Hot Daddy Dan Gadis Polosnya

Hot Daddy Dan Gadis Polosnya
Bab 54


__ADS_3

Aku menyilangkan kedua tanganku sambil memalingkan wajahku persis seperti anak kecil yang marah dan ngambek pada kedua orang tuanya.


Huh..


"Begini ya dad kesukaan Daddy, jika panutannya mes.um berarti aku harus mes.um begitu dad?" coba ku tanya begini.


"Eh.. ngapain begitu, ya.. tidak harus mes.um juga kali sayang, kan tadi Daddy bilang panutan yang baik. Kamu ini ada-ada saja bicara begitu pada Daddy!" sambil tertawa kecil.


"Benar juga ya, tapi... Ya sudah dad." Aku memilih diam.


Bicara ini salah bicara itu juga salah, hanya Daddy saja yang selalu benar.


Sebab diam adalah cara ninja ku untuk menghindari beberapa masalah, dari pada memperkeruh keadaan.


Oh.. ya aku hampir lupa jika Aan di hukum oleh Daddy.


"Dad.."


"Iya, ada apa sayang,"


"Aan masih Daddy hukum?"


"Masih, sesuai dengan keinginan kamu sayang. Apa kamu suka dan bahagia."


"Iya dad," ku peluk tidak terlalu erat tubuh suamiku.


"Tadi.. kamu jadi lihat Aan Daddy hukum sayang? bagaimana suka tidak ?"


Ezra mengusap surai rambut Himalaya.


"Suka dad!" jawabku dan ku lepas pelukan ku pada tubuh Daddy.


"Kamu tadi lihat dimana?" pertanyaan Daddy membuatku melebarkan mataku.


Kenapa Daddy masih pura-pura tidak tahu jika aku melihat melalui layar monitor cctv.


"Daddy jangan pura-pura tidak tahu deh, bukannya Daddy sudah tau aku pergi kemana!" sambil ku manyun kan bibirku yang sudah manyun sedari tadi.


"Beneran Daddy tidak tau sayang, bahkan ponsel saja Daddy tidak memegangnya sayang!" mencari benda pipih di sekitar tempat Daddy berbaring, ia menoleh kesana kemari tapi hasilnya nihil.


"Oh.. iya lupa jika Daddy malah mengambil ponselku tadi saat di dapur, punya Daddy dimana ?" ku bantu mencari ponselnya Daddy.


Tidak mungkin kan saat begini panik ternyata ponsel ketinggalan, jika ada apa-apa bagaimana.


"Lupa sayang.. sepertinya berada di kamar!"

__ADS_1


"Iya dad, Daddy mau makan?" tanyaku menawari Daddy bubur yang sudah ada, sepertinya dari wanita itu.


Ish.. memang meresahkan sekali wanita-wanita itu, apa dia kekurangan pekerjaan tambahan apa.


Untung saja aku gak begitu, amit.. amit jabang bayi jika aku begitu jangan sampai aku dan anak keturunan ku nanti ada yang begitu. Ku usap perutku berkali-kali, takut nanti nular ke anakku selain itu aku tidak mau berlebihan membenci orang itu agar anakku tidak ada miripnya sedikit dengan orang yang aku benci dan orang yang tidak aku sukai.


Tiba-tiba mataku tertuju pada buah berwarna hijau sedikit ada warna kuning yang tidak lain adalah pisang untuk pasien rumah sakit.


"Dad... aku mau ini, boleh ya?" sambil ku tampilkan wajah polos, imut dan menggemaskan andalanku.


Semoga Daddy mempan.


"Mau yang itu? apa tidak mau yang ini." Tiba-tiba saja Daddy membuka selimutnya dan memperlihatkan area selang.kangannya.


"Ih.. Daddy, ini di rumah sakit dad. Jangan coba-coba ceroboh dad," langsung ku tarik selimutnya dan menutupi itunya.


Dasar ya laki-laki kalau sudah mes.um gak bakalan lihat tempat dan waktu, pokoknya gas terus selagi ada kesempatan dalam kesempitan.


"Tapi coba kamu cek sekeliling kamu sayang, tidak ada siapa-siapa bukan?"


Daddy ini, sudah tau tempat umum dan kapan saja ada yang masuk malah sekarang menggoda ku agar aku tergoda, ia pikir aku tergoda apa dengan pesonanya. Enggak lah ya.. maksudnya enggak nolak.


"Iya sepi dad, cuma kita saja. Tapi.. malu dad masa memperlihatkan sesuatu yang seharusnya di perlihatkan pada pasangan sahnya saja!" sepertinya jawabanku salah deh, ralat apa bisa nih. Pasti gak bisa nih di ralat, gawat.. aku dalam masalah lagi sepertinya.


Aku lihat Daddy tersenyum dan senyumnya ini bikin orang mau lari, aku hendak berdiri tapi di cegah oleh Daddy.


"Daddy.." ku tatap dengan tajam.


"Kenapa sayang?" tuhkan pura-pura bodo* lagi.


"Kenapa tanganku Daddy tuntun ke situ dad, keras Daddy !"


"Apa tidak suka?" sambil mengangkat alisnya.


"Suka dad, aku suka sekali!" jawabku kikuk ku remas kuat dan aku segera menjauh saat Daddy meringis sakit di sertai lengah begini.


"Tuhkan.. kamu saja suka punya Daddy, terus kenapa wajah kamu jadi masam begitu sayang. Apa ada yang aneh dan salah dari perkataan Daddy."


"Tidak ada yang salah dad, semuanya benar sekali dad, tapi.. Hima mau makan ini dulu jika Daddy tidak mau makan bubur yang baru datang itu," aku segera memalingkan wajahku.


Pusing melawan Daddy, buat apa coba Daddy selalu melakukan hal ini. Apakah wanita di luaran sana suaminya begini juga, jika tidak puas akan mencari pelampiasan naf.su untuk kepuasan sendiri tanpa mempedulikan istrinya yang sudah ikut berjuang dari nol.


"Aku mau, tapi suapi Daddy ya." Daddy memberikan sendoknya padaku.


Aku hanya bisa menerima sendok itu.

__ADS_1


Kesel deh, apa Daddy tidak bisa melihat jika aku sudah ileran mau makan buah ini. Dasar suami kurang peka saat istrinya pengen makan ini malah di suruh menyuapi, padahal tadi sudah aku tawarkan untuk makan bubur itu.


Baiklah jika ini mau Daddy, siap laksanakan dan membuat Daddy kekenyangan sebab makan bubur rumah sakit


Ku letakkan pisang itu di samping tempat tidur Daddy.


"Hak.. buka mulutnya dad, nasi yang sudah menjadi bubur siap meluncur di mulut Daddy ." Segera ku suap kan buburnya pada mulut Daddy.


Daddy awalnya mau mengunyah dan menelan, tapi ia lagi-lagi menatapku dengan tatapan beringas dan sepertinya ingin menerkam ku.


"Dad.. ada apa, apa Hima kebanyakan menyuapi Daddy bubur?" sedikit ku geser perlahan kursiku.


"Suapi pakai mulut langsung, Daddy ingin merasakan sensasinya, bukannya gara-gara bawang putih kebanyakan ta.."


"Iya.. iya dad, Hima tau. Hima akan bertanggung jawab pada Daddy, apa Daddy puas."


"Puas sekali jika istri kesayangannya Daddy benar-benar melaksanakan permintaan Daddy barusan," tersenyum devil.


Jahat sekali Daddy hobi mengerjai ku demi kepuasannya sendiri.


Terpaksa deh aku buka mulutku sendiri dan aku menyuapi Daddy dari mulut ke mulut, semoga tidak ada yang melihat kegiatan kami.


Ceklek.


Mama Tasya terperangah melihat pemandangan yang seharusnya tidak di lihat oleh Anka, putranya. Mama Tasya langsung menutupi kedua mata anaknya, agar adegan dewasa yang seharusnya tidak boleh di lihat anak sekecil Anka.


"Mama.."


Ini.. ini.. suara Anka, mati aku ada Anka pasti ada mana Tasya juga. Malu..


Wajah Himalaya dan Ezra sama-sama merah padam menahan malu, padahal sedikit lagi has.rat milik Ezra bangkit dari tidurnya.


Segera aku menjauh dari Daddy, sebel deh Daddy ini tidak kenal waktu main beginian.


Benerkan firasat aku yang mengatakan jika melakukan hal sein.tim itu bakalan ketahuan juga oleh orang, malah sekarang ketahuan oleh mama Tasya dan Anka.


"Ma.. kenapa masuk tidak ketuk pintu dulu sih?" sebal Daddy pada mama Tasya.


Eh.. kenapa jadi sensi sih Daddy, bukannya Daddy sendiri yang menyuruhku berbuat memalukan di depan umum meski sudah sah di agama dan negara.


"Jika ketuk pintu dulu, mama juga tidak bisa melihat secara live ciuman kalian. Dasar ya kamu ini Ezra menyuruh sang istri menyuapi bubur tidak pakai sendok malah pakai mulut!" Mama Tasya meletakkan buah tangan di atas meja dekat sofa.


"Terserah mama, tapi kalau di rumah aku melarang mama menerobos masuk ke kamarku ma." Tegasnya pada mama.


"Mama juga tau itu, takut ganggu kan. Jangan terlalu berlebihan melakukan hubungan badan, kasihan anak kalian, terutama kamu Ezra jadi laki-laki jangan terlalu naf.suan kenapa. Apa kamu tidak kasihan pada calon anakmu ?"

__ADS_1


"Ezra juga tau ma, Ezra hati-hati ko saat mengunjungi anak kami. Bahkan.."


Ku bekap mulut Daddy agar Daddy mulutnya gak lemes, ih.. bilang begituan kenapa di depan Mama Tasya dan juga Anka.


__ADS_2