High School Bad Boy

High School Bad Boy
Bab 22. T'es Tres Belle Aujourd'hui (Kau Cantik Sekali Hari Ini).


__ADS_3

STALINGRAD, SURESNES.


Pelan Max membuka pintu apartemennya dan memeriksa seisi ruangan. Tampak gelap. Hanya ada bias cahaya lampu dari luar yang menyeruak masuk melalui jendela. Ia meraba saklar di dekat pintu dan menyalakannya.


Ruang tamu kosong. Namun pintu kamar Ayahnya sedikit terbuka. Dan sayup - sayup ia mendengar suara - suara aneh yang menyerupai rintihan dan lenguhan.


Max yang penasaran segera melangkah mendekat ke kamar Ayahnya dan mengintip ke dalamnya.


"Fils de pute (kepa rat)!" makinya begitu melihat pemandangan yang tak pernah ia duga di dalam sana.


Sang Ayah dan seorang wanita entah siapa, keduanya tengah bergumul setengah telanjang di atas ranjang. Max sempat menangkap adegan - adegan tak senonoh yang membuatnya seketika memalingkan muka dan beranjak pergi.


"Dégueulasse (menjijikan)!" makinya.


Ia berjalan cepat menuju kamarnya ketika sayup - sayup masih terdengar suara - suara yang membuatnya mual dari dalam kamar sang Ayah.


Max membanting pintu dengan keras. Ia melempar tas punggungnya dan menghempaskan badannya ke atas ranjang. Dibukanya resleting tas dan meraih ponsel serta earphone.


Tak lama kemudian mengalun lagu dari Adrienne Pauly berjudul Chut (diam) memanjakan telinganya, mengalir lembut menyejukkan isi kepalanya, dan menghempaskan rasa jijik yang beberapa saat lalu mendominasi benaknya.


Kini bayangan si Ibu Guru cantik, Wulan mulai terlintas begitu saja. Menari - nari mengikuti irama musik chill dengan lirik romantis yang membuat dadanya berdesir.


Ia melipat lengannya ke bawah kepalanya sembari memejamkan mata dan senyumannya terus tersungging di bibir tipisnya.


Memikirkan Wulan, adalah satu - satunya hal yang membuatnya bahagia akhir - akhir ini. Walaupun wanita itu mungkin hanya menganggapnya sebagai muridnya, tak lebih dari itu.


Senyumnya sirna ketika mendengar pintu kamarnya digedor dengan keras dari luar. Lalu terdengar suara sang Ayah memanggil - manggil namanya.


Ia melepas earphone dan beranjak menuju pintu. Wajah sang Ayah yang tampak kelelahan menyembul begitu ia membuka pintunya.


"Mana uangnya? Aku membutuhkannya sekarang," kata pria paruh baya itu sembari menengadahkan telapak tangannya lalu menggerakkan jemarinya, memberi isyarat agar Max segera menuruti permintaannya.


"Aku tidak punya uang." Max mendecak kesal. "Tidak untuk membayar pela cur!"


"Anak breng sek!" Ludovic mendorong dada Max hingga mundur beberapa langkah. Lalu tanpa basa - basi melangkah masuk dan mengambil tas punggung Max yang tergeletak di atas ranjang dan mulai memeriksa isinya.


Begitu pria itu menemukan dompet milik Max, ia langsung mengambil beberapa lembar seratus euro yang ada di dalamnya.


Ludovic menyeringai dan menepuk - nepukkan lembaran hijau itu ke kening Max.


"Kau mengambil semuanya?" protes Max seraya menarik kerah baju Ludovic namun dengan segera pria itu melepaskan cekalan tangan Max dan mendorongnya dengan keras hingga punggungnya membentur dinding.


"Berani melawanku?" Sang Ayah memberi peringatan sembari menunjuk muka Max.


"Dasar kepa rat!" maki Max begitu geramnya.


Ludovic kembali menyeringai. Lalu berlalu begitu saja sembari membanting pintu kamar.


Max menendang kursi lipat yang ada di dekatnya hingga terjungkal. Mulutnya mengeluarkan berbagai macam sumpah serapah guna melampiaskan amarahnya.

__ADS_1


Ia meraih dompet yang masih tergeletak di atas ranjang. Kosong. Max melemparnya sembarang. Ia terduduk lesu di tepian ranjang.


Uang hasil penjualan cannabisnya tadi sore ludes tak tersisa. Sedangkan ia punya rencana untuk mengajak Wulan akhir pekan ini ke pameran lukisan di Les Marais. Dan ia telah menyusun rencana setelahnya untuk mengajak Wulan menonton film, makan, atau sekedar meminum kopi.


Max mengacak rambutnya kasar.


Ia duduk termangu sembari memutar otak memikirkan cara mendapatkan uang untuk mengajak Ibu Gurunya itu berkencan.


Kencan?


***


LES MARAIS, SURESNES.


"Apa lukisanmu juga ada yang diikutsertakan ke dalam pamerannya, Max?" tanya Wulan, begitu ia dan Max keluar dari stasiun bawah tanah di dekat museum Pablo Picasso.


Kini keduanya berjalan berdampingan di sidewalknya Les Marais yang ramai.


"Ada lima lukisan. Semua aku titipkan pada stand milik Patrick."


"Wow. Aku jadi tidak sabar ingin melihat lukisan - lukisanmu itu."


Max terbahak. "Lukisanku belum sempurna, Miss. Aku masih harus banyak belajar."


"Kau bercanda." Wulan memukul pelan bahu Max. "Lukisanmu sangat bagus."


Wulan mendecak sebal. Anak ini selalu saja mempunyai stock kata - kata yang mampu membuat dadanya berdesir.


"Miss, aku lupa sesuatu," ujar Max sembari menghentikan langkahnya.


Wulan mengerenyitkan dahinya. "Lupa apa?"


"Mengomentari penampilanmu hari ini," jawab Max. Membuat Wulan memutar kedua bola matanya.


"Kau cantik sekali hari ini."


Bibir Wulan mencebik. Lalu menggeleng pelan. Tolonglah, Max, hentikan. Wulan melolong dalam hati.


"Memangnya hari - hari yang lain aku jelek?"


"Cantik. Tapi hari ini kau lebih cantik," kata Max sembari memandang Wulan dari ujung kepala hingga ujung kaki.


Wulan, dengan sweater rajut tebal panjang berwarna biru muda, dipadu dengan legging hitam dan sepatu boot setinggi mata pergelangan kaki, lalu topi rajut musim dingin di kepalanya, serta syal warna senada dengan sweaternya, sungguh terlihat manis. Apalagi dengan rambut hitam panjangnya yang tergerai begitu saja.


"Dari mana kau belajar merayu wanita seperti ini, Anak Nakal!" Wulan menarik segenggam rambut Max dengan gemasnya.


"Sejak bertemu denganmu," gelaknya sembari mengusap - usap bagian rambutnya yang ditarik oleh Wulan. "Naluri, Miss."


"Dilarang merayu Gurumu sendiri!" hardik Wulan. Ia pun melangkah cepat mendahului Max. Tak ingin anak bengal itu melihat pipinya yang mulai memerah. Terdengar gelak tawa Max di belakang sana.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian mereka pun sampai di jembatan Pont Marie, tempat berlangsungnya pameran. Area di samping sungai Seine itu telah disulap menjadi galeri outdoor yang penuh stand - stand lukisan karya dari banyak pelukis amatir Paris dan sekitarnya.


Max dan Wulan mendekati Patrick yang tengah berbicara dengan seseorang. Pengunjung pameran, sepertinya. Begitu melihat keduanya, Patrick membuat gerakan dengan tangannya mempersilahkan seseorang itu untuk melihat - lihat lukisannya.


"Salut (halo), Patrick." Wulan menyapa Patrick. Mencium pipi pria tua itu sekilas.


"Aaa, Miss Wulan. Senang melihatmu di sini. Pasti Max yang memaksamu, ya," guraunya seraya melirik ke arah Max dengan senyumnya yang terlihat jahil.


Wulan terkekeh. Ia menyenggol pinggang Max dengan sikunya. Pemuda itu tersenyum dengan canggungnya.


"Aku akan berkeliling melihat - lihat lukisan. Sampai nanti, Patrick," ujar Wulan disambut dengan anggukan kepala pria tua itu.


"Aku akan menemanimu, Miss," ujar Max sembari mengejar langkah Wulan.


"Jadi, yang mana lukisanmu?" tanya Wulan sembari memeriksa satu persatu lukisan yang terpajang di stand milik Patrick.


"Yang ada di depanmu itu salah satunya." Max menunjuk satu lukisan di depan Wulan. Apa yang tersaji di atas kanvas benar - benar memukau.



Sebuah karya psikedelik yang susah dicerna oleh otak orang awam. Perpaduan warna yang kontras dengan tema yang absurd membuat Wulan membelalakkan mata terkagum - kagum.


"Wow!" ucapnya. "Aku kira kau hanya mengikuti aliran klasik realis, Max?"


"I wanna try something new (aku ingin mencoba hal baru)."


"Bravo." Wulan bertepuk tangan. "Kau terinspirasi dari mana?"


Max terkekeh sembari menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Kau janji tidak akan melaporkanku pada polisi kalau aku ceritakan padamu?"


Wulan menaikkan alisnya. Menuntut jawaban Max segera.


"Mari juana ...." gelaknya.


Wulan mendesis. "Dasar kau, Anak Nakal!" hardik Wulan sembari memukul ujung kepala Max. Ia semakin mengeraskan tawanya begitu melihat reaksi Ibu Gurunya itu.


"Maximilian? Max?"


Sebuah suara memaksa Wulan dan Max menoleh. Seorang gadis manis berambut cokelat memasang senyum di hadapan mereka. Ia memandang Max dengan mata berbinar.


"Aku Eloise, kau ingat aku?"


***


***


***


Vote aku dong, temen - temen, biar cepet femes bwahahahahahha!

__ADS_1


__ADS_2