
"Benarkah boleh Daddy ?" ku pastikan dulu, aku sebenarnya tidak ingin Daddy kecewa saat dirinya sakit malah mempedulikan hal lain dan memilih melihat sesuatu yang hanya menyenangkan hati untuk dirinya sendiri.
"Pergilah !" jawabnya tersenyum sebelum ia memejamkan matanya.
Aku mengangguk pergi, baiklah dad jika Daddy sudah mengizinkan aku pergi. Tapi.. hati ini sedikit ada rasa curiga jika ia tidak benar-benar mengizinkan aku untuk pergi, maaf dad.. untuk kali ini biarkan aku sebentar saja bahagia dan meninggalkan kamu sebentar saja.
Aku puas sekali melihat Aan keliling ke seluruh penjuru rumah sakit, aku tidak ke lantai atas atau mengikuti Aan tapi aku memilih pergi ke ruang cctv meski tadi sedikit ada kendala,
tapi setelah aku bicara jika aku ngidam dan ingin melihat orang bawahannya suamiku yang sedang terkena hukuman akhirnya di izinkan, siapa yang tidak kenal dengan Afzal Ezra Permadani, pengusaha muda dan tampan meski usianya sudah tiga puluh tahun lebih.
"AA.. ha.. ha.. ha.. kasihan sekali,aduh.." ku usap bulir air mataku.
Sedari tadi aku hanya tertawa sekencang-kencangnya dengan puas, lagian kenapa juga sih wajah Aan begitu. Kalau di lihat-lihat sih dia tampan loh tapi bukan tipe aku, sebab di hati, jiwa dan ragaku hanya Daddy seorang yang paling tampan untuk sekarang ya.
Ezra terbangun saat dirinya tengah di ruangan rawatnya, ia mencari keberadaan sang istri.
"Astaga.. aku terlupa jika istri kesayanganku sedang menonton acara kesukaannya. Coba.. aku susul deh, tapi kemana dia?" Ezra hendak turun tapi salah satu suster yang berada di rumah sakit menolongnya.
Degh
Mata Ezra menangkap seseorang yang teramat ia kenal, dia.. kembali setelah berpuluh-puluh tahun lamanya.
"Kamu??" terkejut dan shock.
Ezra menunjuk wajah wanita yang berada di depannya, ia tidak tau jika dia berkerja di tempat ini.
"Maaf pak, apa bapak mengenal saya? apa kita pernah bertemu pak?" tanya suster yang membenarkan selang infus agar cairan yang turun dan masuk ke tubuh pasien normal tidak terlalu cepat.
"Kamu Kartika kan?" tanya Ezra memastikan jika wanita yang berada di depannya adalah Kartika cinta pertamanya dulu.
"Iya nama saya kartika, ini tertera di nametag saya!" jawabnya ramah.
Kartika sendiri tidak sadar dengan siapa ia berbicara, sebab ia baru mengenali pria di depannya adalah salah satu pasien di rumah sakit yang berada di kelas 2 tidak lebih dari itu.
"Bukan itu, apa kamu lupa dengan saya atau kamu sama sekali tidak mengenali saya?" Ezra bersih kukuh untuk bertanya dan ia ingin wanita yang ada di hadapannya terkejut bukan main
Wanita yang tega menghina fisik harus di kerjain bukan, meski nanti ada lain cerita.
__ADS_1
"Saya benar-benar tidak mengenali anda pak, apa bapak tidak percaya jika saya tidak kenal dengan bapak?" jawab Kartika sambil menggelengkan kepalanya.
Ezra tentu saja tersenyum dan punya niatan membuat wanita ini tidak mampu berkutik lagi. Rasa dendam masa lalu ternyata membekas baik di ingatan Ezra, di hina fisik dan juga kualitas membuatnya bertekad membalas satu persatu hinaan itu.
Entah kapan akan membalasnya yang jelas jika bertemu harus dibalas dengan cara baik-baik bukan.
"Perkenalkan,saya.. Afzal Ezra Permadani. Laki-laki yang kamu hina dan kamu mencampakkan dan dengan tega memilih laki-laki yang jauh lebih tampan dan status sebagai ketua OSIS. Terimakasih banyak loh berkat hinaan kamu di depan semua murid sekolah waktu itu membuatku berubah menjadi sedemikian rupa." Nada sombong dan CEO dominasi Ezra begitu kuat.
Kartika terperangah dengan apa yang baru saja ia dengar, Ezra.. laki-laki yang ia tolak puluhan tahun silam kini menjelma menjadi laki-laki setampan ini. Bahkan yang ia dengar dari tadi dari para suster memang ada seorang laki-laki tampan dan CEO muda masuk rumah sakit ini dan ternyata benar Ezra orangnya.
Ia pikir tadi bukan Ezra, sebab di dunia ini nama yang sama tidak mungkin hanya satu bukan tapi banyak, sungguh ia tidak menyangka akan bertemu dengan laki-laki yang ia tolak dan ia hina dahulu.
Kartika sedikit menyesal telah mencampakkan Ezra tapi sesal tiada gunanya, sekarang ini pasti Ezra sudah menikah bukan secara tampan dan mapan.
Ia juga ingin tau istri atau kekasihnya seperti apa wajahnya, cantik atau justru lebih jelek darinya.
"Kamu.. ternyata sudah berubah ya, dulu.. perasaan"
"Apa, aku jelek dekil dan tidak punya pakaian bagus padahal terlahir dari keluarga kaya raya bukan. Dan satu lagi laki-laki buruk rupa tidak pantas bersanding dengan gadis cantik bunga sekolah, Cih.. seperti orang terkaya dan tercantik di kota ini saja." Ezra langsung membalas telak perkataan Kartika.
Wajah Kartika menjadi pias, sudah mati rasa wajahnya di permalukan begini hanya saja beruntung ruangan ini hanya ada satu pasien yaitu Ezra saja.
hendak pergi dan pamit tapi terkejut saat ada seseorang yang memanggil Ezra dengan kencang.
"DADDY." Teriakku saat aku masuk ke kamar rawat Daddy dan langsung aku peluk dan tidak peduli dengan yang lain, biar iri dengki melihatnya.
Siapa suster ini? kenapa wajahnya lebih datar dari jalan raya yang makadam itu.
"Perkenalkan ini istri tercinta saya, dia jauh lebih cantik dan lebih baik dari seseorang yang pernah menghina orang lain, padahal dia sendiri lupa mengaca jika dirinya sendiri tidak lebih baik dari orang lain ." Daddy sedikit meninggikan nada suaranya.
Ada apa ini ada apa? apa aku tertinggal berita trending topik pagi menjelang siang-siang begini.
Aish.. tau begini tadi gak nonton cctv, nyesel deh.. ketinggalan drama populer Daddy dengan wanita-wanita yang menggoda Daddy dulu.
"Iya saya istrinya, perkenalkan nama saya Himalaya," sengaja aku ikuti drama Daddy, nanti aku interogasi.
Wanita yang berprofesi sebagai suster hanya diam menatap ku mengulurkan tanganku, wanita ini sepertinya seumuran dengan Daddy, apa mantan Daddy dulu ?
__ADS_1
"Permisi" Kartika langsung pergi dari ruangan yang ternyata membuatnya malu sendiri.
Padahal tadi ia ingin mencari perhatian pasien yang katanya tajir melintir. Eh.. taunya ternyata laki-laki yang pernah ia tolak dan hina-hina dulu, mati sudah harga dirinya. Semoga gak bertemu lagi dengan pasien yang bernama Ezra dan sebisa mungkin menghindari pasien ini.
Setelah suster itu pergi.
Ku tatap dengan tajam Daddy sampai Daddy terpojok dengan tatapanku
"Apa tidak ada rencana untuk menjelaskan sesuatu dad?" aku kesal padanya.
Awas saja jika berani berbohong padaku demi menutup-nutupi kesalahannya. Aku jewer telinganya sampai Daddy merasa kesakitan dan mau jujur.
"Dulu.. dia wanita yang pernah Daddy kagumi saat Daddy masih duduk di bangku SMP sayang, dan wanita itu..!" jawabnya tidak perlu di perjelas lagi.
Himalaya mengisyaratkan jika suaminya tidak perlu menjelaskan apa-apa lagi, yang paling penting suaminya tidak bersedih kembali.
"Hust.. aku sudah tau dad, tidak perlu di bahas lagi."
Aku sendiri sudah tau cerita kelam Daddy yang buruk, tidak di anggap bahkan di jelek-jelekin sana sini sampai Daddy ada sebuah tekad merubah diri menjadi lebih baik dan sekarang malah menjadi laki-laki yang super luar biasa bahkan orang lain pasti tidak bisa menduganya.
Bukan berarti terlahir jelek saat tumbuh dewasa akan tetap sama jelek, bisa jadi permata di dalam sebuah batu kali belum terpoles sehingga yang terlihat hanya bongkahan batu padahal di dalamnya berupa permata yang sangat berharga.
"Tapi Daddy tidak mau kamu salah paham sayang, Daddy ingin kamu tau semuanya," hendak menjelaskan tapi aku menggeleng.
"Daddy.. sekarang hanya milik aku saja, saat kita bersama tidak perlu membahas hal lain yang tidak penting. Aku mau Daddy fokus dengan diri Daddy sekarang, supaya kita cepat pulang dan daddy tidak jenuh di tempat ini." Hanya ingin fokus dengan kesembuhan Daddy.
Aku yang ceroboh maka dari itu aku harus bertanggung jawab juga tentang kesehatan Daddy, tapi.. kenapa saat kejadian seru tadi aku malah tidak melihatnya secara langsung sih.
Penasaran seganas apa sih pelakor ini, apa sama seperti wanita itu atau justru lebih parah dari wanita yang mengaku pernah dekat dengan Daddy sewaktu kuliah dulu?
entahlah yang jelas aku tidak mau berbagi suami, jika Daddy berani-beraninya ada niatan mendua akan aku kuras habis hartanya sampai angka nol. Enak saja pelakor dapat banyak yang menemani dari dulu dapat zonk, oh.. tidak bisa.
"Wah.. istri kesayangannya Daddy sekarang semakin dewasa, Daddy tambah sayang dengan kamu sayang." langsung meraih tanganku dan mencium punggung tanganku yang menurutku lembut sih.
Selembut batu yang baru di pahat dan belum di poles dengan amplas batu, kasar dan tidak rata. Kalau rata nanti orang-orang takut denganku sebab tanganku tidak bergaris selayaknya manusia hidup, takutnya di sebut ghost kan aku sendiri yang takut bukan orang lain.
"Apa dulu Daddy gak sayang, sebab Hima masih polos dan belum dewasa ?" ledekku pada Daddy.
__ADS_1
"Bukan begitu sayang, kamu harus tau jika kamu tetap menjadi kamu sendiri. Memang perlu orang untuk membantu kita dalam proses yang lebih baik dari sebelumnya, tapi lihat-lihat dulu seperti apa orang yang akan menjadi panutannya,"
Hem.. aku hanya bisa berdehem saja, mau menyanggah apa coba dari perkataan Daddy.