
"Jangan melihatku seperti itu ...."
Wulan mendorong wajah Max menghadap ke arah lain. Ia merasa sedikit jengah dipandangi oleh pemuda itu terus menerus.
"Apa ada yang pernah bilang kalau hidungmu lucu?" tanya Max sembari mengapit hidung mungil Wulan dengan kedua jarinya, lalu menggerak-gerakkannya dengan gemas.
"Kau sedang melakukan body shaming, Max!" hardik Wulan seraya menepis jemari Max.
Max tertawa renyah. Lalu berbaring terlentang di samping Wulan. Di atas ranjang berukuran sedang yang empuk milik Ibu Gurunya itu. Kedua lengannya ia lipat di bawah kepalanya.
"Max ...."
"Oui (ya)," jawab Max sembari memejamkan matanya.
Wulan mengelus dada telanjang Max dengan lembut. Menulis pola-pola acak dengan ujung jarinya di sana.
"Quoi, Bébé (apa, sayang)?" tanya Max ketika Wulan tak juga bersuara kembali.
"Kenapa kau mencium Belle Fortin?"
Max terbahak mendengar pertanyaan Wulan.
"Hanya ingin melihat reaksimu."
"Lalu?"
"Yeah, sepertinya kau terlalu pintar untuk menyembunyikannya. Aku tidak bisa mendeteksi sama sekali."
Wulan terkekeh. "Kau tahu, rasanya aku ingin menjambak rambutmu waktu itu!"
Max kembali terbahak. Ia memiringkan badannya dan menghadap pada Wulan yang telah berada di posisi yang sama. Keduanya saling menatap dalam diam.
"Si bocah Perancis yang tampan ...." Wulan bergumam sembari mengelus pipi Max dengan lembut. "Tapi menyebalkan," lanjutnya sembari mencubit hidung mancung pemuda itu. "Membuat hidupku kacau saja," kekehnya.
Max tersenyum simpul. "Wulan ...."
"Hmmm ...."
"Kau mau menikah denganku tidak?"
Wulan membulatkan matanya. Sejurus kemudian tawanya meledak.
"Aku serius," ujar Max sebal.
Bibir Wulan mencebik. "Umurmu baru 17 tahun, Anak Nakal!"
"Pas maintenant (tidak sekarang), Wulan," decak Max. "Lima tahun lagi."
"Lihat nanti," goda Wulan. "Lima tahun lagi kalau kau belum bosan denganku."
"Mana mungkin aku bosan," sergah Max.
__ADS_1
"You never know what the future brings (kau tidak akan tahu apa yang akan terjadi di masa depan)."
"Tapi kita bisa mulai membangun masa depan kita dari sekarang," sahut Max cepat.
Wulan menghela napasnya dalam-dalam. Lalu kembali menatap sepasang mata biru itu.
"Benarkah aku cinta pertamamu, Max?"
Max mengangguk. "Dan yang terakhir," ucapnya sembari mengecup bibir Wulan sekilas.
"Kau percaya diri sekali." Wulan mencebik.
"Harus," ucap Max dengan mantap.
Wulan mencubit kedua pipi Max dengan gemas. "Kau menggemaskan sekali," ujarnya.
Max pasrah saja diperlakukan layaknya hewan peliharaan oleh Wulan.
"Max ...." Kini jemari Wulan mengelus helai demi helai rambut Max pelan.
"Oui, Bébé (iya, sayang)."
"Banyak kemungkinan buruk yang akan terjadi dalam hubungan kita."
"Je sais (aku tahu)." Max menyahut. "N'aie pas peur (jangan takut) ... kita saling memiliki."
Wulan tersenyum. Entah kenapa kata-kata yang terucap dari bibir Max begitu menenangkan.
Wulan masuk ke dalam pelukan Max dan mendusalkan kepala ke leher pemuda itu. Menghirup wanginya yang selalu membuatnya tenang. Bagaikan aroma terapi yang mampu menurunkan tingkat kecemasan dan stres.
"Mon Chéri (sayangku)," gumam Wulan seraya mempererat rengkuhan tangannya di punggung Max.
"Mon Amour (cintaku)," bisiknya.
Wulan memejamkan matanya. Terlelap di pelukan Max dengan nyamannya. Di bawah lampu temaram kota yang menyeruak masuk di sela-sela tirai jendela kamarnya. Ditemani suara sirine mobil patroli polisi yang sayup-sayup terdengar dari kejauhan.
***
STALINGRAD SURESNES.
"Menginap di mana semalam, Max?"
Max mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam kamarnya begitu mendengar suara Ludovic dari arah dapur.
"Memangnya aku harus memberitahumu aku menginap di mana?" Max balik bertanya. Ia kesal dengan Sang Ayah yang mulai mencampuri urusannya. Terutama tentang hubungannya dengan Wulan.
"Bisa bicara sebentar?"
Max mendongakkan wajah dan menghembuskan napasnya kasar.
"Quoi (apa), Papa?"
__ADS_1
"Duduk di sini."
Dengan malas Max melangkah mendekati Ludovic dan duduk di hadapan pria paruh baya itu.
"Semalam kau bersama Ibu Gurumu itu?" tanya Ludovic.
"Kalau iya kenapa?"
"Max ...." Ludovic menatap puteranya itu lekat. "Apa kau tidak sadar kau sedang dimanfaatkan oleh seorang wanita dewasa untuk memenuhi ...." Ia menghela napasnya sejenak. "Nafsunya," lanjutnya.
"Papa!" sentak Max. Wajahnya menegang. "Jangan berbicara seperti itu tentang Wulan!" Ia memperingatkan.
"Jangan membelanya, Max!" Suara Ludovic mulai meninggi. "Apa yang dia lakukan itu sungguh menjijikkan. Bercinta dengan muridnya sendiri."
"Ludovic!" Max tak bisa menahan geramnya. Ia berdiri dan menunjuk wajah sang Ayah. "Tu sais rien, c'est mieux que si tu fermes ta gueule (kau tidak tahu apa-apa, lebih baik kau diam saja)!"
"No, Maximilian, no!" bentak Ludovic dengan gusar. Namun sejurus kemudian ia berusaha untuk mengendalikan emosinya.
Max melipat kedua lengan di dadanya. Lalu tersenyum miring. "Ternyata aku lebih senang kau tidak peduli padaku. Aku lebih senang kau yang pemabuk dan hanya meminta jatah uang saja dariku."
Brakkk.
Ludovic menggebrak meja dengan keras. Ia tak bisa lagi menahan emosinya. Ia berdiri dan meraih kerah jaket Max lalu mendesak pemuda itu ke dinding dapur.
"Dengar, Maximilian ... aku Ayahmu, dan kau masih menjadi tanggung jawabku. Aku tidak peduli seberapa buruk tindakanku di masa lalu padamu. Yang jelas, sekarang, aku ingin memperbaikinya. Aku akan menjalankan peran sebagai Ayah yang baik. Aku tidak peduli kau suka atau tidak!" seru Ludovic.
"Aku tidak bisa membiarkan hal menjijikkan seperti ini terjadi. Apalagi menimpa anakku sendiri," lanjutnya.
Max mendecih. "Kau pikir kau tidak menjijikkan? Kau pikir dengan bersikap seperti ini kau bisa menghapus dosa-dosamu begitu saja?"
Plakkk.
Satu tamparan mendarat di pipi Max. Mata Ludovic nanar memandangi anak lelakinya yang tampaknya tak terpengaruh oleh tamparan pedasnya.
Ia mengepalkan telapak tangannya geram. Deru napasnya memburu.
"Minggir!" seru Max seraya mendorong Ludovic dengan kasar. Ia melangkah cepat menuju kamarnya dan membanting pintu keras-keras.
Ludovic terduduk lesu di kursinya. Ia menangkup kepalanya dengan kedua tangan. Menumpunya dengan siku di atas meja.
Semua yang diucapkan Max membuat hatinya terasa sakit.
"Clara ...." Ia memanggil nama indah itu lirih.
"Je suis désolé (maafkan aku) ...."
***
***
***
__ADS_1