
Sebelum membaca harap tinggalkan like dulu ya, terimakasih banyak 🥰🥰
•
Ayolah Daddy jujur. Kenapa sih main kucing-kucing an dengan ku, tau gak sih Daddy sebenarnya? menunggu seorang laki-laki mengungkapkan perasaan itu sulitnya minta ampun.
Apa perlu aku bertindak lebih dulu dan sedikit berani, enggak deh nanti di kira salah pergaulan semenjak kerja.
"Daddy bicara apa sih, Hima benar-benar tidak mengerti Daddy. Oh.. ya Daddy jika nanti aku punya kekasih Daddy ingin aku mencari kekasih dan calon suami seperti apa dad?" tanyaku pada Daddy sengaja.
Aku juga penasaran si benua kutub ini sebenarnya pernah merasakan getaran jatuh cinta atau tidak sih dengan lawan jenisnya, gak mungkin kan Daddy suka dengan sesama.
Daddy langsung membelalak, seperti ia cukup terkejut dengan ucapanku barusan yess setidaknya Daddy sedikit menunjukkan rasa cinta, eh.. bukan sedikit kalau bisa yang banyak deh biar gak sia-sia penasaranku ini.
"Seperti Daddy kalau bisa!" jawabnya membuatku tertawa nyaring.
"AA.. HA.. HA.., enggak mau Daddy masa aku sama pasanganku nanti usianya sama Daddy. Aku dan harapanku berharap jika aku dapat pasangan usianya tidak jauh berbeda denganku Daddy, agar nanti saat tua kita tidak jomplang istilahnya."
"Seperti itukah keinginan kamu mencari pasangan, berarti Daddy tidak termasuk dalam kriteria kamu sayang?"
Daddy langsung memalingkan wajahnya dan menutup mulutnya rapat-rapat.
"Maksud Daddy, Daddy ada rasa dengan Hima sejak dulu begitu. Atau hanya tebakan Hima saja, jawab Daddy."
Aku memang memaksa Daddy untuk jujur, takutnya aku lelah dengan perasaan ku sendiri yang sering menerka-nerka jika Daddy ada perasaan lebih pada ku.
Daddy menatapku lagi dan ia tersenyum.
"Kita nikah yuk," ajakan Daddy membuatku terkejut sekaligus terharu.
Sejak kapan Daddy pandai berbicara begini, setahu aku Daddy tidak pernah serius. Sungguh beruntung wanita yang pernah menjadi kekasih Daddy, kalau mantannya tau Daddy seperti ini pasti menyesal sekali.
"Daddy," aku malu sekali.
Tidak dapat ku pungkiri jika aku juga mencintai daddy, tapi raga ini masih takut. Meski Daddy begitu baik dan perhatian lebih padaku tapi masih ada nenek buyut yang akan melakukan segala hal yang tidak terduga bahkan saat berada di dalam keadaan hubungan baik-baik.
__ADS_1
Teringat saat Daddy cerita, bahwa nenek buyut Anisa tidak tau diri. Demi ambisi jadi orang kaya ia melakukan berbagai macam cara termasuk membuat kakek Daddy terberat sampai menikah dan melahirkan papanya Daddy.
"Bagaimana jawabnya sayang, maukah?" tanya daddy berulang, sepertinya pertanyaan Daddy sudah berkali-kali tak terhitung lagi.
"Iya!" jawabku sambil mengangguk.
Memang aku bermimpi di lamar laki-laki, tapi sungguh tidak menyangka jika laki-laki yang melamar ku dadakan adalah seorang yang menyelamatkan hidupku dan dengan seribu ke baik kan nya aku bisa merasakan kasih sayang.
Skip
Hari ini aku dan Daddy fitting baju pengantin, tubuhku di ukur sana sini agar pas dan cocok dengan gaun idaman ku dan juga Daddy, kesukaan kami berdua hampir sama jadi apapun yang kami lakukan berdua akan cepat selesai, sebab kami selalu memiliki kriteria yang sama.
Setelah selesai mengurus kelengkapan surat-surat pernikahan aku dan Daddy langsung kemari tanpa basa basi lagi. Soal gedung dan yang lainnya sudah beres.
Aku kira akan sulit memilih baju tapi ternyata semudah ini, padahal banyak simpang siur di luaran sana banyak calon pengantin wanita dan pria sering ribut pasal baju pengantin.
Orang-orang seperti itu mana bisa membuat rumah tangganya terasa nyaman dan tentram jika isinya hanya ego masing-masing, kasihan jika ada anak yang terlahir tapi dalam keadaan hubungan ke dua orang tuannya tidak sehat dalam artian sering ribut hal-hal yang tidak perlu di ributkan besar-besaran jika masih bisa di bicarakan baik-baik.
"Sudah selesai ?" Daddy menatap gaun pengantin yang sedang aku coba, cuma coba bukan berarti aku akan mengenakan gaun ini.
"Daddy kedip kan mata, jika tidak mata Daddy akan perih sebab terlalu banyak debu yang mampir dan masuk ke dalam mata."
Aku berusaha memperingatkan Daddy agar matanya tidak sakit.
"Dasar ya.. kesayangan Daddy ini, Daddy tidak berkedip sebab melihat pemandangan yang begitu luar biasa cantik sekali," sempat-sempatnya Daddy mencium bibiku sekilas.
Apa tidak bisa di kondisikan sebentar bibirnya itu, aku malu di perlakukan seromantis ini. Tapi.. mau gimana lagi terlanjur juga sudah terjadi malu ya aku tanggung sendiri bukan.
"Kenapa tidak di balas baby?"
Aku menepuk jidat sambil geleng-geleng kepala.
"Apakah Daddy sehat siang ini? apa Daddy tidak melihat wajahku memerah sebab tuh!" jawabku sambil ku tunjukkan orang-orang yang sekarang menonton adegan gratis ala drama-drama yang terkenal.
"Tentu saja Daddy se.., e.. he.. he.. maaf Daddy khilaf sebentar. Lupa Daddy jika kita berada di ruangan penuh orang."
__ADS_1
Semua orang terkejut dengan sikap Ezra, baru kali ini orang terhormat seperti Ezra tidak tau malu jika sudah kenal yang namanya cinta. Seolah-olah lupa daratan dan menganggap penduduk bumi hanya ngontrak sebentar.
Plak
"Dasar Daddy gak bisa nahan,"
Terus saja kejadian-kejadian yang kami lewati hampir setiap malam membuatku hampir lepas kendali, aku belum siap menerima Daddy beberapa waktu saat kami bersama, aku takut sebab kami belum menikah.
Apalagi saat Daddy memberiku cincin waktu itu, aku hampir terbuai dengan bujukan Daddy meski ia sering menyentuh dan mengecek secara rutin.
"Jika dengan kamu Daddy tidak bisa nahan sayang, maka dari itu kita percepat pernikahan kita." Bisiknya seketika membuat bulu kuduk ku berdiri.
Apa ini maksudnya, sabar.. sabar kewajiban seorang istri harus patuh pada suami asalkan yang menjadi panutan baik dan benar, jika salah ya di ingatkan. Intinya saling mengingatkan saja, sebab hubungan rumah tangga berjalan 2 orang bukan satu orang saja.
"Daddy.. sudah jangan menggoda aku, jadi tidak baju pengantinnya." sedikit kesal.
"Jadi dong, mau yang ini atau buat yang baru?" Bisiknya lagi.
Aku harus berpikir matang-matang, jika bajunya tidak segera jadi bisa gawat aku kebobolan sebelum menikah, setidaknya jika sudah menikah aku lega. Sebab dari dulu angan-angan ku mahkota yang aku miliki aku berikan pada suamiku jika bisa tapi setelah menikah, aku berharap begitu.
"Ini saja Daddy, ini gaun terbaru dan belum ada yang pernah mengenakannya, aku mau yang ini!" aku memeluk gaun ini.
Meski sedikit tidak rela aku lepaskan dari tubuhku, nyaman dan tidak terlalu berat di gunakan. Sangat nyaman sekali.
2 hari kemudian.
"Daddy.."
"Jangan panggil Daddy jika tidak ingin Daddy hukum,"
"Tangan Daddy jangan main-main.. Uh."
"Sebab kamu terus menerus memanggil calon suamimu dengan sebutan Daddy.. maka terimalah hukuman dariku, kesayanganku," Daddy membuat air menjadi deras saja.
•
__ADS_1
Hay.. semuanya, terimakasih ya sudah berkenan mampir jangan lupa kasih dukungannya ya🥰🥰