High School Bad Boy

High School Bad Boy
Bab 46. J'ai Peur (Aku Takut).


__ADS_3

Etienne membulatkan kedua mata belonya. Dan dengan mulut sedikit terbuka, ia memandang bergantian antara Max yang berdiri di sampingnya menyandarkan punggung pada loker, dan Wulan yang tengah berjalan melintas di depan mereka. Keduanya saling melempar senyum yang entah apa artinya. Membuat Etienne merasa ia mencurigai sesuatu telah terjadi di antara mereka berdua.


"Max, oo, Max!" panggilnya sembari memukul pelan bahu Max. Membuat pemuda itu mengalihkan pandangnya dari Wulan yang terus melangkah menuju ruang Guru, dan memandang sebal pada Etienne.


"Quoi (apa)?" tanya Max. Ia merasa kesenangannya memandangi Wulan terganggu.


"Toi et elle ... vous etes (kau dan dia ... kalian) ...." Etienne tak melanjutkan kata-katanya. Ia yakin Max tahu arah pertanyaannya.


Max meringis sembari menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Je sais pas (aku tidak tahu) ...."


"T'es fou (kau gila), Max!"


Max terbahak. "Oais ... je suis fou d'elle (ya, aku tergila-gila padanya)."


"Kau pacaran dengan Miss Wulan?" tanya Etienne dengan suara sedikit keras. Membuat Max buru-buru membekap mulutnya sembari menoleh ke sekeliling. Banyak siswa yang tengah bergerombol di koridor.


"Jangan keras-keras, Breng sek!" makinya.


"Kau memang sudah gila, Max ...." Etienne mengelus rambut keritingnya frustrasi. "Aku sudah bilang jangan kau teruskan ...."


"Mais t'inquiéte pas (tidak usah khawatir)." Max mengibaskan tangannya. "Aku main aman," gelaknya kemudian.


Etienne mendesis. "Aku kahawatir pada Miss Wulan. Bukan kau!" hardiknya.


Max merangkul pundak Etienne lalu memiting lehernya di antara lengan dan dadanya. Membuat pemuda berkulit hitam itu meringis kesakitan.


"Ayo, kubelikan kau makan siang," ujar Max sembari mengacak rambut keriting Etienne.


"Ben, voila (nah, begitu dong)," ucap Etienne girang dan mengikuti langkah Max menuju pelataran sekolah dan berjalan menuju cafetaria.


.


.


Di ruang Guru hanya ada Paul dan Monique, yang tengah mengobrol dari meja masing-masing. Wulan tak begitu memperhatikan apa yang sedang dibicarakan oleh kedua rekan Gurunya itu. Ia terdiam di kursinya, mengulang kembali kejadian di perpustakaan yang sungguh-sungguh memacu adrenalinnya. Ia mengelus bibir dengan ujung jemarinya. Rasanya masih ada jejak bibir Max di sana. Manis dan lembut.


Anak itu benar-benar telah membuatnya hilang akal. Ia wanita dewasa yang seharusnya bisa bersikap dewasa, dalam menghadapi perasaannya sendiri. Tapi, Max, terlalu sulit untuk Wulan menolak pesonanya. Lalu, akan dibawa kemana semua ini.


Apakah ini akan menjadi kisah yang tak berujung, atau akan menjadi petaka baginya.


Apakah ia harus mengesampingkan semua ketakutan-ketakutannya, dan menerima cinta Max dengan tangan terbuka. Seperti yang selalu dibisikkan oleh hati nuraninya.


"Benar-benar skandal memalukan di sekolah ini!"


Wulan menoleh ke arah Monique yang baru saja berbicara dengan suara geram.


"Aku juga tidak pernah menyangka. Guru dan muridnya yang masih di bawah umur. Wow!"

__ADS_1


Ia bergantian memandang ke arah Paul yang menyahut ucapan Monique. "Siapa yang sedang kalian bicarakan?" tanyanya dengan dada yang berdebar.


"Damien dipecat. Dan sekarang ia ditahan polisi atas tuduhan kekerasan seksual terhadap anak di bawah umur," jawab Paul.


"Kasihan Nadia Kareem, sangat disayangkan dia mengambil nyawanya sendiri," gumam Monique seraya mengelus dadanya. Ia menunjukkan ekspresi wajah prihatinnya.


Wulan terdiam. Ia tak mampu menimpali. Dadanya tak henti-hentinya berdegup dengan kencang. Bukankah ia sama buruknya dengan Damien?


Ia bermain-main dengan api sekarang.


***



Wulan membaringkan badannya di atas sofa apartemennya. Matanya fokus pada selembar kertas di genggaman tangannya.


Temui aku di depan Supermarché De Stalingrad, 236 Boulevard de la Villette. Jam 19.00.


Tulisan yang cukup rapi di atas kertas itu ia baca berulang-ulang. Bibirnya terus saja mengulum senyum. Max yang memberikannya siang tadi dengan terburu-buru ketika mereka berpapasan di koridor. Entah apa yang anak itu rencanakan.


Gaya Max ini sungguh klasik. Memberikan pesan lewat selembar kertas. Apakah ini adalah bagian dari sikap romantis pemuda itu yang ingin ia tunjukkan padanya?


Ah, tentu saja tidak. Wulan menepuk keningnya. Ia dan Max belum sempat bertukar nomor telepon selama ini.


Ia melirik layar ponselnya di atas meja. Jarum jam menunjukkan pukul 18.30. Ia sudah siap dengan pakaian lengkap dari tiga puluh menit lalu. Bahkan ia mengenakan mini dress favoritnya, yang ia padu dengan sepatu boot setinggi lutut. Ia sempat mentertawakan diri sendiri beberapa saat lalu ketika melihat bayangan dirinya di dalam cermin.


Ia benar-benar telah menjelma bak seorang remaja yang baru pertama kali merasakan jatuh cinta. Begitu berbunga-bunga, begitu berdebar, dan begitu mendamba sosok bermata biru itu.


Perasaan itulah yang tanpa sadar kini membawa langkahnya menelusuri trotoar di area luar Stalingrad. Dan berhenti di depan sebuah supermarket dengan papan nama seperti yang ditulis Max di dalam pesannya.


Di sana, seorang Maximilian Guillaume telah menunggunya. Memandangnya dengan tatapan takjub. Lalu menggandeng tangannya masuk ke area Stalingrad yang malam itu, lengang.


Max membawanya menaiki tangga panjang mengular ke atas gedung. Menuju rooftop dengan pemandangan kota Paris dan lampu-lampunya yang memukau.


"Duduk, Miss." Max mempersilahkan Wulan untuk duduk di sampingnya. Di tepian gedung yang hanya dipagari terali besi usang.


"Ini tempat favoritku. Tempatku bersembunyi dari semuanya." Max berucap. "C'est pas trés genial (tidak terlalu bagus), tapi cukup untuk menenangkan diri."


"Di sini tenang sekali, Max," timpal Wulan. Ia memandang jauh ke depan, di mana menara Eiffel hanya terlihat bagian puncaknya saja.


"Iya. Tempat ini menenangkan. Namun malam ini tempat ini juga menyenangkan."


"Pourquoi (kenapa)?"


"Parce que t'es là (karena kau ada di sini) ...." Max meraih telapak tangan Wulan dan menggenggamnya erat.


Wulan tersenyum. Max selalu saja menemukan kata-kata manis yang menyalurkan energi hangat ke seluruh tubuhnya. Membuatnya lupa akan semua ketakutan-ketakutannya.

__ADS_1


"Max ...."


"Oui (ya)."


"J'ai puer (aku takut)."


"Apa yang kau takutkan, Miss?"


Wulan menghela napas dalam-dalam. "Aku takut, aku sama buruknya dengan Damien ...."


"No, no, no ...." Max menggeleng kuat.


"Aku berhubungan dengan anak di bawah umur. Aku seorang Guru, yang sudah jelas-jelas tidak boleh melakukan hal itu. Tapi aku melanggar. Apa bedanya aku dengan Damien?"


"Yang membedakan adalah, perasaan kita nyata."


"Aku bahkan tidak tahu bagaimana perasaanku yang sebenarnya. Terlalu rumit."


"Tidak apa-apa, Miss. Aku mengerti posisimu."


Wulan menoleh ke arah Max yang tengah menengadahkan wajahnya ke langit.


"Perceraianku dengan Pierre membuatku hancur, Max. Aku takut, aku masih dalam keadaan trauma saat ini, dan hanya menganggapmu sebagai pengisi kekosongan dalam hatiku. Aku takut, tanpa sadar aku hanya memanfaatkan kehadiranmu dalam hidupku."


Max menggeser posisi duduknya lebih dekat dengan Wulan. Perlahan tangannya membelai rambut panjang Ibu Gurunya itu kemudian menangkup wajah cantiknya.


"Mungkin semua ketakutanmu itu sebenarnya tidak ada."


"Aku tidak sedang mengatakan omong-kosong, Max ...."


"Hei, untuk saat ini aku mohon jangan menyimpulkan apa-apa, ya?"


Wulan terdiam. Max masih menatapnya dengan mata sendu.


"Ngomong-ngomong, Miss," ujar Max dengan ekspresi wajahnya yang tadinya serius kini berubah menjadi tengil. "Boleh kulanjutkan ciumanku yang belum selesai tadi siang di perpustakaan?"


"Kau ini ... aku sedang seri ... emmm ... us." Ucapannya berubah menjadi lenguhan ketika tanpa aba-aba bibir Max kini telah memagutnya dan tak memberinya kesempatan untuk menghindar.


"Kita lanjutkan pembicaraan kita nanti saja," engahnya sembari menangkup pipi Wulan dan semakin memperdalam pagutan bibirnya.


"Atau lain kali saja," sambungnya.


***


***


***

__ADS_1


__ADS_2