
LYCÉE JEAN-BAPTISTE SAY, SURESNES.
Wulan berdiri mematung di depan pintu ruang Kepala Sekolah. Ia sedikit ragu untuk mengetuk pintunya. Bukan karena segan dengan Kepala Sekolah yang terkenal dengan wajah angkernya, namun lebih kepada bimbang dengan keputusannya sendiri untuk mengajukan perpindahannya mengajar di grade 12 (level Terminal/akhir) yang terdiri dari kelas Science, Economy dan Literature. Kelas Literaturelah yang sebenarnya ingin ia hindari. Karena di sana ada Max. Ya, ia harus menjauh sebisa mungkin dari anak itu.
Tangan Wulan pelan mengetuk pintu berwarna abu-abu itu. Ia menekan handle pintu dan masuk ke dalam ruangan berdesain chick yang dominan warna krem.
"Miss Laksana," Seorang wanita paruh baya berambut pirang dan berbadan sedikit tambun yang tengah duduk di kursinya memandang tajam ke arahnya.
"Salut, Madame La Principale (halo, ibu kepala sekolah)," sapa Wulan sembari menarik kursi dan mendudukinya.
"Ada yang bisa kubantu?"
Wulan berdehem sekali untuk melicinkan tenggorokannya.
"Madame, aku berniat untuk mengajukan perpindahan ke 2eme cycle 1ere (level 2/kelas 11)," ujar Wulan hati-hati. Ia memperhatikan wajah angker wanita di hadapannya itu.
"Pourquoi (kenapa)?" tanyanya dingin.
"Emmm ... aku sedikit kerepotan mengajar kelas 12."
Wanita itu tersenyum sinis. "Apa kau tidak paham resiko pekerjaan, Miss Laksana?"
Wulan menelan ludahnya. Ia mengangguk pasrah.
"Apa kau benar-benar tidak sanggup mengajar kelas 12?"
"Oui (ya), Madame. Itu pun jika kau mengizinkan. Kalau kau tidak mau mengabulkannya, aku akan menerima dengan senang hati."
"Aku akan mempertimbangkannya," ucap Sang Kepala Sekolah membuat Wulan sedikit lega. "Bisa saja kau pindah ke kelas 11, tapi itu tergantung pada Miss Bassett. Apa dia mau bertukar tempat denganmu."
"D'accord (oke)."
"Ada lagi yang ingin kau sampaikan?"
"Tidak, Madame La Principale."
Wanita itu mengangguk. Lalu gerakan tangannya mempersilahkan Wulan untuk keluar dari ruangannya.
"Merci, Madame," ucap Wulan sembari beranjak dari duduknya dan melangkah keluar dari ruangan itu. Ia lalu menutup pintu pelan.
Wulan berjalan melewati koridor yang ramai oleh para siswa yang lalu lalang. Ia berharap tidak akan bertemu dengan Max ketika melewati loker kelas 12. Anak itu biasanya ada di sekitar sana saat jam istirahat. Ia merasa lega hari ini tidak ada jadwal mengajar kelas literasi, sehingga ia tidak harus bertatap muka dengan Max.
"Salut (halo), Miss!"
Sial.
__ADS_1
Mendengar suara Etienne yang memanggilnya membuat dadanya berdegup kencang. Wulan yang sedari tadi berjalan sembari menundukkan kepala memberanikan diri menoleh ke arah kirinya.
Dan apa yang ditakutkannya menjadi kenyataan. Max berdiri di samping Etienne sembari menyandarkan punggung pada lokernya. Tatapan tajamnya membuat bulu kuduk Wulan meremang. Wajahnya terlihat begitu dingin. Senyum manisnya yang mampu menghangatkan relung hati Wulan, pun sirna.
Begitu lebih baik. Ia tidak perlu bertegur sapa lagi dengan pemuda itu.
"Salut, Etienne," ucapnya. Ia buru-buru mengalihkan pandangannya lurus ke depan dan mempercepat langkah menuju ke ruangannya.
Ia masuk ke dalam ruang guru yang kosong dan menghempaskan tubuhnya di atas sofa. Wulan memejamkan matanya sejenak. Nafasnya ia atur sedemikian rupa guna menghalau perasaannya yang begitu kacau.
***
"Salut, tout le monde, je m'appelle Corine Bassett (halo semuanya, namaku Corine Bassett). Mulai sekarang aku menggantikan Miss Wulandari Laksana untuk pelajaran Bahasa Inggris kalian."
Wanita paruh baya yang memperkenalkan diri sebagai Corine Bassett itu membuat Max mengerenyitkan dahinya.
Guru Bahasa Inggris baru? Apa-apaan ini? Kemana Wulan?
"Memangnya kemana Miss Wulan?" seru Etienne mewakili pertanyaan Max yang hanya mampu ia ucapkan dalam hati.
"Miss Laksana mengajar di kelas 11."
Max memukul mejanya geram. Ia berdiri dan menyambar tas punggungnya lalu melangkah keluar kelas tanpa mempedulikan Guru baru itu memanggil-manggilnya.
Ia terus berjalan menelusuri koridor yang sepi. Seluruh siswa telah masuk ke dalam kelas mereka masing-masing.
"Wulan!" panggilnya.
"Maaf, Max ... aku harus masuk kelas." Wulan yang terkejut dengan kehadiran Max mempercepat langkahnya menjauhi pemuda itu.
"Apa salahku?" tanya Max sembari mengejar Wulan dan meraih lengannya. "Kau marah padaku? Bukankah seharusnya aku yang marah padamu?"
"Aku tidak mau membicarakan masalah itu." Wulan menghentikan langkahnya, menoleh ke arah Max dan menatapnya tajam.
"Tidak bisa begitu, Miss!" sergah Max. "Kau memberiku harapan malam itu."
"Aku mabuk!"
"Orang mabuk itu jujur."
"Kalau begitu nama pria yang aku ucapkan malam itu jujur dari alam bawah sadarku."
"Sialan!" maki Max sembari mengacak rambutnya.
"Ya Tuhan, kenapa aku harus membicarakan hal ini denganmu?" gerutu Wulan seraya memijit keningnya.
__ADS_1
"Kenapa kau pindah ke kelas 11, hah?"
"Aku kerepotan mengajar di kelas kalian!"
"Pembohong!"
Wulan mendecak. "Terserah kau mau bilang apa, Max."
Max meremas wajahnya kasar. "Kau membuatku gila, Miss."
"Max, kau akan membuatku terkena masalah."
"Kau takut?" tanya Max sembari mendekat ke arah Wulan, bersiap untuk meraih tubuhnya.
"No!" seru Wulan. Ia mengangkat kedua tangannya, memberi peringatan pada Max untuk tidak mendekatinya. "Jangan egois, Max. Aku hidup sendiri di negara ini. Aku tidak mau kehilangan pekerjaanku."
"Hanya itu alasanmu?"
"Alasan apa?"
"Alasan kau menghindar dariku."
Wulan mendesis. "Untuk apa aku menghindarimu?"
"Kau tanyakan saja pada dirimu sendiri, Miss."
Wulan terbahak. "Lagi pula apa tujuan kita bertengkar seperti ini," gumamnya. "Aku tidak seharusnya meladenimu, Max."
"Lihat, kau selalu saja menyangkal."
"Ya Tuhan, Max."
Max melipat kedua lengannya di depan dada. Tersenyum sinis pada Wulan. "Réponds-moi (jawab aku). Kau menyukaiku apa tidak?"
Wulan melempar pandangannya ke arah lain. "Tidak."
"Lihat mataku dan jawab dengan jujur."
Wulan menghela napas dalam - dalam. Ia mengumpulkan semua kekuatannya untuk menatap mata biru itu. "Tidak!" ujarnya. "Happy now (kau puas)?" tanyanya sembari berlalu dari hadapan Max.
"Je te crois pas (aku tidak percaya padamu)!" seru Max seraya mengibaskan tangannya.
"Terserah!" Wulan berseru dari kejauhan. Tampak ia mendongakkan kepalanya. Menahan sesuatu agar tak jatuh di pipinya.
***
__ADS_1
***
***