
STALINGRAD, SURESNES.
"Salut (halo), Papa."
Max yang baru saja tiba di apartemennya menyapa Ludovic yang tengah duduk di sofa ruang tamu. Sepertinya ia sengaja menunggunya pulang.
"Max ... je veux parler avec toi (aku ingin bicara denganmu)."
"Hmmm ...."
Max mendekat pada Ayahnya dan duduk di sampingnya. "Bicara apa?"
Ludovic terdiam sejenak. "Tadi siang salah satu Guru Pembimbingmu menemuiku di toko. Dia mengajakku bicara."
Max mengerenyitkan keningnya. "Miss Jolene?" tanyanya.
"Bukan. Dia seorang pria. Namanya ... emm ... Monsieur ...." Ludovic mencoba mengingat-ingat. "Arsenault, Damien!"
Dada Max berdebar mendengar nama itu disebut. Sudah bisa dipastikan apa yang akan Ayahnya bicarakan dengannya bukanlah hal yang bagus. "Lalu?"
"Dia mengatakan sesuatu yang membuatku ... hmm ... kaget."
Max menghela napasnya dalam-dalam. Ia tahu kemana arah pembicaraan Ayahnya. "Sebaiknya kau tidak usah mencampuri urusanku, Ludovic."
"Jadi benar? Kau berhubungan dengan Gurumu sendiri? Wanita yang belasan tahun lebih tua darimu?" Wajah Ludovic terlihat tegang. Namun ia berusaha untuk mengendalikan diri. Ia sadar, ia tak bisa seenaknya memarahi Max sekarang.
"Kalau iya memangnya kenapa?"
Ludovic memijit keningnya pelan. "Guru macam apa yang berhubungan dengan muridnya sendiri yang masih berusia 17 tahun," gumamnya.
"Hei, jangan bicara sembarangan tentang dia. Dia tidak seperti yang kau pikirkan!" Max memperingatkan.
Ludovic menyentuh lengan puteranya itu lembut. "Max, aku tahu aku tidak layak untuk mengatur hidupmu. Tapi aku sedang berusaha menjadi seorang Ayah yang baik untukmu."
"Kalau begitu jadilah seorang Ayah yang baik dengan tidak mencampuri urusanku. Aku sudah dewasa dan aku berhak untuk menentukan jalan hidupku sendiri."
Ludovic menggeleng. "Tidak, Max ... kau masih anak-anak dan butuh bimbingan orang dewasa agar kau tidak salah mengambil langkah." Ia menghela napasnya sejenak. "Maaf, Max, aku tidak bisa membiarkan hal ini terjadi."
Max beranjak dari duduknya. Ia mengepalkan kedua telapak tangannya dengan kesal. "Jangan ganggu dia!" Ia memperingatkan Ayahnya.
"Max ... seburuk apa pun aku di matamu, aku tetap Ayahmu. Aku sangat peduli padamu dan juga masa depanmu."
"Omong kosong!" sergah Max sembari melangkah menuju kamarnya. Lalu menutup pintunya dengan keras.
Ludovic termangu di sofanya. Memandangi pintu kamar anak lelakinya itu dengan perasaan tak menentu.
***
Wulan yang hendak menyantap makan malamnya di dapur apartemennya, segera beranjak dari duduknya menuju pintu ketika terdengar suara ketukan beberapa kali.
Ia membuka pintu perlahan. Sedikit terkejut mendapati sesosok pria paruh baya berdiri di sana. Pria yang ia temui di sekolah beberapa waktu lalu, Ludovic Guillaume, Ayah Max.
"Salut (halo), Miss Laksana ...."
"Monsieur Guillaume ...." Wulan tercekat menyapa pria itu. Dadanya berdebar tiba-tiba.
"Boleh aku masuk?" tanya Ludovic.
Wulan mengangguk. Lalu mempersilahkan Ludovic masuk dan duduk di ruang tamu.
"Ada yang bisa aku bantu?" tanya Wulan hati-hati. Walaupun ia telah menduga dengan kuat pria ini akan membicarakan hubungannya dengan Max.
Ludovic menyapu pandangannya ke sekeliling ruang apartemen. Tampak rapi, walaupun sederhana.
__ADS_1
"Kau tinggal sendiri, Miss?" tanya Ludovic berbasa-basi.
Wulan tersenyum. Lalu mengangguk.
"Suamimu ...."
"Aku sudah bercerai."
"Owh, maaf."
Wulan tersenyum kecut. "Tidak apa-apa," ucapnya getir.
"Sudah berapa lama tinggal di Perancis?" tanya Ludovic kembali.
"Kurang lebih lima tahun."
Ludovic mengangguk-angguk.
"Emm ... Miss Laksana, aku rasa kau sudah tahu apa maksud kedatanganku kemari."
Wulan menelan ludahnya. Ia berusaha menguasai perasaannya yang mulai tak menentu.
"Aku berharap kau mau mempertimbangkan ... memikirkan kembali hubunganmu dengan Maximilian."
"Aku mengerti, Monsieur Guillaume," sahut Wulan.
Ludovic menghela napasnya berat. "Sejauh apa hubungan kalian?"
Wulan menunduk. Memejamkan matanya sesaat.
"Max anakku satu-satunya. Dia adalah kenang-kenangan dari isteriku yang telah tiada. Selama ini aku menelantarkannya. Dan itu adalah penyesalan terbesar dalam hidupku." Ludovic terdiam sejenak. "Yang ingin kulakukan sekarang adalah menjadi Ayah yang baik untuk Max."
Hati Wulan seakan tersayat mendengar ucapan Ludovic. Ia masih tertunduk. Tak kuasa menatap Ayah dari Max itu.
Hampir saja Wulan tak bisa menahan air matanya. Namun ia berusaha sekuat tenaga untuk tidak meloloskan buliran-buliran bening ke pipinya.
"Monsieur Guillaume ... aku sudah memutuskan untuk mengakhiri hubungan dengan Max." Suara Wulan bergetar. Hatinya terasa begitu pedih. "Aku minta maaf untuk semua yang telah kulakukan pada Max. Sebagai seorang Guru, aku merasa tidak pantas."
"Terimakasih untuk pengertianmu."
Wulan mengangguk pelan.
"Kurasa hanya itu yang ingin kusampaikan padamu. Aku minta maaf kalau aku menyakiti hatimu," ujar Ludovic seraya beranjak dari duduknya.
"Aku baik-baik saja." Wulan benar-benar memaksakan senyumnya dengan penuh kegetiran.
"Permisi, Miss Laksana," pamit Ludovic. Wulan mengantarkan pria itu keluar dan menutup pintu apartemennya.
Wulan tak lagi bisa membendung air mata yang sejak tadi ditahannya. Ia menjatuhkan dirinya ke lantai dan menangis sejadi-jadinya. Menelungkupkan tubuhnya dan meratap pilu.
Ia merasa begitu lemah, rapuh, dan lelah.
Luka hati dengan Pierre yang dengan susah payah ia sembuhkan kini menganga kembali. Perih seperti tersiram air garam.
Kepingan-kepingan hatinya yang ia bangun dengan perjuangan yang begitu berat, kini hancur kembali.
Luluh lantak.
.
.
Wulan melangkah gontai keluar dari pintu utama gedung apartemennya. Matanya yang sembab hanya ditutupi riasan tipis.
__ADS_1
Ia berdiri di sisi jalan menunggu Christophe menjemputnya. Ia tidak tahu kenapa menerima ajakan pria itu begitu saja beberapa saat lalu melalui telepon. Pikirannya benar-benar sedang kalut.
"Sedang menunggu siapa, Miss?"
Wulan dikejutkan dengan sebuah suara di belakangnya. Suara yang begitu akrab di telinganya. Ia membalikkan badannya, mendapati sesosok jangkung dengan rambut cokelat panjang berantakan, berdiri dan menyunggingkan senyum termanisnya.
Hati Wulan seakan-akan kembali hancur berkeping-keping menatap seraut wajah tampan itu.
"Sedang apa di sini?" tanya Wulan dingin.
"Aku ingin menemuimu."
"Untuk apa?"
"Untuk apa? Aku rindu padamu, Wulan!"
Wulan tersenyum miring. "Jangan ganggu aku, Max!"
"Apa maksudmu?" Max tersentak mendengar kata-kata Wulan yang begitu ketus.
"Aku tidak ingin kau menggangguku lagi!"
Wajah Max kini berubah tegang. "Bukankah kau bilang kau butuh waktu untuk berpikir?"
"Aku sudah berpikir dan aku sudah memutuskan ... kau dan aku, sampai di sini saja," sergah Wulan.
Max membelalakan matanya. Ia benar-benar tak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya.
"Tidak mungkin ... kau tidak bisa memperlakukanku seperti ini, Wulan!" teriak Max.
Wulan mendongakkan wajahnya sejenak, menahan buliran air mata agar tak jatuh ke pipinya.
"Kau bilang kau mencintaiku, Wulan. Kau sangat mencintaiku!"
"Tidak!" Wulan menatap Max tajam. "Aku tidak mencintaimu!"
"Aku tidak mempercayaimu!" seru Max sembari meraih tubuh Wulan, mencekal dagunya dan mendaratkan ciumannya dengan setengah memaksa.
Plakkkkk.
Satu tamparan Wulan mendarat di pipi Max. Begitu keras. Begitu pedih. Sepedih hati pemuda itu menerima perlakuan Wulan yang tak ia sangka-sangka.
"Menjauh dariku!" bentak Wulan sembari menunjuk tepat di depan wajah Max.
Sebuah mobil Renault Koleos Luxury warna hitam menepi di sisi jalan. Kaca mobil di kursi penumpang bagian depan terbuka, terlihat Christophe melongok dari belakang kemudi memberi isyarat pada Wulan untuk masuk.
"Lihat mataku, Miss ... katakan kau tidak mencintaiku!" tantang Max geram.
Wulan menatap mata Max tajam. "Aku tidak mencintaimu, Max ... c'est fini (sudah berakhir)!" ucapnya dengan suara bergetar. Lalu membalikkan badan dan masuk ke dalam mobil Christophe.
Max berdiri mematung. Tubuhnya serasa membeku. Ucapan Wulan terdengar seperti petir yang menggelegar meremukkan hatinya.
Di dalam mobil, Wulan menyusut air mata dengan telapak tangannya. Memandangi bayangan Max dari kaca spion yang semakin lama semakin menjauh.
"Tout va bien (semua baik-baik saja)?" Suara Christophe membuatnya terkesiap. Ia tersenyum getir pada pria itu.
"Oui, tout va bien (Ya, semua baik-baik saja)," jawabnya dengan hati yang hancur berkeping-keping.
***
***
***
__ADS_1