Hot Daddy Dan Gadis Polosnya

Hot Daddy Dan Gadis Polosnya
Bab 59


__ADS_3

Ezra memeluk Himalaya dengan kuatnya, tidak mungkin ia akan berbagi pada istrinya. Istrinya tidak tau apa-apa tentang permasalahan hatinya.


"Gak baik loh mendiami suami." Daddy menyatukan dahinya ke dahi ku.


Secara otomatis nafas kami saling berhembus satu sama lain, nafasnya hangat benar-benar nyaman di tambah lagi bau mint sepertinya Daddy habis makan permen deh. Biasanya kalau Daddy makan permen selanjutnya..


Aku mengedipkan mataku berkali-kali.


"Daddy jangan."


"Jangan apa coba?" masih sempat-sempatnya bertanya, Daddy jangan buat aku luluh lagi dong.


Usahamu kurang sungguh-sungguh Daddy.


"Jangan menggodaku dad, lagian kenapa Daddy tidak mau jujur padaku dad?" aku tidak sabaran dan langsung to the poin pada Daddy.


Meski cara ini tidak efektif sebab aku bertanya dalam keadaan sedikit emosi dan kecewa terhadapnya yang tidak mau jujur, seolah-olah enggan berbagi denganku.


Terus.. aku ini artinya apa di hatinya, istri atau bukan sih.


"Harus jujur yang mana lagi sih sayang!" jawabnya di iringi senyuman palsu untuk mengalihkan perhatianku agar aku tidak bertanya lagi.


Daddy pikir aku masih anak kecil umur tujuh tahun apa, umurku sudah hampir dua puluh tiga tahun bukan anak kecil lagi meski aku sadar terkadang bahkan sering aku seperti anak kecil yang tidak bisa apa-apa.


Maka dari itu, aku merubah diriku sedikit demi sedikit agar aku tidak di pandang rendah oleh siapapun itu termasuk kamu dad.


"Yang barusan, masa sudah lupa sih dad. Bukannya berbohong itu dosa apalagi menyembunyikan sesuatu hal yang besar lagi." Ish.. mulutku ini kenapa seperti oli saja licin banget bicaranya.


Ya Allah semoga Engkau selalu melindungi hamba mu yang dalam posisi seperti hamba ini Ya Allah.

__ADS_1


Ku selipkan doa, semoga.. semoga.. Daddy luluh dan mau jujur padaku.


Meski sudah ku baca artikel yang ada di internet, tapi rasanya berbeda dan belum puas sama sekali aku. Aku ingin tau jika Daddy ku pojokan begini apa dia tetap bungkam atau memilih jujur padaku.


"Huh.." Daddy hanya menghela nafas saja, apa ini jawabannya.


Maksudnya malas meladeni aku kah sekarang, sebab aku banyak tanya. Padahal selama ini aku tidak menuntut mu apa-apa dad, tapi setelah kejadian aku memasak kemarin dan secara kebetulan Daddy bertemu mantan cinta pertama yang menolak Daddy, Daddy jadi berubah dan aku merasakan jelas itu dad.


"Jika tidak mau cerita tidak apa-apa dad, aku akan memaklumi semua itu dad. Aku tau ada beberapa privasi yang harus Daddy jaga untuk diri Daddy sendiri,tapi.. jujur saja dad Hima sangat sedih Daddy tidak mau jujur pada Hima.


Apakah Hima tidak ada artinya sama sekali untuk Daddy, apa Hima hanya istri yang Daddy ajak senang saja sedangkan Daddy ada masalah hanya Daddy sendiri yang pendam tanpa mau berbagi.


Bukannya berbagi itu lebih baik dad, dan dapat membuat hati dan pikiran menjadi lebih terbuka lagi ?" tanyaku pada Daddy.


Wajah Daddy sedikit pucat, kenapa harus pucat segala sih dad. Lalu pingsan dan aku tidak bertanya apa-apa lagi, tidak bisa aku harus menuntaskan ini semua aku bisa dengan permainan teka-teki mu dad.


Permainan teka-teki ini hanya khusus untuk anak kecil yang dalam masa perkembangan otak agar daya pikirnya semakin luas dan cerdas, sedangkan untuk ku tidak lagi.


"Daddy tidak bermaksud begitu sayang, tenangkan pikiran kamu sayang dan juga pikirkan anak kita yang sedang kamu kandung sayang !" jawaban ini lagi dan ini lagi.


"Aku bosan dengan jawaban kamu seperti ini dad, Hima tidak mau mendengar alasan yang sama dan berbelit-belit lagi dad, ayolah dad jujur tidak perlu bersembunyi dariku." Aku kesal sekali loh punya suami yang senang bersembunyi seperti ini.


Sudahlah aku juga lelah, lebih baik aku pejamkan mata saja aku pusing melihat tingkah Daddy yang usianya semakin tua tapi pikirannya semakin anak kecil baru masuk sekolah dasar.


"Baiklah, tapi kamu jangan marah ya."


"Iya, jujur saja dad tidak usah di banyakin basa basinya,"


"Dia datang ke kantor sebab itu Daddy jadi bad mood sayang." Tuhkan jujurnya begini.

__ADS_1


"Terus.. apa hubungannya dengan Daddy, Daddy masih belum move-on dengan mantan yang tidak pernah Daddy miliki, apa Daddy selama ini jomblo sampai sekarang gara-gara menunggu wanita itu, apa dia suster kemarin?"


ku tahan air mataku yang hendak tumpah, sungguh hatiku sakit bila aku harus mengalah dengan orang lain yang senang di cap sebagai pelakor handalan.


"Memang dia, tapi Daddy sudah menyuruh Aan untuk tidak menerima tamu siapapun itu kecuali kamu dan mama serta Anka sayang !" jawabnya di iringi senyum.


"Jadi.. sikap Daddy sedari tadi itu apa coba maksudnya ?" gak mungkin dong aku percaya.


"Ya.. Daddy ingin mengetes kamu saya sayang,"


Memang sih ada benarnya tapi.. hatiku tidak yakin.


Ting


Ku buka ponselku dan mataku seketika langsung membulat semburan, dan mulutku tidak ku buka aku tidak ternganga dengan apa yang sedang aku lihat.


"Benarkah? terus ini apa dad?" ku tunjukkan saja foto dari salah satu karyawan yang aku percaya berkerja di kantor Daddy.


Supaya aku tau gerak-gerik Daddy selama di luaran sana terutama kantor milik Daddy, memang aku posesif ya sebab aku ingin memberikan hak yang pantas untuk anakku yang belum lahir, aku tidak apa-apa tidak mendapatkan hak ku secara utuh bahkan istimewa, setidak anakku harus memperoleh haknya secara utuh.


"Aku beneran sayang sudah menyuruh Aan untuk mengusirnya, Daddy benar-benar tidak tau jika dia masih di situ dan tidak mau pergi!" panik sekali kami dad.


"Santai dong dad, jangan panik begitu. Aku cuma tanya ko, kenapa Daddy panik." Aku menggeser tempat dudukku, bukan tempatnya tapi tubuhku.


Rasanya lelah menghadapi Daddy dan sikap-sikap Daddy yang selalu sembunyi-sembunyi, tau begini dulu aku tidak ingin mengenalmu dad.


"Daddy gak panik ko sayang, panik dari mananya coba. Daddy biasa-biasa saja ko gak panik," gak panik tapi keringat dinginnya kenapa keluar.


"Tuh.. usap dulu dad, peluhnya banyak." Ku berikan tisu yang berada di dashboard mobil pada Daddy.

__ADS_1


Apa sebegitu menariknya main kucing-kucingan, setidaknya jika tidak cinta bilang aku akan sadar diri jika aku bukan tipe mu dad, dan biarkan aku rawat anak kita sendirian aku masih bisa dan mampu.


"Yang.. kenapa kamu menghindari Daddy sih, Daddy bicara jujur sayang Daddy tidak berbohong padamu sayang. Percayalah sayang." Ia meraih tanganku.


__ADS_2