
LA COMPAGNE DU VANNIER
Je t’aimais. J’aimais ton visage de source raviné par l’orage et le chiffre de ton domaine enserrant mon baiser. Certains se confient à une imagination toute ronde. Aller me suffit. J’ai rapporté du désespoir un panier si petit, mon amour, qu’on a pu le tresser en osier.
CINTA MENURUT SEORANG PENYAIR KERANJANG
Aku mencintaimu. Aku mencintai wajahmu, musim semi yang merahasiakan badai, lambang kekuasaanmu atas seluruh ciumku. orang lain percaya kepada imajinasi tanpa cela. buatku, aku cuma ingin selalu menuju ke arahmu. dari keputusasaan kubawa keranjang yang begitu kecil, cintaku, mereka menganyamnya dari rerumputan.
René Char (Penyair).
***
Paris
Wulan tak pernah menjelajahnya selama ini hingga ke sudut-sudutnya. Pierre, tak sekali pun mengajaknya menikmati kota yang katanya punya reputasi sebagai kota paling romantis di Bumi.
Sedang Max, ia memosisikan dirinya sebagai tour guide termanis yang pernah ada. Membawanya hari itu menelusuri tempat-tempat yang tak pernah terpikirkan olehnya selama ini. Tentunya dengan memberinya bonus kecupan-kecupan lembut dan pelukan-pelukan kecil.
Dimulai dengan mengendarai Dodo Manége, komedi putar di dekat Natural History Museum yang unik dengan kuda-kudaan yang diganti dengan tema hewan-hewan langka yang telah atau hampir punah. Berlanjut mendatangi kuburan bawah tanah di balik indahnya Paris yang dikenal dengan nama Catabombs De Paris, lalu bermain-main ke perkebunan anggur di Montmare yang indah hingga sore hari.
"Aku menginap di apartemenmu, ya, Miss," ucap Max di dalam taksi yang membawa mereka pulang. Wulan hanya tersenyum menanggapinya. Entah kenapa, sepanjang hari bersama anak itu membuatnya juga ingin menghabiskan malam dengannya. Entah hanya sekedar mengobrol sembari minum anggur, atau, ya, apa pun yang akan terjadi nantinya.
Begitu taksi menurunkan mereka di depan gedung apartemennya, Wulan melangkah mendahului Max yang mengikutinya dari belakang. Keduanya terdiam dengan senyum tersungging di bibir masing-masing.
Tenggelam dalam niat yang sama. Ingin saling menyentuh.
Ce matin au réveil
Quand j'me suis retournée
Quelle fut pas ma surprise
C'est sur toi que je suis tombée
Moi qui voulais pas sortir
Y a des jours comme ça
Moi qui voulais juste dormir
Et maintenant, t'es là
Chut! Ne dis rien
Reste encore mystérieux
Chut! Ne bouge pas
Je suis si bien dans tes yeux
Quelle heure et quel jour on est
J'oublie toujours
Est-ce l'hiver? Est-ce l'été
Je m'en rappelle jamais
Comment on s'est r'trouvés là
Laisse-moi deviner
Pour une fois qu'j't'attendais pas
Et maintenant, ça y est
Je suis une femme dangereuse
Vraiment infréquentable
Je suis une femme amoureuse
Vraiment incontrôlable
Chut Ne dis rien
Reste encore dans mon lit
Chut Ne bouge pas
Tu t'appelles chéri et
Dans tes bras je suis bien
Oui Ne dis rien
Laisse-moi me réveiller
Chut Ne bouge pas
Laisse-moi encore rêver
Chut
Pagi ini saat aku terbangun
Saat ku berbalik
Aku terhenyak, aku telah jatuh padamu
__ADS_1
Ada hari-hari di mana aku hanya ingin tertidur di sampingmu
Dan sekarang kau di sini
Diamlah, jangan katakan apapun
Biarlah semua tetap menjadi misteri
Diamlah, jangan bergerak
Aku merasa nyaman dalam tatapan matamu
Jam berapa dan hari apa ini
Aku tak mengingatnya
Apakah ini musim dingin
Apakah ini musim panas
Aku tak pernah mengingatnya
Bagaimana kau dan aku menemukan satu sama lain di sana, biar kutebak, untuk kali ini aku tidak mengharapkanmu
Tapi sekarang, aku pasrah.
Aku wanita yang berbahaya
Aku langka
Aku seorang wanita yang sedang jatuh
cinta, aku tidak bisa mengendalikan diriku
Jangan katakan apapun
Tetaplah di tempat tidurku
Jangan bergerak, panggillah aku Sayang. Dalam pelukanmu aku baik-baik saja
Jangan katakan apapun
Biarkan aku bangun
Hush jangan bergerak
Biarkan aku bermimpi lagi
Diamlah ....
(Chut - Adrienne Pauly).
Max menyunggingkan senyumnya. "Maukah kau berdansa denganku, Miss?" ucapnya sembari membungkukkan badanya dan mengulurkan tangannya pada Wulan.
Wulan mengangguk. Menyambut uluran tangan Max dan melingkarkan lengannya di leher pemuda itu. Kedua pipi yang bersemu merah beradu, seiring dengan gerakan halus tubuh mereka mengikuti alunan lagu.
Max mengelus punggung Wulan lembut lalu tangannya turun ke pinggang Ibu Gurunya itu. Ia semakin merapatkan tubuhnya pada Wulan sembari sesekali mengecup leher jenjangnya pelan.
Berbeda ....
Sentuhannya berbeda dengan Pierre.
Ah. Bodohnya Wulan. Sudah pasti berbeda. Untuk apa ia membandingkan mereka. Ia juga tidak mau dibandingkan dengan wanita lain, seperti Eloise atau Amélie.
Tapi ....
Kenapa rasanya aliran listrik bertegangan rendah mengalir di kulitnya. Merayap perlahan melalui sentuhannya.
Anak ini ....
Bukan, jelas ia bukan anak-anak. Bukan bocah dengan sentuhan ragu. Sosok ini, pria dewasa yang terperangkap dalam tubuh anak laki-laki 16 tahun. Ia tahu yang ia lakukan. Ia tahu dimana harus menyenangkanku. Ia tahu di mana harus menyentuh. Seakan ia sudah mengenali setiap jengkal tubuhku.
Masalahnya, Maximilian Guillaume ini, terlalu kurang ajar. Namun Wulan tidak dapat menolak.
"Miss ...." Max berbisik di leher Wulan. Hanya dengan hembusan napasnya saja, Wulan mendesah. Max membalikkan tubuh Wulan perlahan lalu memeluknya dari belakang. Keduanya masih bergerak mengikuti alunan lagu.
Tangannya membelai sepanjang lengan Wulan.
"Aku sedang berulang tahun, sewaktu aku datang ke sini selesai pameran Sorbonne," bisik Max di telinganya.
Wulan terdiam. Lalu menoleh ke samping, menyandarkan kepalanya di dada pemuda itu.
"Benarkah?" desah Wulan ketika bibir Max kembali merayap menelusuri lehernya. "Je suis desole (aku minta maaf), Max," ucapnya dengan perasaan bersalah.
"C'est pas grave (tidak apa-apa), kau kan tidak tahu," gumam Max. Namun tersirat nada kekesalan di dalam ucapannya.
Wulan membalikkan badannya, lalu melingkarkan kembali kedua lengannya di leher Max. Menatap sepasang mata biru itu dengan penuh penyesalan. "Bon anniversaire (selamat ulang tahun) ... sungguh, aku minta maaf, Max ... aku sedang dalam kondisi ...." Wulan menghentikan kalimatnya.
"Kondisi apa ...."
Cemburu.
Namun Wulan urung mengucapkan kata itu. Ia merasa malu.
Wulan memalingkan muka untuk menyembunyikan semburan merah pipinya.
"Kau benar-benar merasa bersalah, Miss?" Max kini memasang wajah tengilnya.
"Yeah ...."
__ADS_1
"Aku boleh meminta hadiah?" Senyum miringnya terbit.
"Boleh. Kau mau hadiah apa? Kalau aku mampu aku akan berikan ...."
Max terdiam sejenak. "Aku ingin dirimu ... seutuhnya." bisiknya.
Membuat Wulan merasa bulu-bulu halus di tengkuknya meremang.
"Aku ingin ini ...." Ia menurunkan lengan Wulan dari lehernya, lalu membelainya. "Juga ini ...." Sentuhan Max beralih ke pinggul ramping Wulan. "Dan ini ...." Ia menumpu badan dengan dua lututnya. Lalu mengelus paha Wulan sembari menempelkan kepala di perut Ibu Gurunya itu. Membuat Wulan mendesah pelan.
"Dan ... Ini ...." Ia berdiri kembali, lalu meraih bongkahan dada berukuran sedang yang menantang di hadapannya itu dan membelainya perlahan.
"Max!!" seru Wulan, setengah melenguh sembari mendorong tubuh Max pelan, dan beringsut menjauh.
Wajah Max yang sendu, menatapnya dengan pandangan mendamba. Senyuman tipis terbit di sudut bibirnya. Ia melangkah menghampiri Wulan. Lalu mendesaknya ke dinding.
"Aku mencintaimu, Wulandari Laksana," ucapnya dalam Bahasa Indonesia dengan aksen lucu dan menggemaskan. Entah dari mana ia mempelajarinya. Hanya kalimat sederhana, namun maknanya meluas. Dan Wulan semakin terhipnotis oleh pemilik sepasang mata biru itu.
"Dis moi que tu ressens la même chose (katakan padaku kau merasakan hal yang sama)?" desis Max.
"Aku ...." Wulan terbata. Punggung tangan Max membelai pipinya. Turun ke lehernya, dan berhenti di dadanya.
Tanpa aba-aba, Max memanggut bibir Wulan. Ia menyesap kehangatan wanita itu. Wanita yang dicintainya. Ciuman pria dewasa, tidak ragu dan tidak pamrih. Bagaikan sudah lama merasa haus, Wulan adalah oasenya di tengah padang pasir. Max mengambil semuanya dengan rakus. Mereka sama-sama terengah saat Max melepas bibirnya.
"Miss ... kalau kau tidak menginginkanku, katakan sekarang. Aku akan mundur dan tidak akan mengganggumu lagi," kata Max.
Wulan hanya mampu menggeleng sambil mengatur napasnya.
"Miss ... dis moi (katakan padaku)," pinta Max sekali lagi.
"Je t'aime (aku mencintaimu), Max ... je t'aime beaucoup (aku sangat mencintaimu)." Wulan menyerah. "Putain (sial) ... aku benar-benar sial sudah bertemu denganmu ...."
Max terkekeh. "Kesialanmu adalah keberuntunganku."
Max menggendongnya bagaikan pengantin baru dan membawanya masuk ke dalam kamar. Mendorong pintu dengan punggungnya, lalu melangkah menuju ke ranjang, dan membaringkan Wulan dengan pelan di atasnya.
Ia melepas kemejanya ke atas. Tubuh Max mulai menampakkan otot khas pria dewasa.
"Aku tidak tahu bagaimana cara memperlakukan seorang wanita di atas ranjang, aku harap aku tidak menyakitimu."
Max kembali menciumnya. Ia meloloskan sweater Wulan ke atas kepala wanita itu. Gerakannya penuh kelembutan, ia memperlakukan Wulan dengan hati-hati, bagaikan mengangkat serpihan es tipis di musim panas.
Pakaian Wulan telah lolos sepenuhnya. Ia berbaring di ranjang tanpa sehelai benang menutupi tubuhnya. Wajahnya menatap Max dengan cemas, malu dan tersipu.
Max menarik napas. "T'es trés belle, Wulan," desis Max. "Je t’aime ...." Dan Max menciumnya lagi, berulang-ulang. Di bibirnya, di lehernya, di bahunya, di dadanya dan perutnya. Kulit berwarna madu, eksotis, dan manis. "Mon Bébé (sayangku)," bisik Max.
Lalu ia mengangkat tubuhnya dan membentangkan kedua paha Wulan. Napasnya semakin memburu.
"Oh, oui, Max ...." Wulan menahan rasa perih yang menerpanya. Tapi ia merindukan rasa perih ini. "Max ... doucement, s'il te plait (tolong pelan-pelan)," desah Wulan.
Max tidak menjawab. Hanya bergerak mengikuti insting. Terus bergerak memasuki tubuh Wulan yang menegang. Ia tidak mendengar apapun, tidak melihat apa pun, tidak membicarakan apa pun. Hanya ada Wulan di matanya. Dan perasaan memilikinya.
Begini rasa cinta.
Orang-orang dimabuk cinta, dulu hal konyol baginya. Sekarang ia sangat mengerti kenapa cinta begitu memabukkan, begitu membutakan.
Begini rasa wanita.
Orang-orang posesif, mengagungkan wanita, hal konyol baginya. Sekarang ia sangat mengerti kenapa wanita menjadi candu, begitu indah semuanya.
"Max ..." Wulan mendesah berkali-kali. "Je suis au paradie (aku berada di syurga)," ucapnya tersengal-sengal.
" Mon amour, mon ange (cintaku, malaikatku) ...." desis Max. "Wulan ...."
Gerakkannya semakin cepat, hingga beberapa detik kemudian mereka hampir bersamaan mencapai pelepasan.
Max tumbang di sisi Wulan. Ia langsung mendekap wanita itu di pelukannya. Menciumi seluruh wajahnya. Dan berhenti di keningnya untuk beberapa saat lamanya.
Sama-sama terengah, sama-sama lelah. Namun, begitu bahagia.
Max terkekeh pelan. "C'était tellement beau (itu tadi indah sekali)."
Wulan berbaring menghadap Max, mengelus dadanya dengan lembut. "Itu pertama kali kau melakukannya?"
"Oui ...." Wajah Max bersemu merah.
"C'est pas mal (lumayan)," godanya.
Max memicingkan matanya. Bibirnya merengut. "D'accord (baiklah), lain kali aku akan melakukannya dengan lebih baik lagi," cebiknya.
"Aku bercanda," ujarnya sembari mendusalkan kepalanya ke leher Max. Lalu mengecupnya berkali-kali.
Ah, dunia ... malam ini aku hanya ingin bersama anak ini, kupikirkan caranya menghadapimu besok saja.
***
***
***
Part ini adalah hasil kolaborasiku dengan Author Septira Wihartanti (Angspoer), merci, merci, you are so damn cool, Mam🤗🤗.
Berapa banyak batang rokok yang kuhabiskan menemaniku menulis part ini?
Banyak!
Maaf yak, updatenya siang-siang, panas-panas, biar tambah panas ya kaann 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
(Wong gendeng mah bebassss)🤡🤡
__ADS_1
Selamat menikmati.