
***
LES MARAIS, PARIS.
Max memandangi kanvas kosong di hadapannya sembari memegang kuas dan palet yang telah terisi cat berbagai macam warna. Gerakan jemarinya mulai menyapukan kuas ke atas kanvas membuat garis kontur untuk memulai lukisannya.
Ia tertegun beberapa saat. "Putain (sialan)!" makinya ketika dirasa garis yang dibuatnya tak sesuai dengan apa yang ada di kepalanya.
Max meletakkan kuas dan palet berisi cat ke atas meja. Duduk menopang dagu dengan kedua lengannya. Moodnya untuk melukis tiba-tiba hilang entah kemana.
Dirogohnya sebungkus rokok dari kantong celananya dan disulutnya sebatang. Ia menghembuskan asapnya seiring dengan suasana hati tak menentu yang ingin ia hempaskan.
"Gelisah sekali, Max?"
Suara Patrick membuatnya terkesiap. Pria tua itu telah berdiri di belakangnya. Membawa beberapa lukisan yang sepertinya akan ia simpan di lantai atas galerinya itu.
Max hanya tersenyum tipis. Lalu menggeleng pelan.
"Suasana hatiku sedang buruk akhir-akhir ini," ucapnya.
Patrick mengambil satu kursi dan duduk di sebelah Max. "Butuh teman bicara?"
"Hmmm ... peut etre (mungkin)," cebik Max. Ia merubah posisi duduknya dan kini menghadap ke arah Patrick. "Kau benar, Pat ... les femmes sont compliquées (wanita itu rumit)," kekehnya.
"Peradaban manusia dari waktu ke waktu yang membuat hidup kita semua rumit, Max," ucap Patrick. "Aturan-aturan yang dibuat oleh manusia, seringkali mempersulit manusia itu sendiri." Patrick menyunggingkan senyumnya.
"Mereka lupa kalau ada sebuah kekuatan di dalam alam semesta yang bisa mengalahkan semua kompleksitas ini."
Max mengerenyitkan dahinya. Patrick selalu berbicara sesuatu secara garis besarnya saja.
"L'amour (cinta)," sambung Patrick.
"L'amour ...." Max mengulang perkataan Patrick dengan gumaman.
Patrick menepuk-nepuk pundak Max pelan. "Ingat yang pernah aku bilang padamu, Max. Jika kau sudah memilih sesuatu dalam hidupmu, bertanggung jawablah dengan pilihanmu itu." Pria tua itu seakan tahu apa yang sedang mengganggu pikiran Max tanpa pemuda itu harus bercerita panjang lebar padanya.
"Tidak akan mudah, Max. Tapi percayalah, semua itu tidak akan sia-sia," lanjut Patrick.
Max mengangguk sembari menyunggingkan senyumnya.
__ADS_1
"Merci, Pat ...."
***
LYCÉE JEAN-BAPTISTE SAY, SURESNES.
Wulan berdiri mematung di depan pintu kelas 12 literature dengan kegelisahan yang tampak jelas di wajahnya. Ia menghela napas dalam-dalam. Lalu melirik jam di pergelangan tangannya. Kelas harus dimulai dalam lima menit.
Terdengar suara gaduh dari dalam kelas. Membuat dada Wulan semakin berdebar kencang. Hari ini Miss Corine Bassett tidak masuk. Dan ia yang harus menggantikan wanita itu mengajar. Satu-satunya yang ia harapkan adalah, ia tidak menemukan Max di dalam kelas itu. Ia tidak ingin bertatap muka dengan anak itu.
Dengan sangat ragu ia membuka pintu kelas dan melangkah masuk menuju kursi Guru dengan wajah tertunduk. Ia tak berani menyapu pandangannya ke seisi kelas. Tak ingin berpapasan dengan sepasang mata biru milik Max.
"Good morning," sapa Wulan, masih dengan kepala tertunduk sembari menata buku-buku yang dibawanya ke atas meja. Ia tak mempedulikan kegaduhan yang terjadi di dalam kelas. Masih sama seperti dulu sewaktu ia belum pindah mengajar di kelas 11.
"Hari ini aku menggantikan Miss Bassett yang tidak masuk," ujarnya tanpa mengharap respons dari seisi kelas.
Wulan menoleh ke arah pintu kelas yang terbuka perlahan. Dan seketika jantungnya seakan berhenti begitu melihat sosok yang sangat ingin ia hindari, masuk ke dalam kelas sembari menenteng tas punggungnya.
Sepasang mata biru itu menatapnya terkejut.
Wulan terpaku memandang ke arah Max. Ia merasa ada sengatan listrik di sekujur tubuhnya. Sekian detik pandangan mereka bertemu. Saling menyelami dalamnya hati masing-masing.
"Sorry, I'm late, Miss ...." Ucapan Max membuatnya terkesiap.
"Sit down, please." Dengan tangan sedikit gemetar Wulan mempersilahkan Max untuk duduk.
Ia buru-buru mengalihkan perhatiannya pada buku-bukunya. Memilih satu buku yang akan ia gunakan untuk mengisi pelajaran hari ini.
Wulan berkonsentrasi untuk bersiap-siap menyampaikan pelajarannya. Bersusah payah agar pandangan matanya tak kembali bertemu dengan tatapan Max.
"Okay, class ... let's get start it (baiklah, anak-anak ... kita mulai saja)."
.
.
Kelas hening. Wulan masih duduk di kursi Guru sembari mengumpulkan kertas-kertas tugas dari murid-muridnya. Ia sengaja tak memperhatikan sekelilingnya. Tak mau tahu apakah Max masih berada dalam kelas atau tidak.
"Comment ça va (apa kabar), Miss."
Wulan yang masih tertunduk memandangi kertas-kertas di atas meja, memejamkan matanya. Suara yang berasal dari hadapannya itu membuat dadanya berdesir.
__ADS_1
"Tres bien, merci (baik, terimakasih)," jawabnya tanpa mendongak sedikit pun. "Et toi (dan kau)?" lanjutnya.
"Pas tres bien ... tu me manque (tidak terlalu baik ... aku rindu padamu)."
Wulan menelan ludahnya dengan susah payah. "Arrete (hentikan), Max," ujarnya. Ia benar-benar tidak sanggup mendengar kata-kata itu. Ia pun begitu rindu pada sosok jangkung di hadapannya ini.
"Kau tidak rindu padaku, Miss?" tanya Max.
Wulan memberanikan diri untuk mendongakkan kepalanya dan menatap wajah Max. Astaga wajah tengil itu. Bagaimana caranya menguatkan hati untuk tidak luluh dan hanyut pada tatapan tajam sepasang mata biru itu.
Selesai merapikan kertas dan buku-bukunya, Wulan beranjak dari duduknya dan melangkah melewati Max begitu saja.
"Sungguh kau tidak rindu padaku, Miss?" kekeh Max yang kini telah berjalan di sampingnya.
"Tidak ...." Wulan tercekat. Jelas ia sedang melakukan kebohongan besar-besaran terhadap dirinya sendiri.
"Aku tidak percaya," cebik Max sembari melirik Wulan. Bahkan sedari tadi Ibu Gurunya itu selalu menghindari tatapannya.
"Terserah kau saja!"
Max terbahak. "Bahasa tubuhmu mengatakan lain, Miss."
"Jangan mengada-ada!"
"Kau tidak rindu malam-malam indah kita, Miss?" Max mengulum senyum jahilnya.
"Arrete, s'il te plait (hentikan, kumohon), Max!" hardik Wulan sembari membulatkan matanya. Ia mempercepat langkahnya meninggalkan Max. Berharap anak itu berhenti mengikutinya.
"Max!"
Suara panggilan itu memaksa Wulan untuk menoleh ke belakang. Ia melihat Belle Fortin tengah menarik lengan Max menjauh. Menggandengnya menuju keluar gedung kelas 12. Sekilas dilihatnya Max masih menoleh ke arahnya, hingga keduanya menghilang di balik pintu.
Wulan menghela napas pelan.
Mungkin begitu lebih baik.
***
***
***
__ADS_1