
Sebelum membaca harap tinggalkan like dulu ya🥰🥰
•
Paket..
Paket..
Aku melihat ada seseorang yang berteriak teriak dengan menyebut kata paket.. paket.. terus, paket siapa sih?
Himalaya mendekat ke gerbang utama kediaman Permadani.
"Iya.. ada yang bisa saya bantu?"
tanyaku saat sang kurir itu membacakan nama.
"Atas nama nona Himalaya ya, alamat jalan bunga Anggrek gang nol dua nomor sembilan."
Kurir itu membacakan semua alamat dengan jelas, bahkan detail.
"Iya.. dengan saya sendiri," aku bingung dong paket dari siapa coba, perasaan aku gak pesan paket semenjak aku lulus kuliah.
Perasaan aku gak punya deh saudara jauh, apa mungkin dari Daddy. Aneh gak bisa-bisanya Daddy begini ngirim paket segala, jika ingin memberi pasti secara langsung dan tidak semisterius ini.
"Ini nona.. ada paket untuk nona, tanda tangan di sini nona."
Aku terpaksa menerima paket itu.
"Terimakasih ya, saya terima paketnya," aku segera pergi saja.
Paket ini aku buka atau tidak ya? apa perlu aku menunggu Daddy saja. Lagian pagi-pagi begini Daddy pergi joging nya lama banget tumben.
Ko aku merasa jadi horor begini ya? paket dari siapa coba, terlalu misterius bahkan aku juga tidak tau dari siapa pengirimnya.
Aku melihat Daddy baru masuk ke dapur, sebab aku sekarang berada di dapur dan sedang menikmati secangkir susu.
Daddy mendekatiku.
"Kesayangannya Daddy, maaf tadi lari dari kamu." Ia duduk tepat di depanku hanya bersebrangan dengan meja makan.
"Hem," aku cuek dan memilih segera menghabiskan susu lalu ku putuskan segera kembali ke kamar.
Daddy terkejut kan dengan perubahan sikapku ini padanya, rasain makanya jadi orang jangan suka lari dari kenyataan jika akhirnya menyesal sendiri.
"Sayang.. jangan tinggalkan Daddy, kita perlu bicara sayang."
Daddy berisik di luar kamar dan terus saja menggedor-gedor pintu kamar sambil menyebutkan nama kesayangan padaku.
"Tolong sayang.. jangan begini, maafkan Daddy sayang. Daddy tidak bisa kamu begini kan sayang, sebentar lagi kita akan menikah sayang kenapa kamu begini?" tanya Daddy di luar kamarku, salah sendiri cuek duluan dan main lari-larian.
__ADS_1
Biarlah Daddy berpikir jernih dulu, lagian tinggal lusa kami menikah.
Hari yang di nanti-nanti sudah tiba, kini pakaian rapi Ezra dan Himalaya sudah terpakai. Gaun pengantin yang di gunakan Himalaya sangat cantik dengan perpaduan make up yang di buat senatural mungkin sesuai dengan wajahnya yang cantik jelita.
Dag dig dug.
Huft..
Gerogi banget aku, apa benar hari ini aku akan jadi istrinya Afzal Ezra Permadani. Seorang pria yang merawat ku sejak sepuluh tahun yang lalu kini otw menjadi suamiku dunia akhirat.
Ezra sudah siap-siap mengucapkan ijab qabul atas nama Himalaya, saat mengucapkan ijab Ezra langsung lancar jaya tanpa adanya pengulangan lagi.
Banyak orang yang mengucapkan selamat dan berdoa untuk kelancaran pernikahan kami berdua.
Skip
Setelah acara selesai.
"Sakit sekali kakiku."
Aku memijat-mijat telapak kaki ku yang berdenyut ngilu.
"Daddy pijatkan ya?" langsung duduk di sampingku dan mengangkat satu kakiku yang terlihat sedikit bengkak.
"Boleh Daddy !" jawabku setuju-setuju saja.
Selagi gak berbuat macam-macam ke aku, aku sih oke-oke saja. Tapi.. belum juga aku nyaman dengan pijatan di kakiku aku merasakan ada sesuatu yang aneh.
Aku memberanikan diri untuk melihat benda apa yang berada di sebelah kaki kiriku itu.
Deg
detik berikutnya aku teriak sekencang-kencangnya.
"AAAA... ADA TIKUS MATI."
Daddy yang mendengar aku berteriak begitu kencang langsung terperanjat sebab aku sendiri juga tau jika Daddy takut dengan namanya tikus, apalagi sekarang tikus itu hendak mati. Dia masih kejang-kejang di bawah sana.
"Tikus.. mana tikusnya, mana?"
Raut wajahnya panik.
"Itu Daddy, di bawah kaki!" aku tunjuk tikus yang sedang kejang-kejang.
Daddy sepertinya mau pingsan, wajahnya pucat pasi.
"Sayang.. sepertinya Daddy mau ping.."
Tuhkan Daddy pingsan gara-gara melihat tikus mati, kalau tikus masih hidup juga sama. Alamat.. bakalan perang dunia ini, di tambah lagi kami berdua baru saja selesai dari acara pernikahan kita.
__ADS_1
Daddy pingsan aku berusaha mengendong Daddy semampuku meski badanku rasanya mau rontok satu satu, berat.. badan Daddy berapa sih?
"Huft akhirnya.. sampai juga di tempat tidur, ranjang king size ini memang ada manfaatnya gak terlalu tinggi-tinggi banget."
Aku mencari minyak kayu putih atau semacamnya untuk menyadarkan Daddy sambil ku pijat-pijat tangannya.
Semua pelayan sudah berkumpul dan siap-siap menerima sidang perdana lagi malam ini, seperti kejadian dulu-dulu.
Mereka berbisik satu sama lain. Aku diam saja yang penting mereka semua sudah aku kumpulkan bahkan satpam, sopir juga ada. Tanpa terkecuali dua yaitu orang kepercayaan Daddy yang kebetulan hari ini berjaga seorang bodyguard pribadinya.
Daddy masih enggan untuk membuka matanya, antara sengaja atau tidak. Coba aku bisikkan sesuatu deh, semoga manjur.
"Daddy.. ini malam pertama kita loh Daddy, kalau Daddy tidak bangun memang Daddy mau malam pertamanya terganti besok-besok, gak jadi nih angan-angan Daddy beberapa waktu itu?" Bisik ku tepat di telinga Daddy.
Mendadak Daddy membuka matanya, mancur juga nih mulut bicara beberapa patah kata saja langsung membangunkan Daddy dari pingsannya, untung gak punya kaos kaki bau aa.. ha.. ha...
"Daddy sudah bangun!" wajah baru sadar Daddy sungguh lucu dan menggemaskan tidak ada raut wajah garang dan semena-mena yang biasanya ia tampilkan.
Tatapan tajam dan dingin Daddy mulai tersirat, ia menatap satu persatu para pekerja yang ia pekerjakan selama bertahun-tahun itu.
Mereka semua menundukkan kepalanya. Aku yakin pasti mereka sedang senam jantung gara-gara Daddy, dasar Daddy ini.
"Siapa yang bertugas bersih-bersih rumah ini?" tanyanya tanpa basa-basi.
Beberapa orang mengangkat tangan.
"Potong gaji bulan ini dan tidak ada cuti hari raya tahun ini sebagai gantinya. Bubar kalian semua."
Perintahnya tanpa ampun lagi, benar-benar Daddy yang aku kenal begini sesungguhnya jika memimpin bawahannya, dia tegas dan berwibawa pembawaannya.
"Daddy jangan begitu, kasihan mereka mencari nafkah untuk keluarga dan keperluannya sendiri, jika Daddy memotong gajinya bagaimana mereka membahagiakan keluarganya dan untuk dirinya sendiri?" tanyaku manja pada Daddy.
"Gak ada kasih.. kasihan nya pada mereka, lagian kenapa? mereka memang ceroboh kali ini bahkan ada tikus mati di kamar pengantin kita!"
Ternyata belum reda amarah Daddy, awet banget ngambeknya.
"Ayo kita selesaikan urusan kita berdua malam ini."
Daddy langsung menyerang pada intinya.
"Tunggu Daddy, aku.. aku.. aku.."
"Hust.. gak ada alasan lagi kesayangannya Daddy, malam ini terimalah hukuman dari Daddy,"
Dag dig dug
Ya amun benarkah malam ini, tolong...
•
__ADS_1
Emak jadi kasihan ya, beri solusi dong mau bagaimana malam pertama kedua pasangan sejoli yang baru nikah?
Yang panas atau extra panas🤣