
Aan kalang kabut sebab banyak sekali pekerjaannya hari ini di tambah dirinya butuh sekali tanda tangan dan stempel pribadi milik Ezra bosnya.
"Haduh.. mau mengeluh gajiku terlalu sayang, tapi jika tidak mengeluh aku di kerjai habis-habisan oleh pak bos. Nasib.. nasib sudah menjadi bubur, hanya bisa menerima di tambah lagi sekarang itu mencari pekerjaan sulitnya minta ampun. Yo wes lah di lakoni opo enek e." Aan berjalan di basement lalu ia masuk ke dalam mobil.
Aan harus berkerja lebih giat agar masa tuanya pontang-panting mengais rezeki dimana-mana apalagi sampai meminta-minta dan menyusahkan orang lain.
Aku berpikir ulang, makan malam privat, maksudnya berhubungan badan begitu. Haduh.. sudah gak per.jaka ting.. ting.. dong, kasihan sekali yang dapat bekasnya nanti bukannya sombong sebab dapat per.jaka tapi aku heran kenapa banyak sekali orang suka melepas miliknya yang berharga demi naf.su sesaat.
"Apa dia suka begitu akan menikah dad?" aku tidak tau ya, namanya jodoh sudah ada yang ngatur Yang Berada Di Atas.
"Sepertinya begitu, berkali-kali Daddy mendengar jika dia ingin menikah sebab desakan dari bapaknya!" jawab Daddy yang hanya aku mengangguk.
"Apa ada pertanyaan lagi sayang." Daddy menawarkan diriku untuk bertanya.
"Tidak ada, Daddy tolong dong ambilkan laos dan bumbu yang lainnya" ku pinta Daddy untuk mengambilnya semoga Daddy tau bumbu pelengkap tersebut.
"Laos... dan bumbu yang lainnya. Sayang.. Daddy tidak tau bumbu yang lainnya?" bingung membuka laci sana sini.
Ku tepuk jidatku, aku hanya diam di tempat.
"Daddy.. ini ada di sebelah sayuran yang barusan aku ambil dad, kenapa daddy mengelilingi dapur untuk mencarinya?" tanyaku keheranan melihat Daddy kalang kabut mencari kesana kemari.
Padahal nih dapur masih berantakan sebab ulah mama dan sekarang di tambah kelakuan Daddy yang luar biasa bikin emosi.
Sabar ya mbak-mbak yang kerja di dapur.
Aku berjalan ke arah wastafel untuk mencuci beberapa bahan makanan yang ingin aku masak, pagi tadi sudah ada yang memasak dan untuk siang biarkan mbak-mbak masak lagi sedangkan yang sekarang aku kerjakan untuk uji coba aku pertama kali masak di dapur dan sebagai kenang-kenangan jika aku pernah menyentuh peralatan dapur.
Haduh.. sebenarnya aku ini perempuan atau sekedar perempuan jadi-jadian sih, heran aku tuh...
Tak
Tak
Tak
Ku potong beberapa bumbu yang di perlukan sambil ku baca ulang masakan rumahan yang ingin aku masak, dari tampilan di gambar sih terlihat enak mungkin karena aku tidak pernah makan menu ini kali ya jadi terlihat enak dan menggoda selera mataku ini.
Eh.. bukan selera mata maksudnya selera lidahku, tapi sebelum itu dari mata lalu ke ludah sebelum masuk ke dalam perut.
"Sayang.. makanan ini, apakah nanti bisa dimakan?"
"Tidak tau dad, di coba saja nanti sebelum di sajikan di atas meja!" jawabku terus fokus pada masakan yang pertama kali aku buat.
"Sayang.. sudah yuk jangan masak lagi, nanti kalau rasanya bikin sakit perut kamu dan anak kita bagaimana coba." Daddy ini malah menyudutkan aku dan membuatku pesimis.
Ingin sekali ku lempar pakai spatula.
"Dad.. berisik sekali," ternyata spatula yang aku gunakan sudah menunjuk-nunjuk Daddy.
Mampus.. aku kalau gak di izinin masak dan memberontak lagi gimana ini, gimana ini aku..
"Kamu.." langsung saja aku di cium paksa olehnya, hampir kehilangan oksigen.
__ADS_1
"Dad.. Daddy sengaja mau membuatku sesak nafas?" aku segera menghirup udara sebanyak-banyaknya.
Aan menutup kedua matanya sebelum ia terlalu dalam melihat kemesraan pak bos dan nyonya muda.
"Masa sih daddy sebegitu naf.su nya ke kamu sayang, kamu sih yang membuat aku terpesona lagi dan lagi!" aku mengalihkan pandanganku dan ternyata ada Aan.
What.. apa kegiatan mesra kita barusan tadi di lihat oleh Aan sedari tadi tanpa jeda dari awal sampai akhir.
"Dad." Aku menepuk pundak Daddy tapi Daddy tidak menghiraukan aku ternyata.
"Kenapa sayang, apa masih kurang ciumannya?" Daddy malah melanjutkan aksinya tanpa peduli ada orang yang melihatnya sedari tadi.
Dasar ya kalau sudah bucin satu dunia di anggap ngontrak saja gak peduli dengan yang lain.
"Bukan begitu dad, tapi lihat tuh di belakang daddy!" ku tunjuk arah pintu masuk dapur.
"Biarkan saja, tidak penting yang terpenting sekarang kita lanjutkan ciumannya." Jawaban nyeleneh Daddy langsung aku cubit saja lengannya.
"Lihat dulu dad, ada Aan tuh di ambang pintu," sambil ku toleh kan kepala Daddy agar Daddy melihat dengan jelas wajah Aan yang sedari tadi menutup matanya.
Haduh.. Aan ini sok suci,iya suci di depan orang lain tapi tidak di depan perempuan-perempuan yang haus kasih sayang.
Maafkan aku Aan bukan maksudku mengucilkan atau menghinamu,tapi sebagai wanita aku sendiri merasa kecewa, kenapa demi kesenangan dunia fana melepas segalanya.
Sudah.. sudah jangan membenci atau tidak menyukai orang itu, takutnya anakmu nanti mirip dengan orang yang kamu benci. Bisa gawat jika Daddy marah saat nanti anaknya lahir tapi wajahnya tidak ada mirip-miripnya dengan dirinya yang ada malah mirip orang lain.
"APA??!!" panik gak tuh Daddy, ngeyel sih di ingatkan dari tadi.
Setelah sadar baru terkejut dan panik.
"Dasar asisten gak peka terhadap sesuatu, bisa gak sih ketuk pintu dulu sebelum masuk atau telpon mau kemari." Kesal Daddy pada Aan.
Kasihan sekali Daddy, tapi ya mau bagaimana lagi coba. Pekerjaan yang padat dan juga jarang ada kata libur ya harus begini, extra sabar dan telaten bukan.
Aku tau Daddy ingin bebas sebentar tanpa pekerjaan, tapi jika liburannya sengaja dan mendadak bukannya itu namanya tidak profesional sebagai atasan yang baik.
Mama Tasya berada di kamarnya setelah tadi di antar salah satu mbak yang berkerja di rumah. Aku lihat semburat kebahagiaan dari mama Tasya, aku jadi benar-benar rindu dengan mama dan papa ku sendiri.
Ma.. pa.. Himalaya rindu dengan kalian.
Aku selalu berdoa untuk mereka berdua, aku masih ingin tetap bakti pada mereka.
Meski rindu ini sangat mendalam aku hanya bisa relakan semuanya, semua sudah terjadi dan takdir yang harus aku lalui.
"Maaf pak bos sebelumnya, tapi saya sudah menghubungi nomor anda pak bos berkali-kali bahkan pak bos tapi sama sekali tidak ada tanggapan dari pak bos." Bicara jujur bukan membela diri.
Memang sudah berkali-kali menelpon bahkan setelah sampai di rumah Ezra ia menelpon sebanyak 2 kali tapi tidak ada tanggapan sama sekali dari Ezra.
"Kamu ngeles kan, sedari tadi tidak ada pesan ataupun telpon masuk," Ezra mengeluarkan ponsel dan ternyata yang di bawa ponsel yang salah saat di kamar.
"Pak bos, maaf sebelumnya jika saya lancang. Pak.. bukannya itu bukan ponsel pak bos?" tanya Aan sok tau.
"Sudah tau nanya, mana berkas-berkasnya!" ketus Ezra sambil meraih berkas-berkas yang harus segera ia tanda tangani agar cepat tuh kutu pergi jauh-jauh.
__ADS_1
Aan jadi serba salah, tau begini tadi mengubungi nyonya muda dulu saja jika tau kena semprot lagi. Padahal juga baru saja santai-santai seperti di pantai malah hari ini secara terang-terangan dan mendadak bosnya libur tanpa bisa di ganggu gugat.
Pasti sebentar lagi dirinya akan di usir dadi rumah tersebut dan pergi jauh-jauh.
"Aku periksa dulu dan di larang meninggalkan tempat sebelum mendapatkan tanda tangani dan stempel."
Ezra bicara ketus pada Aan dan tegas.
Aan sabarnya di perbanyak lagi untuk menghadapi nasibnya yang selalu malang sendirian.
"Siap laksanakan pak bos," Aan menghela nafas pelan-pelan jika sampai terdengar di telinga Ezra bakalan jadi boomerang.
Ezra sengaja memperlama pekerjaannya agar Aan merasakan kekesalan sebab waktunya terganggu banyak. Lagi pula salah sendiri datang bukannya duduk anteng di ruang tamu atau gazebo atau tempat yang lainnya malah langsung masuk dapur tanpa permisi pula.
Setengah jam kemudian.
Aku mencari keberadaan Daddy dan Aan tapi tidak ketemu juga, ini nih yang tidak aku sukai punya rumah besar. Mau cari-cari jadi susah sendiri dan menguras banyak tenaga, di tambah lagi nih dimana sih ponselku.
Perasaan tadi di dapur deh masa bisa jalan sendiri, kan terlalu aneh dan mengada-ada.
"Sudah di cari gak ada, untungnya masih ingat masakan yang aku masak."
Himalaya mencicipi semua hidangannya hanya ada 2 porsi saja menu masakannya yaitu gorengan tahu tempe dan oseng-oseng kangkung.
Bumbu dapur yang lainnya tidak jadi di gunakan dan ia kembalikan setelah pikirannya kacau balau sebab di goda suaminya.
Setelah selesai membaca dan menanda tangani semua berkas yang ada Ezra beranjak pergi untuk mengembalikan ponsel milik Himalaya yang tak sengaja ia bawa tadi.
Padahal tadi niatnya agar sang istri tidak memasak, tapi justru terbawa di kantong saku celananya.
Pasti masakkan sang istri horor.
"Dad." Sapaku pada Daddy, Daddy menoleh dan tersenyum padaku.
Ada apa ini, apa jangan-jangan Daddy sudah mencicipi masakan ku dan dia kecewa padaku terlihat Daddy sepertinya baru saja dari arah dapur.
"Eh.. sayang, ada apa?" pura-pura tidak tau Daddy ini.
Pasti sudah mencoba dan kecewa bukan, kenapa masih tersenyum padaku atau mau protes tapi takut aku sakit hati sebab masakan yang aku masak tidak enak, lebih baik Daddy jujur dan jangan membuatku memancing pembicaraan agar Daddy jujur.
Aan yang sudah di dalam perjalanan menuju kantor kini bisa bernafas lega dan bebas
"Akhirnya.. bisa sedikit longgar dan otakku gak ngebul sebab di bikin pusing oleh pak bos yang semena-mena dan galak itu."
Aan begitu berani mengumpat bosnya jika tidak ada bosnya di sampingnya, tapi.. jika sudah berhadap-hadapan nyalinya menciut.
•
Sekali lagi.
Note : tidak ada unsur menyudutkan atau menghina atau mengucilkan orang lain.
Maaf ya jika kata-kata di atas menyinggung atau apapun itu.
__ADS_1
Terimakasih banyak sudah mendukung dan mampir 🥰🥰