
STALINGRAD, SURESNES.
"Salut (hallo), Papa," sapa Max begitu masuk ke dalam apartemennya dan mendapati Ludovic yang tengah duduk di atas sofa sembari menonton televisi dan menikmati sebotol bir.
"Ah, Max ... kau sudah pulang," ujar Sang Ayah. Ia memberi isyarat pada anak lelakinya itu untuk duduk di sampingnya. "Kau menginap di mana dua malam ini?" tanyanya begitu Max telah duduk di sampingnya.
Max meringis sembari mengelus kepalanya. "Di rumah seorang teman."
Ludovic mengambil satu botol bir yang masih utuh di atas meja, membukanya, lalu menyodorkannya pada Max.
"Merci."
"Bagaimana sekolahmu, Max?" tanya Ludovic.
Max mengedikkan bahunya. "Rien de spécial (biasa saja)," jawabnya. "Aku tidak sabar menunggu bulan Juli tahun depan untuk lulus."
"Ada rencana melanjutkan ke Universitas?" tanya Ayahnya kembali.
"Mungkin ...."
Ludovic mengangguk-angguk. Lalu meneguk botol birnya.
"Kau sudah punya pacar, Max?" tanya Ludovic.
Max meringis dan mengelus rambutnya dengan canggung. "Ya, aku punya pacar," kekehnya. "Kau sendiri?"
Ludovic ikut terkekeh. Ia mencebikkan bibirnya dan menggeleng. "Kau ingin aku memberimu Ibu tiri?" guraunya.
Max tergelak mendengar gurauan Ayahnya. Lalu meneguk birnya.
"Banyak hal yang telah kulewatkan tentang kau, ya, Max?" ujar Sang Ayah. Ia memindah-mindah saluran televisi dengan asal.
"C'est pas grave (tidak apa-apa)."
"Non, aku merasa malu."
"Pour moi, ça va (buatku, aku baik-baik saja), Papa."
"Belum terlambat, bukan, untuk menjadi sosok Ayah yang baik?" tanya Ludovic, lebih tepatnya seperti gumaman.
"Kau cukup mengerti posisimu saja, Papa. Aku sudah dewasa, kau tidak perlu mengkhawatirkan apa pun yang kulakukan," ujar Max. "Untuk saat ini, kau fokus saja memperbaiki hidupmu."
Ludovic tergelak. "Lihatlah, siapa yang Ayah dan siapa yang Anak. Kau tumbuh menjadi anak yang bijak," ujarnya. "Dari mana kau belajar semua itu?"
"Yang jelas aku tidak mendapat pelajaran itu di kurikulum sekolah," gurau Max. Ia meneguk botol birnya kembali. "Pengalaman mengajarkan segalanya, Papa. Umur semakin tua itu tidak bisa dihindari, tapi dewasa adalah kesadaran diri."
"Wow!" Bibir Ludovic menggumam kagum.
"Tapi, aku tidak selalu seperti ini. Terkadang aku juga sulit mengontrol emosi. Manusiawi."
__ADS_1
"Hmmm ... kemana saja aku selama ini?" Ludovic memijat-mijat keningnya.
Max menghela napas pelan. "Jangan menyesali apa pun, Papa ... kau tahu apa itu bahagia kalau kau telah merasakan rasa sakit. Ying dan Yang."
Ludovic mengangkat botol birnya. "Mari bersulang."
Max mengikuti gerakan Sang Ayah mengangkat botol birnya. Keduanya saling mendentingkan botol pada satu sama lain.
"Untuk lembaran baru," ucap Sang Ayah.
"Chante (cheers)."
***
Sepulang dari mengajar, Wulan mendapat telpon dari Pierre. Mantan suaminya itu mengajaknya bertemu. Ia berpikir mungkin ada hubungannya dengan Ibunya. Mungkin Sang Ibu juga menghubungi Pierre. Dahulu, sewaktu Wulan dan Pierre berkunjung ke Indonesia setiap tahunnya, mereka cukup akrab.
Dan di sinilah, di sebuah cafe di seberang apartemennya, ia duduk berhadapan dengan Pierre, sang mantan suami. Pria itu terlihat lebih segar. Jambang tipis yang biasanya menghiasi wajahnya kini tak terlihat lagi.
Namun Wulan merasa dirinya sudah lebih tenang menghadapi Pierre.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Pierre membuka pembicaraan.
"Aku baik," jawab Wulan sembari mengaduk caramel macchiatonya. "Kau mau bicara apa?" tanyanya kemudian.
"Ta maman m'a appelé (ibumu menelponku)," jawab Pierre. Lalu menyesap kopinya.
Pierre menghela napasnya pelan. "Beberapa waktu ini aku berpikir, Wulan." Ia memberi jeda pada perkataannya. "Aku telah memperlakukanmu dengan buruk selama pernikahan kita."
"Aku sudah memulai hidup baru, aku tidak ingin membicarakan hal itu lagi, Pierre," sergah Wulan. "Tadi kau bilang Ibuku menelponmu, lalu?"
"Dengarkan dulu," pinta Pierre. "Aku akan menikah dengan Amélie beberapa bulan lagi. Aku akan memulai hidup baru dengannya. Hidup yang lebih tertata." Pierre menghela napasnya. "Tapi sebelumnya aku ingin memperbaiki kesalahan di masa lalu. Kesalahanku padamu, Wulan."
"Langsung saja pada intinya, kau mau apa?" tanya Wulan ketus. Ia tidak suka dengan kata-kata Pierre. Bukan karena cemburu mantan suaminya itu akan menikah. Ia hanya merasa tidak nyaman luka lamanya diungkit kembali.
"Dulu aku memintamu secara baik-baik dari Ibumu, aku ingin mengembalikanmu pada Ibumu juga dengan cara baik-baik."
Wulan mendesis. Ia memalingkan wajahnya ke jalan raya yang lengang.
"Kapan kau akan pulang ke Indonesia? Aku ikut denganmu. Biar aku yang bicara dengan Ibumu."
"Entahlah," jawab Wulan malas. Namun tak dapat dipungkiri, dalam hatinya ia merasa lega.
"Kuharap hidupmu sudah lebih baik sekarang, Wulan."
Wulan tersenyum tipis. "Ngomong-ngomong, selamat, Pierre. Kau sudah menemukan wanita yang tepat untukmu," ucapnya tulus.
Pierre menepuk-nepuk punggung tangan Wulan seraya tersenyum.
"Anak muda waktu itu, dia pacarmu?" tanya Pierre.
__ADS_1
Wulan tak menjawab. Ia berpura-pura meneguk gelas kopinya.
"Baiklah, apa pun itu, aku mengharapkan yang terbaik untukmu, Wulan."
"Kau sudah selesai?" tanya Wulan mengalihkan pembicaraan. Lalu beranjak dari duduknya dan merogoh ke dalam tas untuk mencari dompetnya.
"Yeah. Emm ... biar aku saja," sergah Pierre sembari meloloskan selembar uang lima puluh euro dari dompetnya. Kemudian meletakkannya di atas meja.
"Merci," ucap Wulan sembari mencangklong tasnya dan bersiap meninggalkan cafe itu.
Ia melangkah menyeberang jalan diikuti oleh Pierre yang hendak menuju mobilnya yang terparkir di depan gedung apartemen Wulan.
"Wulan!" panggilnya begitu mereka sampai di seberang jalan.
Wulan yang hendak membuka pintu utama gedung apartemen mengurungkan niatnya. Ia pun berbalik menghadap Pierre yang berdiri di samping mobilnya.
"Kalau kau butuh sesuatu ...."
"Aku baik-baik saja. Terimakasih," potong Wulan dengan cepat. Ia tidak suka dikasihani. Apalagi oleh mantan suaminya sendiri.
"Wulan ...." Pierre melangkah mendekat pada Wulan yang hanya berjarak dua meter saja darinya. "Boleh aku memelukmu?"
Wulan menghela napasnya dengan berat.
"Aku ingin di antara kita tidak ada dendam atau rasa marah yang tersisa. Agar kita bisa melanjutkan kehidupan masing-masing dengan tenang."
Wulan menatap sepasang mata abu-abu di hadapannya, yang dulu pernah ia puja itu. Lalu perlahan ia mendekat pada Pierre yang telah membentangkan kedua tangan, menyambutnya di pelukan.
Ia memejamkan matanya. Wangi parfum Pierre masih sama. Otaknya mulai sedikit menampilkan ingatan-ingatan masa lalu bersama pria itu.
Pierre melepaskan pelukannya. Lalu menangkup wajah Wulan dan mencium keningnya dengan lembut.
"Ingat, Wulan. Kabari aku kapan kau akan pulang ke Indonesia," ujar Pierre sembari membuka pintu mobilnya.
Wulan hanya mengangguk.
Pierre melambai kecil padanya sebelum akhirnya mengemudikan mobilnya menjauh dari hadapan Wulan.
Untuk sesaat, Wulan berdiri mematung memandangi mobil Pierre hingga menghilang di tikungan jalan. Lalu ia membalikkan badan dan melangkah menuju pintu utama.
Ia terkejut ketika matanya menangkap sosok jangkung yang tengah berdiri tak jauh darinya dengan wajah memerah dan sepasang mata yang menatapnya dengan tajam.
"Max!"
***
***
***
__ADS_1