Hot Daddy Dan Gadis Polosnya

Hot Daddy Dan Gadis Polosnya
Bab 12


__ADS_3

Kesadaran Daddy.


Sebuah salon berdiri megah di depan mata, aku kira tadi Daddy mau melampiaskan amarahnya di ring tinju ternyata malah ke salon kecantikan.


Lucu sekali Daddy sekarang, pilih jaga penampilan agar terlihat menawan dan juga tampan.


Apa Daddy punya tambatan hati diam-diam di belakangku? tapi siapa. Apalagi akhir-akhir ini Daddy suka sekali berdandan dan mengenakan parfum berlebihan bahkan selalu menyuruhku untuk memilihkan pakaian mana yang cocok di gunakan hari itu juga.


"Daddy lagi jatuh cinta ya? ada seseorang yang Daddy suka." Ledekku pada Daddy ketika Daddy hendak turun dari mobil.


Daddy langsung berhenti di tempat.


"Iya,"


Secepat kilat Daddy kabur dari hadapanku sebelum aku bertanya lebih banyak lagi.


"Daddy." Percuma saja aku teriak Daddy sudah masuk ke dalam salon kecantikan itu.


Aku mencibir Daddy pelan, "buat apa coba dandan dan tebar pesona tapi ujung-ujungnya gak bawa pasangan di rumah dan cuma asik menggangguku saja ini itu, di tambah lagi tangannya selalu traveling setiap hari."


Kalau di tanya orang mengapa kamu tidak marah dan tidak lapor ke pihak berwajib, aku pun juga tidak tau kenapa. Yang jelas aku merasa sangat nyaman ketika aku di samping Daddy, aku bahagia.


Saat masuk ke dalam salon aku langsung di sambut oleh pegawai salon dengan ramah tamah seperti salon-salon kecantikan sebelumnya juga sama seperti ini.


Skip


"Dad." Aku melirik sekilas wajah Daddy yang berseri-seri sekali.


"Iya, ada apa kesayangannya Daddy?" begitu tega tidak melirik ku sama sekali.


Sudahlah.. lagi pula ini sudah malam dan aku mengantuk sekali, kenapa AC mobil mendadak seperti obat tidur ya.


"Haaahh..." Aku menutup mulutku yang terbuka lebar.


Ezra tersenyum melihat Himalaya tertidur, sengaja ia perlambat sedikit agar Himalaya lebih puas tidurnya malam ini.


"Maafkan Daddy sayang, Daddy tidak bermaksud menyembunyikan semua kisah ini. Daddy takut kamu benci dan pergi dari Daddy sayang."

__ADS_1


Ezra mengangkat tubuh Himalaya dan menggendongnya.


Sesampainya di kamar Ezra melepas sepatu yang di kenakan oleh Himalaya.


"Tahan.. tahan.. jangan gegabah Ezra, jika dia tau kamu apa-apakan kamu harus bagaimana menanggapinya, ya.. kalau dia bertanya kalau dia kabur dan tidak kembali kamunya gimana. Bukankah kamu akan kehilangan dia selama-lamanya. Harus.. slow.. oke"


Ezra menahannya meski sudah tidak bisa di tahan, sudah lama ia menjadikan Himalaya sebagai korban fantasinya di dalam kamar mandi.


Setakut itu Ezra memiliki Himalaya, takut gadisnya lari dan tidak mau kembali menatapnya dan tidak mau di sampingnya lagi.


Himalaya sudah masuk ke dalam mimpi terindah, di dalam mimpi ada seorang laki-laki yang sangat mencintai dirinya namun ada noda darah di tangan laki-laki itu.


Ia ingin mendekati laki-laki itu tapi dia menolak dengan alasan ada darah di tangannya yang tidak bisa hilang dengan mudah, banyak korban akibat ulah yang tak sengaja ia perbuat.


"Kenapa aku tidak bisa mendekati kamu? bukannya kamu mencintaiku dan menyayangiku." Ucap Himalaya dalam mimpinya.


laki-laki itu hanya menggeleng saja, wajahnya tidak terlalu jelas tapi wajah itu sepertinya pernah ia lihat dan ia sentuh tapi siapa?


Sedangkan di rumah sakit Yuda merasakan perih di wajah dan perutnya.


"Sialan aki-aki tua itu, mentang-mentang berkuasa atas nama Himalaya. Seenak jidatnya tidak memberikan laki-laki lain peluang untuk merebut hatinya Hima, tidak bisa.. Hima begitu cantik dan pintar pasti kalau dia menikah denganku pasti hidupku lengkap dan bahagia. Soal harta meski tidak sekaya Daddy-nya aku masih sanggup ko membiayai dia jika dia mau, lagian cinta bisa datang belakangan yang terpenting sekarang merebut perhatiannya dulu."


Keesokan harinya.


"Ah.. segarnya, rasanya tubuhku enakan ringan dan.. ko dingin ya? perasaan tadi malam aku."


Aku buka selimutku sebelum aku teriak, apa-apa an ini. Kenapa aku full naked, ku lihat di sampingku ada Daddy.


Aku dan Daddy sama-sama full naked.


"AAAA... DADDY."


aku sengaja teriak sekencang-kencangnya, lagian kenapa ada pria dewasa yang tak lain daddy ku satu ranjang denganku full naked lagi, gimana kalau RT setempat tau berita ini bukannya aku akan langsung di nikahkan saat ini juga.


"Sayang, kamu sudah bangun?"


Tanpa rasa bersalah dan berdosa ia bicara begitu dengan mudah dan ringannya.

__ADS_1


"Apa yang Daddy lakukan pada Hima?" tanyaku sesenggukan.


Entah mengapa aku merasa sangat kecewa pada Daddy, kenapa tanpa izinku Daddy begitu tega berbuat begini padaku. Apa aku ini hanya gadis pungut di jalan lalu sesuka hati sang pemungut di apa-apakan begitu.


"Sayang.. sayang.. dengarkan Daddy dulu sayang. Daddy benar-benar tidak melakukan hal apa-apa pada kamu Hima!" jawab Daddy tanpa sadar jika itunya kelihatan.


"Terus.. itu apa?" aku mendelik.


"Em.. Daddy cuma ngempelin doang sayang gak masuk.. beneran..!" aku tidak percaya dengan ucapan Daddy benarkah tidak macam-macam.


"Daddy bohong."


Terus saja aku kecewa dengan Daddy, tapi aku tersadar jika...


"Sumpah.. Daddy tidak berbohong sayang. Daddy tidak melakukan apa-apa pada kamu sayang, asal kamu tau Daddy cuma nempel doang gak masuk,"


Ku tatap kedua kakiku, sudahlah jika memang ini benar-benar terjadi padaku. Lagi pula aku hanya seorang gadis yang kebetulan di selamatkan oleh Daddy dari jalan, sudah sepantasnya aku sedikit berbalas budi pada Daddy.


"Daddy jika memang benar daddy melakukannya.., Hima tidak apa-apa Daddy. Hima akan menyerahkan milik Hima semuanya untuk Daddy, Hima rela Daddy."


Ezra bak di sambar petir.


Bleder


Gadis kesayangannya berpikiran begitu, berpikiran jika diri ini segitu tidak punya malu. Seharusnya ia lebih mengontrol diri terutama tangan ini, meski tidak sampai kejadian tapi tangan ini adalah saksi bisu kenakalannya pada Himalaya, awalnya hanya penasaran seperti apa rasa dan aroma dari tubuh Himalaya saja namun tanpa dirinya sadari bahwa itu menjadi kebiasaan barunya.


Ezra memeluk erat tubuh Himalaya.


"Maafkan Daddy sayang, Daddy benar-benar tidak melakukan itu. Daddy sekuat tenaga menahan itu sebab Daddy sendiri tau kamu belum bisa menerima Daddy jika Daddy tidak memperjelas status."


Aku mengangguk, jika Daddy seperti ini berarti Daddy benar dia tidak sedang berbohong sama sekali. Tidak seharusnya aku berpikiran sempit begitu pada Daddy.


"Mulai sekarang Daddy ingin kesayangannya Daddy menganggap diri ini bukan hanya Daddy saja, tapi lebih dari seorang Daddy pada putrinya,"


aku mencerna perkataan Daddy yang begitu ambigu sekali, kenapa tidak langsung pada intinya sepertinya perlu di pertanyakan perasaan Daddy padaku. Padahal sejak sekolah dulu sampai lulus kuliah semua teman-teman juga tau jika Daddy sepertinya mencintaiku lebih dari seorang Daddy pada putrinya.


__ADS_1


Terimakasih atas dukungannya, jangan lupa tinggalkan jejak ya 🥰🥰


__ADS_2