
Sudah beberapa menit Wulan membuka matanya pagi itu, namun ia belum juga berniat untuk beranjak dari tempat tidurnya. Ia masih menggulung tubuhnya di bawah selimut tebalnya. Teringat kejadian gila semalam membuatnya enggan keluar dari kamarnya dan bertemu dengan Max yang mungkin saja masih berada di ruang tamu apartemennya.
Namun makhluk - makhluk mikro di perutnya meronta meminta untuk diberi sarapan. Lalu dengan malas ia beranjak dari pembaringannya dan menyeret langkahnya keluar dari kamar.
"Bonjour (selamat pagi), Miss." Suara sapaan dari balik sofa menghentikan langkahnya menuju dapur. Dadanya berdegup kencang. Ia melongok ke balik sofa dan mendapati Max tengah berbaring sembari melempar senyum jahil padanya.
"Kau masih di sini?" tanya Wulan sembari melanjutkan langkahnya menuju ke dapur.
Max meringis. "Boleh kupinjam toiletmu, Miss?"
Wulan hanya menggerakkan dagunya ke arah kamarnya, sebagai tanda ia mengijinkan Max untuk menggunakan toilet yang ada di dalam. Ia lalu membuka lemari pendingin dan memeriksa bahan makanan yang ada di dalamnya.
Ia menghela napasnya ketika meihat isi kulkasnya hanya ada beberapa butir telur saja dan dua batang roti baguette yang ada di freezer. Akhirnya dengan bahan seadanya, ia pun mulai membuat sarapan.
Ketika tengah sibuk memotong roti, Wulan dikejutkan oleh dua tangan yang menelusup memeluk pinggangnya dan napas halus yang menghembus di tengkuknya. Ia pun segera berbalik dan seketika mendorong tubuh jangkung yang begitu dekat jaraknya dengannya.
"Tu fais quoi (kau sedang apa), Max!" jeritnya sembari mendorong kembali tubuh Max hingga ia jatuh terduduk di kursi makan.
Max terbahak. "Kita sudah berciuman, Miss. Artinya kau dan aku sudah menjadi ...."
Wulan membelalakkan matanya tak percaya. "ArrĂȘte!" serunya. "Aku sudah bilang padamu, tidak terjadi apa pun semalam. Okay?"
Max mencebik. Lalu mengedikkan bahunya. "Ada yang bisa kubantu, Miss?"
"Tidak ada. Kau jauh - jauh saja dariku sana. Atau pulang saja sekalian."
Max menggaruk rambutnya. "Semalam kau baik sekali padaku, kau membelai rambutku, mengusap punggungku. Kenapa sekarang jadi begini?" gumamnya.
Wulan mendesis. Ia tak menghiraukan Max dan kembali sibuk membuat sarapan. Telur orak arik dan roti panggang.
"Ya sudah kalau begitu aku pergi, aku akan mengajak Eloise jalan - jalan," ujarnya seraya bangkit dari duduknya.
Wulan berdehem sekali. "Aku sudah membuat sarapan untuk dua orang," katanya seraya mengambil dua piring dan mengisinya dengan menu yang sudah selesai ia buat.
"Owh, okay ...." Max tersenyum lebar sembari memperhatikan Wulan yang tengah memindahkan piring ke atas meja makan.
"Wulan ...." panggil Max begitu keduanya kini telah duduk berhadapan dan menikmati sarapan mereka. "Mengenai semalam ...."
"Aku tidak mau membicarakannya," sahut Wulan memotong kata - kata Max.
"Tapi aku sungguh - sungguh ...."
"Max, please!" Wulan meletakkan garpu dan pisaunya dengan kasar ke atas piring.
"Kau butuh waktu untuk berpikir? Aku akan memberikannya."
Wulan beranjak dari duduknya dan melangkah cepat menuju kamarnya. Namun Max buru - buru menghadang di depan pintu.
__ADS_1
"Pergilah, Max!"
Max hendak meraih bahu Wulan dan membawanya ke pelukannya, namun dengan segera Wulan menahan dadanya. "Kumohon, Max. Kau pergilah, aku sedang kacau."
"Baiklah ...." Max mengangkat kedua tangannya pasrah. Lalu melangkah menuju sofa dan mengambil tas punggungnya. Ia menatap Wulan beberapa saat sebelum akhirnya berjalan menuju pintu keluar dan menghilang di baliknya.
Wulan memukul - mukul dahinya dengan frustrasi. Kemudian memegangi dadanya yang tiba - tiba terasa sesak.
Ini tidak benar.
Kacau.
***
Begitu keluar dari stasiun bawah tanah di daerah Stalingrad, Max menghentikan langkahnya ketika dilihatnya Damien baru saja keluar dari sebuah swalayan dan berjalan menuju mobilnya.
Dengan wajah memerah menahan amarah, ia berjalan cepat menghampiri mobil Damien dan membuka pintunya dengan kasar.
"Keluar!" serunya pada Damien yang tengah menghidupkan mesin mobilnya dan terkejut melihat kehadirannya.
"Keluar kataku!" ulangnya sembari menarik kerah baju pria itu dan menariknya keluar dari mobil.
"Wooo ... ne me touche pas (jangan sentuh aku)!" hardik Damien seraya mendorong dada Max dengan keras.
"Connard (baji ngan)!" Max bersiap menghantam wajah Damian dengan kepalan tangannya.
"C'est quoi mon probleme (apa masalahku)?" Max membalas Damian dengan mendesaknya ke badan mobil. "Nadia bunuh diri gara - gara kau, Kepa rat!"
Damien terperanjat mendengar perkataan Max. Namun ia berusaha bersikap setenang mungkin. "Kau pikir aku tidak tahu kalau kau telah menghamilinya dan meninggalkannya begitu saja?" Max tidak bisa menahan emosinya lagi.
Bukkk
Satu pukulan ia hadiahkan di ulu hati Damien yang tak sempat menghindar. Pria itu melolong sembari membungkuk memeluk dirinya sendiri.
"Kau ... pasti ... sudah ... salah ... paham," ucapnya terbata. Mencoba mengelak untuk membela diri.
Amarah Max semakin tak terbendung. Ia tak berniat untuk berdiskusi panjang lebar dengan pria itu. Ia bersiap - siap untuk melancarkan serangan berikutnya.
"Tolong!" teriak Damien meminta bantuan pada beberapa orang yang tengah melintas. "Anak ini sudah gila, dia ingin menyakitiku!"
Beberapa orang yang terdiri dari tiga orang pria dan satu orang wanita menghampiri mereka dan melerai keduanya.
"Dasar pengecut!" maki Max hendak menghajar Damien kembali namun ia ditahan oleh dua orang pria tadi. Satu pria membimbing Damien masuk ke dalam mobilnya.
"Kita belum selesai, Breng sek!" teriaknya sembari berusaha melepaskan diri dari cekalan para pria itu.
"Calme - toi, Gamin (tenanglah, nak)," ujar si wanita seraya menepuk - nepuk pundak Max.
__ADS_1
Begitu mobil Damien bergerak menjauh, para pria itu melepaskan Max.
Ia mengambil tas punggungnya yang ia lempar sembarang sebelumnya dan berlalu tanpa mengucapkan sepatah kata pun pada orang - orang itu.
.
.
Max berdiri di depan pintu apartemen Nyonya Dasia untuk beberapa saat. Ia menarik napasnya dalam - dalam. Memantapkan hati untuk menemui Ibu angkatnya itu.
"Kau mencari Nyonya Kareem, Maximilian?"
Max mengurungkan niatnya untuk mengetuk pintu begitu mendengar suara seseorang di belakangnya.
"Salut (hallo), Abdalla," sapanya pada seorang pria paruh baya berkulit hitam yang dipanggil dengan nama Abdalla itu. "Iya aku ingin menemuinya."
"Nyonya Kareem sudah pindah dua hari yang lalu. Apartemennya kosong."
"Pindah? Kemana?"
"Toulouse."
Max mengelus rambut panjangnya sembari menengadahkan wajahnya ke langit - langit koridor.
"Desole (maaf), Maximilian." Abdalla menepuk - nepuk pundaknya beberapa kali. Kemudian ia pun berlalu.
Max melangkah gontai menuju pintu apartemennya yang hanya berselang beberapa meter saja.
Ia membuka pintu perlahan dan berjalan menuju kamarnya. Dilihatnya Ludovic, sang Ayah tengah bersiap untuk mengganggunya seperti biasanya.
"Pas maintenant (tidak sekarang), Papa!" serunya seraya menunjuk ke arah muka Ludovic.
"Va - sy, donne moi le fric (cepat berikan uangnya)." Pria itu tak mengindahkan peringatan Max.
"J'ai te dit, pas maintenant (aku bilang, tidak sekarang)!" Max menatap tajam sang Ayah. "Aku sedang tidak ingin diganggu!"
"Mais c'est quoi cette connerie (omong kosong apa ini)?" ujar Ludovic sembari mendekat pada Max dan meraih tas yang ada di punggungnya.
"Connard (baji ngan)!" maki Max seraya mendorong tubuh Ayahnya dengan keras hingga pria itu jatuh terjengkang ke lantai.
Max membiarkan saja pria itu mengucapkan sumpah serapah untuknya. Ia masuk ke dalam kamarnya dan mengunci pintu. Lalu menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang, menarik selimut dan bergelung di dalamnya.
***
***
***
__ADS_1
Hai, para pembaca dan para pembaca dalam diam, je t'aime, I love you, aku cinta kamuđ