
LYCÉE JEAN-BAPTISTE SAY, SURESNES.
Max mencari-cari sosok Etienne yang beberapa menit lalu mendahuluinya keluar dari kelas. Ia yang biasanya menunggunya di depan loker untuk pergi bersama makan siang di cafetaria, kini tak terlihat batang hidungnya. Ia hanya melihat Chen dan Frederick yang tengah mengobrol di sana.
"Chen ... kau liat Etienne?" tanya Max sembari membuka loker dan memasukkan tas gendongnya.
"Ah, Max ... Etienne pergi dengan André. Tadi si Breng sek itu mencarinya," jawab Chen.
Max mengerenyitkan keningnya. "Aubert? André?" Max menyebutkan nama siswa yang beberapa waktu lalu berkelahi dengannya.
Chen mengangguk. "Iya,"
"Ayo cari dia, Max ... pasti ada sesuatu," timpal Frederick.
Max mendecak. "Kenapa kalian tidak ikut dengannya?"
Chen dan Frederick saling pandang sembari meringis.
"Kau pikir kami berani menghadapi seorang André Aubert?" kekeh Chen.
Max mendesis. "Suivez-moi (ikut aku)!" ujarnya sembari memberi isyarat pada Chen dan Frederick dengan gerakan dagunya, agar mereka mengikutinya.
Max merogoh ponsel di saku jaketnya dan mengutak-atiknya sejenak. Ia mencoba menelpon Etienne beberapa kali, namun tak ada jawaban.
"Max!" panggil Frederick ketika ketiganya sampai di dekat gedung kelas 10. "Di sana ..." Ia menunjuk ke arah gang kecil di antara gedung kelas 10 dan perpustakaan. Tampak ada dua orang siswa mencurigakan yang berjaga-jaga di luar gang.
Max, diikuti oleh Chen dan Frederick segera menghampiri mereka. Dan benar saja, André, yang bertubuh besar itu, tengah mengintimidasi Etienne yang terlihat pucat pasi. Dua orang siswa yang berjaga tadi sempat menghalangi ketiganya masuk gang. Namun Max dengan kasar mendorong tubuh mereka hingga tersungkur.
"Hei, Aubert!" seru Max pada André yang terkejut melihat kedatangannya. Namun sejurus kemudian, senyum miring André tersungging.
"Jangan ikut campur, Guillaume!" hardik André memperingatkan. Sementara wajah Etienne tampak lega.
"Menjauh darinya atau kuhajar kau," ujar Max dengan tenang. Namun sorot matanya tajam menatap André yang seketika terbahak. Lalu mendorong Etienne hingga punggungnya membentur dinding gang.
André mendekat pada Max lalu mendorong dadanya kasar. " Mau cari gara-gara denganku, ya?"
"Kalau iya kenapa?" tantang Max dengan sinisnya.
"Wah, si Breng sek ini menantangku," kekehnya pada dua orang temannya yang berdiri di luar gang bersama Chen dan Frederick dengan ekspresi tegang di wajah masing-masing.
Buggh.
Tanpa aba-aba, bogem mentah André mendarat di perut Max hingga membuatnya tersungkur. Amarahnya memuncak seketika.
__ADS_1
"Connard (breng sek)!" umpat Max sembari menerjang André sekuat tenaga hingga anak bertubuh tinggi besar itu terjungkal hingga ke luar gang.
"Max, arrete (berhenti)!" teriak Etienne. Namun Max tak mengindahkannya. Ia menyusul André yang tengah terkapar.
Dua teman André bersiap untuk menyerang Max namun ditahan oleh Chen dan Frederick. Sementara Etienne menyaksikan semua itu dengan wajah cemas. Ia menangkup kepalanya dengan kedua tangan. Kebingungan.
Di luar gang, keributan antara Max dan André, yang merupakan musuh bebuyutan itu berlanjut. Max menarik kerah baju André dan mendesaknya ke dinding. Memukuli dada dan perut pemuda itu bertubi-tubi tanpa memberi kesempatan padanya untuk membalas. Bahkan satu orang teman André yang hendak membantunya pun terkena bogem mentah Max tepat di wajahnya. Membuatnya meraung kesakitan.
"Aaarggh ... aku berdarah!" jeritnya sembari memegangi hidungnya.
Beberapa siswa yang tengah melintas mulai mengerubungi. Hingga menarik perhatian para siswa lain yang berada di sekitar tempat itu. Menyoraki Max dan André layaknya sedang menonton dua Gladiator yang tengah bertanding di arena pertempuran.
Satu pukulan André mendarat di wajah Max dengan keras. Membuatnya kembali terpancing untuk kembali menghajar pemuda itu habis-habisan. Ia mengindahkan seruan Etienne yang memintanya untuk berhenti. Pemuda berkulit hitam itu menarik-narik jaket Max untuk memisahkannya dari André.
"Minggir kau, aku akan bicara denganmu nanti!" seru Max pada Etienne. Satu tangannya mendorong Etienne menjauh dan tangan satunya lagi menjambak rambut André dan membenturkan kepalanya di dinding.
Sudah lama ia ingin menghajar si pemilik muka sengak itu hingga babak belur.
Perkelahian yang hampir tidak seimbang itu baru berhenti ketika satu tangan menarik hoodie Max, memisahkannya dari André yang urung membalas serangan Max ketika sesosok cantik berambut pirang menahan dadanya.
Max meludah kasar sembari mengelap darah yang mengalir dari sudut bibirnya dengan punggung tangan.
"Kalian berdua ikut ke ruanganku!" seru Jolene. Wanita itu menatap tajam ke arah Max dan André secara bergantian. "Kalian semua bubar!" perintahnya pada para siswa yang masih berkerumun.
Dengan langkah gemulai dan elegan Jolene berjalan menuju gedung kelas 12 yang menyatu dengan ruang-ruang Guru, diikuti oleh André, dan juga Max yang terlihat berjalan dengan langkah malas.
Max menyunggingkan senyum manis nan tengilnya seraya mengerlingkan matanya pada Wulan. Lalu dengan jahilnya ia menggerakkan bibir sekilas membuat satu ciuman jarak jauh.
Max terkekeh tanpa suara melihat reaksi Wulan yang kesal bercampur cemas. Lalu melangkah masuk ke dalam ruangan Jolene.
.
.
Brakkk.
Jolene menggebrak mejanya dengan wajah tegang.
"Siapa yang memulai keributan?" Ia berseru, memandang tajam pada Max dan André secara bergantian. "Kau? Atau kau?" tunjuknya tepat di depan muka kedua pemuda itu.
"Si Breng sek ini!" tuding André.
Max hanya tersenyum sinis. Tanpa bermaksud untuk membela diri.
__ADS_1
Jolene mengalihkan pandangannya pada Max. "Benar begitu, Guillaume?" tanyanya kemudian.
Max hanya mengedikkan bahunya. "Mungkin," ucapnya. Memasang wajah datar tanpa rasa bersalah.
Jolene memandang sepasang mata biru Max seakan-akan ingin menyelami isi kepala anak itu. "Kau mau jadi jagoan, ya?" tanyanya sembari mengelus bagian pipi Max yang memar dan menepuknya sedikit keras. Namun Max tak bergeming.
"Kalian berdua diskors selama satu minggu, dan orang tua kalian harus datang menemuiku," ujar Jolene membuat André memutar kedua bola matanya sebal. "Dan kau, Guillaume ...." Ia menatap tajam pada Max. "Kalau kau membuat keributan lagi, aku tidak segan-segan untuk memanggil orang dari Departemen Sosial untuk mempekerjakanmu secara suka rela membersihkan toilet di penjara selama satu bulan penuh!" Jolene memberi peringatan.
Max menghembuskan napasnya kasar, lalu menggeleng. Sementara Jolene tersenyum puas demi mendapati sedikit rasa cemas tersirat di wajah tampan nan bengal anak itu.
"Aku akan mengawasimu ... Max," bisiknya
***
"Max!"
Etienne mengejar langkah Max yang baru saja keluar dari ruangan Guru Pembimbing. Ia hanya menoleh pada sahabatnya sekilas tanpa menyahut.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Etienne cemas.
"Apa masalahmu dengan si Bodoh itu?" Max balik bertanya. Etienne meringis sembari menggaruk kepalanya.
"Aku mendekati Elodie, pacarnya," kekeh Etienne dengan wajah tersipu.
"Baji ngan!" maki Max seraya memukul puncak kepala Etienne kesal.
"Hei, tadi aku ingin menjelaskannya, tapi kau sudah terlanjur menghajar Aubert!" sergah Etienne membela diri.
Max kembali memukul puncak kepala Etienne. Membuat sahabatnya itu mengaduh kesakitan.
"Dasar Breng sek kau, berurusan dengan si Bodoh itu hanya masalah wanita!" maki Max. "Hmmm ... mais c'est pas grave (tapi tidak apa-apa) ... lagi pula aku memang ingin menghajarnya."
Etienne menghembuskan napasnya kasar. Max tergelak sembari merangkul pundak sahabatnya itu dan memiting kepalanya.
Gelak tawa Max berhenti ketika berpapasan dengan Wulan yang baru saja keluar dari ruangannya.
"Hallo, Miss Wulan ...." Max melempar senyum jahilnya pada Wulan. Namun sepertinya Ibu Gurunya itu sedang dalam mood yang sangat buruk.
"Aku akan berbicara denganmu seusai sekolah," ujar Wulan sembari memicingkan matanya.
"Dengan senang hati," sahut Max sembari membungkuk dan mengayun satu tangannya pelan dari arah kiri ke kanan, bak pria bangsawan yang tengah memberi hormat pada seorang Lady.
***
__ADS_1
***
***