
Like nya yuk dan mampir baca lagi ya, terimakasih 🥰
•
"Daddy."
"Hem," hanya itu saja tanggapan dari Daddy, cuek banget.
Kalau aku yang cuek gimana bingungnya, memang minta di manja.
"Dad," sambil tanganku masuk ke dalam bajunya.
Daddy belum ganti pakaian tidur ia masih mengenakan pakaian santai kesehariannya.
"Jangan memancing sayang, apa kamu ingin Daddy hangatkan lagi malam ini hem?" sambil mencolek daguku
"Tidak dad!" tolak ku sambil ku jauhkan sedikit tubuhku.
Aku harap hari-hari kedepannya hubungan kam tetap saja baik, aku tidak ingin anakku menjadi korban keegoisan kedua orang tuanya.
Apa mereka tidak berpikir matang-matang sebelum menyelesaikan suatu hubungan,di tambah lagi anak yang tidak salah menjadi korban.
Ezra menatap wajah Himalaya yang sedang melamun.
"Istri kesayangannya Daddy, kenapa melamun? apa yang sedang kamu pikirkan sayang."
Daddy menyadarkan aku yang melamun dan berpikiran yang tidak-tidak lagi.
"Dad.. jika suatu hari nanti Daddy tidak mencintaiku lagi, apakah Daddy akan meninggalkan aku dan pergi dengan wanita lain dan melukai aku secara terang-terangan dad?" aku penasaran dengan Daddy.
Mungkin saat ini rasa cinta, sayang, peduli, perhatian masih utuh untukku tapi kedepannya namanya manusia biasa juga tidak tau.
Karena aku orangnya suka hawatir jika milikku tapi tidak bisa aku miliki.
"Eh.. kenapa kamu berpikiran yang tidak-tidak sih sayang, percaya sama Daddy asalkan kita sama-sama dan melewati semua ujian bersama Daddy tidak akan pernah melukai kamu. Apa kamu tidak sadar pengorbanan Daddy sangat besar untuk mendapatkan kamu dan kepercayaan kamu, meski Daddy masih berlumuran dengan dosa.. tapi percayalah Daddy hanya mencintai kamu seumur hidup Daddy tidak ada yang lain kecuali kedua orang tua ku dan juga anak kita!" jawab Daddy panjang lebar.
Sungguh aku bahagia, biarkan saja banyak yang iri dan tau tentang suamiku yang terpenting kami berdua selalu menjaga kepercayaan dan keharmonisan rumah tangga kami berdua.
"Terimakasih banyak Daddy." Ku peluk lagi tubuh suamiku yang ideal no kotak-kotak.
"Kenapa kamu mendadak berpikiran begitu sayang, apa kamu merasa Daddy telah menduakan kamu hem?" sambil menciumi dahi ku berkali-kali.
cup
cup
cup
Sampai basah dahi ku di kecup oleh Daddy.
"Bukan begitu dad, hanya pikiranku saja yang berlebihan tentang suatu hubungan dad. Di tambah lagi tadi baru saja lihat drama rumah tangga yang bikin aku sakit hati!" ku tunjukkan Vidio dalam YouTube yang baru saja aku lihat dan tanpa sengaja aku scroll dan ke pencet pula.
Lagi pula asik ko lihat drama yang kata orang-orang membosankan, banyak juga pelajaran dalam hidup bagaimana cara bertahan dan cara mengatasi pelakor atau pun pebinor, sungguh patut di apresiasi drama tersebut.
Selain itu wanita harus mencintai prianya secara wajar jangan sampai tidak wajar dan buta, tapi cintaku untuk Daddy tulus dan berlimpah banyak sampai aku sendiri tidak tau takarannya berapa.
Yang jelas tak terhingga, dia laki-laki hebat dalam hidupku.
"Tuhkan lihat drama itu lagi, kemarin drama sebelah dan sekarang drama lokal yang bikin darah tinggi naik,sayang.. bukannya Daddy sudah pernah bilang jangan menonton drama-drama yang begituan. Jadinya kamu mellow dan berpikiran yang tidak-tidak bukan." Daddy langsung merampas ponsel kesayanganku yang baru.
Kenapa gak sekalian di banting lagi dan aku akan meminta ponsel yang lebih mahal lagi dari sebelumnya.
"Daddy.. jangan di rampas please...,"
aku berusaha merayu Daddy agar Daddy melepaskan ponselku dan mengembalikannya padaku,hampa hidupku tanpa ponsel pintar yang selalu membuatku menangis saat aku menonton drama mellow.
"Harus janji dulu dengan Daddy jika mau ponselnya kembali." Tiba-tiba Daddy memperlihatkan jari kelingkingnya ke aku.
Bagaimana ini jika di suruh janji jangan nonton drama mellow lagi, gak bisa aku gak bisa jauh-jauh dari drama sedih itu. Oh.. no.. Daddy.
Harus berpikir baik-baik jangan langsung setuju dulu yang nantinya bakalan kamu sesali.
Ku tatap sorot mata Daddy yang tajam dan meminta agar aku segera berjanji padanya.
"Janji apa dulu sih.. ini dad?" tanyaku yang seolah-olah enggan menerima perjanjian dan memang aku tidak mau berjanji apa-apa sekarang.
"Janji tidak menonton drama sad ending itu, bukannya sudah pernah berjanji untuk tidak menonton drama itu."
__ADS_1
Daddy mengingatkan itu lagi, tapi ya sudah deh.
"Iya dad, maafkan Hima kesayangannya Daddy. Janji akan mengulangi lagi dad," pasti sebentar lagi aku bakalan di habisi oleh Daddy dan akan kelaparan lagi.
"Tuh.. di minta berjanji saja masih begini, berkilat dan banyak tingkah. Apa seperti ini cara terbaru merayu suaminya hem." Daddy lagi-lagi menyentuh bukit milikku yang memang tambah berisi semenjak aku berbadan dua.
Aku merasa tidak nyaman sebab Daddy melakukannya dengan kasar, aku tidak suka mendapatkan perlakuan yang menurutku kurang gentleman.
"Dad.. sakit, bisa tidak tangannya di kondisikan dulu. Mana ponsel hima?" aku menengadahkan tanganku pada Daddy.
"Tidak boleh untuk malam ini, jika mau ponsel ini harus melakukan sesuatu untuk daddy!" jawab Daddy membuatku malas dan memutar bola mataku.
Pasti di suruh pijit atau hal lain yang membuatku malas melakukannya, apa Daddy tidak melihat aku ini malas bahkan sedang malas untuk di ganggu gugat.
"Melakukan apa dulu dad?" sedikit waspada.
"Sini mendekat pada Daddy!" sambil menepuk lengan kanannya yang kokoh.
Aku mengangguk dan langsung merebahkan diri di sebelah Daddy dengan kepala di lengan kanan Daddy, Daddy juga memperbaiki tidurnya agar ia juga leluasa memelukku dari belakang.
Nyaman.. namun aku merasa gerah di peluk Daddy dan lengan kirinya terasa berat di samping perutku.
"Dad.. Daddy gendutan ya?" tanyaku yang merasakan keberatan di bagian pinggangku.
"Enggak, biasa saja malahan Daddy merasa Daddy tambah kurusan ini!" jawabnya ringan.
Kurusan ko berat begini, yang ada gendutan. Coba besok aku suruh cek berat badan bisa-bisa aku gak kuat saat Daddy me...
Gak jadi cerita yang ada nangis Daddy berpikiran mes.um lagi, barusan saja sepertinya kasih kode untuk hal itu lagi.
Tiap hari main jungkat jungkit dan kuda-kudaan, lelah dan aku memikirkan kondisi bayiku yang sedang aku kandung. Dia juga butuh ruangan untuk bergerak bukan hanya papanya saja yang setiap hari bergerak.
"Kurusan apanya dad, lihat nih lengan Daddy jadi lengan lunak loh dad. Dulu sebelumnya keras loh dad." Sambil ku colek-colek lengannya yang memang tidak sekeras dulu.
"Sudah.. jangan pikiran lengan Daddy yang lunak dan berat badan Daddy, mulai besok daddy akan latihan keras untuk menjaga tubuh ideal Daddy lagi seperti yang kamu mau sayang," Daddy ini mudah tersinggung sekarang.
"Hima tidak bermaksud begitu dad, tapi alangkah bagusnya jika lengan Daddy bergeser dari perutku dad, sesak." Aku berusaha menyingkirkan lengan Daddy.
Kira-kira di luaran sana apa ada yang sama seperti diriku jika di peluk suami akan mengeluh begini dengan banyak alasan, padahal alasannya yang utama tidak bisa tidur jika tertindih lengan besar dan berat, terasa sesak di perut dan kebetulan bernafas menggunakan otot perut.
"Sesak?? maaf sayang."
Malam ini akan ada mimpi paling menyenangkan.
Pagi hari pukul 06.00WIB.
"Sayang mana dasi ku?" Aku tidak salah lihat kah, jam segini Daddy sudah rapi apa jadwal di kantor dan bertemu klien pagi-pagi.
"Ini dad, em.. tumben Daddy jam segini sudah rapi?" Tanyaku sambil ku tatap jam dinding di atas meja rias kami berdua.
"Biar terlihat perfect di depan istriku! apa salah jika Daddy berdandan seperti ini. Bukannya setiap hari Daddy begini sayang," Daddy ini ada-ada saja.
Bilang saja mau ada Anka di rumah dan tidak mau perhatianku beralih ke Anka, gitu saja ko repot di dad.
"Oh ya sayang, mana timbang badan milikku ?" tanya Daddy padaku.
"Timbangan, untuk apa dad ?" aku bingung dong.
Masa sih Daddy mau cek beneran sih, sekarang ini bukan aku yang sensitif tapi sepertinya Daddy yang mulai bertingkah aneh perilakunya.
Ingin makan ini itu di tambah lagi gampang banget ngambek seperti anak kecil, jika moodnya tidak baik dan benar ia akan marah. Kapan-kapan saja aku harus menegur Daddy, untuk sekarang masih bisa di toleransi perilaku Daddy yang cenderung seperti ibu hamil.
"Ya.. untuk menimbang berat badan ku sayang, katanya Daddy tambah gendutan sekarang !" jawabnya di iringi senyum.
"Haduh.. dad jangan banyak senyum di luaran sana, apa Daddy tidak sadar senyuman Daddy bikin diabetes ." Tanpa sadar aku berucap, langsung ku tutup mulutku yang bicara seperti petasan.
Daddy langsung membuka bekapan tangan di mulut ku.
"Coba ulangi" ia meminta mengulang, mengulang apa coba. Barusan itu spontan.
"Tidak dad, tuh timbangannya di bawah kolong tempat tidur." Aku harus mengalihkan pembicaraan.
Bisa-bisa mulutku di sedot Daddy seperti penyedot debu.
"Benarkah, tapi sepertinya bibir merah merekah milikmu ini lebih asik dari yang lain," Daddy semakin mendekat bahkan wajahnya sudah tidak berjarak.
Cup
__ADS_1
"Dad.. em.."
Daddy begitu lincah bermain lidahnya di dalam mulutku, aku hampir tidak bisa mengimbanginya. Daddy terlalu mahir dalam berciuman, ko jadi berpikiran negatif sih.
Rasanya tidak rela jika suatu hari nanti milik Daddy tidak bisa aku rasakan lagi, tapi.. karena sekarang Daddy milikku seorang jadi aku dengan bebas akan meraihnya tanpa terkecuali.
"Ini bonus sayang, sebab istri kesayangannya Daddy mulai pandai mengombal. Daddy senang kamu banyak perkembangan dalam menyenangkan hati Daddy."
Ezra melepaskan tautannya dan melanjutkan lagi sampai tubuh Himalaya hampir merosot sebab harus mengimbangi naf,su Ezra yang mencuat.
"Benarkah, tapi sebenarnya tadi spontan dad buka aku pikirkan sebelum-sebelumnya. Oh.. ya dad nanti Daddy ****** Anka atau gimana?"
aku memberikan dasi pada Daddy agar bajunya kompak dan klop untuk di lihat padahal jam ke langit tidak sepagi ini sebab Daddy seorang presdir bukan karyawan bisa, meski disiplin juga penting sebagai contoh untuk karyawannya.
"Biar di jemput sopir, lagian salah satu sopir dan beberapa pengawal sudah Daddy kerahkan untuk siap siaga. Daddy tidak mau terjadi apa-apa pada Anka dan mama Tasya!" jawab Daddy.
Oh.. sungguh mulia hati Daddy, ia tidak pantas di sakiti semoga Daddy selalu di kelilingi orang-orang baik di dalam hidupnya.
"Ya sudah dad, Hima mau ke kamar mandi dulu. Buang air kecil." Pamitku pada Daddy.
Di tempat lain yaitu pemakaman, semua pekerja berkerja ekstra untuk memperbaiki pemakaman yang rusak akibat orang tidak bertanggung jawab waktu itu, kenapa sih orang sebaik keluarga permadani tapi masih ada aja orang iri, semua orang yang menjaga pemakaman tau jika Ezra orang baik apalagi istrinya, ia juga ramah tamah.
Kling
Ada pesan masuk ke ponsel Ezra, bukan ponsel pribadi melainkan ponsel lain.
"Dari siapa sih, gak ada tulisannya." Ezra mengecek pesan singkat tersebut.
Ternyata dari salah satu pekerja di pemakaman jika pemakaman sudah selesai seratus persen jadi dan sudah siap untuk di ziarah ke makam.
"Syukur lah jika sudah selesai, setidaknya istriku bisa tersenyum lagi dan tidak terus menerus memikirkan makam yang di buat porak poranda, tapi.. kenapa sampai detik ini Aan tidak menemukan informasi siapa yang mengacak-acak pemakaman. Orang itu tidak pantas di ampuni setelah ketahuan mengacak-acak pemakaman, apa dia pikir sopan merusak makam orang lain." Ezra mengertakkan giginya.
Aku keluar dari kamar mandi dan pandanganku jatuh tepat pada Daddy yang sepertinya menahan amarah, ya ampun marah karena apa sih masa gara-gara aku singgung sebab berat badan yang meningkatan. Gak mungkin juga kan marah segitunya, tapi.. mana timbangan badannya biasanya Daddy setelah mengambil tidak akan mengembalikannya.
Tumben masih rapi tidak pindah.
"Dad." Ku sentuh pundak Daddy.
Daddy terperanjat.
"Eh sayang, sudah selesai ke kamar mandi nya?" tanya Daddy yang langsung merubah ekspresi wajah secepat kilat.
"Iya dad!" jawabku tersenyum.
Senyum itu juga penting, selain ibadah senyum juga membuat orang di sekitaran kita juga bahagia dan seperti di segani.
Itu terjadi di negara kita tapi tidak di beberapa negara lainnya, jadi jika ingin tersenyum bebas begini harus lihat kondisi lebih enakan senyum pada suami.
Tok
Tok
Tok
"Dad aku bukan dulu ya pintunya." Pamitku pada Daddy padahal Daddy belum mengizinkan aku untuk membuka pintu.
Ceklek.
Ternyata salah satu pembantu rumah.
"Maaf nyonya, ada den Anka dan mama nyonya besar Tasya." Ucapnya sambil tertunduk.
"Iya terimakasih, bilangin tunggu sebentar ya,"
"Iya nyonya muda, saya permisi."
Aku menghela nafas panjang, sepagi ini padahal aku pikir agak siangan . Aku belum apa-apa, belum mempersiapkan mental juga, meski mama baik tapi aku ingin mama menerimaku di rumah anaknya juga.
Ezra mendekati istrinya.
"Jangan terlalu berlebihan berpikiran yang tidak-tidak ." Daddy ini kenapa bisa tau isi hati ku sih.
Jadi was-was deh mau berpikiran yang tidak-tidak, takut langsung ketahuan dan di interogasi detik itu juga.
"Hima tidak berpikir begitu dad," aku sedikit meninggikan suaraku agar Daddy dengar jelas teriakan ku.
•
__ADS_1
Bagaimana-bagaimana sampai part ini, kedepannya di usahakan 2000 kata lebih ya.
Terimakasih banyak sudah mampir dan mendukung 🥰🥰