Hot Daddy Dan Gadis Polosnya

Hot Daddy Dan Gadis Polosnya
Bab 64


__ADS_3

"Benar sayang, Daddy sudah tidak nyaman di bagian ini sayang. Bagian pusat milik Daddy, apa kamu mau Hima sayang?" pertanyaan macam apa ini dad.


Kenapa bertanya tentang itu sih, apa gak sadar jika istrinya kalau di goda selalu malu.


"Apa Daddy lupa dengan janji Daddy ?" sambil ku mainkan jari lentik ku di dada bidang Daddy.


"Janji yang mana sih sayang, perasaan Daddy tidak bikin janji deh!" jawabnya pura-pura lupa.


"Dad.. jangan pura-pura lupa loh, janji adalah hutang dan hutang harus di bayar. Bukankan begitu Daddy."


"Iya.. iya.. Daddy akan cerita tapi tidak sekarang, Daddy akan cerita saat kita sudah di rumah dan kamu mau tidur nanti malam oke.. apa kamu setuju sayang?" Daddy menyatukan dahi kami berdua.


Ya sudah jika daddy bilang begini aku harus jawab apa coba, mau menolak tapi sudah terlanjur menagih janji Daddy yang tadi katanya ingin membuat cerita dongeng.


Aiya.. seperti anak kecil yang minta di dongeng in tiap malam, haduh.. anak kecil dadakan lagi ini ceritanya.


"Baiklah dad, jika begitu hima mau istirahat dulu dad. Capek!" jawabku pergi menuju ke kamar pribadi milik Daddy.


Kamarnya bikin nyaman di tambah lagi ada aroma Daddy di dalam kamar ini, Uh.. sungguh membuatku nyaman dan tenang sekali.


Ezra tersenyum devil, Himalaya tidak tau jika sedari tadi setiap gerak geriknya di awasi betul oleh sang suami, bahkan dari cara berjalan dan menyibakkan rambutnya ke belakang serta tatanan poni yang begitu pas di wajah chubby dan cantiknya itu di tambah lagi postur tubuh Himalaya pas tidak terlalu tinggi dan tidak pendek dan tubuhnya sangat bagus meski sekarang sudah berisi, intinya pas di lihat oleh Ezra.


"Sial.. kenapa jadi traveling kemana-mana sih pikiranku, stop Ezra jangan minta jatah kali ini cukup hari ini oke. Kalau besok harus tapi kalau sekarang jangan deh meski buat semangat menjalankan hari tapi ada anak aku yang harus aku jaga dan tidak sering-sering aku jenguk, kasih kalau sering aku jenguk takutnya kangen dengan aku terus menerus lagi."


Ucap Ezra kepedean sekali, belum tentu iya mau kamu kunjungi Ezra.


Himalaya membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur king size dan Hem.. aromanya begitu menyeruak sampai dirinya masuk ke dalam mimpi padahal baru saja membaringkan tubuhnya dengan merentangkan kedua tangannya dan ke dua kakinya tak lupa.


Saat di alam mimpi ia sepertinya memimpikan Ezra suaminya tengah memadu kasih dengan dirinya, entah itu mimpi atau nyata yang jelas dirinya menikmati percintaannya dengan Ezra suaminya.


"Daddy.. a..h.. jangan memainkan aku seperti ini Daddy, pelan-pelan Daddy." Tanpa sadar Himalaya menikmati itu.


Himalaya terbuai dan ia pun merasa seperti wanita yang paling bahagia sekarang, mimpinya kali ini mimpi paling liar yang pernah ia mimpikan seumur hidupnya.


"Apa kamu menyukainya sayang?" tanya Ezra pada Himalaya.


"Suka Daddy, suka!" jawabnya kegirangan tapi entah mengapa ia enggan untuk bangun dari tidurnya.


"Dasar nakal, mimpi apa kamu sayang sampai segitunya." Ezra terheran-heran.


Cup


Cup


Cup


Himalaya justru menarik tangan Ezra sampai Ezra mengungkung dirinya di bawah.


Rayuan seperti ini tidak akan di sia-siakan oleh Ezra begitu saja ia akan menyenangkan dan memberikan kenyamanan serta kepuasan tersendiri pada istrinya.


"Sayang.. jangan salahkan Daddy, kamu sendiri yang mengajak Daddy." Ezra terengah-engah menahan gejolak yang sedari tadi bangkit di tubuhnya.


Lagi pula istri sahnya apa salahnya jika dirinya mengauli istrinya.


Ezra yang lelah dengan permainan dengan sang istri yang ternyata begitu agresif dalam mimpinya.


"Aku akan mengintrogasi mu nanti sayang, kenapa dalam mimpimu kamu begitu sangat liar kelinci putih kecilku." Ezra mencium kening, lalu kedua kelopak mata Himalaya, pipi kanan kiri lalu jatuh pada bibir seksi milik istrinya.


"Selama tidur siang sayang," menutupi tubuh full naked Himalaya dengan selimut.


Waktu 15 menit bukannya waktu yang singkat untuk bermain sendirian, meski ya.. sang istri masih di alam mimpi.


Himalaya merasakan kedinginan seperti dirinya tanpa sehelai benang apapun, beneran atau tidak sih. Ia pelan-pelan membuka matanya.

__ADS_1


"Sepertinya aku tadi mimpi begitu liar, nyata enggak sih?" tanya pada diri sendiri dan belum sadar seratus persen.


Ia menggaruk kepalanya yang terasa gatal.


Aku mengerjabkan mataku berkali-kali, ini.. ini.. benarkah aku habis bercinta? tapi dengan siapa apakah Daddy atau orang lain. Mampus aku.. jika bukan dengan Daddy lalu dengan siapa, di tambah lagi ada suara orang mandi di kamar mandi.


"Aku.. TIDAK." Teriakku dengan kencang.


Ezra yang masih menikmati mandinya terkejut saat mendengar suara teriakan Himalaya.


"Sayang.. ada apa?" ikutan panik sampai lupa jika dirinya full naked di depan Himalaya.


"Daddy.. jadi Daddy yang tadi ada di dalam mimpiku, syukurlah jika daddy!" jawabku bernafas lega, tapi.. tunggu kenapa wajah Daddy sepertinya marah begitu.


"Iya, Daddy ingin bertanya padamu sekarang tidak ada penolakan." Ezra mengambil handuk dan melilitkan handuk itu sebatas pinggangnya saja.


"Maksudnya Daddy apa?"


bingung lah aku baru bangun sudah full naked tapi masih saja di interogasi oleh Daddy, Daddy ini apa-apaan sih setelah membuatku seperti ini malahan aku yang di pojokan begini ini tidak adil bagiku aku tertekan dan aku tersiksa jika seperti ini sekarang.


"Tadi sebelum Daddy melakukannya, kamu memimpikan siapa dalam tidurmu, sampai-sampai kamu memanggil-manggiku sayang?"


Aku memutar bola mataku, jika aku memanggil Daddy ya berarti nama kamu dad kenapa begitu saja Daddy bertanya sih. Hah.. aku harus menjelaskannya apa coba, yang seharusnya banyak tanya itu aku kenapa jadi Daddy sih yang tanya-tanya terus padaku.


"Memimpikan Daddy, sudah puas dad!" acuh tak acuh.


Ezra tersenyum manis.


"Sampai segitunya memimpikan Daddy ajak bermain panas-panasan di atas tempat tidur"


"Enggak ya dad, siapa juga yang begitu mendambakan mimpi liar begitu. Malu kalau orang lain yang mendengar dan ia melihat secara live nya." Aku menyangkal lagi, padahal benar kata Daddy aku tadi sempat membayangkan percintaan kami berdua di tempat kerja.


Belum pernah aku dan Daddy melakukannya, meskipun tadi baru saja tapi aku kan dalam keadaan tidur bukan sadar sepenuhnya. Apa tadi aku juga mengeluarkan suara mendayung-dayung.


Tangan Himalaya di genggaman erat Ezra seakan takut lepas dan lari.


"Daddy.. kita mau kemana, sepertinya ini jalan menuju ke pemakaman?" tanyaku pada Daddy.


"Iya benar sayang, yuk kita kesana dan mengunjungi kedua orang tua kita sayang," ajakan Daddy aku iyakan.


Lagi pula aku rindu dengan mereka, hanya foto kecil yang aku punya sedangkan yang besar ada di rumah papa dan mama yang selama ini Daddy rawat rumah tersebut, kata Daddy sayang jika rumah di biarkan terbengkalai dan menjadi sarang makhluk halus dan juga hewan-hewan buas lainnya.


Kita tidak tau jika rumah yang di tinggalkan itu penuh dengan yang namanya kenanga, entah itu pahit ataupun manis intinya pahit manis kehidupan, belum lengkap jika tidak merasakan asamnya kehidupan begitu kata orang-orang tua dulu-dulu.


Lebih baik di rawat dan di jaga kebersihannya juga agar sewaktu-waktu jika kita rindu maka kita bisa mengunjungi mereka.


"Terimakasih Daddy, Daddy begitu baik dan peduli padaku. Hima sangat bersyukur bisa bertemu Daddy meski awalnya Daddy menyembunyikan semua hal yang sangat sensitif itu dariku, tapi aku memakluminya Daddy . Mungkin Daddy mencari waktu yang tepat agar aku bisa menerima dan mencernanya dengan baik, bukan dengan emosi dan egois." Ujar ku pada Daddy.


Daddy mengangguk terharu.


"Terimakasih banyak sayang, meski awalnya Daddy merawat kamu lantaran rasa bersalah yang besar ini, tapi jujur Daddy tidak ingin di hantui rasa bersalah terus menerus makanya Daddy jujur, jika kamu menerima Daddy bahagia dan bernafas lega jika tidak Daddy pasrah sayang. Selain itu Daddy juga menunggu ingatan kamu pulih dengan baik sayang," jelasnya padaku.


Tidak masalah jika Daddy punya masa lalu begitu, seandainya Daddy tidak ceroboh waktu itu aku juga tidak akan menjadi wanita paling bahagia dan sempurna di dunia ini bukan, meski banyak kekurangan ku tapi aku sadar jika semua makhluk hidup tidak ada yang sempurna.


Aku dan Daddy saling berpelukan satu sama lain, aku sedikit meneteskan air mata sebab terharu pada kehidupanku yang kata orang sangat mulus tanpa hambatan meski aku tau di luaran sana banyak yang iri dan mendoakan hubungan rumah tanggaku tidak baik-baik saja, tidak apa-apa semoga kembali pada orang yang mendoakan itu ya.


Sebelum ke pemakaman aku membeli bunga untuk semua yang ada di pemakaman termasuk teman-teman Daddy.


"Dad.. bagaimana dengan kehidupan keluarga dari teman-teman Daddy?" tanyaku pada Daddy.


Belum pernah aku membahas ini sampai aku ingin tau secara detail tentang keluar dari sahabat-sahabat Daddy yang sudah meninggal itu.


"Mereka,semua sudah ikhlas dan rela sayang. Daddy hanya membantu sepantasnya saja tidak lebih dari itu sayang, meski beberapa kali dari orang tua sahabat-sahabat Daddy hendak menjodohkan putri mereka dengan Daddy sebagai gantinya, Daddy tidak suka di paksa ataupun terpaksa sayang jadi.. Daddy menolaknya dengan baik dan halus agar mereka semua tidak tersinggung sayang." Penjelasan Daddy bisa ku terima dengan akal sehat sebab Daddy bercerita tanpa ada yang ditutup-tutupi dariku.

__ADS_1


"Terus sampai sekarang apakah masih tetap sama dad?" tanyaku terlanjur kepo loh ya.


Aku tidak memaksa Daddy bercerita semua, tapi si syukuri deh jika Daddy blak-blakan cerita masa lalunya yang begitu pedih bagi Daddy menyaksikan kecelakaan hebat bahkan kedua orang tuaku juga ada di sana meski ya aku juga tidak tau saat kejadian apakah kedua orang tuaku di bunuh dan di biarkan di jalan tengah hutan.


"Sama dalam apa maksudnya sayang? menjodohkan putri mereka sebagai ganti balas budi begitu,biar Daddy balas budi begitu sayang ?"


"Ya Hima kepo aja sih dad, takutnya tiba-tiba anak perempuan dari para orang tua sahabat-sahabat Daddy datang, kan nanti aku dapat saingan lagi. Salahnya Daddy sih.. kenapa memiliki wajah tampan rupawan, wajah Daddy bahkan bukan orang Indo seperti aku!" cemburu sih dengannya, apalagi Daddy ini kalau senyum.


Uh.. tampan sekali, pokoknya bersyukur deh dapat Daddy tapi aku gak mau berbagi loh ya cukup aku saja yang menikmati keindahan Daddy yang menurutku tiada duanya.


Nanti kalau anaknya laki-laki bisa jadi saingannya Daddy, tapi kalau perempuan ya tentu saja sainganku ee.. he.. he.. aku gak mau di duakan.


"Kenapa salah Daddy lagi sih sayang, Daddy gak minta ko dulu saat pembagian wajah malah dapat seperti ini sayang, bahkan lebih selain tampan mempesona juga kaya raya aa.. ha.. ha.." di akhiri dengan tawa nyaring Daddy.


Sebel deh kalau kesombongan CEO dominasi menempel dan kumat lagi.


Aku males deh kalau begini, sombongnya itu loh gak ketulungan. Untungnya aku sudah kenal dengan kesombongan yang Daddy milikku jadi aku gak terkejut-terkejut amat musuh dengan Daddy.


"Ya ampun.. jika orang seperti ini banyak di dunia aku akan pilih yang lain deh, selain Daddy. Lagian Daddy mes.um begini untuk apa coba, kalau aku sih lebih baik wajah biasa-biasa saja,"gumam ku lirih.


Tapi ternyata telinga Daddy sudah besar alias di pertajam pendengarannya.


"Kamu bilang apa barusan sayang, wajah biasa-biasa saja dan gak mes.um. Oh.. no sayang tidak ada satu pun di dunia ini yang tidak berpikiran mes.um seperti Daddy apalagi kalau sudah menikah dengan sang pujaan hati, pasti tingkat ke mes.umannya berkali-kali lipat sayang dari Daddy." Sangkalnya tidak mau kalah.


Aku tau itu dad.


"Baiklah-baiklah dad, jika Daddy bicara begitu Hima bisa apa coba," ku angkat kedua pundakku.


"Ya menyangkal begitu sayang, atau bicara apa gitu. Masa menyerah sih berdebat dengan Daddy "


"Bukannya menyerah dad tapi malas Daddy," memang ya meladeni Daddy yang bercandanya berlebihan ya begini jadinya aku yang di buat kesal olehnya.


"Kenapa malas, bukannya jauh lebih menyenangkan sayang bicara tanpa henti dan jeda?" mendekatkan wajahnya ke wajahku.


Kenapa punya suami satu hobinya begini amat sih.


"Huss.. diam dad, jangan mengajak Hima berdebat lagi. Kita sudah sampai ke pemakaman!" jari telunjukku ku arahkan ke bibir daddy.


"Maaf sayang"


"Iya dad, ayo kita doakan orang tua kita dan juga teman-teman Daddy." Ajakku pada Daddy.


Daddy mengangguk.


Pemakaman tetap seperti sebelum-sebelumnya, tatanan rapi bahkan sama persis seperti sebelumnya. Aku pikir setelah di perbaikilah akan berbeda ternyata rumah papa dan mama masih sama, aku bahagia meski.. aku juga merindukannya.


Lebih baik ku doakan mereka semua, pemakaman ini sangat berarti untuk ku dan juga untuk Daddy. Tunggu.. siapa yang menaburi bunga di bagian sana itu, mungkin kerabat dari sahabat-sahabat Daddy.


Setelah selesai aku mencolek lengan Daddy.


"Eh.. iya sayang, ada apa. Apa ada yang ketinggalan ?" Daddy ternyata belum sadar sepenuhnya.


"Dad.. tadi Daddy yang menaburi bunga di atas pemakaman sahabat-sahabat Daddy ?" tanyaku keheranan dong tentunya.


"Bukan sayang, Aan tadi datang lebih dulu kemari dan Daddy yang menyuruhnya tadi!" bohong Ezra pada Himalaya.


Sengaja ia berbohong demi kebaikan, pasti ada yang tidak beres ini. Siapa yang datang ke pemakaman padahal baru saja selesai di renovasi tapi kenapa ada orang yang lebih dulu mendahului dirinya berdoa dan menaburkan bunga.


Apa jangan-jangan keluarga dari sahabat-sahabatnya, tapi siapa? Ezra bingung dan bertanya-tanya pada dirinya sendiri dan sempat mengabaikan sang istri yang masih penasaran.


"Oh.. Aan lebih dulu datang, tumben punya pemikiran tulus dia. Apa jangan-jangan mengharapkan bonusnya bulan ini tidak hangus ya dad. Dad.. Daddy.. ih.. aku di cuekin lagi, pasti melamunkan sesuatu yang main rahasia-rahasiaan lagi dengan ku."


Himalaya ngedumel di abaikan, ia memilih melarikan diri dan masuk ke dalam mobil saja.

__ADS_1


__ADS_2