
Aku kira seperti drama penolakan dari mertua.
Harus apa aku.
"Ayo masuk."
Daddy mengajakku masuk ke dalam rumah, tapi aku di buat terkejut dengan anak kecil yang menyambut ku, anak ini..
Aku terpesona dengan anak sekecil ini, apakah nanti saat anakku lahir wajahnya sama seperti adiknya Daddy.
"Silahkan masuk kakak cantik." Sambutan anak kecil dan seorang wanita paruh baya.
"Ayo masuk nak, mama senang kalian secepatnya kemari. Saat kami tau kalian kemari tadi kami bahagia dan rindu, akhirnya kebenaran terungkap."
Sepertinya mama Daddy menyimpan banyak luka sendirian.
Aku tersenyum untuk menyapa keramahan mereka, sungguh aku kira aku akan mendapatkan sinis an dari mama Daddy dan adik Daddy ternyata justru sebaliknya, kehangatan dari keluarga ini.
"Ini.. istri kamu nak, kamu sudah menikah?" tanya mama Daddy pada Daddy.
Daddy mengangguk dan bangga memiliki aku, sedangkan aku masih ragu. Tak seharusnya aku ragu pada Daddy, Daddy pria setia dan tidak akan mengingkari janji pernikahan.
"Mama gak percaya dengan aku, aku sudah bilang kakak punya istri cantik dan baik."
Aku terkejut, anak sekecil ini sudah tau banyak hal, apalagi soal pernikahan. Apa ini, apa otak orang-orang kaya semua secerdas ini seperti Daddy dan adik Daddy.
Perasaan otakku juga encer tapi tidak anak kecil yang ada di hadapanku.
"Sekarang mama sudah percaya dengan mu, istri kakak mu memang sangat cantik, ayo duduk," mengabaikan Daddy.
"Terimakasih tante.. maaf.. mama maksudnya." Canggung seketika.
"Tidak apa-apa, ayo.. duduk," ramah tamah.
Tapi.. kenapa waktu itu anak ini berpakaian lusuh dan seperti pengemis saja.
Apa dia sedang menyamar untuk mencari kakaknya, kenapa tidak langsung saja masuk dan bicara terus terang dengan membawa mamanya.
Kami makan bersama sebelum saling berbincang-bincang.
"Ma.. bagaimana keadaan Om?" tanya Daddy pada mamanya.
Ko manggil papanya dengan sebutan om, apa mamanya menikah lagi.
__ADS_1
"Baik, mama malu sekarang sama kamu Ezra."
"Kenapa harus malu sih ma, lagian kenapa mama pergi dan menjauh dari Ezra. Apa mama tidak menginginkan Ezra lagi?" ternyata Daddy mulai menangis lagi loh.
Tenyata segalak-galaknya Daddy dia masih punya sisi kemanusiaan dan kepedulian yang lebih terhadap orang lain, apalagi membuktikan ekspresinya secara langsung.
"Bukannya tidak menginginkan kamu lagi, tapi kamu kan tau sendiri jika om kamu tidak bisa meninggalkan warisan perusahaan papanya, ya.. jadi mau tidak mau terpaksa menjalankan semua demi tradisi turun temurun dan juga warisan!" sedikit menekan kata-katanya.
"Padahal saat itu, Ezra butuh mama Tasya." Nada suara Daddy merendah.
Tasya langsung memeluk untuk melepas rindunya pada Ezra.
"Meski kamu keponakannya Tante, Tante tetap menganggap kamu anak Tante sendiri. Jadi.. jika ada masalah lagi, Tante siap berada di samping kamu sayang," menciumi ubun-ubun Ezra.
Ezra membalas pelukan hangat yang selama ini ia rindukan dari sosok ibunya.
Aku hanya menjadi pendengar dan aku ikut terharu, ternyata Daddy bukanlah anak kandung dari pasangan suami istri yang kami temui. Melainkan keponakannya saja, pantas tadi Daddy menanyakan kabar om nya.
Hampir saja aku salah faham, mama Tasya terpukul dengan kejadian dulu, andai saja dulu ia tidak berada di luar negri pasti saudari kembarnya masih sehat sampai sekarang sebab ia akan melindungi kakaknya dari kejahatan ibu mertuanya.
"Kamu sedang memikirkan apa sayang?" Daddy menepuk punggung tanganku.
Aku terperanjat.
"Tidak Daddy, hampir saja Hima salah paham. Maaf ya dad, Hima tidak tau jika mama Daddy punya saudara kembar!" jawabku sedikit aneh.
Tasya menatap Himalaya.
"Mama lihat sedari tadi kamu terus memegang perut kamu, apa ada masalah dengan makanannya?" pertanyaan mama Tasya.
Belum sempat aku menjawab Daddy sudah mengkode.
"Dia sedang mengandung anak kami ma," Daddy ini, bisa-bisanya berbicara begini.
Tapi aku senang, meski tangannya sedikit nakal dengan sengaja mengusap-usap perutku yang lumayan sensitif.
"Benarkah?" terharu bahagia mama Tasya.
Daddy dan aku mengangguk secara bersamaan.
"Yey.. punya adik.. punya.. adik, kakak. Apa kakak tau, aku minta sama mama untuk punya adik tapi mama bilang mama tidak bisa memberikan aku seorang adik, jadi kakak bolehkan adik yang ada di perut kakak cantik jadi adik Anka?" sambil meminta gendongan sebab merentangkan kedua tangannya.
"Tentu saja, jagoan kakak akan punya keponakan jadi.. yang berada di dalam perut kakak cantik adalah adik kamu!" Daddy menciumi pipi Anka.
__ADS_1
Nama yang bagus, jika perempuan aku beri nama siapa ya?
Lagian Daddy sih mempunyai wajah bukan asli Indonesia tapi ada beberapa campuran dari Turkish dan ada Inggrisnya juga, entahlah aku bingung mengartikannya, yang penting aku dan Daddy sama-sama saling melengkapi dan saling mencintai.
Saat melihat mama Tasya tadi aku tercengang, wanita paruh baya sangat cantik hampir saja aku mengira beliau adalah kakak Daddy yang hilang atau sejenisnya, ternyata malah adik dari mamanya Daddy.
"Jangan melamun sayang." Daddy mengejutkan aku.
"Dad.. kamu mengejutkan aku, aku hanya membayangkan anak kita lahir memiliki wajah seperti siapa kira-kira, kalau mirip Daddy semuanya rasanya aku akan iri deh dad?"
"Kenapa harus iri, bukannya lebih baik mirip Daddy semua!"
"Gak bisa dad, Hima juga ikut andil dalam membuatnya. Harusnya ada mirip-mirip Hima tidak hanya Daddy saja." Sedikit tidak terima jika anak yang aku kandung tidak mirip dengan ku sama sekali.
Aku cantik loh, kalau mirip aku jika perempuan akan cantik. Tapi.. kalau mirip Daddy bukannya jadi tampan nanti anakku jika lahir perempuan.
Apa.. apapun itu aku akan menerima, meski agak kesal sih kalau wajahnya tidak ada aku sedikit pun.
"Sayang.. yang paling penting anak kita lahir dengan sehat dan selamat serta lengkap, itu saja menurut Daddy yang paling penting. Tapi jika anak kita lahir tidak sesuai dengan apa yang kita angan-angan kan, kita harus tetap menerimanya sebab anak juga rezeki untuk kita."
"Iya dad,"
Hingga malam kami masih betah di rumah mama Tasya sampai Anka tertidur di pelukan Daddy, banyak sekali cita-cita yang ingin ia gapai termasuk menjadi profesor, terus menjadi astronot, pilot dan lain-lain.
Daddy tidak tinggal diam ia mendukung seratus persen bahkan seribu persen. Dengan adiknya saja sayang sekali apalagi dengan anaknya, aku bahagia mendapatkan suami seperti Daddy.
Di tempat lain seorang laki-laki dan perempuan bertemu secara pribadi di ruangan privat.
"Bagaimana dengan tawaranku?" tanya laki-laki tersebut.
"Tidak, aku tidak mau melakukan hal itu!" jawabnya menolak.
"Kenapa? apa aku kurang memuaskan?" laki-laki itu semakin mendekat.
•
Berharap dapat like merata, seperti karya tetangga.
Deterjen: Ngarep banget Mak, mimpi jangan siang bolong Mak sekarang belum malam 🤣🤣🤣
Emak: Justru mimpi siang bolong lebih asik, dari pada mimpi malam hari tapi nyatanya tambah sakit hati. Seperti yang kamu alamin sekarang 😂
Pendukung emak: kena mental gak tuh 🤣😂
__ADS_1
Deterjen: ....
Yuk tinggalkan dukungan nya untuk karya ini, meski karya abal-abal dan membagongkan emak tetap semangat ko, empat lima bahkan semangatnya.