
Tuh.. kan semuanya gak gratis kalau di samping Daddy 🙄🙄
"Ternyata kamu tambah berat Hima sayang, perasaan dulu tidak seberat ini?" Daddy menciumi pipiku dengan gemas sambil ia cubit-cubit.
"Daddy.. gak lucu!"
Aku lega ternyata Daddy tidak berbuat macam-macam, aku pikir tadi apa sampai daddy bersuara begitu dengan kata-kata Daddy tidak kuat Hima, Daddy.. Haduh.. Hima, apa yang sedang kamu pikirkan? sadar oke sadar jangan gara-gara perbuatan Daddy selama ini dan juga gara-gara vidio kamu jadi ingin begituan.
Tapi jangan senang dulu pasti beberapa detik kemudian.
Aku merasakan kakiku di buka lebar dan saat aku lihat ternyata Daddy berjongkok.
"Daddy mau ngapain?" tanyaku panik aku langsung menutupi area sen..si..tif..ku.
Daddy malah tersenyum.
"Daddy hanya melihatnya saja!" ia menyingkirkan tanganku.
Aku yang di buat malu hanya bisa menutupi kedua mataku dengan telapak tangan tapi tetap saja aku malu.
Aku merasakan tangan Daddy melepas penutup terakhirku, sebab malam ini aku kebetulan mengenakan baju tidur dan yang lebih sialnya bukan celana yang aku kenakan melainkan terusan.
Jadi, dengan mudah Daddy menyingkapnya.
Pagi hari.
"Daddy.. apa hari ini Daddy tidak berkerja?" aku membangunkannya Daddy yang lumayan sulit di bangunkan dari tidurnya.
"Masih ngantuk sayang!" jawab Daddy.
"Aku siram pakai air ya Daddy." Aku tidak main-main dengan ucapanku.
Aku langsung mengambil air putih yang berada di atas meja.
Byur
"Sayang.. tuhkan jadi basah Daddy." Daddy gelagapan.
Salah sendiri tidak bisa di bangunkan, jadi terpaksa aku siram deh.
"Daddy lagi ngelawak ya, kalau di siram pakai air mesti basah Daddy tapi kalau di siram pakai bara api pasti panas Daddy dan gak bakalan basah juga," aku bersedekap.
Berdebat dengan Daddy sekarang adalah hobi baru ku. Rasanya enak gitu ada perdebatan kecil meski terkadang meresahkan juga sebab Daddy juga tidak mau kalah.
__ADS_1
Pengen tanya sesuatu lagi pada Daddy takut mood ku sendiri jadi buruk pagi-pagi.
"Kamu.. ini." Daddy gemas dengan tingkah ku yang menggemaskan.
Sejenak aku lupa dengan pertanyaan-pertanyaan yang hendak aku ajukan pada Daddy, aku beranjak pergi saja siap-siap ke kantor Daddy pagi ini.
"Daddy di anggurin?" tanyanya saat aku beranjak pergi.
Aku menatap Daddy.
"Iya.. Daddy, lagian aku persiapan untuk masa depanku agar aku tidak menyesal di kemudian hari Daddy!" jawabku tersenyum manis.
Aku lihat Daddy menghela nafas sambil menahan sesuatu, mungkin Daddy hendak ke kamar mandi.
PT. PERMADANI GEMILANG.
Hari ini hari yang sangat cerah untukku.
Daddy begitu perhatian denganku sampai para karyawan di kantor baper sendiri, sebab selama ini Daddy tidak pernah dekat dengan wanita. Bahkan membawa wanita saja tidak pernah sekali pun aku lihat, cuma denganku saja Daddy bersikap begini.
Semua orang menyapa dan aku hanya mengangguk sambil ku sembunyikan senyum bahagiaku. Semoga badai segera pergi, meski aku belum tau perasaan Daddy yang sesungguhnya tapi aku bahagia menjadi perempuan yang di hargai sampai detik ini, walaupun ke mesu..man Daddy belum sembuh.
"Ayo." Daddy mengajakku masuk ke dalam lift pribadinya.
Aku hampir terlupa jika sekarang tugasku bukan sebagai putri Daddy tapi sekretaris Daddy yang baru.
"Eh.. maaf Daddy, Hima tidak begitu mendengarnya bolehkan Hima minta pertanyaan itu lagi," aku cengengesan saja.
Daddy hanya melihat dan memilih tidak bertanya lagi dan seperti sebelum-sebelumnya Aan berkerja di luar ruangan sedangkan aku bersama Daddy satu ruangan.
Perasaanku gak enak loh ini, sumpah aku gak bohong. Ada yang aneh dari tatapan Daddy bahkan aku tidak bisa menebak apa yang sedang Daddy pikirkan tentangku, semoga Daddy tidak berpikir aneh-aneh.
Setelah tadi malam itu aku merasa seperti di manfaatkan, lagian kenapa sih Daddy ngecek segala dia pikir aku ini suka berbuat macam-macam dan menggunakan itu untuk macam-macam apa. Kesel dan malu banget saat di cek Daddy tadi malam.
"Kerja yang rajin jangan ngelamun terus kesayangannya Daddy." Daddy memberikan aku secangkir susu coklat.
Aku menatap Daddy lalu ke cangkir itu.
"Terimakasih Daddy," ucapku tersenyum lalu Daddy mendekatkan wajahnya.
"Terimakasih yang benar itu seperti ini Hima."
Cup
__ADS_1
Cup
"Sampai yang punya puas" sambungnya dengan bahagia.
Apa sekarang jamannya beginian, kalau mengucapkan terimakasih pakai cium sampai puas kah?
"Terserah Daddy saja, lagian kehidupan Hima hanya Daddy yang boleh menentukan kesana dan kesini. Benarkan Daddy."
Aku sedikit menegaskan kehidupanku yang aku sendiri saja tidak boleh menentukan pilihanku sendiri.
"Daddy tidak bermaksud mengekang kamu Hima.. Daddy cuma takut kamu meninggalkan Daddy, Daddy hanya punya kamu di dunia ini. Daddy tidak punya yang lain lagi selain Himalaya yang sekarang ngambek di depan Daddy-nya sendiri," lemah, lesu dan tertindas.
Haya.. sejak kapan Daddy begini, apalagi pose wajahnya menggemaskan sekali.
Hatiku ini jangan di buat meleleh dong Daddy tampan dan tajir ku.
"Terserah dengan Daddy asalkan besok aku boleh keluar maka aku akan berpikir jernih, apakah Daddy selama ini mengekang kehidupan Hima atau tidak, maka dari itu Hima tidak akan pernah berpikir jika Daddy mengekang Hima."
Sudah cukup aku sebagai gadis polosnya Daddy, sekarang aku harus bisa mengendalikan Daddy sampai daddy di pelaminan entah dengan pengantin wanitanya siapa, yang penting misi ku harus sukses sampai Daddy menikah.
"Baik Daddy izinkan tapi bawa beberapa orang untuk melindungi kamu sayang," selalu saja Daddy begini.
Apa aku ini masih anak bayi yang polos di lindungi, aku sudah dewasa Daddy. Seandainya aku tidak pernah bertemu dengan mu Daddy pasti kehidupanku tidak begini, aku kemanapun yang aku mau tanpa harus adanya pelindung.
"Iya.. iya.. Daddy."
Aku tau Daddy takut kehilangan aku, tapi.. ya sudahlah dari pada nanti ada apa-apa di jalan malah aku terkena hukuman lagi.
"Good.. gadisnya Daddy," dia senang sekali sedangkan aku sebel.
Aku rasanya hilang semangat, padahal baru tadi aku semangat sekali untuk berkerja dengan Daddy sebab sudah lama Daddy pergi tanpa kabar malah, eh.. wong cuma beberapa hari ko aku selebay ini rindu dengan Daddy.
Setelah selesai berkerja aku memutuskan untuk pergi jalan-jalan sebentar dan ternyata Daddy ikut lagi, seperti dulu saat aku masih duduk di bangku SMA.
"Sudah lama kita tidak ke situ? apa kamu tidak rindu dengan makanan kaki lima itu."
Aku mengangguk, memang sudah lama aku tidak makan di tempat itu dengan Daddy.
"Hima." Panggil seseorang yang membuat Daddy menggertakkan rahangnya.
Aku liat Daddy mengepalkan tangannya. Aku menahan Daddy agar dia tidak gegabah lagi seperti dulu.
•
__ADS_1
Baru juga mau romantis-romantisan eh.. ada yang ganggu.
Yuk.. tinggalkan jejak yang baik, terimakasih sudah berkenan mampir dan meninggalkan dukungannya 🥰🥰