
Wulan memutuskan untuk mencari Max di galeri Patrick di Les Marais. Pria tua itu mengatakan Max beberapa hari ini tinggal di tempatnya dan sedang menemui seorang teman di Boot Café tak jauh dari galeri.
Ia pun mencari Max ke sana dan mendapati pemuda itu tengah berbincang hangat dengan Eloise. Wulan pun memutuskan untuk mengurungkan niatnya menemui Max. Ia senang anak itu baik - baik saja dan punya teman bicara.
Wulan pun berlalu tanpa Max tahu kehadirannya di kedai itu.
Dan kini, Wulan duduk seorang diri di atas sofa ruang tamunya, dengan sebotol anggur dan sebungkus rokok yang baru berkurang satu batang.
Ia bukan seorang perokok berat. Ia menikmati rokok hanya di saat ia merasa sedang kacau. Seperti saat ini. Hatinya kacau. Entah, entah karena apa.
Wulan mencecak rokoknya ke dalam asbak ketika mendengar suara pintu diketuk pelan. Ia beranjak dari duduknya dan bergegas membuka pintu.
"Miss ...."
Ia menghela napasnya pelan. Anak bengal itu berdiri di hadapannya dengan mata sayu, pipi memerah dan rambut yang acak - acakan. Cara berdirinya pun sedikit sempoyongan.
"Boleh aku menginap di sini malam ini?"
Lagi - lagi Wulan menghela napasnya. Ia memandangi wajah Max yang dinaungi awan hitam.
"S'il te plait (tolonglah)," ucap Max memohon. Dan lagi - lagi, mata biru itu membuat Wulan luluh.
Wulan membuka lebar pintunya, menpersilahkan Max untuk masuk. Ia menyuruh pemuda itu untuk duduk di atas sofa. Lalu ia pun mengambil tempat duduk di samping Max.
"Maaf aku memberimu contoh yang tidak baik," ujar Wulan sembari mengambil satu batang rokok dari bungkusnya dan menunjukkannya pada Max, lalu menyalakannya.
Max tersenyum kecut. Kepalanya tertunduk memandangi lantai.
"Aku lelah, Miss," ucapnya pelan. "Can I borrow your shoulder (bisa kupinjam bahumu)?" Max menyandarkan kepalanya di bahu Wulan tanpa menunggu jawaban Ibu Gurunya itu.
"Max, apa yang terjadi?" tanya Wulan. Ia membiarkan saja anak itu memakai bahunya untuk bersandar. "Apa yang terjadi denganmu dan Nadia?"
Max tak langsung menjawab pertanyaan Wulan. Ia malah mendusalkan wajahnya ke leher Wulan sembari memeluknya dengan erat.
"Max ...." Wulan menaruh rokoknya ke dalam asbak. Lalu mengelus punggung pemuda itu dengan lembut.
"Nadia hamil."
Wulan terperanjat. Ia meraih kepala Max dan menangkup wajahnya dengan kedua telapak tangan. "Kau yang bertanggung jawab?" tanya Wulan dengan dada berdebar kencang. Dilihatnya mata biru Max telah basah oleh air mata.
"Aku telah berjanji pada Ibunya untuk menjaganya. Tapi aku gagal, Miss. Aku benar - benar tidak berguna." Tubuh Max bergetar karena tangisannya.
"Kau yang ... menghamili Nadia, Max?" Wulan tercekat.
Max menggeleng. "Damien ...."
"Apa?" Wulan terlonjak. "Kau sedang tidak bercanda, kan, Max?"
"Mereka masih berhubungan secara diam - diam. Tapi aku tahu si Brengsek itu hanya memanfaatkan Nadia ... untuk ... memenuhi ..." Max mengepalkan kedua telapak tangannya. Wajah sedihnya kini berubah menjadi garang. "Nadia bilang padaku si Kepa rat itu memutuskan hubungan dengannya."
"Aku tidak bisa percaya ini." Wulan memijit keningnya yang berdenyut. "Kenapa Nadia nekat mengakhiri hidupnya. Apa tidak ada jalan lain?" tanyanya. "Dan Damien ... ya Tuhan, aku tidak pernah menyangka ...." Kini Wulan mengerti kenapa Max begitu membenci Damien.
"Ibunya berencana menikahkannya dengan sepupu jauhnya di Toulouse. Nadia tidak bisa menerima itu," terang Max. "Miss, aku bahkan tidak berani menatap mata Ibunya. Aku merasa gagal."
"Max ..." Wulan menyentuh bahu Max lembut. "Semua bukan salahmu."
Max terdiam. Napasnya terdengar memburu. "Aku bersumpah akan menghajar Ba jingan itu. Aku akan membawanya ke hadapan Maman. Dia harus meminta maaf dan bersujud di kakinya."
__ADS_1
"Max, aku mohon jangan melakukan sesuatu yang bisa membuatmu celaka."
"Je m'en fous (aku tidak peduli)!" sentaknya dengan mata menyala penuh amarah. Membuat Wulan terperanjat.
"Maaf, Miss," ucap Max kemudian. "Aku tidak bermaksud membentakmu."
Wulan mengangguk. "Aku akan bicara dengan Damien," ujarnya. "Berjanjilah padaku kau tidak akan bertindak gegabah."
Max menghembuskan napasnya kasar. Ia menghempaskan punggungnya ke sandaran sofa. "Aku tidak tahu, Miss."
"Max, please. Kalau semua masalah harus diselesaikan dengan kekerasan, justru akan membuatnya semakin runyam." Ragu - ragu Wulan membelai rambut panjang Max dengan lembut. Memperlakukannya seperti sedang menenangkan anak kecil yang rewel.
Untuk beberapa saat Max menikmati perlakuan lembut Ibu Gurunya itu. Ia mulai merasakan energi hangat yang mengaliri seluruh tubuhnya. Hingga segala rasa yang berkecamuk di dalam dadanya perlahan mulai menguap pergi. Berganti dengan rasa nyaman dan tenang.
Sembari menyandarkan kepalanya ke sandaran sofa, ia memandang lembut pada Wulan tanpa kata. Tatapan matanya sayu. Lalu senyum tipisnya tersungging.
"Kau cantik, Miss," ucapnya membuat Wulan terlihat gugup.
"Merci ...." Wulan berusaha bersikap biasa saja dengan mengambil kembali sisa rokok yang ada di dalam asbak, lalu menyalakannya. "Mau merokok?" tawarnya pada Max sembari menyodorkan bungkus rokoknya.
Max meringis. "Apa aku tidak akan di hukum?"
"Pengecualian untuk malam ini," sahut Wulan asal. "Terkadang rokok bisa sedikit membantumu mengurai masalah," kekehnya.
Max mengambil sebatang rokok dan menyalakannya. Sementara Wulan beranjak dari duduknya dan melangkah menuju ke dapur, mengambil satu botol anggur dari lemari serta dua gelas berkaki panjang dan pembuka botol.
"Mau menemaniku minum?" gelaknya sembari meletakkan botol anggur dan gelas ke atas meja.
Max tertawa gembira. "Dengan senang hati," ujarnya sembari menyambar pembuka botol. Dengan cekatan, layaknya seorang Sommelier (ahli wine), ia mengambil botol anggur di atas meja dan menancapkan besi kecil berbentuk spiral ke dalam gabus penutup, lalu memutarnya sebanyak empat kali. Menarik gabusnya perlahan hingga terlepas dari leher botol.
"Silahkan, Miss." Max menyodorkan satu gelas yang telah ia isi dengan cairan merah pekat pada Wulan. Lalu keduanya bersulang.
"Apa tadi sore kau pergi ke Les Marais?" tanya Max begitu ia ingat sore tadi melihat sosok Wulan di Boot Café.
"Emm ... iya," jawab Wulan tergagap. "Aku mencarimu, Max ... maksudku, aku ingin tahu kalau kau baik - baik saja. Sudah seminggu kau tidak masuk sekolah. Etienne juga tidak tahu kau ada di mana. Jadi, kupikir mungkin kau ada di Les Marais. Dan benar, kau ada di sana."
"Kau pergi ke Boot Café? Kenapa kau tidak menemuiku?" tanya Max heran.
Wulan menelan ludahnya. Ia lalu mencecap gelas anggurnya perlahan. "Aku melihatmu bersama Eloise. Kupikir aku tidak ingin mengganggu. Yang penting aku tahu kau baik - baik saja."
Max menarik sudut bibirnya. Ia memiringkan kepalanya menoleh ke arah Wulan dan memberikan tatapan jahilnya.
"Hanya karena tidak ingin mengganggu dan kau pergi begitu saja? Setidaknya kau bisa menyapaku, Miss."
"Eemm ... ya, aku buru - buru." Wulan memejamkan matanya. Ia berharap Max tidak mencecarnya lagi dengan pertanyaan - pertanyaan yang tidak mampu ia jawab.
Bibir Max mencebik. "Tadinya aku berpikir Eloise memintaku bertemu dengannya lagi untuk melanjutkan pembicaraan kami tentang pameran di Sorbonne. Ternyata dia hanya ingin mengajakku minum kopi."
"Owh, bagus, Max. Mungkin dia tertarik denganmu." Wulan meneguk anggurnya kembali. Hatinya menjadi tak menentu.
"Kau pikir begitu?" tanya Max. Masih dengan senyum miringnya. "Memang kuakui dia gadis yang manis."
Wulan tertawa hambar. "Kalian akan cocok. Punya bakat yang sama."
"Menurutmu begitu, Miss?" Max menaikkan alisnya menuntut jawaban jujur dari mulut Wulan.
"Yeah," jawab Wulan sembari menghisap rokoknya. Memasang ekspresi wajah senormal mungkin.
__ADS_1
Max menghela napasnya. "Sayangnya aku sudah jatuh cinta dengan seorang wanita yang jauh lebih tua dariku."
Wulan hampir saja tersedak asap rokoknya sendiri. Segera saja dibasahinya tenggorokannya dengan segelas anggurnya. Ia tak berani menyahut ucapan Max. Apalagi menanyakan siapa wanita yang membuatnya jatuh cinta itu. Ia berusaha menepis semua dugaan yang berseliweran dalam benaknya.
"Kau mau tahu siapa wanita itu, Miss?"
Jantung Wulan seakan ingin melompat keluar. Ia benar - benar tidak ingin mendengarnya. Tidak boleh. Cukup sampai di sini saja pembicaraan mengenai hal itu.
"Kita bicara hal lain saja, Max," ujarnya kemudian.
Max merubah posisi duduknya menghadap ke arah Wulan. Ia menatap Ibu Gurunya itu lekat. Membuat Wulan terlihat jengah.
"Regarde moi (lihat aku)," ucap Max setengah berbisik. Ia mengelus pipi Wulan dengan lembut. Lalu membawa dagunya mendekat pada wajahnya.
Wulan terperangah. Namun tubuhnya seakan tak bisa ia gerakan. Ia hanya mampu memejamkan matanya ketika bibir Max perlahan memagut bibirnya. Dan kedua lengan pemuda itu telah melingkar di tengkuknya. Ia bahkan mengikuti gerakan lidah Max yang mulai merangsek masuk menyapu bibir bagian dalamnya.
Untuk sesaat, Wulan seperti tersihir. Ia menikmati setiap sentuhan lembut Max yang mampu melepaskan dahaganya. Menggilas rasa sepinya dan mengisi kehampaan ruang dalam hatinya.
"Arette (hentikan)!" seru Wulan seiring dengan kesadarannya yang berangsur - angsur pulih. Ia terlempar ke dunia nyata. Memandangi anak umur enam belas tahun di hadapannya itu dengan napas memburu. "Apa yang telah aku lakukan?" ujarnya sembari bangkit dari duduknya.
"Miss ...."
"Tidak, Max! Ini tidak boleh terjadi."
"Kenapa?"
Wulan berjalan mondar mandir dengan gelisah. Sesekali ia memegangi dadanya yang terasa nyeri.
"Aku tidak mau seperti Damien. Kau muridku. Aku Gurumu. Tidak boleh lebih dari itu."
"Tapi, Miss ...."
"Arrete (hentikan), Max!" Wulan mengacak rambutnya frustrasi. Ia mengangkat kedua tangannya memberi isyarat pada Max yang hendak mendekatinya untuk tetap duduk di tempatnya.
"Ini tidak benar. Aku sedang kesepian dan kau sedang tidak stabil. Anggurnya, ya, ini karena pengaruh anggurnya," cerocos Wulan tanpa henti.
"Aku pasti sudah gila!" serunya seraya berlari masuk ke kamarnya dan membanting pintunya keras - keras.
Max meremas wajahnya pelan. Lalu menghempaskan badannya ke sofa. Namun sejurus kemudian ia kembali pada posisi duduknya ketika melihat pintu kamar Wulan dibuka.
"Max, yang tadi itu tidak pernah terjadi!" serunya sembari melongokkan kepalanya keluar. Kemudian masuk kembali dan menutup pintunya rapat - rapat.
"Mais, attend (tunggu), Miss ...."
Max mengangkat kedua tangannya sembari menghembuskan napasnya kasar. Ia bingung dengan sikap Ibu Gurunya itu.
Namun senyumnya kini tak henti - hentinya tersungging. Ia menyentuh jejak bibir Wulan di bibirnya.
Ciuman pertamanya.
Tidak terlalu buruk.
***
***
***
__ADS_1