
WARNING 21+
"Sayang.. kamu mau kemana?"
"Gak kemana-mana Daddy!" senyum yang di paksakan.
"Bohong, sini dulu sayang" manja sekali suamiku, tapi aku nurut saja kembali di samping Daddy.
"Sini.. duduk lebih dekat."
Memintaku lebih dekat lagi, tapi jika di turuti jangan-jangan Daddy ada sesuatu.
"Sudah dekat, apa masih kurang?" tanyaku di atas pangkuan Daddy.
"Tidak!"
Aku curiga dengan Daddy.
Himalaya langsung membelalak.
"Dad.. Uh.. em, Daddy.. mau ngapain."
Tubuh Himalaya merasakan sengatan listrik.
"Tidak ngapa-ngapain ko, cuma mau bertegur sapa dengan anak kita,"
"Tapi.. kenapa posisinya begini dad."
"Kenapa dengan posisinya sayang, bukannya ini menyenangkan sekali?" godanya sambil mencium telingaku.
"Daddy.. jangan.. a..h.. Daddy,"
Ezra tersenyum puas saat istri tercintanya mende..sah dan puas di depannya, memang membanggakan bagi dirinya. Tidak dapat masuk setidaknya tangannya masih bisa bermain bukan.
"Lepaskan saja sayang Daddy akan mempercepatnya."
"Sudah.. dad, aku lelah," dengan wajah memerah
"Iya,Daddy lepas. Tapi Daddy minta satu hal ke kamu."
"Enggak mau, aku saja minta satu hal untuk berkerja lagi saja Daddy larang ko. Malah sekarang Daddy minta satu hal dariku, no Daddy jika itu tentang poligami dan aku punya adik madu, aku tidak mau di madu Daddy," aku memalingkan wajahku.
"Eh, siapa yang mau memberikan kamu adik madu. Lah.. daddy minta ini di puaskan ko, jangan salah sangka dan mudah ngambek istriku." Sambil mengacak-acak rambutku.
"Tapi Daddy," aku ingin menolak, aku tidak bisa soal yang satu ini. Gak enak di ... terus terang saja pasti nanti aku akan mual.
"Tidak ada penolakan sayang, ayo."
Memang aku terpaksa dan menggerutu, tapi Daddy begitu puas saat aku menuruti keinginannya. Meski rada jijik gimana gitu aku tetap mengiyakan saja,
em..
__ADS_1
kata Daddy di suruh nikmati seperti memakan es krim tapi aku tidak bisa beberapa kali aku hendak memuntahkan isi perutku, mual gimana gitu rasanya.
"Uuukk.. Daddy."
"Maaf sayang," bukannya berhenti justru Daddy menjadi-jadi dengan menarik rambutku.
Aku pasrah dan mau pingsan di tempat, Daddy terus saja memompa badannya dan aku hanya bisa terdiam tanpa aku hisap sama sekali, mau muntah percuma pasti akan tertelan kembali.
Skip
Malam hari.
"Kenapa tuh bibir manyun?" Daddy memberikan ku secangkir susu hangat, susu ibu hamil rasa coklat yang aku suka.
"Gak kenapa-kenapa, Daddy mau bakso."
"Mau beli dimana?"
Tumben langsung di iya in.
"Di sebelah kantor Daddy, enak loh dad baksonya, aku mau sekarang dad !" jawabku memang ingin.
Ezra tidak percaya dengan permintaan istrinya, bakso di samping kantor dan jam segini sudah tutup dan habis sejak tadi siang.
"Sekarang?? gak salah nih sayang, bukannya kamu tau sendiri bakso di dekat kantor waktu jam makan siang saja sudah habis."
Ezra ingin menolak tapi melihat ekspresi wajah istrinya yang menyedihkan jadi tidak tega, apalagi kedua netranya mulai berkaca-kaca.
"Ini dulu kalau begitu." Daddy sengaja minta bayaran lebih dulu.
"Ayo sekarang dad, jika tidak aku pergi sendiri," aku sengaja marah.
Daddy langsung mengiyakan, saat di dalam mobil justru yang pontang panting telpon sana sini mencari informasi bukan Daddy melainkan Aan asistennya.
"Daddy, kenapa merepotkan Aan sih dad?"
"Dia asistennya Daddy, bahkan asisten pribadi. Harus siap menerima resiko, lagian gajinya dia gak sedikit ko jadi.. korban sedikit tidak masalah bukan!" santai dan slow.
"Benar juga kata Daddy, sabar ya Aan" aku hanya bisa menyemangati saja.
Tapi sepertinya aku juga ingin melihat suamiku pontang panting seperti Aan.
"Daddy, bantuin Aan dong. Bayi kita yang mau Daddy." Permintaan ini harus berhasil.
"Tapi sayang,"
Aku mengisyaratkan hari telunjukku agar Daddy tidak menolak.
"No.. no.. no.. Daddy harus kerja keras juga seperti Aan, tuh.. lihat dia bingung sendiri tuh telpon sana sini." Tunjuk ku pada Aan yang berada di depan rumah orang yang aku yakini itu rumah pemilik warung bakso di dekat kantor.
"Gak mau.. sayang, aku capek kalau jalan-jalan seperti Aan," alasan anak kecil di pakai, apa gak ada ide yang lebih kreatif.
__ADS_1
"Hiks.. sabar ya sayang, Daddy kamu gak mau nih bantuin Aan. Nanti kalau minta yang lain, biarkan saja papa baru kamu yang nyariin. Jika Aan jadi papa kamu, kamu tidak apa-apa kan sayang." Sengaja aku usap-usap perutku yang masih rata.
"Jangan gitu dong sayang, nih.. lihat Daddy keluar nih dari mobil. Jangan begitu oke," Daddy mencium perutku.
Biarkan saja Daddy begini, hitung-hitung balas dendam atas perbuatannya meski tak baik membalas dendam pada suami.
Lucu sekali wajahnya yang melas sekali.
Aku memutuskan untuk mengikuti Daddy dan Aan, tapi tetap saja aku di dampingi beberapa bawahan Daddy.
Pada akhirnya Daddy dan Aan berjuang mencari penjual itu dan ternyata malam-malam begini keluarga kecilnya bersusah payah untuk memasak masakan untuk persiapan besok pagi, semua di cicil sekarang.
Sedangkan untuk adonan bakso di buat mendadak agar tidak basi untuk di jual besok, terlihat ada daging sapi dan ayam di letakkan di atas wadah lalu di simpan di lemari pendingin khusus daging saja.
Tempatnya bersih, aku suka dan tidak membuatku mual.
"Pak.. tolonglah pak kali ini saja demi istri bos saya pak. Beliau sedang ngidam pak, saya mohon sekali agar bapak berbaik hati pak membantu saya. Ini pak saya siap ganti biaya lebihnya pak."
Aan memberikan amplop coklat ukuran lumayan tebal, aku yakin tidak hanya satu juta tapi lebih. Semoga bapaknya mau, demi bayi yang tengah aku kandung.
Sedangkan Daddy memasang wajah menyebalkan sekali, kenapa sikap dinginnya dan tidak mau tau muncul lagi. Kasihan pak tukang bakso itu dan juga Aan.
Aan mulai frustasi saat penjual bakso itu tidak segera mengiyakan permintaan nya itu.
"Pak.. saya mohon.."
Aan memohon tapi terlihat kurang tulus dan terkesan memaksakan sekali.
Sepertinya aku harus bertindak.
"Pak, perkenalkan nama saya Himalaya, apa boleh saya merepotkan bapak untuk malam ini. Anak saya ingin makan bakso buatan bapak." Aku tersenyum padanya sambil ku usap perutku.
Walau bagaimanapun bapak ini lebih tua dariku dan juga suamiku, sepantasnya harus di segani.
Tukang bakso tersebut mengangguk.
"Neng cantik sedang mengandung, boleh ko bapak dengan senang hati akan membuatkan untuk neng cantik. Neng cantik silahkan duduk, maaf ya neng rumahnya seperti ini, silahkan.. silahkan.. duduk neng."
Akhirnya lega juga, dua orang ini gak berhasil. Payah sekali, bilang secara baik-baik dan lemah lembut saja bisa ko meluluhkan bapaknya.
"Tidak apa-apa pak, saya nyaman di tempat bapak,"
Baru kali ini aku menginjakkan kaki di tempat seperti ini, ternyata nyaman dan juga damai. Istri dari pak penjual bakso aku juga tidak tau namanya, nanti saja bertanya meski terlambat.
Ezra mendengus kesal, melihat pak penjual bakso yang menurutnya mata keranjang. Melihat istrinya yang cantik langsung mengiyakan permintaan untuk membuat bakso, sedangkan Aan yang meminta saja gak di tanggapi sama sekali, benar-benar mata keranjang.
Ezra langsung duduk di samping istrinya dan memeluk erat pinggang istrinya.
•
Hai.. apa kabar, semoga teman-teman sehat selalu ya. Yang sakit semoga cepat sembuh, terimakasih banyak ya atas dukungannya, tanpa kalian karyaku ini tidak ada apa-apanya.
__ADS_1
Terimakasih 🥰🥰🥰