
Jangan lupa sebelum membaca tinggalkan like dulu ya, terimakasih banyak 🥰🥰
•
Berusaha mengingat kejadian yang lalu.
Aan yang berada di luar pintu hanya bermonolog menirukan gaya bicara Ezra yang sekarang bucin tingkat tinggi, dulu saja gengsinya gede banget saat Himalaya masih duduk di bangku sekolah. Setelah lulus kuliah S1 baru kelihatan tuh gelagat naf..su gak ketulungan nya.
"Kesayangannya Daddy,apa kamu tidak merasa sepertinya Daddy di umpat orang deh akhir-akhir ini ?"
"Masa sih Daddy, sepertinya perasaan Daddy saja!"
Aku jawab begitu saja, lagian jika ada orang yang membicarakan tentang Daddy itu hal yang wajar saja Daddy. Laki-laki mapan, tampan dan memiliki segalanya tapi tidak pernah mengandeng wanita lain selain gadis kesayangannya.
Terus.. secara tiba-tiba memberikan pengumuman tentang pernikahan, tentu saja mereka shock dan terkejut mendengar Daddy mau menikah padahal calonnya saja belum pernah di bawa ke kantor atau ke tempat lainnya.
Di tambah lagi ternyata istrinya adalah anak gadisnya sendiri, untung saja mereka secepatnya tau jika aku bukan anak kandungnya Daddy.
"Tapi.. perasaan Daddy tidak dapat di pungkiri sayang, pasti orang-orang sedang membicarakan Daddy yang menurut mereka seperti tidak ada wanita lain saja sampai-sampai gadis yang ia rawat sendiri saja di jadikan pendamping."
Aku terdiam, memang benar perasaan Daddy sekarang.
Sebab saat aku keluar dari ruangan Daddy banyak yang membicarakan aku, ko bisa-bisanya tidak tau malu setelah di rawat sejak kecil tiba-tiba saat dewasa naik ke ranjangnya.
Pasti menggunakan tubuh untuk naik tahta, meski sudah bersama bertahun-tahun. Sehingga daddy-nya tidak bisa berpaling ke wanita lain dan memberikan kesempatan pada wanita lain untuk merebut hatinya.
Kalau aku sendiri bodo* amat dengan gunjingan orang-orang, seandainya mereka tau bukan aku yang naik ke ranjangnya dan menggodanya pasti malu sendiri sudah mencibirku, tapi.. biarkan saja yang penting aku tidak merebut suami atau kekasih orang. Yang aku cintai orangnya masih singel ko.. jadi apa salahnya coba?
Ketika sore tiba.
Sedangkan di rumah Nenek buyut Anisa banyak orang berlalu lalang menyiapkan ini itu, sepertinya ia akan menghadiri acara pernikahan cucu tercintanya, siapa lagi jika bukan Afzal Ezra Permadani satu-satunya keturunan Permadani yang masih hidup dan sehat tentunya.
💬 Tolong di angkat telpon nenek
Himalaya mengerutkan dahinya saat dirinya tanpa sengaja melihat ke layar ponsel milik Ezra, bahkan sudah lebih dari 10 kali ponsel itu berdering.
__ADS_1
Tapi sengaja tidak di angkat, Himalaya begitu takut mengangkat telpon dari Anisa.
"Daddy kesayangannya Hima, dad.. ini ada pesan dari nenek buyut. Apa tidak mau angkat dulu, jangan-jangan ada yang penting."
Aku berusaha membujuk Daddy, lagian sedendam-dendamnya pada orang yang lebih tua kenapa tidak berbesar hati menerima dengan ikhlas, meski aku tau di dalam hati tetap ada rasa sakit yang luar biasa sekali.
"Apa sebaiknya di angkat dulu Daddy ?" tanyaku ragu-ragu.
Pasti sekarang perasaan dab amarahnya meluap-luap, tapi jika tidak di angkat bukannya kita sebagai orang yang lebih muda tidak menghormatinya.
Hem.. aku bingung sendiri jadinya, mau menghormatinya tapi.. resiko yang aku terima sangat besar.
Bisa saja aku kehilangan Daddy, kalau aku sampai termakan bujuk rayu Nenek buyut Anisa.
"Tidak perlu.. yang ada malah mengacaukan pernikahan kita yang tinggal menunggu hari saja, sudah cukup dulu kedua orang tuaku yang jadi korban tidak untuk kita berdua. Biarkan saja dia sampai sujud-sujud di lantai tidak akan aku biarkan dia menganggu dan merusak acara kita sayang!"
jawaban Daddy tidak dapat di ganggu gugat lagi,aku iyakan saja selagi membuat pernikahan ini lancar sampai hari h terjadi.
"Iya Daddy, demi kebaikan bersama. Apa hari ini Daddy ada rencana ke makam orang tua kita?" tanyaku langsung di iyakan oleh Daddy.
Saat di dalam mobil, Ezra mengemudi sendiri. Sedangkan orang-orang yang ia percaya ada yang mengikuti dari depan ada juga dari belakang dan juga samping, mereka terlihat natural bukan seorang kaki tangan dari Afzal Ezra Permadani.
"Daddy, bisa tidak sih orang-orang Daddy di kurangi jumlahnya."
"Tidak bisa sayang, itu semua demi keamanan kita berdua. Apa kamu lupa jika nenek lampir itu punya seribu satu cara demi tujuannya tercapai sempurna, maka dari itu Daddy mengerahkan banyak orang tapi dengan cara natural seperti ini," aku terdiam saat Daddy menjelaskan itu.
Aku terkadang juga takut saat Daddy mengajakku latihan menembak, ya kalau jauh dari rumah. Lokasinya saja masih satu lingkungan dengan rumah, aku juga bingung sih.
Dulu sewaktu kedua orang tuaku masih hidup aku juga penasaran dengan kotak besar yang berada di salah satu ruangan rumah, aku ingat dengan betul jika kedua orang tuaku memiliki beberapa senjata ta..jam.
"Sayang.. lagi mikirin apa?"
Pertanyaan Daddy membuatku terperanjat.
"Tidak ada Daddy!" aku menggeleng kuat untuk menutupi jika kenangan masa laluku mulai terlihat sedikit demi sedikit.
__ADS_1
Tapi.. aku tidak bilang ke Daddy, aku ingin memastikan itu semua pelan-pelan. Apalagi soal kecelakaan kedua orang tuaku waktu itu, sepertinya aku pernah mendapatkan informasi tapi.. dimana ya aku letakkan informasi itu?
Himalaya bertarung dengan pikirannya berusaha mengingat-ingat semua, meski belum jelas tapi ia ingat betul dimana kejadian itu.
Lebih baik kapan-kapan aku ajak Daddy jalan-jalan deh, meski terasa mustahil jika mengulangi tempat kejadian sepuluh tahunan lebih itu masih menyisakan sedikit bukti akan kecelakaan itu.
"Beneran tidak ada sayang? kamu tidak berbohong kan sama Daddy."
Himalaya mengangguk.
Ia usap rambutku dengan lembut.
"Ya sudah jika tidak mau cerita pada Daddy tidak apa-apa, lebih baik kita fokus ke pernikahan kita oke,"
"Siap Daddy kesayangannya Hima." Aku mengembangkan senyumku.
Meski hatiku sakit tidak apa-apa, andai saja saat itu kecelakaan tidak menimpa kedua orang tuaku pasti sekarang kami hidup bahagia dan saling tertawa, sebenarnya aku juga ingin tau kenapa orang itu.
"Aw.. sakit." Aku memegang kepalaku yang sakit sekali.
Kenapa ini terasa sakit lagi, bukannya kemarin-kemarin sudah sembuh. Tidak mungkin kan aku datang bulan lagi, anehnya kenapa setelah aku mengingat-ingat masa lalu justru kepalaku terasa sakit.
Apa aku pernah hilang ingatan? tapi Daddy bilang aku ditemukan di pinggir jalan dengan kondisi kepala di perban, saat Daddy tanya namaku aku juga masih ingat aku menyebutkan namaku Himalaya.
Ini.. ini .. semua terasa aneh sekali.
"Sayang.. sayang.. dengarkan Daddy, jangan banyak berpikir oke. Kita ke rumah sakit ya," Daddy begitu perhatian tidak mungkin jika Daddy pelakunya.
Mungkin hanya kebetulan dan firasat yang tidak pasti ini, yang menyebabkan aku berpikir jika Daddy ada sangkut pautnya dengan kecelakaan kedua orang tuaku.
Sebab antara kejadian kecelakaan kedua orangtuaku dan Daddy menolongku waktu itu hampir berdekatan.
•
Terimakasih sudah mendukung karya emak🥰🥰
__ADS_1