max meringis memperlihatkan gigi-giginya yang rapi.


"Ngomong-ngomong, hari ini ulang tahunmu, kan?" tanya Etienne sembari memukul pelan bahu Max.


"Oais (yeah)," jawab Max dengan malas.


"Bon ben, bon anniversaire, Mon Pote (kalau begitu, selamat ulang tahun, kawan)," ucapnya sembari terkekeh. Ia tidak sungguh-sungguh mengucapkannya. Lebih kepada mengejek sahabatnya itu.


"Merci," sahut Max seraya menghisap kembali rokoknya yang telah memendek. Lalu membuangnya begitu saja ke bawah gedung.


"Hei, kau masih mengejar Miss Wulan?" tanya Etienne sembari menyenggol bahu Max.


Max menghela napasnya. "Aku sedang berpikir."


"Maksudmu?"


"Ya, susah sekali mendapatkan hatinya. Aku sedang merasa lelah sekarang. Aku ingin beristirahat sejenak. Dan memikirkan strategi baru, mungkin." Ia tertawa hambar.


Etienne menepuk-nepuk pundak Max pelan. "Mungkin memang kau tidak boleh mencintai Gurumu sendiri. Rumit sekali. Apalagi sudah jelas nantinya dia pasti akan terkena masalah."


"Oais, peut etre (yeah, mungkin)."


"Sudahlah, lupakan saja Miss Wulan, Max." Etienne menyodorkan sepotong daging salmon langsung pada mulut Max. Dengan malas ia menggigit dan mengunyahnya.


Ia menengadahkan wajahnya ke langit Paris yang berwarna jingga akibat bias lautan lampu kota yang terhampar sepanjang 105,4 km².

__ADS_1


Bittersweet seventen ( ulang tahun ke tujuh belas yang pahit), seperti tahun-tahun sebelumnya.


Ah, setidaknya uang lima ribu euro yang didapat hari ini bisa sedikit menghibur.


***


LYCÉE JEAN-BAPTISTE SAY, SURESNES.


Max yang baru saja keluar dari kelas mengerenyitkan keningnya ketika melihat ada dua orang polisi melintas di koridor dan menjadi pusat perhatian para siswa yang ada di sana. Dua polisi itu masuk ke ruang Guru Pembimbing.


Berselang lima belas menit, keduanya keluar bersama Damien Arsenault yang mengikuti mereka dari belakang.


Ketika berpapasan dengan Max yang tengah melangkah menuju lokernya, Damien menatapnya tajam.


"Awas kau!" Gerakan mulutnya tanpa suara memberi peringatan pada Max.


Max tersenyum miring. Lalu dengan telapak tangannya ia membuat gerakan seakan-akan ia sedang menyayat lehernya sendiri. "T'es mort (mati kau)!" bisiknya.


Ia melangkah riang menuju lokernya tanpa memedulikan Damien yang terbakar amarah. Ada Etienne di sana dan beberapa siswa yang saling berbisik sembari memandang ke arah Damien dan dua polisi yang berjalan keluar gedung sekolah.


"Jadi Mr. Arsenault yang menyebabkan Nadia bunuh diri?"


"Apa itu perbuatan Mr. Arsenault?"


"Mungkin."


"Apa dia akan di penjara?"


"Tidak tahu, mungkin hanya dimintai keterangan saja."


Max dan Etienne saling pandang mendengar pembicaraan di koridor yang tiada henti. Rupanya rumor telah menyebar dengan cepat ke seluruh penjuru sekolah.


"Kau sudah tahu tentang kasus Nadia dan Mr. Arsenault sebelumnya?" tanya Etienne sembari memasukkan jaketnya ke dalam loker.


Max mengedikkan bahunya. Lalu menyandarkan punggung ke pintu lokernya sembari mengikat rambut gondrongnya. Saat itulah ia melihat sosok Wulan dari kejauhan berjalan mendekat. Membuat Etienne menyikut lengan Max dengan maksud untuk menggodanya.


Ketika Wulan melintas di depannya, Max hanya tersenyum tipis dan menganggukkan kepala. Kemudian membalikkan badan untuk membuka lokernya dan memasukkan tas ke sana.


.


.

__ADS_1


Wulan meletakkan buku-buku ke atas meja dan termangu menopang dagunya. Ia melamun memikirkan sesuatu yang mengganggu pikirannya. Semalam ia bersikap terlalu berlebihan terhadap Max. Ia kesal. Entah kenapa melihat Eloise memperlakukan Max bak kekasihnya membuat Wulan sebal bukan main.


Mungkin ia merasa kesal pada diri sendiri. Karena ia tidak cukup muda untuk menerima cinta anak itu. Atau karena ia melakukan kesalahan dengan memelihara perasaannya. Hingga kini ia kesulitan untuk membohongi dirinya sendiri. Namun jika hati nurani yang bicara, ia bisa apa.


Tadi Max terlihat biasa saja. Anak itu hanya tersenyum tipis dan mengangguk. Tidak agresif seperti biasanya. Tidak mengejar-ngejarnya seperti yang selama ini ia lakukan jika melihat sosoknya melintas.


Apa dia sudah berubah dan memutuskan untuk melupakannya? Secepat dan segampang itu? Mungkin saja. Max hanya seorang remaja labil yang bisa saja merubah pikiran sewaktu-waktu. Sekeras apa pun hidup mengajarinya untuk menjadi dewasa sebelum waktunya, dalam dirinya, ia hanyalah anak umur enam belas tahun.


Wulan menarik napas dalam-dalam.


Kenapa ia tak rela jika Max memutuskan untuk berhenti mengejar-ngejarnya.


Ya Tuhan, aku pasti sudah gila.


.


.


"Aku kebetulan lewat daerah sini, jadi kuputuskan untuk menunggumu selesai mengajar."


Begitu ucap Christophe ketika Wulan menemuinya di luar gerbang sekolah. Pria itu telah menunggunya. Bersandar di pintu mobil dan berbinar ketika melihatnya.


"Kau tidak perlu menungguku," ujarnya. Ia menoleh ke sekelilingnya. Mencari sosok anak bengal yang mulai membuatnya rindu.


"C'est pas grave (tidak apa-apa). Ayo, Wulan," ajak Christophe sembari membuka pintu mobilnya untuk Wulan.


Wulan mengangguk. Saat ia hendak memasuki mobil, sudut matanya menangkap sosok Max yang muncul dari dalam gerbang sekolah. Ia berjalan santai sembari merangkul pundak Etienne. Terdengar suara gelak tawa kedua pemuda itu. Entah mereka sedang membicarakan apa.


Max menoleh sekilas pada Wulan, namun ia hanya melempar senyum tipis dan kembali melanjutkan langkahnya tanpa menoleh kembali pada Sang Ibu Guru. Sepertinya ia tidak terpengaruh dengan kehadiran Christophe di sana.


Wulan masuk ke dalam mobil Christophe dengan perasaan tak menentu. Ia menyandarkan punggungnya di sandaran kursi sembari memandangi punggung Max dari kaca spion.


"Ça va toi (kau baik-baik saja)?"


Wulan mengangguk pelan dan memaksakan senyumnya untuk Christophe yang telah duduk di belakang kemudi.


***


***


***

__ADS_1


__ADS_2