
STALINGRAD, SURESNES.
Ludovic membuka pintu kamar Max dan mendapati anak lelakinya itu tengah tertidur pulas. Ia berjalan ke arah tempat tidur dan mengguncang tubuh Max di balik selimut.
"Max," panggilnya.
"Hmmmm ...." Max menggumam. Ia membuka matanya pelan, lalu merubah posisi tidurnya dan kembali memejamkan mata.
"Semalam tidak pulang lagi?" tanya Ludovic. "Hari ini tidak masuk sekolah?" lanjutnya.
"Hmmm ... aku diskors selama seminggu." Max menjawab dengan gumaman. "Papa, ada surat untukmu, tolong ambil di tasku." Ia menunjuk pada tasnya yang tergeletak di atas sofa di dekat jendela. Sementara matanya masih terpejam.
"Diskors? Surat?"
Ludovic segera memeriksa isi tas Max dan mendapati satu amplop putih dengan stempel logo SMA Jean-Baptiste Say.
"Surat cinta dari sekolah," kekeh Max.
Ludovic mengerenyitkan keningnya ketika membaca isi surat di tangannya itu. "Kau membuat masalah?" tanya Ludovic sembari duduk di tepian ranjang.
"Tidak juga."
"Kenapa sekolah memanggilku?"
"Hanya perkelahian kecil, Papa ...."
Ludovic menarik selimut yang menutupi sebagian wajah Max. Ia mendapati bekas memar di sudut bibir anak lelakinya itu.
Pria paruh baya itu termenung. Ia menumpu lengan di atas pahanya. Wajahnya murung.
"Tidak usah melodramatic, Papa," ujar Max sembari menarik kembali selimutnya.
"Non, non ... aku hanya sedang berpikir. Memang aku telah banyak melewatkan peristiwa-peristiwa yang terjadi padamu selama ini," sesal Ludovic.
Max mendecak. "Lalu sekarang kau mau apa?"
"Je te promets (aku berjanji), mulai sekarang, aku akan menjadi Ayah yang baik untukmu."
"Oais, oais (ya, ya) ... terserah kau saja."
Lodovic menghela napas dalam-dalam. Lalu terdiam sejenak.
"Max ...."
"Hmmm ...."
"Kau menginap di mana akhir-akhir ini?" tanya Ludovic.
"Di tempat pacarku."
__ADS_1
Ludovic mengerenyitkan keningnya. "Orang tua pacarmu tidak keberatan?" tanyanya.
"Tidak, dia tinggal sendiri."
"Anak seusiamu sudah tinggal sendiri?"
Max hanya menghela napasnya di balik selimut.
"Owh, pacarmu sudah kuliah?" tebak Ludovic.
"Kau sedang menginterogasiku, Ludovic?"
Ludovic terkekeh. "Aku hanya ingin tahu saja, Max."
"Hmmm ...."
Ludovic menepuk-nepuk kaki Max. "Ayo, Max, bangun ... aku membawa daging mentah dari toko. Kau bisa membantuku menyiapkan makan malam?"
"D'accord (oke)," jawab Max dengan malas. Lalu menyibakkan selimutnya dan beranjak dari ranjang. Mengikuti Sang Ayah keluar dari kamarnya.
***
LYCÉE JEAN-BAPTISTE SAY, SURESNES.
"Excusez-moi (permisi), Miss ... salut (halo)."
Wulan mengangkat wajahnya yang tertunduk dan menghentikan langkah ketika dilihatnya seorang pria paruh baya tengah berdiri menghadang jalannya.
"Ah, aku sedang mencari ruangan Guru Pembimbing. Anda bisa membantuku?"
"Maaf, anda siapa?" tanya Wulan ramah.
"Je m'appelle (namaku), Ludovic Guillaume." Ludovic mengulurkan tangannya pada Wulan.
Guillaume?
Ragu-ragu Wulan meraih tangan Ludovic dan menjabatnya.
"Aku Ayah Maximiliian Guillaume, siswa di sini."
"Ah, d'accord (oh, oke) ...." Dada Wulan berdesir mendengar nama Max disebut. Sekilas ia menangkap senyuman Max di bibir pria bernama Ludovic itu. Sepasang matanya berwarna cokelat. Jelas mata biru Max tidak diturunkan darinya.
"Owh, Anda mencari ruangan Guru Pembimbing?" Wulan terkesiap. "Anda jalan lurus saja ke sana, setelah melewati toilet Guru, beberapa meter di depan, Anda akan sampai di ruang Guru Pembimbing." Wulan menunjuk koridor yang lengang.
"Merci ... Miss ...."
"Laksana, Wulan ...."
"Merci, Miss Laksana," ujar Ludovic seraya berpamitan pada Wulan.
__ADS_1
Wulan mengangguk. Ia memandangi punggung pria itu hingga menjauh dan menghilang di balik pintu ruang Guru Pembimbing.
Ia pun melanjutkan langkahnya keluar dari gedung kelas 12 dan melintasi pelataran sekolah lalu masuk ke gedung kelas 11.
***
Wulan melangkah keluar dari sebuah swalayan di dekat apartemennya dengan membawa satu tote bag besar berisi barang belanjaan yang baru saja dibelinya. Ia berjalan menelusuri sidewalk yang cukup ramai oleh pejalan kaki.
Ia merasa ada seseorang yang mengikuti langkahnya, yang kini sepertinya telah berjalan sejajar di sampingnya.
Wulan menoleh dan terkejut mendapati sesosok pria berjambang tipis dengan senyum lebarnya yang seketika membuat bulu kuduknya meremang.
"Da ... mien?" ujarnya terbata.
"Salut (halo), Wulan," sapa Damien ramah.
"Terakhir kudengar kau ...." Kata-kata Wulan menggantung begitu saja dan disambut kekehan pria itu.
"Ya, aku di sini sekarang." Damien mengangkat bahunya.
Wulan menelan ludahnya. Ia mengurungkan niatnya untuk bertanya lebih detail tentang penahanan Damien di kantor polisi. Ia bisa menebak sepertinya tidak ada cukup bukti adanya kekerasan seksual yang dilakukan Damien pada Nadia. Bukankah memang mereka melakukannya atas dasar suka sama suka?
"Comment ... ça va (apa ... kabar)?" tanya Wulan terbata.
"Aku baik-baik saja. Hanya saja, hidupku sedikit susah sekarang." Damien mencebik. "Semua sekolah di Perancis menolak lamaran pekerjaanku."
Hati Wulan mencelos. Ia tidak tahu harus merasa kasihan pada Damien atau tidak.
"Rumit sekali, Wulan," kekehnya. "Aku bisa saja di penjara selama satu tahun. Tapi karena tidak cukup bukti adanya kekerasan SEKSUAL." Damien memberi penekanan pada kata seksual sembari menatap tajam pada Wulan. "Aku bebas," lanjutnya. "Tapi pengadilan memutuskan aku harus membayar ganti rugi pada Nyonya Kareem karena telah mengencani anaknya yang masih di bawah umur." Damien menghembuskan napasnya kasar. "Mahal sekali, Wulan. 150.000 euro. Bisa kau bayangkan itu?"
Wulan kembali menelan ludahnya. Damien menceritakan semua itu padanya dengan berapi-api. Apakah Damien sedang mencoba memberitahunya kalau ia pun bisa mengalami nasib yang sama dengannya? Atau pria itu sedang mengancamnya? Atau menyindirnya?
"Tapi yang paling membuatku kesal adalah ... aku susah mendapatkan pekerjaan kembali. Entah menjadi Guru atau apa pun." Sorot mata Damien tajam menusuk jantung Wulan. Ada kilatan amarah di sana.
"Aku ... turut prihatin, Damien," ucap Wulan. "Andaikan ada yang bisa aku bantu ...."
Damien terkekeh. "Tidak perlu, Wulan. Aku hanya ingin kau mendengarkan keluh kesahku. Itu saja. Dan juga memperingatkanmu ...." Ia menyunggingkan senyum miringnya. "Kau dan anak bengal itu ...." Damien mencondongkan badannya mendekat ke telinga Wulan. "Sedang menggenggam bom waktu," bisiknya. Lalu berjalan mendahului Wulan yang kini hanya berdiri mematung.
"Ah, satu lagi .... " Damien membalikkan badannya. "Semuanya akan lebih rumit untukmu karena kau bukan warga negara Perancis," ujarnya. Ia menarik sudut bibirnya. Mengerlingkan matanya pada Wulan, lalu berlalu menjauh.
Wulan tercekat. Dadanya berdegup dengan kencang. Tubuhnya terasa lemas. Ia memijit keningnya yang tiba-tiba saja berdenyut.
Ditariknya napas dalam-dalam untuk menetralkan perasaannya yang kacau.
Ia segera melangkah menyeberang jalan menuju ke gedung apartemennya.
***
***
__ADS_1
***