Hot Daddy Dan Gadis Polosnya

Hot Daddy Dan Gadis Polosnya
Bab 41


__ADS_3

Yuk kirimkan dukungannya 🄰🄰


•


"Daddy keluar sebentar ya sayang, ada sedikit urusan." Pamit Daddy padaku yang sama sekali tidak aku hiraukan.


Kesal menghadapi Daddy, aku tau dia pria sibuk bahkan sangat sibuk tapi sesibuk- sibuknya seorang suami tidak mungkin menyembunyikan sesuatu yang besar begitu lama, apa dia gak bisa berpikir dengan jernih apa akibat dari sebab yang ia buat.


Di luar ruangan Ezra menemui Aan.


"Kamu.. selidiki identitas anak itu, kenapa saya merasa anak itu seperti mirip dengan seseorang." Perintahnya pada Aan.


"Siap laksanakan pak bos, jika saya boleh tau apa anak itu sering datang pak bos?" bertanya sesuatu hal yang tidak ingin Ezra bahas sama sekali.


"Jangan banyak pertanyaan, segera selidiki identitas nya dan laporkan ke saya," ketus sekali Ezra terhadap Aan.


Aan nyalinya menciut, lebih horor menghadapi bosnya dari pada emaknya di rumah.


'Sepertinya memang ada yang tidak beres dari pak bos, apa anak itu anak pak bos dengan wanita lain. Jika iya, pasti nyonya muda akan kecewa dan patah hati. Semoga.. nyonya muda selalu kuat dan sabar.' Batin Aan.


Ezra mulai pusing dengan pikirannya sendiri, kenapa wajah anak itu sangat mirip sekali dengan seseorang yang teramat ia kenal.


''Sial.. kenapa anak itu bisa muncul di depan rumah, jika sampai mengacaukan semuanya akan aku bu.nuh anak itu.'' Ezra bergumam sambil mengepalkan tangannya ke tembok rumah sakit.


Himalaya tidak mendengar percakapan di luar ruangannya, ia memilih melamunkan kehidupan kedepannya, bagaimana jika saat dirinya hidup sendirian dan suaminya pergi begitu saja dari hidupnya.


Apakah diri ini egois tidak mau melepaskan dia agar dia bahagia, sungguh hati dan tubuh ini sangatlah tidak rela.


Andai ada orang ke tiga yang datang ingin sekali ia berjumpa dan berkata dengan bijak pada wanita tersebut agar wanita tersebut paham dan mengerti jika suatu hubungan yang sakral tidak akan mudah tergoyahkan kecuali tidak ada lagi kata cinta di setiap menjalani bahtera rumah tangga.


Ezra yang mulai pusing lebih memilih menemui istrinya yang masih betah marah.


"Sayang.. Hima sayang." Bisiknya tepat di telinga Himalaya.


"Hem," aku tidak mau bicara dengannya jika dia gak mau jujur.

__ADS_1


Buat apa coba bicara sama Daddy lagi, dia sudah membuatku kecewa sampai seperti ini.


"Sayang, Daddy butuh waktu untuk mengungkapkan anak itu sayang. Daddy curiga sepertinya tidak asing dengan anak itu."


Akhirnya Daddy mulai jujur, jujur saja aku benci dengan kepura-puraan meski aku akan cepat melupakan luka itu meski terkadang teringat sangatlah menyakitkan bagiku.


Apalagi saat kecelakaan kedua orang tuaku, jujur aku sedih dan aku tidak bisa melupakan kejadian itu.


Seandainya Daddy tidak punya ide gila untuk balapan saat itu pasti kedua orang tuaku tidak ikut terjebak dalam kecelakaan naas tersebut, tapi.. semua sudah berlalu dengan di gantikan semua oleh perhatian dan kepedulian Daddy padaku.


"Kenapa tidak asing, apa dia anak Daddy dengan wanita lain?"


Ayolah dad common jujur padaku, jangan berbelit-belit dan memutar-mutar kan cerita dad. Sungguh aku ingin tau apa yang Daddy coba sembunyikan dariku.


Wajah Daddy berubah menjadi murung, aku sudah yakin jika anak itu ada hubungannya dengan Daddy, dari wajah saja sekelebat mirip Daddy.


Apakah aku harus mundur? Aku belum siap untuk mundur. Anak yang sedang aku kandung masih membutuhkan seorang papa dan aku juga masih ingin bersama Daddy dan memperjuangkan cinta kita.


"Kenapa kamu berpikir begitu sayang?"


"Dari segi wajah saja bisa di lihat dad, jika anak itu ada kemiripan dengan Daddy. Apa ini alasan Daddy sering ke luar kota untuk menemuinya dad, lalu aku apa artinya untuk Daddy. Apa aku adalah orang ketiga di antara ibunya anak itu dad?" Dadaku merasakan sesak teramat dalam.


Apakah aku benar-benar orang ketiga dalam hubungan rumit, apakah pernikahan ku dengan Daddy adalah pernikahan kedua Daddy.


"Harus dengan apa lagi Daddy bicara dengan mu sayang, seumur hidup Daddy hanya punya kamu satu-satunya wanita yang Daddy berikan perhatian, satu-satunya wanita yang Daddy sentuh. Daddy tidak pernah bermain gila di luaran sana, Daddy jujur padamu sayang."


Leherku terasa tercekat, apa benar perkataan Daddy. Apakah anak itu tidak ada hubungannya dengan Daddy, tapi kenapa wajahnya mirip Daddy.


Lebih baik aku tenangkan diri ku dulu, aku tidak mau kehilangan anakku. Tidak apa-apa jika aku harus kehilangan cinta tapi tidak untuk anakku yang aku kandung sekarang.


"Ayo pulang." aku sungguh tidak tahan di tempat ini, bukannya pikiranku bertambah ringan tapi justru sebaliknya, aku tidak mampu berlama-lama di tempat ini.


Aan sedang menyelidiki identitas anak itu, dengan cara ia mendekati anak tersebut. Secepatnya ia harus mengetahui identitas anak tersebut tanpa ada yang curiga dengan misinya diam-diam.


Sebisa mungkin satu hari harus terungkap semua jika besok-besok mungkin akan lain cerita, bisa jadi ini adalah ancaman yang besar untuk Ezra.

__ADS_1


"Tunggu sayang, jangan sekarang meminta pulang. Setidaknya sampai cairan infus di tangan kamu habis sayang," Daddy terus membujukku agar aku mau tinggal sebentar.


"Iya."


"Tunggu sebentar sayang, Daddy akan urus administrasi dulu dan memanggil Dokter untuk melepas infus kamu, kamu di sini dulu sebentar ya. Tidak apa-apa kan?"


Daddy mengusap-usap pipiku dengan lembut, rasanya wajahku sedikit terbakar apakah merona wajah ini. Dasar ya.. baru saja marah sudah memerah.


Tak beda jauh dari Himalaya, Ezra pun merasakan pipinya panas pasti memerah lagi tanpa perintahnya langsung merona.


"Pasti memerah,coba aku cek. Sedari tadi aku lihat orang-orang menatapku dengan tatapan ingin memakan ku." Bertanya pada diri sendiri sambil mencuri-curi kaca apakah wajahnya benar-benar memerah.


Banyak orang yang berlalu-lalang memuji dan mengagumi ketampanan Ezra, Ezra sudah biasa mendapatkan pujian begini tapi alangkah luar biasanya lagi saat sang istri memuji dirinya, tapi sekarang.


"Huh.. menyebalkan sekali, beberapa masalah ini membuatku dan Hima kesayanganku marah. Di tambah lagi sedang berbadan dua, aku harus extra sabar dengannya."


Ezra menghela nafas.


Himalaya memilih duduk, punggungnya terasa mau rontok. Selang infus masih di punggung tangannya dan masih ada cairan infus di kantong.


"Kapan habisnya? kalau aku cepat kan cairan infus ini kira-kira pusing enggak ya, atau terjadi hal lain. Apa perlu aku minum pakai sedotan."


Ke kepoan ku mulai kumat lagi, jika aku melakukan hal konyol apakah semua akan hawatir padaku.


Saat hendak aku mau melepaskan cairan infus dengan selangnya.


"Sayang kamu mau ngapain?" Daddy panik langsung merebut cairan infus dari tanganku.


"Mau ku minum langsung dad, apakah rasanya enak. Bukannya lebih cepat aku minum dari pada menunggu cairannya turun melalui selang yang tertancap jarum suntik!" jawabku.


Daddy menepuk jidatnya, apa ada yang salah?


•


yuk kirimkan komentar kalian yang menarik😁

__ADS_1


__ADS_2