High School Bad Boy

High School Bad Boy
Part 81. Obstacle Continues.


__ADS_3

LYCÉE JEAN-BAPTISTE SAY, SURESNES.


Wulan merapikan buku-buku dan memasukkannya pada tas selempangnya, sembari menunggu murid-murid di dalam kelas keluar satu persatu.


"Miss ...."


Wulan mengangkat kepalanya ketika mendengar seseorang memanggilnya.


"Aku minta maaf, aku sudah bersikap tidak sopan padamu."


Janvier, pemuda yang beberapa waktu lalu membuatnya kesal dengan ucapan tak senonohnya, berdiri di seberang mejanya dengan kepala tertunduk.


"Sudah lupakan saja, Janvier. Yang penting jangan kau ulangi lagi, ya?" Wulan menyunggingkan senyumnya.


Janvier mengangguk. Lalu berpamitan pada Wulan dan berlalu.


Wulan menghela napasnya pelan. Setelah dilihatnya kelas kosong, ia pun segera berjalan keluar. Menelusuri koridor menuju ke luar gedung. Tak ada lagi tatapan-tatapan aneh dari para penghuni sekolah. Max telah membereskan semuanya. Memastikan Wulan bisa masuk ke sekolah dengan tenang.


Ia masuk ke ruangannya. Ada Adrienne di sana. Paul dan Monique, rekan kerjanya yang lain, tak tampak batang hidung mereka. Mungkin sedang ada kelas.


"Benar itu hanya gosip?" tanya Adrienne. "Kau dan Maximilian Guillaume."


Wulan menghela napasnya. Tak langsung menjawab pertanyaan Adrienne.


"Kau bisa bercerita padaku, Wulan. Kau bisa mempercayaiku," ujar Adrienne sembari menepuk-nepuk punggung tangan Wulan.


Bibir Wulan hanya mencebik. Membuat Adrienne tersenyum lebar.


"Sebenarnya kecurigaanku sangat besar kau punya hubungan dengan Max. Tapi aku tidak ingin ikut campur. Itu hakmu. Kau juga yang menanggung resikonya."


Wulan terkekeh sembari memijit tengkuknya. "L'amour est bizarre (cinta memang aneh)," gumamnya.


"Nikmati saja, Wulan," gelak Adrienne. "Tapi, tetaplah berhati-hati. Apalagi Jolene mengincarmu."


Wulan mengangguk.


"Ngomong-ngomong, bagaimana rasanya berpacaran dengan anak umur 17 tahun?" gurau Adrienne membuat Wulan terbahak.


"Max tidak seperti anak umur 17 tahun pada umumnya. Dia bahkan bisa berpikiran lebih dewasa dariku."


"Kalau di ranjang, bagaimana?"


Mata Wulan membulat. Terkejut mendapat pertanyaan semacam itu dari Adrienne. Namun sejurus kemudian ia tersenyum. "The best se x I've ever had (se x terbaik yang pernah aku punya)," ucapnya.


Keduanya tertawa secara bersamaan. Namun mereka segera menghentikannya ketika Paul dan Monique masuk ke dalam ruangan.


***

__ADS_1


SURESNES, PARIS.


Keluar dari toko daging tempatnya bekerja, Ludovic memicingkan matanya memandang ke arah mobil Peugeot warna putih keluaran terbaru, terparkir di sisi jalan.


Bukan mobil mewah itu yang membuatnya terheran-heran. Namun sosok wanita berambut pirang di dalamnya yang kini sedang berjalan ke arahnya yang menarik perhatiannya.


"Salut, Monsieur Guillaume," sapa wanita itu. Jolene.


"Owh, Miss Dupont ...."


"Aku ingin bicara denganmu," ujar Jolene. "Bisa ikut denganku?"


"Oui, oui, bien sûre (ya, ya, tentu saja) ...."


Jolene mempersilahkan pria paruh baya itu masuk ke dalam mobilnya. Tak lama kemudian mobil pun melaju dengan kecepatan sedang membaur dengan mobil-mobil lain di jalanan.


Ia membawa Ludovic ke sebuah cafe di daerah Champs-Elysee. Area elite di Paris dengan apartemen-apartemen, restauran dan cafe mewah serta mahal. Cafe Le Jardin Du Petit Palais. Begitu yang terpampang di papan namanya.


"Ada masalah apa, Miss Dupont?" tanya Ludovic sembari mengaduk café créme yang dipesan Jolene untuknya.


"Aku ingin menindaklanjuti laporanmu tentang Miss Wulan Laksana yang mengencani anakmu ...."


"Ah, ya ... bagaimana?"


Jolene terdiam sesaat. Ia menatap Ludovic dengan tatapan mata tajam. "Aku akan melaporkan Miss Wulan Laksana pada polisi."


"Iya, Monsieur Guillaume ... ini kasus sexual harassment (kekerasan seksual) terhadap anak di bawah umur."


"Bagaimana bisa disebut sexual harassment jika dua-duanya tidak merasa keberatan?" Kata-kata Max beberapa waktu lalu terngiang dalam benaknya. Bahwa anak lelakinya itu benar-benar mencintai Ibu Gurunya.


Jolene tersenyum miring. Ia menyesap green teanya dengan gerakan yang begitu elegan.


"Wulan itu manipulatif," ucap Jolene. "Wanita itu seorang predator. Dia memburu anak-anak muda untuk dijadikan budak nafsunya. Max hanya salah satu korban."


Dada Ludovic berdegup kencang mendengar penuturan Jolene. Wajah manis Wulan terlintas dalam benaknya. Mungkinkah wanita lembut seperti dia adalah seorang predator?


Bukankah penampilan luar sering kali menipu?


"Percayalah padaku, Monsieur Guillaume ... aku mengatakan yang sebenarnya. Anakmu dalam bahaya. Kita harus segera melaporkan Wulan pada polisi."


Ludovic menghela napasnya. Ia mengalihkan pandangannya sejenak ke jalanan. Kemudian dengan berat hati ia pun mengangguk.


***


"Liburan musim dingin tinggal dua minggu lagi ...."


Wulan meletakkan kepalanya di dada Max yang tengah menyandarkan punggung ke headboard ranjang. Ia menyambutnya dengan membelai lembut rambut panjang Wulan.

__ADS_1


"Aku akan berjemur di bawah sinar matahari sepuasnya, agar kulitku tak terlihat terlalu pucat seperti ini," kekeh Max sembari mengangkat lengannya.


Wulan meringis. "Kau akan merasakan sinar matahari di sana sampai kau merasa muak dengannya," ujarnya. "Tapi, bulan februari masih musim hujan. Jadi tidak akan terlalu panas."


"Aku tidak sabar ingin pergi liburan denganmu," ujar Max sembari menciumi puncak kepala Wulan.


"Waktunya akan segera tiba ...."


Max memeluk Wulan dengan erat. Ia kembali menciumi puncak kepala Wulan berulang-ulang dengan gemas.


"Max ...."


"Oui ...."


"Menurutmu apa Jolene masih akan mengganggu kita?"


"Mungkin saja."


Wulan menghela napasnya dengan berat. "Apa lagi rencana wanita itu, ya?" gumamnya.


"Hei, apa pun yang akan dilakukan Jolene, jangan pernah takut. Kita hadapi dengan ... The power of love ...." Max berucap sembari membentangkan kedua lengannya. Layaknya pujangga yang tengah membaca puisinya.


"Bahkan aturan-aturan konyol yang dibuat oleh manusia tidak bisa mengalahkan cinta. Benar, kan, Wulan?"


"T'as raison, Mon Bébé (kau benar, sayangku)," sahut Wulan sembari mencubit pipi Max gemas.


Terdengar sayup-sayup suara ketukan di pintu depan. Max dan Wulan saling berandangan.


"C'est qui (siapa, ya)?" tanya Wulan.


"Kita cari tahu saja," ujar Max sembari beranjak dari atas ranjang.


Wulan mengikuti Max keluar kamar dan melangkah menuju pintu depan.


"Ada dua polisi," kata Max sembari mengintip melalui lubang kecil door viewer.


"Polisi?" tanya Wulan keheranan. "Buka saja, Max, mungkin mereka sedang mencari informasi sesuatu."


Max segera membuka pintu dan mendapati dua orang pria dengan seragam kepolisian Paris berwarna biru tua dengan emblem terajut di bawah saku baju mereka, bertuliskan kata Police Nationale. Keduanya tersenyum ramah padanya, dan juga pada Wulan yang berdiri di belakangnya.


"Kami dari Police Nationale De Paris. Bisa bertemu dengan Miss Wulandari Laksana?


***


***


***

__ADS_1


__ADS_2