
LYCÉE JEAN-BAPTISTE SAY, SURESNES.
Dari kejauhan Max berusaha memperhatikan sosok wanita paruh baya yang tengah berjalan menuju ke ruang Kepala Sekolah.
Maman (mama)?
Max berjalan mendekat. Wanita paruh baya itu telah menghilang di balik pintu. Ia merapatkan punggungnya ke dinding, menengok ke kanan dan ke kiri memastikan tidak ada siswa yang memperhatikannya. Lalu ia menggeser badannya dan kini telinganya telah menempel di pintu. Ia berusaha mendengarkan percakapan di dalam sana.
"Mr. Arsenault sudah menandatangani surat perjanjian untuk mengakhiri skandal dengan Nadia waktu itu. Itu kesempatan kedua yang kami berikan padanya. Tidak mungkin Mr. Arsenault ceroboh dan mengulang kesalahan yang sama. Bahkan sampai menghamili Nadia."
"Sebelum mengambil nyawanya sendiri, Nadia memberitahu siapa yang menghamilinya. Gurunya sendiri, Damien Arsenault."
"Kenapa baru sekarang Anda melaporkan kemari?"
"Saya sangat berduka dengan kematian anak saya satu-satunya. Saya butuh waktu untuk mengumpulkan kekuatan agar bisa melanjutkan hidup saya."
"Madame Kareem, saya akan berbicara dengan Mr. Arsenault mengenai laporan Anda ini."
"Saya tidak akan berhenti sampai di sini, Madame La Principale, saya akan meneruskan laporan saya pada Polisi. Saya akan tuntut Mr. Arsenault atas tuduhan melakukan sexual harassment (kekerasan seksual) terhadap anak di bawah umur."
Max tersenyum miring mendengar sayup-sayup percakapan dua wanita itu. Karma untuk Damien Arsenault datang lebih cepat dari yang ia kira. Ia membenarkan kata-kata Wulan beberapa waktu lalu. Bahwa tidak semua masalah harus diselesaikan dengan kekerasan.
Biar alam semesta yang bekerja.
Seperti perjuangannya mendapatkan hati Wulan. Ia akan berusaha semampunya. Selanjutnya, serahkan pada alam semesta. Semoga karma baik datang segera.
.
.
"Miss ...."
Panggilan dari suara yang begitu akrab di telinganya itu memaksa Wulan yang hendak masuk ke dalam ruang Guru mengurungkan niatnya dan segera berbalik badan. Mendapati wajah tengil yang tengah menyunggingkan senyum termanisnya.
"Apa, Max?" tanya Wulan. Tatapannya ia hindarkan dari sepasang mata biru yang bisa membuatnya lupa diri itu.
__ADS_1
"Bisa datang ke Sorbonne besok untuk melihat pameran?"
"Emm ... aku tidak tahu bisa datang atau tidak. Aku ..." Wulan berusaha keras mencari alasan untuk menolak. Walaupun sebenarnya ia sangat ingin datang. Hanya saja ia ingin menghindari pertemuan yang intens dengan anak itu.
"Kau semangatku, Miss ... datang ya, s'il te plait (tolong)." Max menyatukan kedua telapak tangannya ke depan dada. Dengan wajah memelasnya ia memohon.
Wulan menghela napasnya. "Peut etre (mungkin)."
"Je t'attendrai demain (aku akan menunggumu besok)," ucap Max kegirangan. Lalu ia berbalik badan meninggalkan Wulan. Namun, sejurus kemudian ia berbalik arah lagi, mendekati Ibu Gurunya itu. "Miss!" panggilnya.
Wulan yang hendak melangkah masuk ke dalam ruangannya kembali mengurungkan niatnya. "Apa lagi, Max?"
"Christophe ... dia tidak macam-macam denganmu, kan?"
Wulan memutar kedua bola matanya. Anak ini masih saja membahasnya. "Tidak."
"Syukurlah. Kalau dia berani menyentuhmu akan kuhajar si jelek itu."
"Max!" Wulan mendelik kesal pada Max. Pemuda itu terkekeh dan mengangkat kedua tangannya. Kemudian berbalik arah dan berlalu meninggalkan Wulan yang kini terlihat pasrah menyandarkan keningnya ke pintu.
Adrienne yang baru saja datang menyentuh bahu Wulan. Pandangannya mengikuti gerakan tubuh Max yang mulai menjauh. "Anak itu masih mengejarmu?" tanyanya.
"Tidak," jawab Wulan singkat.
"Bagaimana kencanmu dengan Christophe?" tanya Adrienne begitu keduanya telah berada di dalam ruangan.
Wulan terbahak. "Itu bukan kencan, Adrienne," sanggahnya.
"Soon (segera)," goda Adrienne sembari merapikan buku-buku di atas mejanya. "Bagaimana kesanmu tentang Christophe?"
Wulan tertawa hambar. Ia tidak punya kesan khusus apa pun tentang pria itu. Namun ia tidak sampai hati mengatakannya pada Adrienne. "Ben, il est gentil (ya, dia baik)."
"C'est tout ( cuma itu)? Kau suka padanya tidak?"
"Aku tidak tahu. Terlalu cepat untuk menanyakan hal itu. Aku baru dua kali bertemu dengannya," kekeh Wulan. Dalam hati ia tersenyum getir. Tidak ada niat sama sekali baginya untuk melanjutkan ke arah yang lebih jauh dengan Christophe.
__ADS_1
"Aku sungguh berharap kalian bisa jadi sepasang kekasih. Atau bahkan menikah. Dia pria mapan, Wulan."
Senyum getir Wulan pun akhirnya tersungging dari bibirnya. Entah kenapa bayangan Max tiba-tiba terlintas di benaknya. Wajah tengil, sikap yang agresif, kata-kata tanpa filter yang meluncur dari mulutnya. Semua tentang anak bengal itu memenuhi relung hatinya.
Rindu?
***
SORBONNE UNIVERSITÉ, PARIS.
Faculté D'art Et Humanité (Fakultas Seni Dan Sastra). Begitu yang terukir di dinding bangunan berdesain neo-renaissance yang didominasi warna krem itu.
Rasanya sudah cukup lama Wulan tidak mengunjungi almamaternya ini. Terhitung sejak kelulusannya dari Faculté De Lettres (fakultas bahasa) setahun yang lalu.
Lulus dan berpisah dengan Pierre. Dalam waktu yang hampir bersamaan.
Wulan melangkah memasuki gedung, berbaur dengan beberapa orang yang sepertinya juga akan menghadiri pameran lukisan. Wajah memelas Max yang selalu terbayang di benaknya memaksanya untuk datang. Ada apa dengan dirinya yang selalu luluh dengan anak itu.
"Silahkan masuk, Mademoiselle," seorang gadis berambut pirang menyapa dan membuatnya terkesiap. Rupanya ia telah berada di depan galeri. Wulan mengangguk dan melangkah masuk ke dalam ruangan yang begitu luas dan penuh dengan lukisan-lukisan yang terpajang di dinding.
Ia memutar pandangan ke sekelilingnya mencari sosok Max di antara orang-orang yang berkerumun dan berjalan-jalan. Namun sejauh mata memandang, Max tidak berada di dalam jangkauannya. Wulan pun memutuskan untuk memanjakan matanya dengan lukisan-lukisan yang ada. Semuanya terlihat bagus. Elegan.
Wulan semakin larut dengan dunia di atas kanvas yang membuatnya terus berjalan berkeliling ruang galeri, berpindah dari satu lukisan ke lukisan lainnya. Hingga akhirnya langkahnya terhenti ketika dari kejauhan dilihatnya Max tengah mengobrol dengan beberapa orang yang sepertinya tengah bertanya-tanya tentang lukisannya. Wulan tersenyum melihat anak itu. Ia terlihat dewasa dengan kemeja warna hitam yang digulung di bagian lengannya, dipadu dengan chinos pant warna serupa, dan sepatu bocage krem, lalu rambut gondrongnya yang ia ikat rapi.
Senyum Wulan memudar ketika pandangannya tertumpu pada sosok manis berambut cokelat yang ada di samping Max. Eloise. Ia memperhatikan keduanya begitu akrab. Saling menyentuh lengan, saling tertawa. Dan yang membuat Wulan merasakan nyeri dalam dadanya adalah, ketika ia melihat tangan Eloise menyentuh anak rambut Max dan merapikannya.
Bukankah itu yang Wulan inginkan? Max dengan Eloise saja. Lalu ia akan mencoba mencari sesuatu dalam diri Christophe yang bisa menarik perhatiannya. Maka semuanya akan berjalan lancar. Tidak akan ada hal yang rumit lagi. Sesederhana itu?
Perlahan Wulan melangkah mundur. Ia tak ingin Max melihatnya. Cepat ia membalikkan badan dan keluar dari galeri, dengan hanti yang ... entah.
***
***
__ADS_1
***