
LYCÉE JEAN-BAPTISTE SAY, SURESNES.
"Don't forget to do your homework," ucap Wulan mengakhiri pelajarannya. Ia tersenyum memperhatikan para siswa yang dengan tertib mengantri keluar dari ruang kelas untuk beristirahat siang.
Begitu kelas kosong, ia merapikan buku-bukunya lalu bergegas keluar dari kelas. Ia berjalan menelusuri koridor yang ramai menuju pintu utama gedung kelas 11.
Matanya menangkap sosok Max yang tengah melintas di pelataran sekolah menuju cafetaria diikuti oleh Belle Fortin yang mengekorinya seraya mencoba meraih lengan pemuda itu. Namun Max menepisnya dengan segera. Membuat wajah gadis itu manyun dan terlihat sebal.
Wulan tersenyum geli melihatnya. Ia memperhatikan wajah dingin Max yang terlihat tidak nyaman dengan perlakuan Belle.
"Salut (halo) Wulan ... mau makan siang bersama?"
Wulan terkesiap mendengar suara seseorang dari balik punggungnya. Ia berbalik badan dan mendapati Jolene telah berdiri di hadapannya.
"Hi, Miss ... emm ... Jolene."
"Makan siang?" Jolene mengulang tawarannya.
"D'accord (oke)," sahut Wulan. Jolene tersenyum gembira lalu mempersilahkan Wulan untuk berjalan di sampingnya menuju cafetaria yang tampak riuh. Keduanya mengambil tempat duduk di antara meja-meja yang kebanyakan diisi oleh para Guru.
Wulan menyapu pandangan ke seluruh ruangan cafe mencari sosok Max berada. Pemuda itu duduk bersama Etienne dan dua orang temannya di sudut ruangan, serta Belle yang sepertinya enggan berjauhan dengannya.
Sesaat ketika pandangannya dan Max bertemu, ia menyunggingkan senyum tipisnya menyambut senyuman manis Max yang ditujukan padanya dengan sembunyi-sembunyi.
"Dua anak itu!" gerutu Jolene mengagetkannya. Rupanya wanita itu juga tengah memperhatikan meja di mana Max dan teman-temannya berada. "Awas saja kalau mereka berani berciuman di lingkungan sekolah lagi."
Wulan hanya terkekeh mendengar ucapan Jolene. Ia kembali memandang ke arah Max yang kini telah berpindah tempat duduk di samping Etienne, bertukar tempat dengan Chen. Sepertinya untuk menghindari Belle yang selalu ingin menempel padanya.
"Kau ada acara nanti malam?" tanya Jolene.
"Emmm ... je sais pas encore (aku belum tahu)."
Jolene merogoh saku mantelnya dan mengambil ponsel dari dalam sana. Ia mengutak-atiknya sebentar lalu menyodorkannya pada Wulan.
"Nomermu," pintanya. Wulan menuliskan nomer teleponnya ke atas layar.
"Merci ...." Jolene tersenyum senang. "Aku akan menelponmu nanti. Mungkin kita bisa minum bersama. Aku tahu tempat minum yang cukup bagus."
Wulan berpikir sejenak. Ia ragu-ragu menjawab tawaran Jolene.
"Baiklah, aku akan menelponmu saja nanti untuk mengkonfirmasi."
Wulan pun mengangguk.
Ia masih merasa sedikit aneh dengan sikap Jolene terhadapnya. Dari bahasa tubuhnya ia merasa Jolene sedang mendekatinya dengan tujuan yang absurd. Namun tak selayaknya sebagai teman biasa.
Entahlah, mungkin Wulan terlalu banyak memikirkan hal-hal aneh.
.
.
Wulan yang tengah menunggu kereta di peron tersentak ketika dia merasa telapak tangannya tiba-tiba digenggam seseorang. Ia menoleh ke sampingnya dan mendapati sosok jangkung bermata biru tersenyum jahil padanya.
"Hi, Bébé (halo, sayang)."
Wulan mendorong pelan pundak Max. "Selalu saja muncul tiba-tiba," gerutunya.
Max terkekeh. Lalu masuk ke dalam kereta yang baru saja berhenti di hadapan mereka.
"Aku mampir ke apartemenmu, ya," ujar Max begitu keduanya telah duduk bersebelahan di dalam kereta.
"Mau apa memangnya?" goda Wulan.
__ADS_1
"Apa saja, terserah kau." Max menaik-naikkan alisnya. Ia menarik sudut bibirnya, tersenyum miring.
Wulan mencebik. "Nakal!" hardiknya.
"Mau mendekapmu," bisiknya di telinga Wulan. "Mau menjelajahi ... tu ... aauchh!" Max mengaduh ketika satu cubitan keras Wulan mendarat di pinggangnya. Beruntung hanya ada dua orang penumpang di sana yang tengah sibuk dengan ponsel masing-masing, hingga tak memperhatikan keributan kecil yang mereka buat.
"Boleh, ya?" pinta Max memperlihatkan mata beningnya sembari mengerjap-ngerjapkannya.
"Terserah saja."
"Hurray!" seru Max gembira.
Wulan memutar bola matanya. Max terkadang bisa bersikap begitu dewasa, bahkan lebih dewasa darinya. Namun di sisi lain, ia tampak seperti anak-anak yang suka merengek dan ingin selalu diperhatikan.
"Kenapa kau sekarang akrab dengan Miss Dupont?" tanya Max.
Wulan menggeleng. "Dia yang mendekatiku."
"Sepertinya dia menyukaimu."
"Hah?"
"Dia les bian ...."
Wulan membulatkan matanya. "T'es sérieux (kau serius)?"
Max terbahak. "Aku bercanda."
"Kau ini!" Wulan meraih segenggam rambut Max dan menariknya keras. Membuat pemuda itu kembali mengaduh.
"Tapi kalau ternyata benar bagaimana?"
Wulan mendecak. "Memangnya apa yang salah menjadi seorang les bian?"
"Kau jangan berpikiran aneh-aneh, Max," tepis Wulan. Walaupun dalam hatinya ia memikirkan hal yang sama.
"Ya ampun, Wulan, Mon Bébé (sayangku), hanya seandainya saja," ucap Max gemas. Lalu beranjak dari duduknya ketika mendengar pengumuman pemberhentian di stasiun yang dekat dengan apartemen Wulan.
Ketika kereta telah berhenti dengan sempurna, Wulan mengikuti langkah Max keluar melalui pintu otomatis dan keduanya berjalan dengan santai menuju pintu keluar stasiun bawah tanah.
"Belle Fortin lengket sekali denganmu, ya," goda Wulan. Keduanya berjalan menelusuri sidewalk menuju apartemen Wulan yang berjarak hanya beberapa kilometer saja.
"Gadis menyebalkan." Max mengumpat untuk Belle, sembari merangkul pundak Wulan. "Kau tenang saja, aku tidak berminat sama sekali."
Bibir Wulan mencebik. "Aku lebih cemburu dengan Eloise."
"Kenapa Eloise?" tanya Max heran.
"Dia ... cantik, pintar, pelukis ...."
Max terbahak. "Aku tidak berminat."
"Kenapa?"
Max mengelus kepalanya. Mencoba berpikir sejenak untuk mencari jawaban yang tepat.
"Kalau aku tanya kenapa kau tidak berminat dengan Si Jelek Christophe, apa jawabanmu?"
"Hmmm ...."
"Begitulah ...." Max terkekeh. Ia menghentikan langkahnya di depan pintu bercat hijau di hadapannya, lalu mendorongnya dan melangkah masuk. Ia menyuruh Wulan untuk menaiki tangga terlebih dahulu. Kemudian mengikutinya dari belakang.
Wulan membuka pintu apartemennya, masuk ke dalam dan membuka jaket serta tas selempangnya dan melemparnya ke atas sofa.
__ADS_1
Ia terkejut ketika sepasang lengan menelusup dari pinggangnya dan memeluk punggungnya dengan erat. Bulu-bulu halus di kulitnya meremang ketika ia merasakan lehernya dihujani kecupan-kecupan lembut, yang semakin lama semakin turun ke pundaknya. Lengan kokoh yang tadinya berada di perutnya kini mulai merayap naik ke dadanya.
Max membalikkan badan Wulan dan mendesaknya ke dinding. Memagut bibirnya sembari tangannya bergerak menurunkan pakaian Wulan dari pundaknya.
"Tutup pintunya, Bodoh," engah Wulan ketika menyadari pintu apartemennya masih dalam keadaan terbuka.
Dengan gerakan kakinya, Max mendorong bagian bawah pintu hingga tertutup rapat. Lalu ia membawa Wulan ke sofa dan membaringkannya di sana.
"Bébé, did you take your pills already (sayang, kau sudah minum pilmu)?" tanya Max disela-sela lenguhan mereka.
"Oui (ya) ...." Wulan mengangkat dagunya ketika kecupan Max turun ke dadanya, memainkan lidahnya di atas bongkahan indah miliknya.
Ponsel di dalam tasnya yang tertindih oleh tubuhnya, berdering.
"Oh, putain (sialan)," maki Wulan terkejut. "Attende (tunggu), Max," ucapnya terengah sembari mendorong kepala Max menjauhi dadanya.
"Biarkan saja, Wulan," protes Max sembari membenamkan kepalanya di perut Wulan.
"Max, attende (tunggu)!" serunya sembari tertawa menahan geli. Ia mengangkat tubuhnya sedikit dan meraih tasnya. Segera diambilnya ponsel di dalamnya dan memeriksa layar.
Nomor tak dikenal.
"Pasti Jolene ... f uck ...." Wulan mengumpat sembari satu tangannya mencengkeram rambut Max untuk membuat pemuda itu menjauhkan bibirnya yang kini telah berada di bagian tubuh paling sensitif miliknya.
"Oui, salut (ya, hallo)," sapanya pada seseorang di seberang. Napasnya terengah menahan rasa nikmat yang bersumber dari bawah sana.
"Halo, Wulan ... ini Jolene, aku menelpon untuk mengkonfirmasi apa kita bisa minum malam ini?" Suara Jolene di seberang.
"Hmmm ... oui, Jolene, je sais pas ... ahh, doucement (aku tidak tahu ... ahh, pelan-pelan)!" pekiknya. Ia kembali mencengkeram rambut Max dengan kuat.
"Wulan? Kau baik-baik saja?"
"Oh, Oui ... oui ... oui ....(oh, ya ... ya ... ya)." Wulan membelalakkan matanya ketika gerakan lidah Max yang kini mulai lincah di bawah sana benar-benar membuatnya terbang. Ia memaki anak itu dalam hati yang sengaja mengerjainya.
"Wulan, kau sedang bersama seseorang?" Jolene bertanya dengan curiga.
"Maaf, Jolene, aku akan menelponmu nanti." Wulan buru-buru menutup telponnya dan melemparnya sembarang.
Suara kekehan Max di bawah sana membuatnya menarik pinggangnya dari cengkeraman pemuda itu lalu memukul ujung kepalanya dengan kesal.
"Kau ini!" gerutunya kesal.
"Dia menganggu sekali," ujar Max seraya duduk di samping Wulan.
"Kita lanjutkan?" godanya sembari mendorong tubuh Wulan hingga punggungnya menempel di atas sofa. Ibu Gurunya itu tak kuasa menolak apa pun yang hendak ia lakukan padanya.
.
.
Jolene memandangi layar ponselnya dengan wajah tegang. Ia yakin Wulan sedang bersama seseorang. Lebih tepatnya, sedang bersama seseorang di tempat tidur.
Ia menghela napasnya dalam-dalam. Mencoba menepis dugaan-dugaan buruk yang hinggap di kepalanya.
"Apa dia sudah punya kekasih?"
"Siapa dia?"
***
***
***
__ADS_1