High School Bad Boy

High School Bad Boy
Part 72. Into The Storm.


__ADS_3

"Jangan di sini, Max ...."


Wulan mendorong dada Max pelan berusaha melepaskan rengkuhan pemuda itu. Ia menyapu pandangan ke sekeliling ruang perpustakaan yang sepi.


"Aku tidak tahan, Wulan," ucap Max sembari melancarkan serangan bibirnya ke bibir Wulan dengan penuh gairah. Ia mendesak tubuh Wulan ke rak buku hingga beberapa buku di sana berjatuhan. "Aku menginginkanmu sekarang," ujarnya seraya membuka kancing baju Wulan dengan sedikit kasar. Lalu melahap apa yang ada di baliknya dengan rakus.


"Aku sudah menduganya!"


Seruan itu membuat Wulan dan Max terkesiap. Keduanya menoleh ke asal suara dan buru-buru memisahkan diri, ketika mereka melihat Jolene telah berdiri di ujung rak buku dengan kedua tangan ia lipat ke depan dada. Tatapannya tajam menusuk. Matanya menyala merah.


Wulan menutup kancing bajunya dan merapikan rambutnya yang berantakan. Sementara Max yang berdiri di depannya hanya melemparkan senyum sinisnya pada Jolene.


"Kalian punya affair? Menarik sekali ...."


Jolene bertepuk tangan. Ia melangkah mendekat pada Max dan menarik lengan pemuda itu dan membawanya pergi. Ia sempat menoleh pada Wulan dan menyeringai padanya sebelum akhirnya menghilang bersama Max entah kemana.


"Max!" panggil Wulan. Ia berlari keluar perpustakaan namun tak mendapati Max maupun Jolene di mana-mana melainkan tatapan-tatapan sinis dari para siswa dan Guru yang mengelilinginya. Menunjuk wajahnya tanpa kata-kata. Namun wajah-wajah mereka penuh dengan murka.


"Menjijikkan!" seru salah seorang dari siswa sembari berjalan ke arah Wulan dan mendorongnya hingga jatuh terduduk di lantai.


"Guru macam apa kau?" hardik siswa yang lain sembari melemparkan sebuah batu sebesar genggaman tangan pada Wulan dan mengenai tepat di dahinya.


Wulan menjerit sembari memegangi kepalanya. Ia merasakan cairan darah segar mengalir ke pipinya.


"Eksekusi saja dia!"


"Jebloskan saja ke penjara!"


"Deportasi!"


"Pecat!"


Wulan berteriak keras sembari menutup kedua telinganya dengan telapak tangan rapat-rapat.


Namun, suara seruan dan makian terus saja terdengar bahkan kini semakin jelas menggema di dalam kepalanya.


"Tidak! Hentikan! Pergi kalian semua!"


.


.


"Wulan! Hei! Bébé!"


Max yang terbangun mendengar teriakan Wulan di sampingnya, menepuk-nepuk pipi Wulan lembut. Matanya masih terpejam, namun kepalanya bergerak ke sana kemari. Kening dan lehernya penuh dengan keringat dingin.


"Wulan, bangun!" seru Max sembari mengguncang bahu Wulan.


"Max!"


Wulan membuka matanya dan seketika memeluk Max dengan erat.


"Hei, kau mimpi buruk?" tanya Max. Telapak tangannya lembut mengelus punggung Wulan.


Wulan mengatur napasnya dan berusaha menstabilkan detak jantungnya yang begitu cepat. Ia masih memeluk Max dengan erat.


"C'est pas grave, je suis la (tidak apa-apa, aku di sini)," ucap Max sembari mengecup puncak kepala Wulan.


"Aku benar-benar takut kehilanganmu ...." Wulan menelan salivanya dengan susah payah. Ia membenamkan kepalanya di dada polos pemuda itu.

__ADS_1


"Tidak akan terjadi, aku berjanji padamu."


Wulan menarik napasnya dalam-dalam. Kehangatan tubuh Max membuat rasa cemasnya berangsur-angsur menghilang.


"Akan kuambilkan kau segelas air."


Max hendak beranjak dari tempat tidur namun Wulan enggan melepaskan pelukannya.


"Di sini saja. Jangan pergi," pinta Wulan.


"Aku hanya mau ke dapur sebentar," kekeh Max sembari mengelus rambut Wulan.


"Tidak usah, di sini saja."


"Okay ... okay ...."


Max kembali menelentangkan badannya di atas tempat tidur, dengan Wulan yang masih berada dalam pelukannya. "Sudah merasa lebih baik?" tanyanya.


Wulan hanya mengangguk. Pelukannya semakin erat pada tubuh pemuda itu.


"Kau mimpi apa?"


"Kehilanganmu dan menghadapi hujatan banyak orang."


"Hanya mimpi. Tidak akan sampai pada kenyataan."


"Kuharap begitu." Wulan berucap pelan. Ada ragu tersirat dalam nada suaranya.


"Pasti begitu," sambung Max cepat membuat Wulan terkekeh. "Aku akan menungguimu sampai kau tertidur lagi, Wulan."


"Je t'aime (aku cinta kamu)." Wulan mendongakkan wajahnya dan menyentukan bibirnya pada bibir tipis Max.


"Tidurlah,Wulan," ujarnya kemudian.


***


LYCÈE JEAN-BAPTISTE SAY, SURESNES.


Brakkk.


Jolene menggebrak meja kerjanya dengan kesal. Beberapa menit lalu, Ludovic Guillaume, Ayah dari Maximilian Guillaume si anak bengal, baru keluar dari ruangannya. Dan pria itu, membawa kabar yang membuat hatinya mendidih.


Wulan dan Max, tepat seperti kecurigaannya selama ini, keduanya punya hubungan.


Ia benar-benar marah. Bukan marah karena hubungan terlarang antara Guru dan Murid. Ia tidak peduli dengan hal itu.


Ia hanya memikirkan Wulan. Wanita mungil yang terlihat rapuh itu telah memenuhi pikirannya akhir-akhir ini. Rambut hitam panjangnya, wajah eksotisnya, kulit warna kopi susunya, semua itu membuat hasrat dalam dirinya meluap-luap.


Ia mulai terobsesi dengan wanita Asia yang manis itu.


"Putain (sialan)!" makinya.


"Aku tidak bisa membiarkan ini. Aku tidak rela!"


Ia memijit keningnya. Memikirkan strategi yang paling ampuh untuk mendapatkan Wulan dan memisahkannya dari anak bengal itu.


***


Ragu-ragu Max mengetuk pintu ruangan Guru Pembimbing. Kepalanya di penuhi oleh pertanyaan dan dugaan kenapa Jolene Dupont memanggilnya ke ruangannya. Ia merasa tidak membuat kerusuhan atau kesalahan apa pun.

__ADS_1


Masuk ke dalam ruangan itu, dilihatnya wanita cantik berambut pirang itu tengah duduk di belakang meja kerjanya, tersenyum padanya dengan manis. Tidak seperti biasanya, Jolene kali ini terlihat begitu ramah padanya.


"Duduk, Max ...." Jolene mempersilahkan Max untuk duduk di seberang mejanya.


"Apa aku membuat kesalahan?" tanya Max.


"Ah, tidak sama sekali. Aku ingin bicara denganmu."


Max mengerenyitkan keningnya ketika melihat Jolene berjalan ke arahnya dan berdiri di balik punggungnya kemudian menyentuh bahunya dengan lembut.


"Aku dengar kau seorang pelukis," kata Jolene sembari mendekatkan wajahnya ke samping kepala Max.


Max hanya terdiam. Ia tak berniat menanggapi ucapan Jolene.


"Bisa kau melukisku?" tanya Jolene. "Aku akan membayar berapa pun yang kau mau."


"Kau bisa datang ke Les Marais hari sabtu atau minggu, aku ada di jembatan Pont Marie."


Jolene tersenyum. "Aku ingin kau melukisku di apartemenku," ujarnya.


"Kenapa?" tanya Max heran.


"Karena aku ingin kau melukisku tanpa pakaian."


Max terkejut mendengar perkataan Jolene. Ia pun menggeleng seketika. "Maaf, aku tidak bisa."


Jolene menarik napasnya dengan berat. "Hmmm ...." gumamnya. "Kau tidak bisa menolak permintaanku, Max."


Terdengar Jolene terkekeh. Membuat Max semakin keheranan.


"Aku tahu hubunganmu dengan Miss Wulan," bisiknya ke telinga Max.


Max terperanjat mendengar ucapan Jolene dan seketika dadanya berdegup kencang.


"Tenanglah, Max. Aku tidak akan memberitahukannya pada siapa pun. Asalkan ... kau mau mewujudkan keinginanku."


"Sialan!" maki Max kesal.


Jolene tersenyum puas. Ia mengambil selembar kertas dan sebuah pensil di atas meja lalu menuliskan beberapa baris kata di sana.


"Hari sabtu malam, datanglah ke alamat ini." Jolene memberikan selembar kertas itu pada Max. "Jangan beri tahu Wulan tentang ini, aku ingin hal ini menjadi rahasia kita berdua saja."


"Aku akan memikirkannya," ujar Max sembari beranjak dari duduknya. Ia berjalan menuju ke arah pintu, berniat untuk keluar dari ruangan itu.


"Kuharap kau juga memikirkan tentang nasib Wulan. Kau tidak ingin dia terkena masalah, bukan, Max?" tanya Jolene dengan senyum puas yang tersungging dari bibirnya.


Max masih berdiri mematung di depan pintu. Ia tak mengatakan sepatah kata pun.


"Baiklah ... aku anggap kau sudah setuju dengan kesepakatan yang aku tawarkan," ujar Jolene kemudian.


***


***


***


Hei, gengs, jikalau ada typo atau kata-kata yang enggak pas, maafken. Soalnya aku sedang mengantuk sekali tetapi pengin update.


Kukoreksi lagi besok 🤣

__ADS_1


__ADS_2