High School Bad Boy

High School Bad Boy
Part 73. Trapped By The She Devil.


__ADS_3

LYCÉE JEAN-BAPTISTE SAY, SURESNES.


Masuk ke perpustakaan, Wulan mendapati Jolene tengah duduk di salah satu kursi sembari menelungkupkan wajahnya ke atas meja. Ia pun segera mendekati wanita itu dan duduk di hadapannya.


"Jolene? Ca va toi (kau baik-baik saja)?" tanya Wulan pelan.


Perlahan Jolene mengangkat kepalanya. Matanya terlihat sembab. Wajahnya yang biasanya terlihat cantik nan elegan, kini sayu.


"Hei, Wulan," ucapnya dengan suara serak. "Perasaanku sedang tidak menentu."


"Ada apa, Jolene?"


Jolene menarik napas dalam-dalam. Lalu membuang pandangannya ke arah beberapa siswa yang baru saja masuk ke dalam ruangan.


"Bisa aku bercerita padamu?" tanya Jolene dengan wajah memelas.


Wulan menyentuh telapak tangan Jolene dengan lembut. "Tentu saja."


"Ini sungguh rumit. Aku jatuh cinta dengan seseorang."


Wulan menaikkan alisnya, lalu terkekeh. "Jatuh cinta bukan sesuatu yang rumit, Jolene." Ia menelan ludahnya. Bukankah hubungan cintanya dengan Max juga rumit?


"Aku jatuh cinta dengan muridku sendiri," ucap Jolene sembari menatap Wulan tajam.


"Owh ...." Wulan tercekat. Tepat sekali. Memang rumit.


"Anak bengal yang tampan dan cerdas." Jolene menggumam. "Aku sungguh menyukainya."


"Ini memang rumit, Jolene ...."


"Maximilian," potong Jolene.


"Hah?" Wulan memasang wajah bingungnya mendengar Jolene mengucapkan nama itu.


"Aku jatuh cinta pada Maximilian," ucap Jolene yang terdengar seperti petir di telinga Wulan.


Jantung Wulan berdegup kencang. Namun ia berusaha bersikap senormal mungkin.


"Kenapa harus Max ... emm ... maksudku, kenapa kau jatuh cinta dengannya?" tanya Wulan lirih dengan gemuruh di dadanya.


"Entahlah, aku rasa aku telah menyukainya sejak pertama kali aku melihatnya."


"Apa ... dia juga ... menyukaimu?" tanya Wulan terbata.


Jolene mencebik. "Mungkin."


Wulan menelan ludahnya. Ia memejamkan matanya sesaat. Mencoba menetralisir perasaan tak menentu yang ia rasakan.


"Aku tidak bisa menebak isi kepalanya. Ia terlalu misterius untukku. Tapi, itulah yang membuatku jatuh cinta padanya," ucap Jolene. Ia meraih tangan Wulan dan menggenggamnya erat. "Terima kasih telah mendengarkanku, Wulan. Aku menceritakan semua ini karena aku percaya padamu."


Wulan tersenyum getir, lalu mengangguk pelan. Ia memandang wajah cantik Jolene sekilas. Wanita itu begitu cantik dengan wajah Barbienya. Sepasang mata birunya begitu jernih. Pria mana pun pasti tidak akan bisa menolak pesonanya.

__ADS_1


Bagaimana dengan Max?


***


CHAMPS-ÉLYSEES, PARIS.


Ada orang yang harus kulukis malam ini, aku akan datang besok. Je t'aime, Mon Amour (I love you, my love).


Max menekan tombol kirim di layar ponselnya. Kemudian memasukkan kembali benda itu di saku jaketnya. Ia berdiri mematung di depan pintu apartemen bertuliskan nomor 265 itu sembari menggendong tas ransel besar di punggungnya.


Pelan ia mengetuk pintu bercat abu-abu itu. Beberapa saat kemudian, pintu terbuka dari dalam dan sosok Jolene muncul dari baliknya. Tubuh seksinya terbalut piyama berenda yang sedikit transparan. Membuat Max seketika merasa jengah.


"Hei, Max ... entre (masuk)," kata Jolene sembari membuka pintu lebar-lebar.


Max melangkah masuk ke dalam ruang apartemen yang cukup mewah itu. Layaknya apartemen-apartemen di daerah Champ-Elysees yang merupakan area elite di Paris. Sudah bisa dipastikan Jolene bukanlah orang sembarangan.


Ia meletakkan tas ranselnya di samping sebuah sofa klasik yang berada di ruang tamu dengan desain senada, dengan tirai-tirai besar berwarna hijau tua di setiap jendela kaca.


"Anggur?" tawar Jolene sembari menyodorkan satu gelas berkaki panjang berisi cairan merah maroon.


Sedikit ragu Max menerima gelas itu, namun ia tak segera meneguknya. Ia meletakkannya di atas meja.


"Kau tidak suka?" tanya Jolene.


"Nanti saja," ucap Max. Di mana kau mau aku melukismu?" tanyanya tanpa basa-basi. Ia ingin segera menyelesaikannya.


Jolene duduk di atas sofa dengan santainya. Lalu menyunggingkan senyum menggodanya. Ia memilin gelas anggur di tangannya sembari menatap Max dengan tatapan tajam.


"Miss Jolene ... aku datang untuk melukismu, itu saja. Aku tidak ingin berbasa-basi," tegas Max. "Kalau bukan karena Wulan, aku tidak akan sudi."


Jolene tergelak. "Ya ampun, Max ... kau benar-benar serius ya."


"Miss ... aku tidak tahu apa maksudmu sebenarnya. Tapi aku tidak peduli, aku hanya tidak ingin terjadi apa-apa dengan Wulan."


Jolene menghela napasnya dengan berat. "Minumlah dulu, Max ... santai dulu." Ia mengambil gelas Max dari atas meja dan memberikannya pada pemuda itu. "Duduk, Max." Ia menepuk-nepuk tempat kosong di sampingnya.


"Aku tidak akan mempersulit Wulan, Max ... kau tenang saja."


Max meneguk gelas anggurnya. "Aku tidak akan tinggal diam kalau kau mengganggu Wulan." Ia memperingatkan.


"Aku tidak mungkin menyakitinya, Max ... dia ...." Kata-kata Jolene menggantung begitu saja ketika dilihatnya Max menatapnya dengan tatapan penuh selidik. "Aku bukan orang jahat, Max ...." Senyum miring Jolene tersungging. Ia memperhatikan Max yang tengah menghabiskan gelas anggurnya.


.


.


"Wulan ...."


Max mengerjap-ngerjapkan matanya yang terasa kabur. Sosok wajah Wulan timbul tenggelam dalam pandangannya. Ia meraih dagu wanita yang berada di bawah tubuhnya itu dan memagut bibirnya dengan lembut.


"Max ... sentuh aku ...."

__ADS_1


Ia merasakan kedua kaki Wulan merenggang di bawah sana, mempersilahkannya untuk memasukinya kapan saja.


"T'es tres belle (kau cantik sekali)," engahnya sembari menghujani kecupan pada pipi, leher dan juga dada Wulan.


Namun entah kenapa, Max merasakan malam ini sentuhan Wulan berbeda. Ia tidak bisa menjelaskan secara detail, namun ia merasa, wanita yang sedang bersamanya ini bukanlah Wulan.


"Ne t'arrête pas (jangan berhenti), Max ...."


Suara Wulan kembali terdengar di telinga Max, ketika ia mulai ragu-ragu meneruskan gerakannya.


"Wulan?"


Max meraup wajahnya kasar. Bayangan wajah Wulan mulai memudar. Berganti dengan sesosok wanita berambut pirang yang tersenyum lebar padanya penuh kemenangan. Ia hendak melepaskan tubuhnya dari wanita itu, namun kepalanya terasa berdenyut.


Selanjutnya, segalanya menjadi gelap.


.


.


Max yang terbaring menelungkup di atas ranjang, pelan membuka matanya. Ia menunggu beberapa saat hingga pandangan matanya yang kabur kembali normal. Ia melihat sesosok wanita yang tertidur lelap di sampingnya. Seorang wanita cantik berambut pirang.


Ia terlonjak kaget hingga hampir saja ia terjatuh dari ranjang.


"Tidak mungkin!" serunya. "Jolene!" teriaknya dengan keras.


Jolene yang terbangun mendengar teriakan Max, hanya tersenyum melihat ekpresi panik pemuda itu. "Bonjour (selamat pagi), Max ...."


Max beranjak dari ranjang dengan wajah penuh amarah. Satu persatu ingatannya akan peristiwa semalam kini muncul. "Kau menjebakku!"


"Hei, tidak ada yang menjebakmu, Max. Semalam itu, kita mabuk."


Max mengacak rambut gondrongnya kasar. "Breng sek!" makinya.


Jolene tersenyum miring. Ia turun dari ranjangnya dan berjalan mendekati Max.


"Kita simpan rahasia ini antara kau dan aku," Jolene menyentuh lengan Max.


"Jangan sentuh aku!" hardiknya sembari menepis tangan Jolene. Ia mengumpulkan pakaiannya yang berceceran di lantai dan segera mengenakannya.


Ia menatap geram pada Jolene sekilas, lalu keluar dari kamar mewah itu sembari membanting pintunya dengan keras.


Jolene duduk di tepian ranjang dengan senyumnya yang tak henti-hentinya tersungging. Ia meraih ponselnya, lalu menggeser layarnya.


"Sangat panas," gumamnya sembari memandangi layar ponselnya.


***


***


***

__ADS_1


__ADS_2