High School Bad Boy

High School Bad Boy
Bab 77. She Makes Me A Better Man.


__ADS_3

STALINGRAD, SURESNES.


Sembari menyuapi dirinya sendiri dengan sesendok sup kental, Ludovic memperhatikan Max yang duduk di seberang meja, menikmati menu makan malamnya dalam diam.


"Kau sudah jarang berada di rumah sekarang, Max," ujar pria paruh baya itu memulai pembicaraan.


"Hmm ...." Max yang tengah sibuk dengan bifteck (steak)nya hanya menyahut dengan gumaman.


"Sekolahmu bagaimana? Tidak terganggu dengan ...."


"Aku mendapat beasiswa dari Sorbonne," potong Max. Terlintas begitu saja surat yang ia terima siang tadi dari Universitas Sorbonne. Sengaja ia ingin mematahkan perkataan sang Ayah, yang ia tahu, akan kemana arah pembicaraannya.


"Ah, bon (ohya)?" tanya Ludovic tanpa bisa menyembunyikan rasa terkejut namun bahagianya.


"Kau lihat? Tidak ada yang mengganggu hidupku," sindir Max sembari meletakkan sendok ke atas piringnya. "Kalau kau ingin membicarakan tentang hubunganku dengan Wulan, akan kukatakan padamu."


Ludovic menghentikan aktifitasnya memyantap soupnya. Ia menunggu kata-kata yang akan keluar dari mulut Max.


"Wulan adalah support terbesar dalam hidupku, Papa. Bersamanya aku merasa menjadi pria yang lebih baik," ucapnya sembari menatap mata sang Ayah lekat-lekat. "Aku tidak peduli Wulan adalah Guruku, atau perpedaan umur di antara kami yang terpaut jauh. Aku mencintainya, Papa," lanjutnya membuat Ludovic tertegun mendengar ucapan Max.


"Seperti kau mencintai Clara," ujar Max. Sementara dalam diamnya, hati Ludovic terasa tertohok.


"Jangan terlalu kolot, Papa. Kita tidak hidup di zaman Medieval," lanjut Max.


"Hidupku tidak seperti anak-anak lain. Aku sudah akrab dengan kesulitan, perjuangan, dan juga tanggung jawab. Aku tahu apa yang kuinginkan. Aku tahu apa yang kupilih." Max melipat kedua tangan di depan dadanya.


"Kau tidak perlu mengkhawatirkan aku, Papa. Aku akan baik-baik saja."


Ludovic diam membisu di tempatnya. Lagi-lagi anak lelakinya ini membuatnya merasa seperti pria dewasa yang tidak berguna. Toh memang selama ini Max belajar tentang kerasnya hidup seorang diri. Belajar bertanggung jawab atas dirinya sendiri.


Meskipun dalam hati yang paling dalam ia masih tidak rela Max berhubungan dengan wanita yang jauh lebih tua darinya, namun ia tidak bisa berbuat apa-apa selain berusaha untuk menerima keputusan anaknya itu.


"Aku tidak tahu harus berkata apa, Max ... aku hanya ingin yang terbaik untukmu."


Max mengangguk. "Aku tahu," ujarnya sembari beranjak dari duduknya, lalu membereskan meja makan dan membawa piring serta gelas kotor ke dapur.


"Aku harap semua sudah jelas untukmu, Papa," ujar Max. "Aku tidak ingin mendebatkan hal ini lagi."


Beberapa saat kemudian, hanya terdengar suara piring dan gelas yang beradu di atas wastafel.

__ADS_1


***


JEAN-BAPTISTE SAY, SURESNES.


Eloise tersenyum gembira ketika melihat sosok Max yang baru saja keluar dari pintu gerbang. Cukup lama ia menunggu pemuda itu di depan sekolah dengan bangunan klasik bergaya era renaissance itu.


"Hei, Max ...." Eloise berlarian ke arahnya. "Senang sekali melihatmu," ucapnya seraya mencium pipi Max sekilas.


"Kenapa ada di sini?" tanya Max heran. Ia menoleh ke sekelilingnya dan mendapati Ethiene dan Chen tengah menggodanya dengan siulan-siulan kecil. Ia memutar bola matanya sebal. Lalu mengalihkan pandangannya pada Eloise kembali.


"Aku mencarimu," kekeh Eloise. "Kau tidak membalas pesan atau menjawab telponku. Aku juga tidak melihatmu di Les Marais."


"Tapi, apa kau harus mencariku ke sini? Memangnya ada sesuatu yang penting?"


Eloise tak menjawab pertanyaan Max. Gadis itu hanya tersenyum. "Selamat, Max ... kau berhasil mendapatkan beasiswa dari Sorbonne."


"Ah, oui, merci, Eloise," ucap Max sembari menggaruk kepalanya. Ia tersadar, beasiswa yang didapatnya dari salah satu universitas terbaik di Paris itu, sedikit banyak atas bantuan Eloise. "Kalau aku bisa melalui ujian baccalaureat (ujian nasional)," lanjutnya.


"Kau pasti bisa," ujar Eloise sembari mengelus lengan Max. "Ayo kita rayakan Max, kutraktir kau minum."


"Emmm ... sepertinya aku ...."


"Ayolah, Max ...."


Hanya sekedar minum mungkin tidak apa-apa. Wulan pasti akan mengerti.


"D'accord (oke)."


Eloise tersenyum senang. Lalu ia mengambil ponsel dari dalam tasnya. "Aku akan memesan taksi," ujarnya.


.


.


"Kau lihat mereka, Wulan?"


Suara Jolene mengagetkan Wulan yang berdiri mematung di pintu gerbang sekolah. Memperhatikan Max dan Eloise masuk ke dalam sebuah taksi. Tak lama kemudian, mobil berwarna hitam dengan lampu atap bertuliskan Taxi Parisien itu pun melaju, menjauh dari pandangan matanya.


"Tolong jangan ganggu aku, Jolene," ujar Wulan dengan nada suara yang datar.

__ADS_1


"Kau percaya sekarang?"


"Aku tidak ingin membicarakan tentang ini denganmu, maaf ...." Wulan melangkah meninggalkan Jolene tanpa basa basi. Ia benar-benar merasa risih berada di dekat wanita itu.


"Aku antar kau pulang, Wulan." Jolene mengimbangi langkah Wulan menelusuri trotoar menuju ke stasiun bawah tanah.


"Jolene!" hardik Wulan. Ia tidak bisa lagi menahan diri. "Tolong jangan ganggu aku." Wulan mengangkat kedua tangannya, memberi peringatan pada wanita itu untuk menjauh darinya.


Dada Jolene bergemuruh menatap kepergian Wulan. Ia menggeleng pelan. Wajah cantiknya tampak tegang.


"Kau menolakku, Wulan," desisnya.


***


Wulan menunggu kabar dari Max hingga malam. Namun pemuda itu tak juga mengiriminya pesan atau pun menelponnya.


Padahal banyak hal yang harus Max jelaskan padanya.


Tidak, ia tidak marah.


Sebelum mendengar langsung penjelasan dari mulut Max, Wulan tidak semata-mata menelan mentah-mentah perkataan Jolene.


Atau tentang Eloise yang dilihatnya bersama Max tadi siang, ia yakin Max punya alasan tentang itu. Ia mempercayai Max sepenuhnya. Ini bukan sekedar hubungan dua remaja yang penuh dengan ego masing-masing.


Ia adalah wanita dewasa, dan Max bukan sembarang remaja yang hanya ingin bersenang-senang dengannya. Wulan dapat melihat keseriusan Max dari cara pemuda itu memperlakukannya.


He's the one.


Betapa beruntungnya Wulan mendapatkan si mata biru itu. Muda, tampan, dan bertanggung jawab. Seberat apa pun rintangan di depan sana, jika ada Max di sampingnya, maka segalanya akan terasa mudah.


Remedy for my broken heart (obat untuk hatiku yang terluka).


Wulan mulai tersenyum-senyum sendiri mengingat semua peristiwa indah yang telah ia lalui bersama Max.


Dan ....


Satu ketukan di pintu apartemennya membuyarkan lamunannya.


***

__ADS_1


***


***


__ADS_2