
"Max!"
Wulan tercekat. Sejak kapan anak itu berdiri di sana. Apakah ia melihatnya dan Pierre berpelukan? Ah, tentu saja. Wajahnya terlihat kesal. Tak ada senyum tengil seperti biasanya. Sepasang mata biru itu pun terlihat tak bersahabat.
"Max!" panggil Wulan ketika melihat pemuda itu, tanpa mengucapkan sepatah kata pun, berbalik arah dan melangkah pergi meninggalkan Wulan.
"Max, attende (tunggu)!" seru Wulan seraya meraih lengan Max dan memaksanya untuk berhenti. "Aku bisa jelaskan," ucap Wulan cemas.
"Ben, vas y, expliquez-moi (ya, ayo, jelaskan)!" seru Max dengan tatapan dingin.
"Pierre ingin menyelesaikan masalahnya denganku secara tuntas sebelum membuka lembaran baru. Dia ingin mengembalikanku pada Ibuku secara baik-baik seperti dulu ia memintaku pada Ibuku juga dengan cara baik-baik."
"Tapi kenapa dia memelukmu seperti itu? Dan menciummu di sini?" sergah Max seraya mengetuk-ngetuk kening Wulan.
"Perasaan bersalah, mungkin."
"Bersalah? Artinya dia menyesal telah menceraikanmu atau bagaimana?"
"Bukan seperti itu, Max!"
"Lalu apa?" Max mengambil bungkus rokok di dalam kantong jaketnya, mengambil sebatang dan menyalakannya. Ia menghisap dan menghembuskan asap rokoknya dengan kasar.
"Hei, c'est rien, Max ... t'inquiète pas (bukan apa-apa, Max, tidak usah khawatir)." Wulan meraih tangan Max namun pemuda itu menepisnya.
"Tapi kulihat kau menikmati pelukan si jelek itu. Kau bahkan memejamkan matamu."
"Putain (sialan), Max! Kenapa kau mempermasalahkan hal-hal kecil seperti itu?" gerutu Wulan sembari memegangi kepalanya.
"Penting. Aku menganalisa bahasa tubuhmu untuk mengetahui apa yang kau rasakan."
Dasar seniman. Wulan memaki dalam hati. Hampir saja ia tak bisa menahan senyumnya. Namun demi melihat wajah Max yang masih tampak tegang, ia pun mencoba sekuat tenaga untuk tidak meloloskan senyumnya itu.
"Max ... sudahlah, untuk apa meributkan hal-hal kecil. Kita bukan anak kecil lagi." Wulan memutar bola matanya. "Aku, bukan anak kecil lagi." Ia meralat kata-katanya.
Max masih memasang muka suramnya. Ia kembali menghisap rokoknya lalu membantingnya ke lantai dan menginjaknya. Wulan menghela napasnya pelan, lalu memungut puntung rokok yang setengah hancur itu dan memasukkannya ke dalam tong sampah yang terletak tak jauh dari tempat mereka berdiri.
"Mau mampir ke apartemenku?" tanya Wulan.
"Je sais pas (aku tidak tahu)," sahut Max dingin.
Wulan mendecak sebal. "Allez (ayolah)!" ujarnya sembari menarik tangan Max dan membawanya melangkah kembali menuju gedung apartemennya.
__ADS_1
Ia terus membawa Max masuk ke dalam apartemen tanpa melepaskan pegangan tangannya.
Wulan melepaskan jaket Max dan menggantungnya di wall hooks di dekat pintu. Lalu mengelus lengan Max dengan lembut. Menariknya perlahan menuju sofa dan menyuruhnya duduk di sana. Ia memosisikan dirinya di samping Max.
"Hei, belum selesai marahnya?" tanya Wulan sembari mengelus pipi Max dan membawa wajah pemuda itu menghadap ke arahnya.
"Belum," sahut Max singkat.
Wulan mencebik. Lalu memicingkan matanya. Ia melepas mantelnya dan melemparnya sembarang. Kemudian dengan gerakan pelan ia naik ke atas pangkuan Max dan perlahan meloloskan kaos yang membungkus tubuh rampingnya.
"Merde, merde (sial, sial)!" maki Max demi melihat tubuh Wulan yang kini hanya terbalut pakaian dalam dan legging tipis.
"Masih marah?" tanya Wulan sembari menghadiahi kecupan di leher Max, lalu merayap ke bibirnya dan memagutnya dalam-dalam.
"Tidak," engah Max sembari membalas pagutan Wulan dengan tak kalah dalamnya.
Ia mengangkat tubuh Wulan dan membantingnya pelan ke atas sofa. Lalu memosisikan dirinya di atas Ibu Gurunya itu.
"T'es facile (kau gampang sekali)," ucap Wulan.
Wajah tengil Max mulai kembali. Ia menyapu lidahnya ke leher Wulan, menggigitnya pelan, lalu merayap turun ke dadanya. Berhenti sejenak untuk memberi sentuhan di puncaknya yang menantang, kemudian mulai menuruni perut ratanya, lalu turun lagi dan melepas legging serta pakaian dalam Wulan hingga kelututnya. Ia memandangi bunga mekar milik Wulan sejenak dengan tatapan takjub dan penuh damba.
"Max ...."Ia memanggil Max dengan napas terengah. "Viens ici (kemari)," lenguhnya.
Max merangkak naik. Meraih kedua tangan Wulan dan menguncinya di atas kepala.
"Tu m'aimes (apa kau mencintaiku)?" engahnya seraya mengangkat dagunya menikmati sentuhan-sentuhan bibir Max yang berkelana di leher dan dadanya.
"Beaucoup (sangat)," bisik Max. Ia memasuki Wulan dengan hati-hati. Menghasilkan lenguhan panjang dari bibir Wulan. Tubuh rampingnya bergerak sesuai ritme gerakan tubuh Max dalam harmoni.
Cakaran-cakaran halus menggores di punggung kokoh Max seiring dengan suasana yang kian larut dalam bahagia yang membuncah.
Pagutan, gigitan-gigitan kecil, lenguhan, sofa yang berderit.
Estrogen, testosteron, progesteron, menguap menyebar ke seluruh penjuru ruangan. Membuat benda-benda di sana yang menjadi saksi persatuan mereka, mengamini.
You drive me insane with desire.
If you taste how delicious you are with my mouth.
If you knew how madly I want you to enjoy us.
__ADS_1
Max terkulai di atas tubuh Wulan sembari menciumi pundaknya dengan lembut. Tangannya membelai rambut panjang Wulan yang acak-acakan.
"Max ...."
"Oui (ya)," jawab Max dengan mata terpejam.
"My sweetest little guy (pria kecil termanisku)," gumam Wulan sembari memeluk pemuda itu.
"I'm not "little" (aku tidak "kecil")," kekehnya.
Wulan mendecak sebal.
"Wulan ...."
"Ya?"
"Apa si jelek itu memperlakukanmu sepertiku?"
"Mmm ... kadang iya, kadang tidak. Tergantung dengan moodnya. Dia punya mood swing yang berlebihan."
"Sudah jelek, lalu bodoh!" maki Max masih dengan mata yang terpejam. "Menyia-nyiakan kreasi alam seindah ini."
Wulan tergelak. "Dia tidak bodoh. Hanya saja ... entahlah, aku tidak tahu apa isi kepalanya."
"Jangan membelanya," sergah Max.
"Aku tidak membelanya," tampik Wulan. "Kenapa kita harus membicarakannya?"
Max mengangkat wajahnya. Lalu mendekat pada kening Wulan dan menyapunya dengan bibirnya.
"Aku ingin menghapus semua jejaknya di tubuhmu," ujar Max sembari mengangkat badannya dan bersiap untuk menjamah Wulan kembali.
"Non, Max, pas encore (jangan lagi)!" Wulan mendorong wajah Max menjauh, di sela-sela tawa bahagianya.
***
***
***
Untuk siangmu yang panas 😁😁
__ADS_1