High School Bad Boy

High School Bad Boy
Bab 23. She's Just A Friend (Dia Hanya Teman), Miss.


__ADS_3

"Aku Eloise. Kau ingat aku?"


Max mengetuk - ngetuk kening dengan jarinya. Ia mencoba mengingat siapa gadis di hadapannya ini.


"Kita bertemu beberapa bulan lalu di sini." Gadis bernama Eloise itu mengingatkan. "Pameran lukisan fakultas seni rupa Universitas Sorbonne," lanjutnya.


"Oowh, kau mahasiswi Sorbonne si pelukis aliran naturalis itu." Max menjentikkan jarinya. "Eloise, ya Eloise .. aku ingat padamu. Comment ça va (apa kabar)?" Max menjabat tangan Eloise.


"Ça va bien, merci (aku baik - baik saja, terimakasih). Ah, senang sekali bisa bertemu lagi denganmu. Waktu itu kita lupa bertukar nomer telepon. Kita terlalu sibuk berdiskusi," kekeh Eloise. "Kau anak SMA yang benar - benar berbakat, Max," pujinya kemudian, membuat Max meringis sembari menggaruk tengkuknya.


"Owhh .. perkenalkan, ini Wulan .. dia ...."


"Aku Gurunya Max," potong Wulan seraya mengulurkan tangannya dan menjabat tangan Eloise.


"Salut (halo)," sapanya sekilas pada Wulan. "Max, ayo kutunjukkan lukisanku di sebelah sana," ujar Eloise seraya menunjuk tempat yang sepertinya adalah stand miliknya.


"Emmm .. " Max menoleh ke arah Wulan. Ia ragu - ragu untuk mengikuti ajakan Eloise.


"Aku akan melanjutkan berkeliling melihat lukisan." Wulan yang menangkap kebimbangan di wajah Max segera menyahut. "Sampai nanti, Max."


Wulan mengangguk ke arah Eloise dan berlalu. Ia melangkah cepat menjauh tanpa menoleh lagi ke arah Max.


Ia menyibukkan diri berkeliling melihat - lihat lukisan dengan berbagai teknik melukis yang mulai menarik perhatiannya. Dari klasik realis hingga fauvisme. Bahkan ada juga diantaranya yang beraliran futurisme. Semua tampak unik dan mengagumkan.


Setelah beberapa menit melanglang buana dalam dunia di atas kanvas, Wulan menyempatkan diri untuk menoleh ke arah Max dan Eloise yang masih saling mengobrol di kejauhan sana. Keduanya terlihat akrab. Sepertinya Eloise begitu antusias menunjukkan lukisan - lukisannya pada Max. Begitu juga pemuda itu, ia pun terlihat antusias mengomentari. Tampak dari gerakan - gerakan tangannya yang bergerak naik turun, lalu menunjuk ke atas kanvas.


Terakhir, Wulan melihat Max mengeluarkan ponselnya dan menyerahkannya pada Eloise. Dan sebaliknya. Sepertinya mereka bertukar nomer telepon.


Wulan tersenyum tipis menyaksikan keakraban dua anak muda itu. Kemudian ia memutuskan untuk duduk sejenak di sebuah cafe yang tak jauh tempat pameran. Ia memesan secangkir kopi dan menikmatinya sembari mengedarkan pandangan ke arah sungai Seine di hadapannya.


Cukup lama Wulan berdiam diri di sana. Ketika ada seseorang yang tiba - tiba menepuk pundaknya pelan dan membuatnya terkesiap.


"Pierre?" Tenggorokannya tercekat. Pandangannya mengikuti gerakan tubuh pria yang sudah berstatus mantan suami itu hingga ia duduk di hadapannya. "Sedang apa di sini?"


"Mencari lukisan untuk dekorasi kamar. Aku dan Emelie baru pindah ke apartemen baru," jawab Pierre tanpa beban.


Wulan menelan ludahnya. Pria ini benar - benar tidak memikirkan perasaannya. Ia mengucapkan nama wanita barunya di depan Wulan seakan - akan mereka hanya teman biasa. Apakah Pierre menganggap lima tahun kebersamaan mereka tidak ada artinya sama sekali. Sedangkan Wulan sampai saat ini masih berjuang mengobati luka hatinya.

__ADS_1


"Kau datang dengan pacarmu?" tanya Pierre ketika matanya menangkap sosok Max yang tengah berjalan ke arah mereka.


"Dia bukan pacarku," sergah Wulan.


Pierre mencebik sembari mengangkat kedua tangannya. "Bon, ben (ya sudah), senang bertemu denganmu, Wulan." Pierre beranjak dari duduknya dan mengelus kepala Wulan yang seketika membuat gerakan menghindar.


Pria itu menatap Max sekilas dengan senyum miringnya dan berlalu.


"Maafkan aku, Miss. Aku terlalu lama berdiskusi dengan Eloise. Sampai - sampai aku meninggalkanmu dan kau harus bertemu dengan mantan suamimu yang menyebalkan itu," ucap Max seraya memasang wajah bersalahnya. "Apa dia mengganggumu?"


Wulan mendecak. Ia tidak ingin menanggapi kata - kata Max. Entahlah, suasana hatinya sedang tidak bagus. Mungkin karena kehadiran Pierre yang tak terduga. Ataukah karena hal lain?


"Max, silahkan kau lanjutkan aktifitasmu. Aku mau pulang. Aku sedikit tidak enak badan," ujar Wulan sembari beranjak dari duduknya.


"Jangan, Miss. Kita pulang bersama - sama."


"Tidak usah," sergah Wulan. "Lihat, sepertinya Eloise masih ingin berdiskusi denganmu," ujarnya sembari memandang pada gadis manis berambut cokelat di kejauhan sana yang tengah menoleh ke sana kemari. Ia tengah mencari seseorang. Dan wajahnya terlihat senang begitu menemukan sosok Max.


"Aku sudah selesai bicara dengannya." Max berjalan mengikuti langkah Wulan menelusuri trotoar luas di antara pertokoan dan cafe yang ramai oleh pengunjung. "Lagi pula aku sudah bertukar nomer telepon dengannya. Aku bisa melanjutkan diskusi dengannya di lain waktu."


Terdengar suara kekehan Max dari belakang. "Kau cemburu?" tanyanya dengan asal.


"Hah?" Wulan berseru kaget. Atau mungkin berpura - pura terlihat kaget. Entahlah, pertanyaan Max yang tanpa basa basi itu membuatnya bingung. "Cemburu?" kekehnya. "Dasar kau ini! Kenapa aku harus cemburu? Ada - ada saja!"


"Tapi wajahmu terlihat murung," sangkal Max sembari memiringkan kepalanya untuk memeriksa wajah Wulan.


"Itu karena .. hmmm .. sudahlah, lupakan saja."


"Karena mantan suamimu yang jelek itu?"


Wulan mendecak. "Dia tidak jelek!" protesnya.


"Tapi tidak tampan." Max tak mau kalah. "Hei, kenapa kau membelanya? Kau masih mencintainya?"


"Bukan urusanmu!" Wulan mendelik pada Max.


"Jangan - jangan kau masih berharap bisa kembali padanya."

__ADS_1


Wulan menarik rambut Max gemas. "Anak kecil tahu apa?" hardiknya.


Max terbahak. "Ayo menonton film, Miss. Setelah itu, kita makan malam. Aku yang traktir."


"Simpan saja uangmu, Max."


"Ayolah, Wulan."


Wulan menarik nafas dalam - dalam. "Moodku sedang tidak baik, Max. Aku mau pulang saja."


"Justru karena moodmu sedang tidak bagus, aku akan menghiburmu, Miss."


Wulan memutar kedua bola matanya. Anak bengal ini benar - benar pantang menyerah. Ditatapnya wajah tampan dengan mata biru yang penuh harap itu.


"Kau ajak saja Eloise!" Akhirnya kata - kata itu meluncur begitu saja dari mulut Wulan. Membuat Max mengerenyitkan keningnya. Namun sejurus kemudian senyumnya tersungging lebar, demi melihat wajah Wulan yang terlihat muram.


"Jadi sebenarnya moodmu jelek karena Eloise?" tanya Max senang. "Dia cuma teman, Miss."


Wulan menepuk dahinya. "Kenapa kau menyebalkan sekali, Max," gumamnya.


"Ayolah, Miss. Akui saja," desak Max. Masih dengan kekehannya yang membuat Wulan semakin kesal. Wanita itu meremas wajahnya kasar.


Wulan mengibaskan tangannya menganggap celotehan Max hanya angin lalu. Tanpa memperdulikan anak tengil itu lagi, ia berbalik dan melangkah menuruni tangga stasiun bawah tanah.


"Miss, jangan pergi!" seru Max dari atas tangga membuat beberapa orang yang tengah melintas memperhatikannya sejenak.


"Aku hanya bercanda!" serunya kembali. Namun Wulan telah menghilang dari pandangan matanya.


Max mengelus rambutnya lalu mengacaknya kasar. Kemudian melongok kembali ke bawah tangga berharap Wulan merubah pikirannya dan muncul dari dalam sana.


Nihil.


***


***


***

__ADS_1


__ADS_2