High School Bad Boy

High School Bad Boy
Bab 63. Struggling.


__ADS_3

STALINGRAD, SURESNES.


Tempat persembunyian Max, di rooftop gedung terbengkalai yang berada beberapa blok dari gedung apartemennya.


Ia duduk menyandarkan diri pada dinding lapuk di tepian gedung. Menelungkupkan wajahnya di antara lututnya yang ia tekuk. Satu tangannya memegang botol brandy yang isinya telah berkurang hampir setengahnya.


"Putain (sialan)!" makinya entah pada siapa.


"Ça fait très mal (sakit sekali)!" erangnya.


Max memukul-mukulkan bagian belakang kepalanya ke dinding beberapa kali. Matanya merah dan sembab. Awan hitam menaungi wajahnya.


"F uck, F uck!!!" teriaknya.


"C'est incroyable (luar biasa)," gumamnya. Lalu menggeleng pelan.


Mencerna semua ini rasanya begitu berat baginya. Hanya sesaat saja ia merasakan kebahagiaan yang tiada tara, kini ia dihempaskan begitu saja ke dalam kenyataan yang menyakitkan. Tubuhnya memproduksi adrenalin dan hormon kortisol yang berlebihan. Ia tak sempat mengantisipasinya. Ia belum siap, atau bahkan tak akan pernah siap.


Wulan adalah cinta pertamanya. Cinta pertama untuk seorang remaja seusianya yang tidak main-main. Bukan sekedar cinta monyet.


Hatinya telah memilih wanita mungil dengan paras cantik nan eksotis itu. Kulit warna kopi susunya terasa begitu unik di matanya. Aksen Perancis Wulan yang membuatnya gemas, cara bicaranya yang lembut, tertawanya yang renyah, rambut hitam legamnya, segalanya.


Max meneguk brandynya hingga habis. Lalu melempar botolnya sembarang, menghasilkan bunyi dentingan besar walaupun tak sampai pecah.


"Putain, Max!"


Etienne yang baru saja muncul terkejut melihat sahabatnya yang terlihat sangat kacau itu. Ia segera menghampiri Max dan duduk di sebelahnya.


"Apa yang terjadi?" tanyanya cemas.


Max mengangkat wajahnya. Matanya terlihat semakin memerah. Namun pandangannya begitu kosong.


"Putain, kau kacau sekali."


"Aku putus dengan Wulan."


Etienne terdiam. Ia merasa begitu bersimpati pada Max, namun dalam hatinya ia merasa lega. Dirangkulnya pundak sahabatnya itu untuk memberinya kekuatan. Lalu menepuk-nepuknya pelan.


"C'est probablement pour le mieux (mungkin itu jalan yang terbaik)," ucap Etienne.


"Je sais pas (aku tidak tahu)," gumam Max sembari menggeleng pelan. "Mais, c'est dur, putain (tapi, ini berat, sialan)!" makinya.


"Ya, ya, aku tahu, Max ...." Etienne menyodorkan sebungkus rokok pada Max. Membantunya mengambil sebatang, lalu begitu Max menyelipkannya di antara bibir, Etienne buru-buru menyalakan ujungnya.


"Ç'est le š enculer ... connard (benar-benar kacau ... bang sat)!" seru Max. Ia menghisap dan menghembuskan asap rokoknya dengan kasar.


"Kau pasti bisa melalui ini, Max ...."


"Je sais pas (aku tidak tahu) ... aku harus mencerna semua ini. Ini benar-benar menyakitkan."


"Aku tidak tahu harus bilang apa, Max ...." Etienne menggeleng. "Mais si t'as besoin de mon aide, je suis la (tapi jika kau butuh bantuanku, aku akan selalu ada untukmu)."


Max tak menyahut ucapan Etienne. Ia hanya tersenyum tipis, dan getir. Tatapan matanya sayu memandang lurus ke depan, pada pintu akses menuju rooftop yang lusuh.


***


LYCÉE JEAN-BAPTISTE SAY, SURESNES.


Wulan duduk di dalam perpustakaan seorang diri, menenggelamkan dirinya dalam sebuah buku.

__ADS_1


A Short History Of Near Everything. Buku yang ditulis oleh Bill Bryson, yang dibelinya kemarin di sebuah toko buku. Sebuah buku yang berisi tentang bagaimana mengatasi rasa pedih pasca putus hubungan dengan kekasih hati.


Mungkin, itu bisa membantunya sedikit mengurangi rasa sakit yang dirasakannya saat ini.


"Salut (halo)."


Suara sapaan itu memaksanya mengalihkan perhatiannya dari bukunya. Ia sedikit terkejut melihat sosok cantik berambut pirang telah duduk di seberang meja. Tersenyum padanya dengan ramah.


"Salut (halo), Miss Dupont," sapa Wulan.


"Jolene saja," kekeh si rambut pirang. "Sendirian?" tanya Jolene.


"Yeah," jawab Wulan sembari mengangkat bukunya.


"Hmm ... Bill Bryson, A short hystory of near everything," gumam Jolene. "Aku sudah pernah membacanya."


Wulan hanya tersenyum mendengar perkataan Jolene.


"Sedang mengatasi broken heart?" tanya Jolene membuat Wulan terkesiap.


"Emm ... aku tertarik ingin membacanya. Itu saja," jawab Wulan sekenanya. "Sudah menemukan buku yang ingin kau baca?" tanyanya berbasa-basi sembari menyapu pandangan ke seluruh ruang perpustakaan yang sepi.


"Hmmmm ... belum terpikirkan. Tadi begitu masuk kemari, aku melihatmu, jadi kuputuskan untuk mengobrol denganmu sebentar," kekehnya.


Wulan terlihat heran dengan ucapan Jolene. Ia berpikir untuk apa Guru Pembimbing ini tiba-tiba mengakrabinya. Apakah ada hubungannya dengan Max? Apakah Jolene sedang menyelidikinya?


"Wulan ...," ucap Jolene. "Boleh kupanggil nama depanmu saja?"


"Tentu saja."


"Kau punya warna kulit yang bagus. Cokelat susu, lembut ... sangat eksotis."


"Thailand? Filipina?"


"Emm ... Indonesia."


"Oow ... wow, Bali." Mata Jolene terlihat berbinar. "Kau dari sana?"


Wulan menggeleng. "Aku berasal dari sebuah kota kecil di Jawa, pulau di dekat Bali," terangnya.


"Apa nama kotanya?"


"Kau tidak akan tahu walaupun aku menyebutnya," kekeh Wulan.


"Sebut saja."


"Purwokerto. Ada di Central Java."


"Ah, daccord (okay). Namanya terdengar bagus. Purwokerto ...."


Wulan terkikik mendengar aksen Jolene yang lucu. Wanita ini sepertinya menyenangkan untuk dijadikan teman mengobrol. Ia bisa menghidupkan suasana.


"Mungkin kita bisa minum kopi atau minum di bar kapan-kapan?" tawar Jolene.


Wulan mencebikkan bibirnya. "Kenapa tidak."


"Bagus," ucap Jolene senang. "Tunggu sebentar, aku akan mencari satu buku. Akan kutemani kau membaca di sini."


Jolene beranjak dari duduknya dan melangkah menuju salah satu rak buku. Wulan memandangi wanita itu sekilas. Ia masih heran dengan sikap Jolene. Namun ia berharap Guru Pembimbing itu memang punya niat untuk berteman dengannya. Walaupun ia juga harus tetap waspada.

__ADS_1


.


.


"Max!!"


Belle merangkul bahu Max yang tengah menutup lokernya. Bergelanyut manja pada pemuda itu.


"Lepaskan!" ujar Max seraya menepis lengan Belle dengan kasar. Ia merasa risih dengan sikap gadis itu.


Wajah Belle merengut.


"Mau makan siang bersama?" tawar Belle.


"Tidak!"


Belle mendecak. "Ya sudah, aku di sini saja," ujarnya seraya berdiri di samping Max yang tengah menyandarkan punggung pada lokernya.


"Terserah," ujarnya sembari mengalihkan pandangan ke ujung koridor.


Dadanya berdegup begitu melihat Wulan muncul dari balik pintu gedung kelas 12, berjalan bersama Miss Jolene Dupont sembari mengobrol.


"Belle!" panggil Max.


"Oui?"


Max meraih dagu gadis itu dan tanpa basa-basi melu mat bibirnya dengan rakus. Belle yang terkejut membelalakkan matanya tak percaya. Namun sejurus kemudian ia membalas ciuman Max dengan tak kalah rakusnya.


"Hei!" Seruan Jolene membuat keduanya menghentikan ciuman mereka.


"Tidak boleh berciuman di lingkungan sekolah!" hardik Guru Pembimbing itu dengan wajah tegang.


Sementara Wulan yang telah menyaksikan dengan mata kepalanya, Max berciuman dengan Belle, berusaha mengendalikan gemuruh di dalam dadanya.


Hatinya seakan tersayat-sayat. Namun ia berusaha menata hatinya. Ekspresi wajahnya ia buat sedatar mungkin, dengan susah payah.


"Jangan berani mengulanginya lagi, kalau kalian tidak mau mendapat masalah!" ancam Jolene.


Max hanya tersenyum miring. Ia menatap Wulan yang buru-buru mengalihkan pandangannya ke arah lain. Ia tak melihat ekpresi kesal atau marah di wajah wanita pujaannya itu. Membuat hatinya mencelos seketika. Hingga tanpa sadar pandangannya mengikuti langkah Wulan yang digandeng oleh Jolene menjauh.


"Max ... tadi itu ...." Suara Belle tercekat. Ia begitu senang mendapat perlakuan tak terduga dari Max.


"Bukan apa-apa!" sergah Max.


"Kau ... menciumku ...."


"Aku sudah bilang bukan apa-apa. Lupakan, okay?" tegas Max dengan wajah kesalnya. Lalu berlalu dari hadapan Belle yang kebingungan.


Namun sejurus kemudian, gadis itu menyunggingkan senyum lebarnya.


***


***


***


Sorry ya gengs, kalau feelnya gak begitu dapet. Soalnya pikiranku sedang terbagi dengan kegiatan permusikan di dunia nyata. Hihihi.


Tapi aku pengen selalu update untuk kalian yang udah like, vote, comment, dan yang udah mengikuti cerita Max dan Wulan sampai detik ini.

__ADS_1


Love you all. 🤗🤗


__ADS_2